Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 10 [Berlian Melody]

Selamat datang di chapter 10

Tinggalkan jejak dengan vote, komen atau benerin typo-typo meresahkaeun

Thanks

Happy reading everybody

Hopefully you will love this story like I do

❤️❤️❤️

____________________________________________________

“Kadar cintaku padanya jadi bertambah. Ibarat air adalah cinta, gelas yang menampungnya sampai tumpah ruah.”

—Berlian Melody

____________________________________________________

Musim gugur
Summertown, 21 September
Pukul 12.24

“Here you’re, Buddy.”

Semua tanganku terentang untuk menyambut Max yang baru saja selesai di-grooming. Anjingku berlari-lari kecil ke arahku sambil menggonggong. Pria dalam balutan kaus polo lengan panjang hijau berlogo Golden Care and Clinic yang memegangi tali Max sampai nyaris terjungkal lantaran tertarik oleh kekuatan besar anjing tersebut.

“Look at you .... Wangi sekali.” Kuciumi kepala Max sembari mengelus-elusnya. Beruntungnya aku memoles lipstik kiss proof. Sehingga, tidak ada bekas merah yang tertinggal di bagian bulu putih Max.

“Aku tahu Max memang dramatis. Tapi aku tak menyangka bisa sangat dramatis saat dimandikan,” kata pegawai tersebut sembari menggeleng-geleng, dengan senyum heran merekah di bibirnya.

Aku menerima tali yang diulurkan pria berambut pirang dengan wajah bintik-bintik itu. “Itu keahliannya kalau dimandikan. Beruntungnya dia dibawa kemari. Jadi, banyak staf yang membantu memegangi Max.”

Biasanya aku dan Jayden yang memandikan Max di hari Jayden libur di akhir pekan. Berhubung Jayden belum pulang dari Kalimantan—rencana pulangnya besok—dan sudah jadwalnya Max mandi, jadi aku membawanya kemari. Tak sanggup aku harus memandikan anjing sebesar Max sendirian.

Golden Care and Clinic merupakan rumah sakit hewan kesayangan khusus anjing dan kucing langgananku yang memiliki fasilitas lengkap. Selain bisa pemeriksaan fisik dan laboratorium, di sini juga menyediakan layanan titip sehat dan grooming. Para veterinarian dan staf lainnya sampai hafal dengan Max sebab gemar dititipkan kemari.

Dulu kastrasi Max dilakukan di Golden Care and Clinic. Bahkan beberapa waktu lalu saat karang gigi Max sudah banyak yang menyebabkan bau mulut, aku juga memutuskan scaling gigi Max yang kemudian dirawat inap setengah hari di sini. Sebab berbeda dengan manusia, scaling gigi pada hewan kesayangan harus menggunakan obat bius. Terlebih-lebih dilihat dari jenis anjing dan umur Max. Kata veterinerian, harus hati-hati dalam memilih obat biusnya.

Saking kenalnya dengan Max, kadang-kadang Golden Care and Clinic sampai menyisihkan kandang super besar untuk Max dan menawarkan tempat titip sehat jikalau mendekati hari libur besar. Bisa dibilang tempat ini, aku, dan Max telah membentuk suatu ikatan kepercayaan kuat.

“Terima kasih. Sampai jumpa lagi, Mrs. Wilder. Sampai jumpa lagi, Max.”

“Sampai jumpa,” balasku pada resepsionis setelah melakukan pembayaran. Kemudian aku beralih pada Max. “Come on, Max,” ajakku. Max mengikutiku menuju parkiran.

Ketika menuruni undakan depan bangunan, Max berhenti dan menggonggongi seorang wanita berambut hitam panjang dengan dandanan agak menor yang berjalan di belakangku. “Hei, stop doing that, Max.” Aku pun terpaksa meminta maaf pada wanita itu.

“Tak apa. Anjingmu sangat lucu. Dia mengingatkanku pada anjingku yang baru saja dikremasi,” jawab wanita itu sambil mengibas tangan, dengan wajah nelangsa.

Aku pasti tak akan menyangka ia menjawab seperti itu jikalau tidak melihat guci di tangannya. “Aku turut prihatin,” tuturku tulus. Jelas tidak bisa kubayangkan rasanya kehilangan hewan kesayangan. Apalagi bila dirawat dari kecil.

“Terima kasih. Aku menghargainya. Tapi, yah .... Distemper memang tidak menjanjikan anjingku selamat. Salahku juga karena telat membawanya kemari. Omong-omong aku pergi dulu. Sampai jumpa.”

Kulanjutkan jalan sampai ke Porche Black Cayman-ku terparkir. Setelah menyuruh Max masuk mobil, aku tak sengaja melihat wanita tadi masuk mobil BMW putihnya yang terparkir tak jauh dari mobilku.

Kubuka jendela kiri kursi belakang agar Max bisa merasakan angin. Selama perjalanan naik mobil, anjingku suka sekali menjulurkan lidah sembari merasakan udara yang bergerak. Namun, aku tak akan lama-lama membuka jendela sebab angin yang membawa hawa dingin musim gugur bertiup lumayan kencang sampai membuat gigiku bergemelutuk.

Well, bukan serta merta aku memilih menyetir mobil sendiri. Transportasi umum di sini memang ramah terhadap hewan piaraan, terutama anjing dan kucing. Bahkan mereka memiliki tiket sendiri. Namun, melihat ukuran dan karakter anjingku yang amat dramatis, aku tak sampai hati membawanya naik kereta bawah tanah atau bus. Aku khawatir Max mengganggu pengguna transportasi lain. Jadi, keputusan paling tepat ialah menyetir sendiri ke Golden Care and Clinic yang terletak tidak jauh dari penthouse.

Ponselku berdering. Itu pasti Diana. Kami sepakat makan siang bersama. Hitung-hitung agar aku tak kesepian juga. Sebab terkadang aku merasa gila kalau terus-terusan berbicara dengan Max. Aku butuh seseorang yang bisa menimpali obrolanku, bukan sekadar menggonggong. Memang kadang aku menelepon keluargaku di Jakarta dan tak jarang juga menelepon Karina. Namun, akhir-akhir ini mereka tengah sibuk dengan urusan masing-masing; orang tuaku sibuk dengan cucu baru, yaitu anak Kak Brian dan Kak Bella, sementara itu Kak Jameka sibuk bersama Jayden, lalu Karina sibuk dengan anaknya yang sedang demam.

Tak hanya Diana yang kuajak makan siang, tetapi juga Meggy. Sayangnya Meggy tidak bisa hadir lantaran ada jadwal operasi. Sedangkan hari ini kebetulan Diana libur. Kurasa setelah perceraiannya, Diana juga kesepian sama seperti aku. Yah, kupikir ini lebih mirip perkumpulan wanita kesepian dengan penyebab berbeda.

Jadi, kusambungkan ponsel ke monitor mobil agar aku bisa tetap fokus menyetir. “Halo?” sapaku.

“Aku sudah di Burnour BBQ. Apa Max sudah selesai mandi?”

“Sudah, aku dalam perjalan ke sana.”

Sekitar lima menit kemudian, aku telah menepikan mobil di bahu jalan depan Burnour BBQ. Kala baru turun bersama Max, aku menyadari wanita yang anjingnya baru saja dikremasi di Golden Care and Clinic tadi juga turun dari mobilnya yang terparkir di depan mobilku.

“Oh, Tak kusangka kita akan bertemu di sini,” katanya yang tampak kaget sama sepertiku. Namun, sebelum aku sempat membalas basa-basinya, ia lebih dulu masuk.

Aku dan Diana tidak pesan meja di dalam sebab ada Max. Beruntungnya kanopi kafe ini cukup lebar sehingga lumayan mampu menghalau angin. Dikarenakan sudah kenal dengan Diana, Max tidak menggonggonginya.

Setelah kami memesan makan siang dan pramusaji telah meninggalkan meja kami, aku membuka obrolan. “Bagaimana kabarmu, Di?”

“Cukup tenang. Aku bersyukur mantan suamiku sudah tidak mengutitku lagi.”

“Syukurlah, aku ikut senang,” tanggapku sembari memberi Max snack kesukaannya. “Kau jadi tampak jauh lebih bahagia daripada sebelumnya.”

“Tentu saja. Siapa juga yang mau bertahan dengan si keparat itu?”

“Tapi bagaimana kau bisa lepas darinya? Bukankah kau pernah bilang itu sangat susah?”

“Oh, itu.” Diana berhenti bicara, tampak memandang Max yang lahap makan. “Sejujurnya aku bingung harus menceritakannya padamu atau tidak. Di satu sisi aku merasa sangat beruntung bisa lepas dari dia. Di sisi lain aku justru mengingatmu.”

Aku yang tak tahu ke mana arah obrolan Diana pun bertanya, “Mengingatku? Apa kaitanku denganmu yang lepas dari mantan suamimu?”

“Memang tidak secara langsung. Tapi tetap saja aku khawatir padamu, Mel.”

“Maksudnya tidak secara langsung? Aku merasa tidak berjasa sama sekali mengenai hubunganmu. Bahkan aku tidak mengenal mantan suamimu. Bagaimana mungkin aku terlibat secara tidak langsung? Dan aku baik-baik saja. Tak ada yang perlu kau khawatirkan, Di.”

“Bagaimana cara menjelaskan tanpa aku perlu mengatakannya?”gumamnya. Lalu bicara padaku. “Yang jelas aku seperti melihat diriku yang dulu ada di posisi yang sama sepertimu saat ini.”

Kedua alisku makin berkerut-kerut. “Maksudnya?”

Namun, sebelum Diana menjelaskan lebih lanjut dan detail hingga aku paham sepenuhnya, ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku mengangkat tangan sebagai tanda izin mengambil alat komunikasi tersebut dari saku untuk segera membaca nama si penelelon. Senyum merekah pun terukir sendiri dari bibirku. “Hai .... Udah kelar kerjaannya?” sapaku menggunakan bahasa Indonesia.

“Udah, ini perjalanan dari bandara Heathrow ke rumah kita. Bentar lagi sampai. Kamu udah makan apa belum? Mau sekalian aku bawain sesuatu?”

Rupanya Jayden mempercepat kepulangannya. Tatapanku pun berpindah ke Diana. “Sebenernya aku lagi mau makan sama Diana. Bukannya udah aku kabarin? Ini udah pesen.”

“Maaf, begitu sampai aku nggak lihat pesan, langsung telepon kamu, soalnya kangen. Kamu bisa cancel atau reschedule makan siangnya, nggak? Aku beneran kangen, Baby. Udah lama kita nggak ketemu. Aku sengaja pulang cepet biar cepet ketemu kamu.”

Max menggonggong lantaran pramusaji datang sambil membawa makanan pesananku dan Diana. Dan rasanya aku ditimpa dilema. Padahal seharusnya tidak. Pilihan ini tidaklah sulit; aku harus mengutamakan suamiku, lebih-lebih kalau rasa rinduku juga membeludak untuknya dan ia mempercepat kepulangannya demi aku. Namun, efek omongan Diana yang agak ganjil telah menggoyahkan keyakinan tersebut. Ditambah makanan kami sudah tiba. Seharusnya aku menghargai waktu Diana juga. Lebih-lebih aku yang mengajak Diana. Jadi, aku harus bagaimana?

“Baby?” panggil Jayden saat aku sadar telah menggigit kukuku dan menatap burger sapi panggang lapis keju beserta soda.

“Ya?”

“Tolong pulang sekarang, ya?”

Aku menatap Diana lagi. Wanita itu mengangguk-angguk, memberi isyarat bahwa ia mengerti kalau aku harus pergi.

“Iya, aku minta bungkus buat kamu sekalian, ya?”

“Nggak usah, tadi aku udah makan di pesawat.”

Telepon ditutup dan aku meminta maaf pada Diana sebab harus segera pergi.

“Mau bagaimana lagi?” katanya.

Kemudian setelah menerima paket burger dan sodaku yang dibungkus, aku kembali meminta maaf pada Diana. Sahabatku itu tidak mengatakan apa pun selain mengangguk sambil tersenyum masam. Dan aku segera menggeret Max masuk mobil.

Setibanya di rumah, aku segera melepaskan tali kekang Max dan membiarkannya ke kandang untuk minum. Ketika hendak meletakkan kunci mobil ke mangkok bentuk kerang di atas lemari setinggi pinggangku di bagian foyer, aku dikejutkan oleh sebuah kotak kecil hitam dengan pita biru gelap mengilap di sebelahnya.

“Baby?” panggilku agak keras dengan senyum mengembang. Rasa penasaranku soal omongan Diana kontan terhapuskan.

Ya Tuhan .... Aku tak tahu Jayden bisa seromantis ini sampai memberiku oleh-oleh. Apakah ini sesuatu yang khas dari Samarinda?

“Baby ....” Sekali lagi kupanggil Jayden. Berhubung tak menyahut, maka kuambil kartu ucapan yang tertera di atasnya. Namun, senyumku lansung luntur berganti kernyitan di dahi saat membaca si penerima dan si pengirim hadiah.

Untuk Jayden Wilder.

Terimalah hadiah kecil ini sebagai bentuk ucapan terima kasih atas bantuan yang Anda beri. Semoga Anda menyukai jam tangannya.

Dari Calon Wali Kota Terpilih.

Pintu di belakangku terbuka dan Jayden masuk. Tatapannya langsung berpindah pada kartu ucapan yang tengah kupegang lalu ke kotak kecil sebelah mangkok kerang.

“Kirain kamu udah sampai duluan,” pungkasku.

“Biasa, macet. Hadiah dari mana itu?”

“Calon wali kota terpilih. Nggak tahu wali kota mana. Tapi buat kamu. Aneh, aku nggak pernah tahu kamu kenal salah satu calon wali kota terpilih sampai bantu beliau segala.”

Jayden tidak menjawabnya dengan kata-kata. Melainkan dengan tindakan. Ia mengambil kartu ucapan dan bungkusan burger dari kedua tanganku. Setelah menaruh keduanya di sebelah kotak jam tangan, ia memelukku. Bibirnya lantas mencari-cari bibirku.

“You know, I miss you so bad,” bisik Jayden sebelum menggendongku ke kamar kami dan membuatku lupa akan segalanya. Kecuali menjeritkan nama suamiku itu dalam badai gairahku yang meledak.

•••

Musim gugur
Oxford, 22 September
Pukul 08.05
 
Motor Benelli klasik lengkap dengan sepasang helm kado pernikahan kami dari Lih Gashani dikirim ke Summertown dan tiba sehari sebelum Jayden pulang. Motor itulah yang kami gunakan untuk berkendara ke tempat kenalan kami—yang masih menjadi misteri—sesuai janji suamiku yang sukses membuatku makin penasaran.

Kami mengenakan pakaian pasangan berupa kaus hitam yang dilapisi jaket denim belel gombrong yang tidak dikancingkan, jins hitam, dan dokmart hitam yang cocok untuk berkendara menggunakan motor di awal musim gugur. Dari Summertown, kami membelah jalanan yang lenggang menuju pertokoan Oxford. Lalu beherhenti di salah satu ruko bernama Smitten Tatto.

“Wow,” gumamku yang sibuk memanjakan pengelihatan dengan gaya fasad rukonya. Sedangkan Jayden membantuku melepas helm dan memakaikanku topinya dengan posisi dibalik.

Sambil menggandengku, Jayden membuka pintu kaca dari serangkaian dinding yang membingkai bagian depan ruko. Interior dinding ditempeli foto-foto tato, tempat duduk yang mirip kursi pasien dokter gigi, lampu, peralatan menato, meja konter, satu set sofa, dan tanaman-tanaman di setiap sudut menyambut kami. Persis seperti yang terlihat dari luar ruko.

Atmosfer familier ini memberiku asumsi siapa kenalan kami. Hanya saja, aku masih belum terlalu yakin.

“Akhirnya kalian ke sini juga,” seru seorang pria bertato sebadan yang sangat kontras dengan kaus putihnya. Ia meletakkan peralatan tato yang kelihatannya baru dibersihkannya untuk menghampiri kami.

Fix, dugaanku sama sekali tidak meleset. Pria yang berbicara dalam bahasa Indonesia itu adalah Gibran yang dulu menato sayap malaikat untuk menutupi luka tusuk di punggung Jayden.  Seingatku, Gibran memiliki ruko di daerah Kemang. Aku penasaran bagaimana ceritanya ia bisa ada di sini. Mungkin Smitten Tatto sudah melebarkan sayap hingga ke kancah internasional. Mau tidak mau, aku ikut senang dengan asumsi itu.

Jayden melepas gandengannya untuk membalas  pelukan ala pria pada Gibran. “Sorry, gue sibuk. Baru sempet mampir,” jawab suamiku itu.

“Sibuk mulu perasaan,” cerca Gibran yang lantas mengulurkan tangan hendak menyalamiku, tetapi ditepis Jayden.

“Kagak usah pegang-pegang tangan bini gue. Tangan lo penuh kuman.”

Gibran lantas berkacak pinggang. Dengan senyum merekah sambil geleng-geleng serta bergantian menatapkku dan Jayden, ia berkomentar, “Masih posesif aja dari dulu, ya, Mel? Bay the way, gitu, ya? Kalian nikah kagak ngundang-ngundang!”

“Sorry, gue lupa,” tanggap Jayden santai.

Aku pun meringis sambil namaste. Sungguh, aku juga benar-benar lupa tidak memasukkan Gibran dan istrinya yang bernama Fani ke daftar tamu undangan kami.

Gibran berdecak, lalu berkata, “Kebiasaan emang. Ya udah, kalian duduk aja dulu sambil milih-milih gambar tatonya. Mumpung baru buka, jadi belum ada pelanggan. Gue panggilin bini gue dulu.” Setelah mengulurkan buku gambar-gambar tato pada Jayden, Gibran masuk ke salah satu ruangan yang berada di belakang meja konter.

“Kamu mau bikin tato lagi?” tanyaku kepada Jayden pasca kami duduk di sofa.

“Iya. Di dada kiri buat nutupin luka tusuk, sama benerin tato yang di punggung.”

Dengan kedua alis tertarik ke atas yang mengiringi mataku membola, aku berbalik tanya, “Yang di punggung juga?”

“Iya. Kan, tatonya agak rusak gara-gara luka tembak.”

“Oh!” Aku baru ingat luka tembak di punggung Jayden merusak keestetikan tato sayap malaikatnya. “Omong-omong—”

“Hei, hei, hei ..., pengantin baru akhirnya ke sini juga,” raung Fani, secara otomatis memotong perkataanku yang ingin bertanya tentang perpindahan Gibran dan Fani ke sini. Aku dan Jayden pun berdiri lagi untuk menyambut wanita tersebut.

“Apa kabar?” lirihku sambil membalas pelukan Fani.

“Jauh lebih baik. Lo sendiri apa kabar?”

“Baik juga ....”

Selepas meregangkan pelukan, wanita yang lengannya penuh tato itu menelitiku dari atas hingga bawah. “Heran, deh, gue. Dari zaman lo masih pakai seragam SMA main ke ruko gue sama Jayden sampai sekarang, lo, tuh, masih gini-gini aja. Nggak berubah. Masih tetep imut.”

“Masa, sih?” jawabku sambil tersenyum kaku.

Sudah pernah kukatakan sebelumnya kalau aku tidak suka disebut imut. Bagiku, imut artinya mirip bocah. Dalam beberapa hal, bocah sering kali dianggap remeh. Contoh nyatanya ketika aku berusaha masuk Heratl untuk menggagalkan aksi balas dendam Jayden terhadap ibu sambung dan saudara tirinya. Keamanan perusahaan itu tidak memperbolehkanku masuk lantaran mengira aku bolos sekolah. Waktu itu, aku lantas membantah perilakunya dengan mengeluarkan kartu identitasku.

Setelah tos dengan Jayden, Fani mengajakku duduk lagi di sofa. Sedangkan suamiku mendiskusikan gambar yang akan dipilihnya dengan Gibran di depan alat-alat menato.

“Omong-omong, thanks banget, ya?” ucap Fani dengan mata berkaca-kaca.

“Buat?” tanyaku bingung.

“Loh, emangnya laki lo nggak cerita?”

“Sebenernya gue diajak ke sini, tuh, dibikin jadi kejutan sama Jayden. Jadi, gue nggak tahu sama sekali,” akuku.

Fani mengangguk lalu mengambil tanganku dan menggenggamnya. Ia lantas bercerita, “Laki lo udah nolongin kami. Dia tahu ruko kami di Kemang lagi bermasalah. Biasalah, ada aja pihak-pihak yang nggak seneng kalau ruko kami rame. Jay akhirnya nawarin bantu kami pindah ke sini tanpa minta bayaran sepeser pun. Dia cuma minta dibikinin tato doang. Udah gitu, visa dan lain-lain, semuanya juga diurusin. Terus, ruko ini kami sekat-sekat buat jadi tempat tinggal. Better, pokoknya.”

Aku langsung melihat Jayden yang mengangguk-angguk sambil memperhatikan Gibran menunjuk salah satu gambar di buku. Tak menyangka suamiku akan berbuat hal semacam ini dan dikemasnya dalam bentuk kejutan untukku. Kadar cintaku padanya jadi bertambah. Ibarat air adalah cinta, gelas yang menampungnya sampai tumpah ruah.

Tak lama kemudian, Jayden duduk di kursi pasien tato lalu melepas jaket dan kaus hitamnya yang kubawa dengan senang hati. Gibran mencukur bulu-bulu halus di dada Jayden sebelum mengoleskan alkohol usap. Ketika penato profesional itu hendak merajah dada Jayden, aku refleks menggenggam tangan Jayden.

“Ampun, dah,” ledek Gibran, “emangnya, lo kagak curiga Jay nyewa dukun sakti buat melet lo, Mel?”

Fani mengangguk-angguk sambil nyengir kuda.

Jayden pun menyahut, “Ck, jangan buka kartu As gue, dong!”

“Sorry, gue bakal tutup mulut,” pungkas Gibran sembari memperagakan menutup resleting di mulutnya.

Fani menyahut sambil cekikikan. “Biarin aja, Bi. Namanya juga pengantin baru. Satu sampai dua tahun masih masa-masa honey moon. Istrinya kepentok meja yang disalahin mejanya. Istrinya kepleset, yang dimaki-maki lantainya. Tunggu aja sampai pelet si Jay habis.”

“Jadi makin cinta, dong,” balasku tak mau kalah. “Kayak kalian.”

“Lo bakalan kaget lihat aslinya. Lo tahu nggak, aslinya dia apa?”

“Apa?” tanyaku cepat.

“Jangan bilang siapa-siapa, ya. Dia, tuh, aslinya Ultramen yang lagi sepi job terus nyamar jadi bapak-bapak.”

Aku menanggapi, “Loh, kirain dia Superman lagi nyamar.”

“Iya, iya, laki lo paling keren sedunia. Tahu, kok. Tenang, Mel. Abis gue ngelarin ini, gue sama bini mau pindah planet. Kalian bisa menguasai bumi berdua,” ledek Gibran yang kemudian mulai melakukan pekerjaannya. Aku pun lantas takzim sekaligus ngeri melihat jarum memindahkan tinta ke kulit Jayden karena teringat rasanya ditato Jayden.

Gibran menyelesaikan pekerjaannya puluhan menit kemudian. Aku tidak pernah ragu atau kaget. Tato roda bergerigi hitam setengah lingkaran yang memenuhi separuh dada Jayden serta gambar sayap malaikat di punggungnya hasilnya bagus. Tato-tato itu kini menutupi bekas-bekas luka Jayden.

“Nggak sekalian nama bini lo sama nomor KTP-nya dijadiin tato?” goda Gibran.

Jayden mengacungkan jempol. “Kapan-kapan, ya.”

“Ih, apaan?” sambarku sembari memberikan kaus dan jaket Jayden.

“Kali aja,” sahut Fani lagi-lagi sambil cekikikan.

Sewaktu Jayden mengenakan kaus, ponselnya berdering. Dengan santai, ia mengambil gawai tersebut dari saku jinsnya, membaca nama si penelepon sekilas, baru mengangatnya. “Ngapain nelpon-nel—apa?”

Gerakan Jayden terhenti dan pekikan yang membuat wajahnya memucat, mengindikasikan sesuatu yang buruk.

____________________________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang udah vote komen atau benerin typo-typo meresahkaeun

Kelen luar biasa

Bonus foto My twin

Buat temen-temen yang suka cerita ringan AU, bisa banget follow sosmed saya lainnya.

Well, see you next chapter teman-temin

With Love
©®Chacha Nobili
👻👻👻

Selasa, 2 Agustus 2022
Repost: Jumat, 11 Oktober 2024

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro