Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 14 [Berlian Melody]

Selamat datang di chapter 14

Tinggalkan jejak dengan vote, komen, dan benerin typo-typo meresahkaeun yes

Thanks

Happy reading everybody

Hope you like and enjoy this story like I do love Jayden

❤️❤️❤️

____________________________________________________

Dear Ex. If you see me, I want you to recognize what you had, regret what you’ve lost, and realize that you’re never getting back.”

—Your Ex Fiancée

____________________________________________________

Jakarta, 31 Oktober
Pukul 06.40

“Ini konsepnya gimana? Papa harus nangkal vampir pakai bawang ini?” tanya Papa yang memelototi tumis sawi. Lalu mengangkat piringnya tinggi-tinggi, memutar-mutarnya pelan serta mengintip bagian bawah seolah-olah sedang mencari kebocoran piring.

“Bawang putih, sawi, dan salmon bagus buat kesehatan jantung, Pa,” sahutku sambil cekikikan.

Semenjak keluar dari rumah sakit, aku bersama dokter-dokter spesialis jantung membuat daftar makanan yang harus dikonsumsi atau dihindari oleh Papa, lengkap dengan cara memasaknya. Orang yang memiliki riwayat penyakit jantung tentunya diharapkan lebih baik tidak mengkonsumsi makanan yang digoreng dengan minyak kelapa sawit karena mengandung kolesterol tinggi.

Kalau terpaksa lantaran bosan memakan makanan yang direbus atau dikukus, makanan boleh ditumis menggunakan minyak zaitun atau minyak canola murni. Well, di zaman modern ini, bahan makanan pun bisa dimasak menggunakan air fryer.

Namun, rupanya Papa berusaha melarikan diri. “Iya, sih. Tapi ..., harus banget sebanyak ini, Mel?”

“Dikit-dikit tapi sering juga boleh, Pa,” lontarku gamblang yang kemudian mulai menyendoki makananku. Aku melihat Tito—yang duduk di sebelah kiri Kak Jameka—mulai melakukan hal serupa denganku.

Sementara itu, Kak Jameka—yang duduk di sebelah kiri Papa—menanggapi, “Perasaan itu nggak banyak-banyak banget, kok, Pa.”

Jayden—yang duduk di sampingku dengan posisi berhadap-hadapan dengan Papa—memberikan penawaran jitu. “Pilih mana? Papa tinggal di Inggris sama aku dan Mel, tinggal sama Jameka, atau ngabisin tumis sawi bawang itu?”

Decak pasrah keluar dari mulut Papa. Piring yang semula masih diangkat kini sudah mendarat di meja makan. Bahkan beliau sempat membuang muka ke arah kolam renang di sebelah meja makan panjang ini.

Omong-omong, Jayden dan Papa sudah berbaikan. Setelah pillow talk membahas kemungkinan kesembuhan Papa, aku meminta Jayden tidak berbicara atau bersikap kasar terhadap Papa. Suamiku mengatakan bukannya ia bermaksud tidak sopan terhadap orang tua. Sama sekali bukan. Ia hanya mengeluarkan unek-uneknya dan perlu waktu merenung untuk mendinginkan kepala. Barulah ia bisa menyusun strategi agar Papa mentaati semua perkataan dokter. Selain itu, Jayden juga mengakui sudah sangat lelah berperang batin melawan Papa. Jadi, berbaikan adalah cara terbaik.

Sambil makan, aku mengamati Papa yang masih ogah-ogahan menyendok nasi, tumis sawi, dan salmon potongan kecil. Beliau kemudian mencela Jayden yang belum menyentuh makanannya sama sekali. “Selalu punya celah biar Papa nggak bisa nolak, ya, Jay? Pantes, kamu berbakat ngurus bisnis tongkrongan, properti, Heratl, dan bisnis-bisnis lainnya.”

“Bisnis-bisnis lainnya?” gumamku sembari menyingkirkan rambut dari wajah yang diterpa angin agak kencang. Aku mengumpulkannya menjadi satu, bermaksud mengucirnya. Sementara satu tanganku yang lain mencari-cari kucir di saku, benakku sibuk bertanya-tanya: bukankah bisnis Jayden hanya kelab malam dan properti? Adakah bisnis lain? Atau Papa salah hitung, ya?

“Demi kesehatan Papa,” balas Jayden yang sedikit menekan suaranya. Tanpa melihatku, ia memegangi seluruh rambutku mirip menggantikan fungsi kucir.

Aku yang lumayan tertegun mendadak kembali digempur dilema antara harus berdebar-debar lantaran mendapat perhatian kecil dari Jayden. Atau fokus pada ketegangan yang terjadi di antara Papa dan Jayden. Dan aku tentunya tahu apa yang harus kuutamakan.

Jadi, berhubung takut dua pria sedarah ini bertengkar lagi, aku segera menyentuh lutut Jayden sebagai isyarat agar ia berhenti mendebat Papa. Sekaligus berterima kasih karena menolongku memegangi rambut dan memberiku waktu mencari kucir.

Beruntungnya Papa mengalah. “Ya udah. Papa habisin tumis sawi sama salmon ini.” Beliau mengunyah ogah-ogahan, tetapi aku bersyukur akhirnya ditelan juga. Lalu Papa mengatakan, “Omong-omong, kemarin kata Mbak Mar ada yang habis bersih-bersih ruang teater.”

Sumpah demi apa pun aku nyaris tersedak mendengar itu dari Papa. Ugh! Dasar Mbak Mar tukang ngadu!

“Emang kotor, waktunya dibersihin,” jawab Jayden santai.

“Oh …. Kirain bersih-bersihnya itu sebelum dipakai nonton film. Aneh juga setelah dipakai nonton baru dibersihin padahal nggak bawa makanan atau minuman atau rokok. Logikanya nggak mungkin kotor, dong?”

“Kenapa muka lo merah gitu, Mel?” tanya Kak Jameka dan aku nyaris menyemburkan makananku.

“Itu gara-gara kemarin habis bersih-bersih, Jame,” serobot Papa.

“Papa! Ini cuma karena belum pakai sunblock. Makanya jadi merah gini, Pa” kelitku.

“Yakin, Mel?” goda Tito. Soalnya ada kejadian, barusan tadi pagi banget. Kan, gue lagi duduk di gazebo sambil ngerokok nungguin sarapan siap. Tiba-tiba kedengaran berisik-berisik di semak-semak di tengah-tengah taman, yang tanemannya agak rimbun emang. Kirain kucing lagi berantem. Eh, nggak tahunya.”

Setelah mengarahkan pandangan ke aku, Tito beralih ke Jayden. Wajahnya mencibir. Dan kali ini cerita itu benar-benar membuatku tersedak dan buru-buru minum. Ini semua gara-gara Jayden yang sok memberi ide mencari tempat petualangan baru dan dengan bodohnya aku mau-mau saja.

“Bangke! Kayak kagak ada tempat lain aja! Huek …. Gue jijik banget sama lo, Bambang!” maki Kak Jameka kepada Jayden yang kemudian berkata padaku. “Lo jangan mau diajak nananina di semak-semak, Mel. Gatel banyak ulat! Emang si Jay parah! Untung lo kagak diajak maen di hutan. Bisa gancet kalian berdua!”

“Nananina di hotel mulu kayak lo mah nggak asyik,” ledek Jayden.

“Asem! Nggak, Pa!” sangkal Kak Jameka sambil menggeleng-geleng dan tangan mengibas-ngibas untuk meyakinkan Papa.

“Tuh, sebelah lo saksinya.” Jayden menunjuk Tito.

“Nggak, Pa. Bohong, Pa!” Lagi-lagi Kak Jameka menyangkal.

Di waktu yang sama Tito ngedumel sendiri. “Sialan! Nggak di hotel, nggak di taman, kenapa mesti gue yang ngegepin, sih? Awas aja kalau ada yang nananina di kolam renang ini, ya! Gue hancurin beneran dunia ini!”

“Nah, ide bagus, tuh, To. Entar malem jangan ke sini. Gue sama Mel—”

“Nggak! Di kamar aja! Kalau kamu nggak mau, silakan tidur di luar!” potongku impulsif yang malu setengah mati. Sudah cukup berpetualangnya. Jayden oon!

“Noh, rasain lo! Mampus! Mamam, tuh. Tidur sama nyamuk sono!” ledek Kak Jameka di tengah tawa kencang Tito.

“Apa, sih? Cuma mau ngajak Mel bakar jagung di tepi kolam, kok,” sangkal Jayden. “Tapi kalau mau nonton, entar di kolam renang, ya.”

“Jayden oon!” omelku yang kemudian memukuli lengan Jayden pelan.

“Ogah, entar gue muntah liat punya lo!” cibir Kak Jameka yang tampak mual.

“Apa lagi gue! Hi! Ngeri! Takut kesurupan!” tukas Tito sembari bergidik.

“Heran. Padahal cuma mau bakar jagung, loh. Gitu aja heboh,” gumam Jayden tanpa beban lalu beralih padaku lagi. “Nanti pakai dress lagi, ya, Baby.”

“Bangke! Jangan mau, Mel! Itu akal-akalan si Bambang aja biar gampang disingkap kalau mau diajakin nananina di kolam renang,” cetus Kak Jameka.

Tito menanggapi Kak Jameka. “Wih, pengalaman, nih. Suhu emang beda.”

“Apa, sih, To? Padahal lo lebih suhu,” desis Kak Jameka.

Sementara itu Papa menggeleng-geleng, tetapi menyetujui. “Nggak apa-apa, Mel. Jelajahi aja semua mansion ini. Biar Papa cepet dapet cucu.”

Aku menutupi wajah yang memanas sebab saking rikuhmya. Dan Jayden tak bercanda soal omongannya. Malamnya ia benar-benar mengajakku bakar-bakar jagung dan sosis di tepi kolam renang. Ia bahkan mengajak semua orang yang ada di meja makan saat sarapan untuk ikut.

Namun, meski aku mengenakan dress santai sopan, Jayden tidak mengajakku melakukannya di kolam renang. Melainkan di ruang laundry di suatu pagi, di kemudian harinya.

•••

Jakarta, 3 November
Pukul 07.00

“Mie ayam Pak Man ini emang juaranya. Nggak ada duanya pokoknya. Nambah, dong, Pak ....”

Pak Man yang meracik mie ayam di rombong birunya menolehku. “Mbak Mel lagi isi, ya? Kok, kayaknya ngidam banget mie ayam saya? Sampai nambah loh, Mas Jay,” komentar beliau dengan logat Jawa kental. Sesekali Pak Man menghadap Jayden yang berdiri di sebelah rombong tersebut dan asyik nyemil pangsit di toples. Setiap kali kami ke tempat langganan kami ini, begitulah kebiasaan Jayden.

“Belum isi, tapi gimana nggak ngidam, Pak? Di Inggris nggak ada mie ayam Pak Man. Bapak nggak ada cita-cita buka cabang di sana gitu?” jawab dan usulku.

Pak Man malah berbalik tanya, “Loh, Mas Jay sama Mbak Mel tinggal di Inggris, to? Berarti Mas Jay udah dapet kerja di sana, ya?”

“Ha? Udah dapet kerja?” Gantian aku yang bertanya lantaran bingung.

Jayden menjawab, “Iya, Pak. Saya jadi TKI di sana.”

“Wah, ya syukur kalau gitu, Mas. Saya ikut seneng sampean udah ndak jadi pengangguran lagi. Pentesan sampean sama Mbak Mel jarang ke sini. Ternyata jadi TKI di Inggris toh,” balas Pak Man riang. Sambil manggut-manggut, pria berumur 50 tahun itu mengaduk-aduk mie di panci mendidih.

Sementara aku makin tak mengerti, Jayden menanggapi Pak Man. “Gimana mau nganggur, Pak? Sekarang saya juga hidupin anak orang.”

“Iya, Mas. Laki-laki itu harus kerja. Mau gaji berapa pun itu yang penting sudah berusaha.” Pak Man memotong-motong sawi sebelum dimasukkan ke panci.

“Ayo ikut saya ke Inggris, buka cabang di sana pasti laris,” ajak Jayden yang mengambil segenggam pangsit lagi. Lalu dicemili lagi.

“Ndak bisa bahasa Inggris, Mas.”

“Ya belajar, Pak.”

Pak Man meringis dan dengan cekatan menyiapkan mangkuk-mangkuk. “Mas .... Mas .... Udah tua, kok, suruh belajar bahasa Inggris. Ya mending saya jualan mie ayam di sini. Wes, sampean aja yang kerja di Inggris.”

Mereka ini sepertinya melupakan kehadiranku lantaran asyik mengobrol berdua. Jadi, setelah kami membungkus mie ayam untuk keluargaku, ketika perjalanan pulang ke rumah orang tuaku, aku pun meminta penjelasan tentang obrolan Jayden dan Pak Man.

“Sebelum kita nikah, Pak Man pernah tanya aku kerja di mana. Terus aku jawab nggak kerja,” cerita Jayden.

“Seriusan kamu bilang gitu?”

“Nggak bohong, kan? Aku emang nggak kerja. Tapi ngerjain orang.”

Kutepuk jidatku. “Astaga, Pak Man nyangkanya kamu pengangguran. Gitu malah kamu ngaku-ngaku TKI lagi.”

“Pak Man itu lugu, Baby. Omong-omong, jadi beli itu nggak? Mumpung di depan ada minimarket.”

“Oh itu ....”

“Iya, katanya kamu mau nyoba?”

“Kamu yang beli, ya?”

“Biar adil, suit aja.”

“Oke.”

Jayden memarkir Range Rover putihku tepat di sisi minimarket. Kemudian kami suit Jepang.

“Gunting, batu, kertas!” kata kami kompak.

“Yah ..., kalah lagi,” keluhku yang akhirnya terpaksa turun tanpa membawa tas dan hanya membawa beberapa lembar uang di saku. Aku memang tidak berencana belanja banyak. Dan begitu masuk, aku langsung ke kasir.

“Ada yang bisa dibantu, Dek?” tanya pemuda yang bertugas menjaga kasir.

Dipanggil “Dek” membuatku menahan diri untuk tidak mengeluarkan napas berat. Berhubung ingin urusan ini cepat selesai, aku menjawab sambil menunjuk rak tempat barang-barang dipajang. “Mau beli itu, Kak.”

Pemuda tersebut menoleh ke rak belakangnya. “Yang mana, Dek?”

Dek lagi!

“Yang itu, loh, yang ada rasa stroberi, dan lain-lain,” balasku.

Pemuda itu membelalak. “Adek mau beli ini?”

“Iya saya mau beli itu.”

“Adek tahu ini apa? Ini bukan permen rasa-rasa loh, ya?”

“Iya. Saya tahu.”

Pemuda ini makin menjadi-jadi. “Loh, kok, masih mau beli?”

“Kenapa emangnya? Itu, kan, urusan saya.”

“Adek umurnya berapa? Coba saya lihat KTP-nya.”

Sumpah?

Aku memutar bola mata malas. “Kak, tenang aja. Umur saya udah cukup, kok,” pungkasku sembari tersenyum formal.

“Gini, Dek. Banyak yang ngaku-ngaku umurnya udah cukup buat beli ini. Tapi, sebagai sesama manusia yang hidup di Indonesia, saya cuma mau ingetin, Adek sekolah aja yang pinter, ya. Yang bener. Jangan aneh-aneh. Kasihan orang tuanya di rumah.”

“Yang aneh-aneh itu siapa, Kak? Saya udah nikah, kok. Nih, cincin pernikahan saya,” bantahku yang lantas menunjukkan cincin pernikahanku.

Yang lebih mengesalkan lagi, penjaga kasir itu tidak percaya. Orang-orang yang berbelanja mulai celingak-celinguk memperhatikan kami. Ada seorang ibu-ibu yang baru mengantre di belakangku ikut nimbrung. “Dek, banyak yang ngaku-ngaku udah cukup umur dan udah nikah buat beli itu. Kalau Adek emang udah cukup umur atau udah nikah, coba kasih lihat aja KTP-nya.”

Serius? Gggrrr!

“Ada apa ini, Mel?”

Aku menoleh ke samping dan betapa terkejutnya saat mendapati pria yang sangat kukenal tiba-tiba datang, yang tak lain adalah Umar Al-Khareem. Iya! Itu mantan tunanganku. Sumpah demi Neptunus! Kenapa harus sekarang dan kenapa harus Umar?

Dan dengan senang hati, ibu-ibu tadi membantuku menjawab Umar. “Adek ini mau beli kondom tapi dimintain KTP-nya nggak mau.”

Aku yang mendadak syok tak bisa mengatakan apa pun. Hancur sudah harga diriku.

Umar membelaku. “Saya bisa menjamin dia bukan adek-adek yang belum cukup umur, Bu. Dia udah hampir tiga puluh tahun dan udah nikah.”

Penjaga kasir bersikukuh, “Bapak pasti ngarang. Lihat dari mukanya aja masih SMA gitu. Pokoknya, kalau Adek ini mau beli, saya tetep harus lihat KTP-nya buat bukti. Baru saya mau ambilkan barangnya.”

“Ya udah gini aja, saya yang beli. Saya yang tanggung jawab kalau Adek ini kenapa-kenapa.”

“Are you kidding me?” gumamku yang tak percaya dan masih terbengong-bengong.

“Yang apa, Mel? Biasa apa bergerigi? Mau rasa apa?” tanya Umar.

“Eh, anu ....” Aku mulai menggigiti kuku. “Yang biasa aja, yang ukuran XL.”

Umar meringis. “XL, ya? Oke, yang XL, Kak.” Kemudian ia bertanya padaku. “Kenapa nggak pakai hitungan kalender masa subur aja, Mel? Soalnya seingatku, kamu nggak mau KB.”

“Loh kenapa nggak mau KB, Dek?” tanya ibu-ibu di belakang kami. “Saya aja pakai KB biar ada jaraknya. Lagian KB sekarang gratis, loh, dari pemerintah. Jangan sampai kebobolan terus anaknya jadi banyak dan nggak keurus loh, Dek. Lebih-lebih kalau ekonominya belum stabil. Ibu dengar juga Adek udah hampir tiga puluh tahun, lumayan tua, loh, Dek. Emang udah punya anak berapa, Dek? Kok, mau pakai kondom segala?”

Aku langsung nyengir kuda. Apa-apaan ibu ini? “Itu privasi saya, Buk.”

“Loh nggak apa-apa cerita aja, Dek? Siapa tahu Ibu punya solusi.”

Aku sibuk dengan ibu-ibu ini sampai tak sadar Umar sudah membayar belanjaanku dan menyerahkannya padaku.

“Ya ampun, makasih.” Aku pun menyerahkan uang pas untuk membayar Umar.

“Nggak usah dibayar nggak apa-apa, Mel.”

“Jangan gitu. Udah nggak apa-apa.”

“Ya udah kalau kamu maksa. Omong-omong, aku nggak nyangka kita bakal ketemu di sini. Sejak kapan kamu di Jakarta, Mel?”

“Udah seminggu lebih. Kalau gitu aku duluan ya, Umar. Sekali lagi thanks.” Aku tak lupa pamitan dengan ibu-ibu tadi yang mukanya masih penasaran.

Dan baru saja aku berbalik tubuh hendak membuka pintu keluar, Jayden sudah berdiri di sana dengan wajah penuh dendam. Saking kagetnya, aku sampai merasa jantungku hampir menggelinding ke lantai. Lebih-lebih, saat Jayden berkata, “Udah mengenang masa lalunya? Sekarang bisa ke kita ke rumah sakit? Papa pingsan kena serangan jantung lagi.”

Gelombang kejut begitu dahsyat menghantamku keras. Selain khawatir dengan kondisi Papa, aku juga khawatir Jayden mengamuk. Oleh sebab itu aku bungkam, tak berani menjawab. Lagi pula sepertinya Jayden juga tidak butuh penjelasan karena tanpa aba-aba menggandengku keluar minimarket lalu berhenti di dekat tong sampah.

“Mana belanjaannya?” todong Jayden dengan suara pelan, tak ada tekanan, tetapi efeknya bisa mendirikan bulu kudukku. Berhubung hal terakhir yang ingin kulihat adalah Jayden mengamuk di sini, jadi, mau tak mau aku mengambil belanjaanku dari saku dan menyerahkannya pada Jayden.

Lalu, kau mungkin juga sudah bisa menebaknya. Yap! Jayden membuangnya di tong sampah tepat ketika Umar Al-Khareem keluar minimarket. Jayden bahkan sengaja menatap Umar seolah-olah memastikan mantan tunanganku itu melihat persis apa yang ia lakukan.

•••

Jakarta, 4 November
Pukul 16.32

“Saya nggak mau tahu. Pokoknya carikan saya lebih banyak dokter jantung terbaik. Karena saya nggak percaya. Pasti Anda salah mendiagnosis. Papa saya nggak mungkin gagal jantung,” tolak Jayden kepada salah seorang dari tujuh dokter jantung yang minggu lalu hingga detik kini merawat Papa, yang baru saja merampungkan penjelasannya tentang diagnosis akhir.

Alih-alih memilih ruang kepala rumah sakit seperti dulu. Kami sekarang duduk di ruang rapat yang biasanya digunakan para staf rumah sakit untuk mendiskusikan hasil diagnosis pasien yang butuh penanganan kerja sama tim dari berbagai dokter spesialis maupun ahli bidang medis lainnya.

Ruangan bernuansa serbaputih di lantai tiga ini cukup lebar. Jendela-jendelanya bertirai vertikal blind. Ada tanaman-tanaman hijau di setiap sudut dan meja kaca tinggi panjang di tengah-tengah ruangan. Ada pula kursi-kursi yang disusun membentuk huruf U melingkari meja tersebut. Bagian meja yang tidak diberi kursi menghadap langsung ke proyektor lebar yang layarnya digulung ke atas. Digantikan cahaya barrisol yang khusus digunakan membaca hasil foto rontgen.

Selembar foto torax alias dada Papa telah diletakkan di papan itu. Lampu dalam ruangan yang disetel redup memperjelas kekontrasan bagian hitam dan putih. Bagian hitam itu sendiri menjadi latar belakang bagian putih dengan kepekatan masing-masing yang terdiri dari: tulang rusuk, paru-paru yang terisi udara, faring, laring, arteri, vena, kelenjar, dan jantung yang sedikit mengalami pembengkakan. Ada juga berlembar-lembar kertas hasil tes pendeteksi kesehatan jantung Papa di meja hadapan kami. Setiap orang memiliki seluruh salinannya.

Usaha dokter spesialis yang menjelaskan hasil-hasil pemeriksaan tersebut benar-benar tidak berguna di mata Jayden. Logika suamiku tidak jalan sama sekali. Padahal serentetan bukti itu asli. Tanpa rekayasa atau manipulasi. Linier dengan Jayden yang memastikan sendiri dengan mengikuti setiap tindakan ke Papa. Sampai lahirlah data-data yang dicetak di kertas-kertas itu. Tidak ada seorang pun dari pihak rumah sakit atau keluarga kami yang mampu mencegah tindakan arogan suamiku. Tanpa terkecuali aku. Dan itu menyebabkanku makin merasa tidak berguna sebagai istri.

Jayden memang tidak membentak atau meraung seperti singa menunjukkan betapa hebat dirinya bila berhadapan dengan predator lain. Ia bersikap layaknya pemimpin: duduk di kursi tengah menghadap papan pembaca rontgen sambil meletakkan kaki kiri di atas kaki kanan secara garang, memamerkan pantofel kulit hitam Loro Piana-nya. Rahangnya mengetat, pelipisnya berdenyut, tatapannya menggelap, dan kepalan tangannya begitu erat hingga membuat buku-buku jarinya memutih. Hanya dengan itu saja, Jayden memberikan dampak yang cukup besar. Kemampuan bicara orang-orang di ruang rapat ini melemah, bahkan kupikir hilang sama sekali.

Termasuk aku. Lebih-lebih sejak tidak sengaja bertemu Umar dalam situasi pelik di minimarket. Dalam perjalanan ke rumah sakit hingga saat ini, Jayden sangat kentara mengambil jarak di antara kami. Aku bahkan tidak berani menanyakan nasib mie ayam Pak Man yang dibungkus untuk keluargaku. Sebab ia lebih fokus ke Papa dibandingkan denganku dan aku sama sekali tak keberatan. Bagaimanapun Papa jauh lebih penting saat ini.

“Dan saya ingin secepatnya,” tambah Jayden tegas.

Roda-roda kaki kursi terdengar bergeser dan tubuh Jayden beranjak. Ia berdiri tegap, secara fisik menunjukkan dominasi, lawan tiada tanding. Gerakan itu memberikan efek kejut bagiku. Aku yang duduk di bagian paling ujung sebelah kanan dekat Jayden refleks meletakkan kertas-kertas rekam medis Papa di meja dan mengikuti pria itu.

Pada detik ini, keberanian yang sedari kemarin lusa berusaha kupupuk baru tumbuh dan berbuah. Hasil panennya, meski ngeri setengah mati sebab aura kegelapan yang begitu kental menyelubungi jiwa suamiku, aku mencoba menenangkannya. Tak peduli mungkin akan berakhir sia-sia—seperti biasa. Namun, tidak ada salahnya mencoba, bukan?

Dengan tangan bergetar, aku menggamit lengan Jayden yang dibungkus kemeja hitam panjang. Aku berhasil mencegahnya bergerak, ditandai dari tatapannya yang berpindah ke gamitanku. Maka, kugunakan kesempatan ini untuk memberanikan diri mendongak memandang wajahnya yang masih sekeras batu, persis wataknya.

“Baby, Papa butuh dioperasi secepatnya. Sebagai wali, lebih baik kamu tanda tangani surat persetujuan operasinya.”

Tatapan membunuh suamiku beralih ke wajahku, bagai menembus mataku. Jujur saja, ia membuatku bergidik. Namun, apa lagi yang bisa kulakukan selain bertahan dan berupaya untuk membelokkan pendapatnya?

“Udah aku bilang aku butuh pendapat dokter jantung lain yang lebih banyak. Baru aku percaya diagnosis Papa,” ucapnya yang dilafalkan dalam bisik-bisik, tetapi menekan setiap kata.

Aku memang tahu arti tatapan dan intonasi bicara Jayden. Ia tidak akan goyah dengan pendiriannya. Namun, tidak ada pilihan lain selain membantah, “Tapi dilihat dari gejala klinis, kaki Papa udah bengkak, sesak napas, dan lemas. Nggak cuma itu. Dari hasil tes darah, rontgen, elektrokardiografi, ekokardiografi, CT scan atau MRI jantung, semuanya—”

Kalimatku terputus akibat tindakan Jayden yang tiba-tiba. Di hadapan semua orang, ia melepas tanganku dari lengannya untuk gantian mencekal lengan-lenganku erat-erat. Aku mengernyit, mencoba menahan tekanan jari-jarinya yang agak menyakitiku. Sementara itu ia menunduk, makin membuatku bergidik dan rasa ingin menggigiti kukuku kian menerjang akal sehatku.

“Aku nggak mau kamu ngoreksi tindakanku. Ngerti?” Setelah mendesiskan kalimat itu dalam nada rendah, Jayden melepaskan seluruh cekalannya di lenganku. Ia berbalik, mengeluarkan ponsel dari balik saku celana kerja. Lalu ia menggerakkan kaki-kaki panjangnya menuju pintu keluar.

Aku yang masih menganga memaksakan kewarasanku bekerja melebihi perasaanku yang baru saja bagai dipukul menggunakan tongkat bisbol besi oleh suamiku.

Seperti orang linglung, aku menahan detak jantung yang berdebar kencang dan mengusap-usap lengan-lenganku. Aku memindah-mindah pandangan. Mulai dari punggung lebar Jayden yang menjauh sampai menghilangkan dari balik pintu, beralih ke dokter-dokter dan staf ahli medis lain yang masih duduk. Kebanyakan dari mereka menggeleng-gelengkan sambil bersidekap. Beberapa dari mereka menghela napas berat dan mengeluh panjang lebar secara bergantian seolah-olah itu merupakan sebuah kompetisi bernapas.

“Suami Anda itu angkuh. Kalau nggak percaya sama hasil-hasil itu, harusnya suami Anda nggak perlu bantuan kami. Biar suami Anda sendiri yang nangani Pak Alle,” lontar dokter berwajah sinis. Pria itu selalu vokal dari dokter-dokter lain.

Aku heran. Ke mana tadi mulutnya yang terkunci rapat-rapat selama ada Jayden? Kenapa tidak langsung saja melempar kata-kata itu kepada suamiku? Kenapa harus kepadaku yang notabene secara kasarnya sedang berada di kubunya?

“Anda nggak apa-apa? Lengan Anda kayaknya sakit,” timpal dokter spesialis syaraf. Pria yang tampaknya sebaya Kak Jameka.

Sebelum aku menjawab, dokter sinis paruh baya itu memberi tanggapan lagi. “Saya emang nggak berhak ikut campur, tapi mulut saya gatal pengin komentar. Saya heran Anda masih bertahan dengan suami Anda. Padahal dia sudah menyakiti Anda dan bertindak seolah-olah dia Tuhan.”

Aku tertohok dan merasa sakit hati akibat ada yang menghina suamiku. Bayangan diriku naik meja lalu meneriaki mereka bahwa Jayden melakukan hal di luar nalar dua kali ini demi kebaikan Papa. Mereka mungkin tidak pernah merasakan kasih sayang yang baru didapat oleh orang tua yang mereka kenal seumur hidup, sehingga berkomentar pedas seperti ini. Mungkin keluarga mereka adalah keluarga cemara, tidak seperti Jayden. Jadi, tak mungkin mereka akan mengerti perasaan suamiku.

Akan tetapi, aku tahu apabila aku mencak-mencak di meja dan merongrong balasan menggunakan kata-kata jauh lebih menyakitkan daripada itu, semuanya pasti akan jadi makin kacau.

Jadi, aku berusaha memaklumi mereka. Untuk menenangkan para dokter, aku mengatakan, “Nggak, ini nggak sakit, kok. Maafin suami saya, Dok. Tolong tetap jadi tim yang meriksa Papa saya. Saya akan berusaha ngasih pengertian ke suami saya secepatnya. Biar Papa segera dioperasi.”

Aku lantas bergegas keluar, menoleh kanan dan kiri. Aktivitas normal terjadi di selasar rumah sakit, tetapi jejak Jayden seakan-akan hilang ditelan bumi. Aku jelas terlambat menyusulnya. Dengan tinggi mengancam yang terdiri dari kaki panjang, aku ragu suamiku tidak memanfaatkannya untuk berjalan cepat entah ke mana.

Aku menelepon Jayden, tetapi nomornya sibuk. Rumah sakit ini terdiri dari enam lantai. Mustahil bila aku mengitari lantai demi lantai, ruangan demi ruangan untuk mencari Jayden, sementara kondisi Papa sudah kritis. Jadi, kuputuskan kembali ke depan ruang ICU di lantai dasar untuk menemui Kak Jameka yang ditemani Tito. Meski kemungkinannya kecil, tetapi aku berharap barang kali Jayden ada di sana. Namun, ternyata tidak.

“Jayden dari tadi, kan, sama lo. Dia belum ke sini lagi. Terus gimana hasilnya Papa? Udah kelar mendiagnosis, kan, Mel?”

Aku merampok oksigen yang sebanyak yang bisa ditampung paru-paruku lalu memejam. Setelah membuang karbon dioksida ke udara, aku mengajak Kak Jameka duduk di deretan kursi berlengan depan ruang ICU. Tito mengikuti kami, tetapi tetap berdiri dengan wajah tegang. Lalu dengan pelan dan penuh kehati-hatian, aku menerangkan diagnosis Papa selayaknya dokter menerangkan kepada wali pasien. Aku juga menceritakan yang terjadi di ruang rapat, minus sikap Jayden kepadaku.

Kak Jameka langsung memaki-maki Jayden. “Si Bambang rusuh banget jadi orang! Kurang ajar bener dia! Udah tahu kondisi Papa lagi kritis, malah gedein ego!”

“Saranku, lo aja yang jadi wali Papa biar bisa langsung tanda tangan pernyataan operasi secepatnya, Kak Jame,” usulku yang baru kepikiran. Situasi kepepet bin darurat memang sering kali menghasilkan ide brilian.

“Ya, itu ide bagus. Mana surat pernyataannya? Biar langsung gue tanda tangani. Awas aja kalau laki lo ngamuk gara-gara hak walinya gue ambil. Gue pencet sampai gepeng, tuh, bocah!”

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote, komen, atau benerin typo-typo meresahkaeun

Kelen luar biasa

Bonus foto My Twin Melody

Jangan lupa follow sosmed saya lainnya ygy

Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Prima
👻👻👻

Kamis, 11 Agustus 2022

Remake and repost: 14 September 2023
Repost: Senin, 14 Oktober 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro