Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

OO: Prolog

"WAH, GOKIL!" laki-laki itu memekik dalam bisik. Matanya yang setajam rubah seketika membulat penuh binar. Setelah percobaan keenam belas selama hampir dua bulan terakhir ini, dengan helai kawat yang telah usang, dengan bantuan jarum pentul yang telah berkarat, pintu yang mengunci pergerakannya pada akhirnya terbuka. "Berhasil!"

Satu laki-laki lainnya—si mata elang dengan kaus putih—memekik dengan mulut terbuka tak kalah lebar. Ia gegas menarik jaket almamater kebanggaannya yang tergeletak dan sudah jadi bantalan tidur selama berbulan-bulan. Ia mendekat ke pintu dan mencoba memutar kenop. Voila! Ruangan yang mengungkung mereka terbuka. Betapa keberuntungan sedang berpihak pada si rubah dan elang, penjara itu sedang tidak dijaga. Lekas, keduanya serempak melepaskan sepatu mereka demi meredam derap langkah yang berisik. Keduanya lari bagai tiada beban.

"Kayaknya kita di lantai atas, deh. Berarti harus cari tangga turun dulu sebelum gerbang keluar," tutur si Rubah yang sempat-sempatnya melepaskan jaket bomber hijau yang dikenakannya. Barangkali terlalu gerah akibat berlarian tanpa jeda. "Sini, deh! Feeling gue keluarnya ke sini."

Manut, si Elang manggut sambil mengekor ke mana langkah kaki rekannya membawa. Keduanya berlari dengan cukup tenang di koridor yang tampak sepi. Sayang-sayang, kepercayaan diri itu tak berlangsung lama. Suara peluru membuat keduanya refleks tutup telinga dan menundukkan kepala. Langkah mereka dipercepat. Derap sebuah pantofel mendekat. Si Elang refleks mundur selangkah, bersembunyi di balik celah pada dinding yang sayangnya hanya bisa menyembunyikannya tanpa si Rubah. Lagi pula, ia langsung mencari pelarian lain untuk bersembunyi.

"Anj—akh!" ringisan itu menyusul suara pistol yang sekali lagi menerbangkan peluru. Tak lama dari sana, belum sempat si Elang menjenguk, kawannya memekik lagi. Ia bisa dengar dengan jelas benturan antara tubuhnya dan lantai; suara sepatu yang menginjak punggungnya bertubi-tubi dan secara brutal; suara tamparan entah pada bagian tubuh mana; bahkan suara si Rubah yang mengaduh kesakitan.

Jantung sang Elang mencelus. Ia gemetar di balik dinding. Pikirannya kalut berantakan. Kepalanya pusing saking ia terus-terusan mendengar benturan antara kepala kawannya dan lantai, diiringi dengan suara bariton mengancam, "Mana temen kamu?! Kalian coba kabur, kan?!"

Tak peduli berapa kali ancaman itu melayang, sebanyak itu pula si Rubah menolak dan bersumpah bahwa ia tidak tahu ke mana sang Elang berlari. Lima belas menit pertikaian berlangsung, sebelum akhirnya pantofel gagah itu pamit pergi dan hilang termakan tikungan. Sang Elang mencari aman, sebelum ia keluar dan mendekat.

Darah bercucuran dari kaki kirinya di mana peluru berlabuh. Ia sempat menutupnya dengan jaket sambil terus meringis dan menangis. Spontan, sang Elang melepaskan jaket almamater yang dikenakannya untuk membalut luka seadanya sampai darah berhenti mengalir. "Persetan gue jaga aset kampus, yang penting lo bisa cabut dari sini," celotehnya sembari mengulurkan tangan dan siap membantu untuk berdiri.

Di tengah ringisannya, laki-laki itu menolak. Napasnya tersengal-sengal, kalimatnya putus-putus tak keruan. "Nggak. Lo cabut. Lo harus cabut dari sini... Please, jangan tolongin gue... jangan pikirin gue. Gue... gue... nggak bakal bisa... keluar dengan keadaan begini. Biarin gue mati di sini. Maaf... maaf karena lo yang harus jadi saksi. Tolong... gue minta tolong sama lo buat bawa jaket gue sebagai barbuk. Tolong... tinggalin gue ...."

Suaranya lemas, seperti sudah habis tenaganya. Keduanya berdebat panjang. Sang Elang ingin membawanya pergi dari sini, namun kepala batu Rubah tak mampu pecah. Ia mendesak untuk ditinggalkan, hingga pada akhirnya, memang takkan ada pilihan lain. Laki-laki itu pergi bersama dua barang bukti yang disodorkan dengan pamit singkat, "Maaf. Gue ... pergi."

Ia lari dengan panik menyelimut. Meninggalkan sang kawan yang bersimbah darah tak keruan. Ia buta arah. Kakinya membawa lari ke mana pun. Beberapa kali ia berpapasan dengan penjaga. Sebisa mungkin ia melawan. Lalu langkahnya terhenti ketika menemukan motor polisi yang terparkir, masih dengan keadaan mesin yang menyala.

Pikirannya yang kalut bukan main mengintruksinya untuk mendekat, tepat ketika sebuah peluru mengudara menghantam dinding, meleset dari raganya. Abai dengan jantung yang berdebar tak keruan, meski dengan tangan gemetar hebat, ia tetap meraih setang motor, kabur dari garasi, meninggalkan kediaman laknat itu.

Runyamlah citranya sebagai mahasiswa berprestasi kebanggaan kampus. Setelah ini, ia hanya akan diingat sebagai kriminal karena membawa kabur motor seorang polisi.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro