Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 17 [Jayden Wilder]

Selamat datang di chapter 17

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo meresahkaeun

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like I do love Jayden and Melody

❤️❤️❤️

____________________________________________________

“Jangan balas dendam. Dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada, justru memunculkan masalah baru.”


—Allecio Michelle

____________________________________________________

Musim semi
Clifton Hampden, 2 April
Pukul 05.20

Papa tidak akan mati.

Aku sama sekali tidak ingin memercayai dokter spesialis jantung yang mengatakan prognosis Papa bisa segera henti napas selamanya apabila tidak mendapatkan donor jantung secepatnya.

Memang betul. Tidak ada yang bisa membantah hukum alam yang berbunyi: Tidak ada yang abadi di dunia ini. Namun, aku akan berusaha semampuku untuk memperpanjang umur Papa. Tak peduli urusan pekerjaanku jadi terbengkalai; ekspor-impor senjata api dan miras dari dan ke Skotlandia memang lancar. Berlainan dengan pengawasan kandidat consigliere yang harus ditunda beberapa bulan belakangan dan rencana balas dendam yang masih setengah jalan.

Kandidat-kandidat penasihat hukum klan Davidde yang tersebar di beberapa wilayah berbeda menjadi PR tersendiri. Banyak anggota klan yang dikerahkan untuk ini. Dan aku tidak akan puas bila tidak melihat kinerja anak buah-anak buahku serta kandidat-kandidat consigliere itu secara langsung. Sudah pernah kukatakan sebelumnya bahwa aku tidak bisa semudah itu percaya terhadap orang lain, kendati notabene orang terdekat. Lebih-lebih, itu orang lain.

Sebelum meninggalkan Melody bersama Jameka dan Mbak Mar, aku menjatuhkan ciuman di kening istriku agar ia tenang. Meski kami berdekatan, aku sedikit mengabaikan Melody sebab perkataan Papa di malam sebelum aku pergi ke Pelabuhan Northumberland tidak henti-hentinya menghantam-hantam benakku.

Malam itu Papa berkata, “Jay, sejujurnya Papa udah tahu kamu itu sebenarnya MOB Boss klan Davidde. Mafioso.”

Tanpa Papa sadari, beliau telah membunuhku hidup-hidup detik itu juga. Maksudku, coba pikir, orang tua mana di dunia ini yang suka melihat anaknya menjadi kriminal? Dari roman beliau, aku juga menebak itulah yang dipikirkan Papa; tidak bangga sama sekali memiliki anak kriminal. Sayangnya, aku tidak bisa meninggalkan dunia yang kugeluti itu begitu saja. Banyak orang bergantung padaku.

Untuk menenangkan hati Papa, aku lantas menjawab sambil tersenyum geli. “Pa, jangan ngomong aneh-aneh. Mana ada yang kayak gitu? Papa sebaiknya tidur di kamar.”

Kepura-puraanku dalam merangkai senyum itu tidak menggoyahkan niat Papa untuk bercerita, “Kamu inget waktu Papa pertama kali kena serangan jantung?” Masih dengan raut wajah pura-pura geli, aku diam-diam menyimak. Papa pun melanjutkan, “Malem itu, sebenernya Papa nggak pergi makan sama temen-temen Papa. Dari sore sampai malam, Papa pergi buat nenangin diri ke makam Mama gara-gara baru denger berita itu.”

“Dari siapa?” Senyum geli yang tadinya kubuat-buat sontak lenyap. Aku menemukan diriku bertanya seperti itu dengan suara rendah dan tak ramah. Diam-diam aku juga akan membuat perhitungan dengan orang yang memberitahu berita itu kepada Papa. Juga, mengira-ngira siapa orang tersebut dan belum mendapatkan hasilnya.

“Nggak penting siapa yang ngasih tahu Papa, Jay.”

“Siapa pun orangnya, dia cuma omong kosong, Pa,” sahutku cepat, “Papa nggak usah khawatir soal itu.”

“Awalnya Papa juga nggak percaya. Tapi dia ngasih Papa bukti konkret, Jay. Dia nunjukin videomu sama mendiang Alfred, Tito, dan, anak buahmu lagi ngelakuin sesuatu yang kejam ke orang-orang di beberapa tempat. Di Manchester, Summertown, dan lain-lain. Papa bahkan lihat video kamu berdarah-darah di Hotel Four Season London.”

“Masa gitu aja Papa percaya?”

“Kamu ingat Papa lahir dan besar di mana?” tanya Papa yang lantas dijawab sendiri. “Sisilia, Jay.  Papa ke Indonesia dan tinggal di Jakarta waktu umur tiga puluhan. Jadi, Papa tahu persis dunia mafia.”

Aku melempar pandangan ke segala arah sebab tahu-tahu pembuluh darahku berdesir dan rasanya mendidih. Siapa sebenarnya yang memberitahu Papa lengkap dengan bukti-bukti konkret itu? Dasar sialan! Aku bersumpah akan memberi perhitungan dengannya!

“Papa khawatir sama kamu. Jadi, bisa kamu tinggalin dunia hitam itu buat ngurus Heratl aja, Jay?” lanjut Papa.

Mulutku dikunci rapat oleh amarah sehingga yang bisa kulakukan hanya diam. Bergerak pun, aku belum sanggup melakukannya. Takut bila pergerakanku justru akan menimbulkan dampak buruk bagi keadaan karena tidak dikendalikan oleh otak, melainkan ego.

“Papa sayang kamu, Jay. Duniamu terlalu berisiko. Nggak cuma bagi kamu, bagi orang-orang sekitar kamu juga. Terumata, bagi keluarga besar. Lebih baik kamu ngurus Herarl daripada jalanin bisnis itu. Papa seneng Tito jadi bagian dari Herarl dan ngurangin berkecimpung di dunia hitam itu. Kenapa kamu nggak mulai kayak dia?”

Sumpah demi Neptunus! Ingin kugorok leher orang yang membocorkan informasi sangat rahasia tentang diriku itu kepada Papa. Siapa kira-kira orangnya? Dan aku tidak suka dibanding-bandingkan dengan Tito si kadal buntung.

Setelah membuang oksigen secara brutal untuk mengurangi kadar emosi, aku mencoba mengalihkan topik. “Papa sebaiknya tidur. Aku anter ke kamar, ya?”

Sayangnya, Papa tidak mudah digoyahkan seperti itu. Tampaknya, selain gen Italia, sifat itulah yang juga beliau turunkan kepadaku. Papa terus bersikeras. Dengan suara rendah, beliau pun bertanya, “Apa Jameka dan Melody tahu pekerjaanmu sebenarnya, Jay?”

“Pa, ayo—”

“Papa tebak belum. Kalau Jameka, Papa yakin akan mengerti kamu seratus persen karena sifat kalian hampir mirip. Tapi gimana sama Melody, Jay?”

“Pa ....”

Rupanya, Papa tidak menggubrisku.

“Jay, cepat atau lambat, kamu harus ngasih tahu Jameka. Lebih-lebih, ngasih tahu istrimu. Lebih baik Mel tahu dari kamu daripada tahu dari orang lain kayak yang Papa alami. Kamu bisa ngelakuin antisipasi dengan ninggalin dunia hitam itu dan ngurus Heratl. Kamu akan hidup dengan pasanganmu sampai tua, Nak. Bukan lagi sama Papa, apalagi Jameka. Cepat atau lambat, Papa bakal meninggal, Jameka bakal nikah sama jodohnya.”

Papa keterlaluan. Kenapa malah bawa-bawa urusan kematian dalam waktu cepat atau lambat? Maka dari itu, aku menghentikan beliau. “Pa, tolong jangan ngomong aneh-aneh kayak gitu. Papa sekarang tinggal sama aku. Sama Mel juga. Nggak masalah. Urusan itu dipikirin nanti. Yang penting kesehatan Papa.”

Semestinya, aku pergi saja karena Papa terlampau cerdas dan intuisinya bagus sehingga lagi dan lagi, aku tidak digubris. Papa masih belum puas memberi petuah untukku. “Ya, sekarang Papa lagi sakit. Kalau Papa sehat? Kalau Papa sudah meninggal? Melody yang bakal mengurus kamu. Juga keluarga kalian nanti. Bukan anak buah-anak buahmu. Jadi, tolong kamu pertimbangkan lagi permintaan Papa yang satu ini.”

Aku ingin membantah, tetapi ponselku yang berdering terburu merenggut perhatianku dan Papa. Aku mengambil gawai itu dan melihat Liam menelepon. Mungkin pria itu ingin memastikan kesiapanku untuk segera berangkat ke pelabuhan. Jadi, mau tak mau, suka tak suka, aku harus segera menyudahi percakapanku dengan Papa.

“Maaf, Pa. Aku harus berangkat, temenku udah nunggu. Sebaiknya, Papa masuk kamar,” pamitku sekali lagi dengan hati setenang vorteks.

Sebelum meninggalkan ruang tengah, aku masih bisa mendengar suara Papa. “Lihat kesibukanmu ini, Nak. Gimana bisa kamu sama Mel segera ngasih Papa cucu? Selain itu, Papa juga berharap kamu nggak nyari orang yang ngasih tahu siapa kamu sebenarnya ke Papa. Jangan balas dendam, Jay. Dendam cuma bakal munculin masalah baru. Hati-hati di jalan, Nak. Papa sayang kamu dan Jameka.”

Dengan jujur aku mengakui, petuah-petuah Papa sangat mempengaruhi pikiranku. Semua petuah Papa menyiksaku.

Sepanjang perjalanan dari Clifton Hampden hingga tiba di Pelabuhan Northumberland, aku tidak begitu bisa berkonsentrasi. Di sekelilingku ramai suara ombak menghantam bawah kapal yang membawa berbarel-barel minuman keras selundupan alias ilegal. Teriakan-teriakan anak buah-anak buahku terdengar bersahut-sahutan ketika bekerja keras memindah barel-barel itu dari kapal ke truk kami. Sama halnya dengan senjata-senjata api. Runguku pun dipenuhi desau angin musim semi yang masih membawa hawa dingin, yang biasanya bisa menggertakkan gigi, tetapi nyatanya kulitku tidak merasakannya sama sekali seolah-olah saraf perasaku sudah mati.

Di tengah-tengah keramaian di pelabuhan, aku merokok seperti kereta uap usang dan menatap satu poros selama bermenit-menit. Hingga telepon dari Melody berdering membawaku ke dunia nyata tempatku berpijak. Ketakutan segera memerangkapku sehingga tidak berani mengangkatnya.

Aku takut istriku mengetahui pekerjaanku yang sebenarnya lalu meninggalkanku. Oleh sebab itu, aku mengabaikannya. Tak lama setelah telepon dari Melody akhirnya berhenti, Liam datang membagi informasi tentang kondisi kesehatan Papa yang ia dapat dari salah satu dokter spesialis jantung rumah sakit Melody.

Sewaktu aku tiba di rumah sakit itu dan istriku buru-buru menghampiriku untuk memelukku, ketakutan kembali memerangkapku sampai-sampai tidak bisa membalas pelukannya dengan benar. Bagaimana bila pelukan hangat yang menenangkan itu tidak lagi menjadi milikku akibat ia mengetahui pekerjaanku yang sebenarnya? Aku tidak akan sanggup.

Dan aku sangat menyesali diriku yang pergi begitu saja serta tidak mengantar Papa ke kamar beliau lebih dulu pada malam itu. Terutama saat mendengar Melody yang kemarin bercerita bahwa esok harinya Mbak Mar menemukan Papa pingsan di ruang tengah. Kejadian itu tentulah semakin memperkuat tekadku untuk mencari donor jantung sesegera mungkin.

Aku harus tetap berpikir dengan kepala dingin; aku belajar dari pengalaman sebelumnya. Kalau menuruti emosionalku, ketidakrasionallah yang lebih mendominasi dan hasilnya akan buruk. Bisa-bisa semuanya akan jadi berantakan.

•••


Malam ini Clifton Hampden begitu dingin. Anginnya seolah-olah berhasil membobol pertahanan mantel kulit hitam selutut yang kukenakan dan menusuk-nusuk kulitku hingga membuat tulang-belulangku ngilu. Kabut tipis keluar melalui hidung serta mulutku kala bernapas. Padahal tidak ada kaca mobil yang dibuka. Malah, penghangatnya disetel sedang.

Ketika melewati jembatan, aku menatap bayangan mobil dobel kabin yang dikemudikan Tito bersama Liam di sebelahnya ini terpantul permukaan sungai yang berpinar-pinar. Kami lantas mencari donor dari rumah sakit-rumah sakit terdekat. Kalau tidak ketemu, kami akan mencarinya ke daerah agak jauh.

Seharian kami mencari, alam belum mau berkompromi memberiku pertolongan. Aku masih belum menemukan pendonor jantung.

Kemudian di saat aku merasa sangat putus asa, telepon dari Jaclyn datang pada pukul dua dini hari. Melalui Liam, ia mengatakan kalau Lyn Grissam meninggal dunia akibat gagal ginjal.

“Apa lagi kali ini?” Aku ingin memukul-mukul sesuatu atau mencekik seseorang, tetapi hanya mampu mengusap wajah kasar. Kepalaku rasanya hampir pecah.

Dalam dua malam terakhir, aku tidur tidak lebih dari lima jam. Agar otakku terus menyala, aku meneguk kopi pekat beberapa kali. Sampai rasanya jantungku berdebar-debar kencang.

Dan Liam terus memberi masukan, “Kita harus mengirim karangan bunga dan datang ke pemakamannya. Ace juga akan diserahkan ke dinas sosial. Dan Jaclyn .... karena dia menyayangi Ace, dia akan ikut.”

“Kau sedang bergurau sekarang?” makiku yang nyaris melempar putung rokok menyala kepada Liam.

“Tenang, Bos. Biar gue yang ngurus itu,” sela Tito, “lo fokus aja ke Om Alle.”

Liam pun memberi angin segar dengan berita, “Kabar baiknya, Mrs. Lyn Grissam mendonorkan jantungnya.”

Namun, meski kami telah menemukan donor jantung dan operasi Papa berjalan lancar di hari itu juga, dua hari kemudian, organ vital itu menolak berdetak sesuai kinerjanya. Pendek kata, jantung tersebut tidak cocok bagi Papa. Memang begitulah yang telah disampaikan dokter padaku di hari Papa diminta mencari donor jantung.

Meski demikian, aku lantas tidak tahu lagi harus berbuat apa selain duduk di depan ruang ICU. Dengan muram, pandanganku melewati pintu ruangan itu yang terbuka lebar. Sementara perawat-perawat membantu melepas alat-alat berteknologi canggih—tidak berguna—yang menempel di tubuh Papa, Jameka menangis histeris sambil mengguncang-guncang tubuh Papa. Tito berusaha menenangkan kakaku. Melody yang berdiri tidak jauh dari kerumunan itu pun menangis. Liam yang sedari beberapa hari lalu mengikutiku dan kini berdiri di samping ruangan itu hanya bisa menunduk.

Tidak lama kemudian, istriku datang dan melingkarkan seluruh lengan-lengannya di tubuhku. Namun, aku tidak bisa meresponsnya sama sekali. Aku hanya menunduk dan bergumam, “Mungkin Papa udah capek banget berjuang. Aku seharusnya lega Papa udah nggak kesakitan lagi. Nggak perlu ngerasa sesak napas lagi kayak kemarin-kemarin.”

Melody sontak menghentikan tangisnya. Dengan suara parau, ia bergumam, “Yes, he will be happy. It’s okay, I’m here for you.”

Baru di saat itulah aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Aku menarik istriku lebih dekat dan membalas pelukannya erat-erat. Papa sudah tiada, aku tidak mau Melody menjadi yang berikutnya meninggalkan aku. Di sisi lain aku ingin segera mengakui pekerjaanku sebenarnya. Di waktu yang sama aku takut mendengar jawabannya yang tidak sesuai keinginanku. Aku lantas membiarkan diri menangis tanpa suara dalam dekapan hangat istriku.

Esok harinya, kami tiba di Jakarta. Aku dan Jameka sepakat mengebumikan Papa di sebelah makam Mama. Banyak orang datang dan mengantar Papa. Mertuaku pun turut bersedih. Mereka gantian memelukku. Daddy alias mertuaku itu mengatakan, “Kami akan selalu ada untukku, Nak,” sambil menepuk-nepuk pundakku. Sedangkan Brian tidak berkata apa pun, hanya memelukku ala lelaki.

Jameka masih menangis. Ia bahkan masih berbisik, “Papa belum lihat aku nikah, Pa .... Aku pengin Papa lihat aku nikah dan jadi waliku.” Wajah kacau kakakku kemudian mendongak untuk menatapku. “Gimana ini, Jay? Tahun kemarin River, sekarang Papa. Kenapa orang-orang yang gue cintai cepet banget perginya?”

Yang bisa kulakukan hanyalah memeluk kakakku. “Nggak apa-apa. Masih ada gue yang bakal jadi wali nikah lo dan lihat lo punya anak, Kak.”

“Beneran ya, Jay? Lo harus janji.”

“Iya.”

Semenjak Papa meninggal, aku merasa tersesat oleh ruang dan waktu. Melody senantiasa menenangkanku, tetapi aku justru menutup diri. Berbagai pikiran bejubel masuk ke dalam benakku sehingga membuatku lelah untuk berpikir.

Aku bolos kerja selama hampir dua minggu. Kini aku pergi ke ruang kerja di penthouse-ku dan menderap ke lemari kaca yang memajang minuman-minuman keras koleksiku. Aku butuh beberapa teguk untuk menghidupkan diri. Setelah pintu kaca itu terbuka, tanganku memanjang untuk mengambil botol sampanye bersepuh emas dengan tulisan Armand de Brignac Midas.

Selepas menemukan pembuka tutup botol minuman keras, kubawa sampanye itu ke kursi kerja.

Aku tahu sampanye hanya cocok digunakan untuk merayakan sesuatu, tetapi mana aku peduli saat ini? Yang kubutuhkan hanyalah sedikit rasa lezat miniuman yang bisa membakar tenggorokan ini agar lebih hidup.

Tutup botol itu sudah lepas. Buih putih bersama cairan kuning bening meluber hingga tumpah ke lantai. Aku meneguk sampanye itu langsung dari botol. Rasanya tenggorokanku terbakar. Perasaanku pun membaik. Aku meneguknya lagi dan lagi. Rasa senang mulai menguasaiku. Kemudian tahu-tahu aku merasa sangat sedih. Lalu marah.

“Astaga, Baby. Ini masih pagi. Kok, malah minum-minum?” Itu keluhan dari Melody yang membuka pintu ruang kerjaku.

“Jangan cerewet! Siapa yang nyuruh kamu ke sini? Ini wilayahku!”

“Aku nyari kamu ke mana-mana. Sarapan yang aku pesan udah datang. Ayo makan, Baby.”

Melody menderap ke arahku dan merebut botolku, tetapi dengan kasar aku menepisnya. Sampai-sampai minuman itu tumpah sedikit. “Jangan ganggu aku!”

“Baby, kamu mab—”

“Gara-gara kamu minta nunda punya anak, Papa jadi meninggal duluan! Semua ini salahmu, Mel! Papa meninggal gara-gara kamu!”

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, atau benerin typo-typo meresahkaeun

Kelen luar biasa

Bonus foto suami zeye


Jangan lupa follow sosmed saya lainnya ygy

Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©® Chacha Nobili
👻👻👻

Minggu, 14 Agustus 2022

Remake and repost: Minggu, 17 September 2023
Repost: Rabu, 16 Oktober 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro