Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 9 [Jayden Wilder]

Selamat datang di chapter 9

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo meresahkaeun

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like I do

❤️❤️❤️

____________________________________________________


“Apakah aku akan tiba di satu titik, di mana aku akan menjadi serakah hingga tak peduli dengan alam?” 

—Jayden Wilder
____________________________________________________


Musim panas
Summertown, 10 September
Pukul 10.04

“Aku tahu. Siapa bilang kamu mau main catur? Aku janji nggak bakal gangguin, kok. Ya? Ya? Ya?” mohon Melody sembari mengikutiku yang membawa sekeranjang baju kotor ke depan mesin cuci.

Hari ini aku meliburkan para maid. Kata Melody, betapa menyenangkannya itu seandainya aku tidak sedang mempersiapkan perjalanan dinas dan menghabiskan waktu bersamanya. Bukan malah bersih-bersih untuk menggantikan tugas-tugas maid. Salah satunya mencuci baju kami. Kendati Melody membantuku dengan doa aku mampu menyelesaikan itu—setelah menyetel robot vacum cleaner mengitari rumah, tetap saja ia mengutarakan kegundahannya itu.

Aku memberi alasan bahwa mengerjakan tugas maid juga salah satu bentuk dari berduaan atau menghabiskan waktu bersama. Melody belum bisa menerima alasan itu seratus persen dan kembali melakukan protes dengan menarik-narik lengan kaus hitamku bergambar dewa kematian putih.

“Baby ...,” panggilnya manja yang kuyakini karena aku tidak kunjung meresponsnya. Sehingga, ia melakukan jurus-jurus tertentu.

Akibatnya, jiwa jailku sedikit bangkit. Aku pun kembali fokus memasukkan pakaian beragam warna milik Melody semua yang sudah kupilih-pilih. Lanjut menekan tombol mesin cuci sambil tetap menjawab tegas. “Maaf, nggak bisa, Baby.”

Bibir Melody menipis dan bertambah maju secara alami. Ia lantas melepas tarikannya di ujung lengan kausku. “Kenapa, sih, aku nggak boleh ikut? Jangan bilang kamu cemburu,” gerutunya yang terlihat jelas sedang sebal.

Aku tidak akan mengatakan alasanku tidak mengajaknya ke Kalimantan. Terutama saat aku ingin bernegosiasi dengan penduduk, dengan melegalkan segala cara untuk mendapatkan kembali hak Heratl yang di ambang kebangkrutan. Bagaimanapun, itu perusahaan yang dirintis Papa dan sekarang dipimpin oleh kakakku. Sebagai anak yang ingin berbakti kepada satu-satunya orang tua yang masih hidup, tentunya aku akan mengupayakan apa saja untuk kelangsungan hidup keluargaku.

Jadi, aku pun menjawab Melody dengan candaan. “Ya emang. Kalau banyak orang utan dan bekantan Kalimantan yang naksir kamu, aku yang repot.”

“What?” serunya tampak tak percaya sambil memelotot dan berkacak pinggang.

“Nggak bangetlah .... Masa aku kalah saing sama primata?”

“What?” serunya sekali lagi dengan ekspresi jauh lebih menggemaskan daripada tadi. Aku jadi tak kuasa menahan tawa.

“Kalau kamu ikut, aku pasti nggak bisa kerja. Lebih sibuk nguyel-nguyel kamu.” Itu bukan jenis alasan yang kukarang-karang belaka. Melainkan memang jujur dari lubuk hatiku terdalam. Memang lebih asyik nguyel-nguyel istri daripada dipusingkan soal negosiasi. Apalagi melihat Melody merajuk seperti ini. Hm ... Jadi, ingin kuterkam sekarang juga. “Lagian, tesismu gimana?” ingatku yang mencoba berpikir lebih logis.

Melody mencebik. Rupanya diingatkan soal tesis yang memusingkan terbukti ampuh membungkam mulut sekaligus menerjunkan mood-nya. Semua itu tergambar jelas di raut wajahnya. Oleh sebab itu aku memberikan penawaran lebih menarik, agar ia tidak sedih.

“Gantinya, abis pulang dari Kalimantan aku bakal ngajak kamu ke suatu tempat,” bujukku. Ajaibnya, iming-iming itu berhasil mengurangi jumlah kadar keinginan Melody ikut ke Kalimantan. Ditandai dengan anggukkan. Lalu, kadar kesedihan Melody lenyap sepenuhnya ketika aku menggunakan jurus menjinakkan anabul dengan mengusap-ngusap puncak kepalanya.

“Kenapa aku nggak kebal sama usap-usap ini, sih?” gumam Melody yang kemudian bertanya, “Emangnya kamu mau ngajak aku ke mana?”

“Tunggu sampai aku pulang.”

“Kenapa, sih, kamu hobinya bikin aku penasaran?”omelnya, cemberut lagi.

“Biar cool kayak coker alias cowok keren,” jawabku yang menaik-turunkan alis serta tersenyum tipis.

“Ih! Apaan coba? Gini aja, deh. Ayo main ular tangga sekali sambil nunggu cuciannya kelar. Kalau aku menang, kamu wajib ngasih tahu tempat itu.”

“Dasar! Pantang menyerah, ya?” Aku merangkul bahu Melody menggunakan tangan kiri lalu mengacak-acak rambut puncak kepalanya menggunakan tangan kanan.

Melody mendongak, berkedip-kedip cepat dan seperti secara otomatis balas melingkarkan lengan-lengannya di pinggangku sambil berucap, “Iya, dong. Kalau kamu nggak ngasih aku ikut ke Kalimantan, seenggaknya kasih tahu aku ke mana kamu mau ngajak aku pergi. Biar termotivasi semangat ngerjain tesis juga gitu, loh.”

Melihat keteguhan hati Melody, aku akhirnya mengalah. Aku juga menyugar rambutnya supaya rapi kembali. “Ya udah. Sana ambil ular tangganya.”

Setelah aku mendaratkan bibir di keningnya, Melody melompat-lompat kecil kegirangan dan bergegas mengambil permainan yang dimaksudnya. Max mengikuti istriku saat membawa kotak permainan itu kembali ke tempat mesin cuci. Anjing kami duduk di lantai depan mesin cuci sambil menjulurkan lidah. Sedangkan aku dan Melody duduk bersila di sebelah Max dengan papan permainan yang sudah Melody tata di tengah-tengah kami. Kami pun bermain ular tangga. Kali ini, keberuntungan berpindah pada Melody.

“Yey! Aku menang!” serunya sambil berdiri dan mengusap-usap bulu Max; bentuk selebrasinya.

Aku mengamatinya sambil memegangi kening dan menggeleng-geleng.

“Ayo, kasih tahu aku ke mana kita bakal pergi setelah kamu pulang dari Kalimantan,” todong Melody.

“Ke tempat kenalan kita.”

Gerakannya mengusap-ngusap bulu Max berhenti untuk fokus ke diriku. “Kenalan kita? Siapa?”

“Cuma itu informasi yang kamu dapet. Sisanya, entar kalau aku pulang.” Aku menjulurkan lidah guna meledeknya.

“Ih! Kok, gitu, sih? Jahat banget!”

“Jahat, jahat gini kamu cinta aja, loh. So, selamat mengerjakan tesis, Istriku sayang.”

“Jayden nyebelin!”

•••

“Safe flight. Take care. Kabarin kalau udah sampai,” tutur Melody yang ngotot mengantarku ke bandara. Berhubung aku bersama yang lain naik jet pribadiku menuju Kalimantan, Melody jadi bisa mengantarku sampai tarmak, tepat di depan tangga jet.

“Oke, jaga diri di rumah,” balasku dengan tangan memegang kedua lengannya. Melody berdiri membelakangi matahari yang hendak terbenam. Angin berembus menerbangkan anak-anak rambut Melody dan aku sematkan ke belakang telinganya.

“Pasti. Omong-omong, tandanya jangan sampai hilang ya. Pokoknya pulang ke sini harus masih ada.” Melody menunjuk-nunjuk kerah kemejaku yang menyembunyikan banyak tanda biru keunguan hasil karyanya di leherku.

“Iya, beres.”

“Nggak boleh tambah juga, loh. Aku hafal banget tempat-tempatnya di mana.”

Aku mengangguk lantas memeluknya. Aroma vanila khas Melody kontan melesak ke dalam paru-paruku, menimbulkan ketenangan. Aku membubuhkan bibir di keningnya, kemudian menyusul Tito yang sudah menaiki tangga dan masuk jet. Setelah aku duduk di dekat jendela dan melihat mobil yang membawa Melody menjauhi burung besi ini, tanganku mengode Nicolo supaya mendekat.

Pria yang lebih dulu masuk jet itu—sebelum aku, Melody, dan Tito datang—memperhatikan aku menitah, “Seperti biasa, awasi istriku. Sadap ponselnya. Saring pesan atau telepon yang masuk. Hapus yang tak penting dan berpotensi merusak rencanaku. Jangan lupa awasi juga Meggy dan Diana. Jangan sampai mereka kelewat batas. Kalau dua wanita itu berpotensi membocorkan rahasia kita kepada Melody atau siapa pun, ganggu saja. Tidak perlu melakukan pekerjaan fisik seperti Dahlia tempo hari. Itu ceroboh sekali. Beruntungnya lengan Meggy hanya memar, tidak sampai patah.”

“Baik, Bos.”

“Satu lagi, rambut pink itu mencolok sekali.”

•••


Samarinda, Kalimantan
11 September
Pukul 11.37

Sudah siang ketika aku, Tito, Nicolo, dan beberapa anak buahku tiba di Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto. Sementara Nicolo mengurusi imigrasi dan koper, aku mengabari istriku kalau sudah tiba di tujuan dan mahakaryanya di leherku masih aman.

Kami tidak langsung pergi ke Samarinda dan bertemu kepala cabang Heratl untuk berdiskusi lebih dulu. Melainkan menunggu kakak perempuanku yang berangkat bersama Pak Zafi alias suami sahabat Melody bernama Karina yang bekerja di Heratl pusat di Jakarta di bagian legalitas atau hukum. Singkat kata, Pak Zafi seorang pengacara kami.

Sekitar hampir tiga jam kemudian mereka baru tiba di sini. Kakakku duduk di sampingku dan langsung berkeluh kesah. “Setelah ketunda-tunda sama kesibukan lo, akhirnya lo bisa ke sini juga, Jay.”

Mau bagaimana lagi? Tiba-tiba aku ada banyak jadwal. Selagi pekerjaan ini bisa ditunda, yang menjadi prioritas utama selalu kudahulukan.

“Imigrasi dan semuanya sudah beres, Bos,” lapor Nicolo, “setelah ini jadwal kita langsung ke hotel.”

Jameka menyahut, “Katanya kepala cabang Heratl sini entar mau menjamu kita.”

Tito menanggapi Jameka. “Dikira kita nakal apa, pakai dijamu segala?”

“Mulai, deh,” desis Jameka yang memutar bola mata malas.

Kadal buntung yang meringis satu ini memang kerap kali menyulut genderang perang dengan kakakku. Syukurlah mereka tidak adu mulut lebih lanjut. Kami lantas masuk mobil sewaan. Kami berpencar dengan mobil masing-masing. Aku dan Nicolo di mobil pertama, Jameka dan Tito di mobil kedua, sedangkan Pak Zafi dan salah satu anak buahku di mobil ketiga.

Tujuannya sudah jelas; apabila ada suatu kejadian yang tidak diinginkan, setidaknya kami tidak satu mobil. Apabila terjadi sesuatu dengan salah satu petinggi perusahaan, setidaknya masih ada petinggi-petinggi lain yang nantinya dapat meneruskan kinerjanya. Kami menghindari hal-hal semacam itu dan tentu saja dengan bantuan anak buahku yang lainnya di mobil-mobil lain yang berpencar-pencar setelah melakukan pemeriksaan serta memastikan daerah yang akan kami lewati aman.

Butuh waktu kurang dari satu jam untuk menempuh perjalanan dari bandara menuju Hotel Mercure Samarinda. Kepala cabang sudah mengurus semuanya sehingga kami telah mendapatkan kamar masing-masing dengan fasilitas jempolan. Semuanya harus dicek ulang oleh Nicolo dan anak buahku.

Sekitar pukul satu siang, ketua cabang Heratl Samarinda menjamu kami di restoran hotel yang disewanya penuh sehingga tidak ada pengunjung lain. Kami pun makan siang dan basa-basi sedikit.

“Bapak-bapak dan Ibu pasti capek. Kebetulan saya sudah menyiapkan hiburan, sekalian biar bisa langsung istirahat,” kata pria berumur kira-kira 50 tahun itu dengan senyum lebar.

“Hiburan apa?” tanyaku dengan nada datar untuk menghormati tuan rumah. Padahal sebenarnya aku sudah tidak sabar ingin tidur lantaran jet lag.

Pria berperut buncit yang duduk di sebelahku itu mencondongkan tubuh ke arahku sedikit, lalu berbisik, “Biasalah, Pak. Kami sudah menyediakan escort. Bapak-bapak dan Ibu Jameka tinggal pilih aja. Ada yang dari karyawan-karyawan yang pengin kakiernya melejit, ada juga yang dari pemandu karaoke. Entar biar langsung saya suruh masuk kamar masing-masing.”

“Anda menghina saya?” tandasku. Kendati dengan nada dan wajah datar, tetapi aku amat tersinggung.

Lebih gilanya lagi, wajah pria itu tampak bingung. “Menghina gimana ya, Pak?” tanyanya, “kan, biasanya juga gitu. Ibu CEO dan putra beliau dari pusat dulu juga gitu. Jauh dari suami dan pasangan ya nyewa escort atau karyawan-karyawan yang mau jabatannya naik, biar nggak kesepian. Saya yang ditunjuk buat nyari, Pak. Itu sudah jadi rahasia umum.”

“Istri saya nggak kurang sama sekali. Sebelum berangkat ke sini saya diservis full. Lebih-lebih malahan. Dengan Anda menawari saya hiburan semacam ini, berarti Anda nggak hanya menghina saya, tapi juga istri saya. Tugas kepala cabang di sini untuk mengawasi dan mengambil keputusan terbaik untuk perusahaan. Bukan untuk mencari escort atau karyawan-karyawan yang pengin kenaikan jabatan dan menawar-nawarkanya ke petinggi-petinggi perusahaan pusat,” cercaku.

Di seluruh cabang The Black Casino and Pub milikku memang menyediakan perjudian yang sudah diatur sedemikian rupa agar untung kami bisa berlipat ganda. Namun, aku tidak mewadahi escort atau kartel narkoba. Karyawati-karyawati boleh saja jadi sugar baby bagi pria hidung belang yang bisa menghabiskan berjuta-juta poundsterling di meja judiku. Namun, sudah kutekankan jangan membawa-bawa nama The Black Casino and Pub. Istilah kasarnya, silakan jual diri atau jual narkoba atas kemauan sendiri.

Aku pun selalu menolak jasa layanan plus-plus semacam ini yang memang sudah lumrah dan kerap kali ditawarkan padaku, di setiap kali aku pergi ke suatu daerah, kota atau negara di benua lain untuk melakukan negosiasi. Yang sangat kusayangkan, kenapa itu juga terjadi pada Heratl? Dengan ini mereka malah justru merusak citra perusahaan. Padahal perusahaan sedang di ambang kebangkrutan.

“Nggak bener ini!” timpal Jameka yang jelas terlihat geram. Tangannya mengayun. Kupikir ia akan menggebrak meja, tetapi rupanya tidak. “Mohon maaf. Saya juga bukan wanita kesepian yang harus nyewa-nyewa escort! Anda ini kurang ajar sekali! Pantas aja cabang di sini bermasalah! Ternyata kerjaan Anda selama ini jadi germo!”

Tito yang duduk di sebelah Jameka hanya menunduk dengan rokok terselip di antara jari-jarinya. Asapnya melayang-layang di udara sekitar kami. Jangan sampai kadal buntung satu ini sedang berpikir untuk memilih-milih escort atau karyawati yang bisa dibungkus ke kamarnya. Aku bersumpah akan mengebirinya kalau itu terjadi.

Semoga Tito sudah tobat betulan jadi playboy.

Setelah sekilas melihat Pak Zafi menggeleng-geleng sambil berdecak, aku berpikir tidak ingin mendengar alasan lain dari sang kepala cabang. Maka, aku menatap Nicolo yang duduk tidak jauh dari kami. Nicolo memang tidak bisa dan tidak paham sama sekali dengan apa yang kami dibicarakan dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi, ia langsung mengerti dengan arti tatapanku.

Dengan bantuan beberapa anak buahku, mereka menyeret si kepala cabang tidak tahu diri yang sudah beruban itu. Pria itu jelas meronta-ronta dan merasa diperlakukan semena-mena. Untungnya ia sudah menyewa seluruh restoran ini untuk kami. Jadi, tidak ada yang curiga. Termasuk para staf hotel.

“Orang gila!” maki Jameka dengan alis kian menukik tajam tanda kegeramannya makin naik. “Harus diusut sampai tuntas, nih, orang-orang macem kayak gini! Biar gue tendang aja dari Heratl! Kerjanya pada nggak becus! Pantes aja cabang di sini berantakan!”

•••

Samarinda, Kalimantan
12 September
Pukul 08.02

“Pak, coba bayangkan saja. Hutan ini dulunya milik leluhur kami. Kenapa tiba-tiba jadi HTI milik Heratl?” tanya pria berperawakan cenderung kurus yang berstatus sebagai kepala desa yang usianya sekitar seumuran Papa. “Lagian, hutan berhektar-hektar itu sekarang jadi tanah sengketa, Pak.”

Sang istri datang membawa senampan piring berisi camilan khas Samarinda seperti: keminting, kue ilat sapi, amplang, dan gula gait. Wanita tersebut kembali ke dapur untuk mengambil beberapa cangkir kopi yang lantas diletakkan berdampingan dengan makanan ringan tadi di meja rendah hadapan kami. Kemudian beliau duduk di sebelah suaminya, ikut menyimak obrolan ini.

“Tiba-tiba bagaimana? Kami sudah mengurus semuanya jadi legal beberapa tahun silam,” bantahku lugas. “Jadi, hutan itu sudah jadi milik Heratl sejak saat itu. Seharusnya Bapak sudah tahu itu berdasarkan berkas-berkasnya,” lanjutku yang tidak mengerti kenapa orang ini masih mempertanyakan soal perizinan dan hak paten. “Jadi, nggak ada tanah sengketa, Pak.”

“Kapan, Pak? Mana pernah kami nerima surat perizinan dan lain-lain? Apalagi baca surat kepemilikan sah Heratl?” tukas Pak Kepala Desa, “sampai detik ini kami sama sekali nggak nerima surat izin apa pun. Makanya kami marah dan ngerusak alat berat perusahaan Heratl yang main gusur seenak jidat.”

Dengan ketenangan yang kubangan, tatapan mataku beralih ke Jameka. Kami seperti langsung nyambung pada satu subjek: si kepala cabang.

Dasar begundal tidak berguna! Awas saja! Akan kucopot satu per satu kekayaannya untuk menambal kerugian yang dialami Heratl. Pria itu harus merasakan nerakaku. Tidak perlu dipenjarakan. Cukup dengan orang-orangku saja.

Aku pun meminta Pak Zafi segera menyerahkan amplop cokelat besar berisi berkas-berkas yang memang sudah dipersiapkan untuk hal semacam ini. Pak Kepala Desa mengambil kacamata plusnya untuk membaca dokumen-dokumen tersebut. Setelah beberapa waktu, dengan alis berkerut samar, pria itu berkata, “Baik, saya mengerti. Tapi tetap saja, Pak. Kami nggak bisa membiarkan ini tetap berlangsung.”

“Berapa yang Bapak minta?” tanyaku langsung mengarah pada inti pembicaraan.

Seperti tarik-ulur, Pak Kepala Desa menghela napas, menatap istrinya sejenak yang juga menghela napas, kemudian menolak, “Maaf, Pak. Kami nggak pengin uang berapa pun.”

“Loh, jangan sungkan-sungkan. Berapa miliar sebagai kompensasi? Atau gini aja. Berapa pemuda di desa ini yang nganggur? Biar saya kasih pekerjaan di Heratl cabang ini,” tawarku lagi.

Bukannya senang, Pak Kepala Desa malah murka, “Bapak ini nggak ngerti juga, ya? Ini bukan soal uang atau pekerjaan, Pak! Awalnya kami senang Heratl nanam pohon balangeran yang sekarang statusnya terancam punah. Secara nggak langsung bisa melestarikan hutan dan alam Indonesia, khususnya di Kalimantan ini. Tapi kami jelas tambah marah waktu pihak Heratl memanen pohon-pohon yang masih kecil. Nggak tahu aturan sama sekali! Itu mau ngejek kami atau mau takabur dengan Yang Maha Kuasa?”

•••

“Nggak bisa gitu, dong, Jay! Masa lo ngasih semua HTI Heratl ke Pak Kades? Itu keputusan tergoblok yang lo ambil!” protes Jameka sewaktu rombongan kami berjalan ke kendaraan kami masing-masing yang terparkir agak jauh dari halaman luas rumah Pak Kepala Desa.

Aku berhenti di depan pintu belakang mobil Ranger yang khusus kami sewa. Lalu aku berkata pada Tito yang berdiri di sebelah Jameka. “Tolong cari tahu Gibran sama Fani udah berapa persen.” Setelah Tito pergi, aku baru membalas Jameka. “Bukan ke Pak Kades, tapi gue balikin yang emang jadi hak mereka.”

Dengan satu tangan berkacak pinggang, tangan Jameka yang lain memegangi kepalanya. “Lo tahu, kan, itu satu-satunya bahan baku punya Heratl! Nggak gitu cara kerjanya, Jay! Katanya lo negosiator ulung! Kenapa malah jadi gini? Kok, kita ngalah?”

“Terus gimana? Emang itu hak mereka, kan? Orang lama Heratl aja yang main gusur seenaknya. Gue gini-gini juga punya prinsip, Jame. Negosiasi itu nggak selalu menang. Kita harus lihat sikon dulu. Udahlah. Tugas lo cuma mikirin bahan baku alternatif yang nggak ngerusak alam. Contohnya yang udah dikasih usul sama Pak Kades tadi. Biar gue yang cari lahan lagi yang bukan tanah sengketa biar bisa ditanam jati Belanda yang cepet gedhe, jadi panennya cepet. Nggak dalam status terancam punah juga.”

“Lo gila, ya! Hancur udah Heratl, Jay! Makin bangkrut kita! Rumah Papa bagian mana lagi yang mau dipadamin listriknya?” amuk kakak perempuanku itu.

“Sementara Papa pindah ke kondominium lo dulu atau bisa ikut gue ke Summmertown. Biar gue—”

“Jangan berani-berani lo jual rumah Papa! Itu rumah kita juga! Kenang-kenangan kita sama Mama banyak di sana, Jay!” potong Jameka.

“Siapa juga yang mau jual rumah Papa? Gue cuma mau nganalisa dulu. Gimana harus hemat. Lo nggak usah khawatir, Jame. Properti-properti gue udah jalan, kok. Meski belum balik modal, tapi lumayanlah bisa nutup-nutupin biaya-biaya lain.”

Jameka menggeleng-geleng. Ia mendesah untuk mengeluarkan napas berat. Pandangannya disasarkan ke sekitar dulu. Baru kemudian bicara dengan nada pelan. “Tapi lo, kan, udah punya bini. Emangnya bini lo nggak keberatan kalau lo bantu sebanyak ini? Lo juga tahu, kan, gue udah ngapain Melody? Masa gue mau ngebebanin dia lagi, kali ini sama masalah keluarga kita?”

“Dia urusan gue.”

Jameka kembali menyiuk. “Ya udahlah, sementara Papa pindah sama gue dulu. Lo, kan, pengantin baru. Fokus aja sama rumah tangga lo. Baik-baik sama Melody.”

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote komen atau benerin typo-typo meresahkaeun

Kelen luar biasa

Bonus foto Jayden akoh


Buat temen-temen yang suka cerita ringan bentuk AU, bisa banget follow sosmed saya.

Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻

Jumat, 29 Juli 2022

Remake and repost: 9 September 2023
Repost: Jumat, 11 Oktober 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro