Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 2 - Rob

Halohalohaiii. Harusnya update besok atau lusa, tapi kudrop sekarang aja deh ya selagi bisa.

Things to note, sebagian besar POV Rob isinya bakal flashback, alias gimana bapak arsi ini naksir ibu duta makan nesyenel 👀

-

Dua tahun lalu

Semasa kecil, gue punya cita-cita supaya punya pekerjaan yang nggak mengharuskan gue berdiam di satu tempat. Sebagai anak pensiunan pilot, cerita Papi jadi satu dari sekian motivasi kenapa gue pengin bekerja sambil jalan-jalan. It's nice to imagine one day you go to New York, and the next day you have to go to Bali. Kapan lagi bisa keliling dunia pakai duit kantor?

But that was me, merely 6 and had no idea how the world actually work.

Pindah-pindah tempat nggak semenyenangkan yang gue bayangkan. Percayalah, gue bersyukur diberi kesempatan untuk mengunjungi berbagai tempat. Sayangnya, hal itu juga menyebabkan waktu gue lebih banyak habis di jalan ketimbang menikmati tempatnya. Bepergian atas alasan pekerjaan nggak bisa disamakan dengan jalan-jalan.

Dan sekarang, di umur yang mau kepala tiga ini, punggung jompo dan niat rebahan gue lebih banyak mendorong gue membayangkan kebalikan dari semua rutinitas ini.

Gimana jadinya kalau gue bisa settled di satu tempat? Bukan soal kerjaan saja, tapi hidup gue secara keseluruhan. I blame my mom for this.

Yah, pasti jadi kepikiran setelah setahun ini tiap kali menerima telepon Mami, gue kayak lagi ngobrol sama rentenir jodoh.

"Isn't this time for you to settled down, Robert?"

Bahkan sekarang pun begitu. Gue baru saja landing di Jakarta dan bersiap buat mengambil barang-barang. Niatnya cuman mau mengabari, tahu-tahu Mami langsung menelepon. Gue sendiri nggak paham gimana caranya topik dari berapa lama gue bakal di Jakarta berujung ke pertanyaan soal pasangan.

"Tiga bulan lumayan, Rob. Hang out, explore Jakarta and find some new friends. Kamu memang mau nikah sama desain-desain bangunan kamu itu?" Begitu cerocos Mami dari ujung sana.

"Orang yang nikah sama standee kardus aja ada, Mi," balas gue.

"Memangnya kamu mau begitu?"

"Kalau Mami mau punya cucu bentuknya blueprint, aku sih oke-oke aja."

Seperti dugaan gue, Mami langsung protes di sana. Bisa gue bayangkan bagaimana wajahnya ketika Mami bilang, "Robert, duh! Kamu ini!"

Gue terkekeh. Kalau masih bisa ngomel, berarti kondisi Mami cukup baik. "Lagian, Mi. Aku ke sini buat kerja. Ada tender gede. Syukur-syukur kalau bisa keliling Jakarta."

"Bisa. Harus bisa," tukas Mami cepat. "Teman kuliah Mami ada di situ. Anaknya juga kerja di Jakarta."

Jadi perintah buat jalan-jalan di Jakarta cuman intro doang, nih?

"Mi," panggil gue.

"Apa? Mau alasan apa lagi?" hardik Mami. "Kamu bilangnya nanti-nanti terus, tapi nggak gerak. Kenapa? Susah ngedekatin perempuan? Biar Mami bantu kalau gitu, tapi kamu juga harus mulai. Atau ada sesuatu yang perlu Mami tahu? Are you ga—"

"Mi, aku harus ambil koperku. I'll call you later, okay?"

Mami nggak langsung membalas. Meski terdengar helaan napas panjang dari sana, Mami akhirnya mengiakan. "Ya sudah deh. Kabarin kalau kamu sudah di rumah, ya?"

Panggilan pun berakhir di situ.

Topik soal jodoh dan pasangan ini nggak akan ada habisnya kalau dibahas bareng orangtua, tapi makin bertambah umur, gue mulai bisa memahami kenapa mereka—terutama Mami—seperti mendesak. Yah, walaupun desakan itu nggak akan menjatuhkan jodoh dari atas langit buat gue sih. Memiliki seseorang buat bersandar dan beristirahat akan jadi hal paling mewah di hari tua, sebuah kebutuhan tersier yang akan jadi kebutuhan primer.

Mami kadang bercanda saking seringnya gue pergi-pergi, mungkin gue akan menemukan jodoh gue di bandara. Kalau dibayangkan lucu sih. Mau? Yah, mau. Masalahnya, dari mana? Hidup nggak semudah rangkaian film komedi romantis. Hidup bisa ditertawakan? Bisa, tapi sambil meratapi nasib. Kenyataannya, gue nggak bisa menjemput jodoh di sini, jadi gue hanya menjemput koper buat dibawa pulang.

Gue sudah siap berbalik dan turun, tapi tiba-tiba bunyi barang jatuh keras terdengar, hingga sebuah roda kecil menggelinding sampai tepat di kaki gue. Roda koper yang patah. Gue memungut patahan itu dan menoleh, mendapati seorang cewek berambut hitam dengan gradasi ungu dan pink di setengah rambutnya berlari ke arah gue.

"Oh, God. Sorry for the trouble, Sir," kata cewek itu sambil menunduk beberapa kali. "That was ... mine."

Mungkin lebih tepatnya habis berlari sih, karena dia kelihatan kehabisan napas sembari menyeret kopernya yang sudah nggak beroda. Beberapa orang di bandara memandangi, tapi kayaknya dari tadi nggak ada yang membantu dia.

"Kopernya gimana tuh, Mbak?" Gue sodorkan patahan roda koper di genggaman tangan gue. "Udah rusak banget rodanya tuh."

"Nggak tahu, Mas. Saya juga ...." Dia tiba-tiba diam, kemudian menatap gue lewat dua matanya yang terbelalak. Ini bukan pertama kalinya gue melihat orang memberi reaksi seperti itu. Tapi lucunya, dia sempat membalas gue dulu sebelum kaget. Mana ekspresi terkejutnya animatik banget.

"Saya bisa bahasa Indonesia kok, Mbak." Gue menanggapi sambil tersenyum. I get that a lot back in college. Uniknya, cewek di hadapan gue ini ekspresif banget. Gue sampai kepikiran mungkin seru kalau gue lebih lama berpura-pura jadi turis. "Mbak mau ke mana? Biar saja bantu bawain kopernya sampai ke depan."

Dia mengerjap, tampak bingung sebentar, kemudian memperhatian gue dan kopernya bergantian.

"Saya nggak bakal tiba-tiba bawa kabur kopernya kok. Cuman nenteng koper doang saya juga bisa," gue menambahkan. "Lagian mbaknya juga nggak mungkin mau nenteng koper sambil pakai heels setinggi itu, kan?"

Cewek itu kini menunduk lalu bergumam kecil "oh iya", seakan-akan dia sendiri nggak sadar apa yang dia kenakan dari tadi.

"It's fine, really. Kalau ngerasa saya aneh-aneh, langsung teriak aja, Mbak. Security banyak tuh."

"Maksudnya bukan gitu." Dia langsung menggeleng cepat, dan anehnya gue menemukan itu agak lucu. "Saya hanya segan aja. Nggak enak ngerepotin, padahal belum kenal. Tahu nama juga nggak."

"Robert."

"Sorry?"

"Nama saya Robert," ujar gue seraya menyodorkan tangan. "Muka saya mungkin agak kayak penjahat karena belum cukuran, tapi saya bukan tahanan atau buron kok. I can guarantee you that."

Sepasan mata itu sempat membelalak sebentar, sebelum gelak halus keluar dari mulutnya. Ekspresi mencurigakan itu kini digantikan senyuman, dan dia menjabat tangan gue. "Mel."

"Mel? Okay." Namanya singkat, dan gue rasa itu cocok buat cewek ini.

"Kalau gitu biar saya bawa aja koper yang ini. Lebih kecil juga." Mel menawarkan—lebih tepatnya langsung menyerobot koper gue, yang isinya pakaian, sepatu, dan beberapa keperluan gue—kemudian berjalan di samping gue. "Tenang, Mas Robert. Kopernya nggak akan saya bawa kabur kok."

Balasannya itu sukses bikin gue menyengir. This woman is fun. "Rob aja, biar gampang."

Kami berdua berjalan keluar dari area pengambilan barang, turun menggunakan excalator ke lantai bawah. Surprisingly, koper Mel cukup ringan buat ditenteng. Ukurannya saja yang besar. "Kopernya ringan ternyata, ya?"

"Isinya makanan doang, hasil hunting di US buat nambah gula darah," ujar Mel santai. "Tapi dapatnya susah dan jauh, jadi saya nggak ikhlas kalau kopernya dibawa kabur. Milih apa aja yang mau dimasukin ke koper udah ngelewatin seleksi ketat soalnya."

Siapa sangka mendengar orang bicara soal camilan saja bisa terdengar selucu ini?

"Are you here for vacation, Rob?" Kalimatnya berganti jadi pertanyaan. "If you don't mind me asking."

"Work, actually." Gue sedikit meringis. "Maunya sih ada sisa waktu buat jalan-jalan juga."

"Lo kerja di sini?" Sadar cara bicaranya berbeda, dia langsung meralat, "Eh, sorry. Maksudnya ...."

"It's okay. Ngomong santai gitu aja nggak apa-apa." Gue mengibaskan tangan santai. "Kerjaan gue pindah-pindah sih, tergantung dapat tender di mana. Tapi tempat gue kerja punya kantor juga di sini. Jadi gue suka bolak-balik Indo juga sih."

"That explain why your Indonesian is so good."

"Gue aslinya orang Indo kok. KTP-wise." Gue mengedikkan bahu iseng. "They said don't judge the book by its cover, right?"

Dia tertawa, dan gue bersumpah, rasanya gue pengin mendengar dia tertawa lagi. "Gue hampir ketipu kalau gitu."

"Mau ngaku-ngaku bule juga nggak enak. Biasanya kalau mau beli apa-apa suka dimahalin."

"Namanya juga turis. Kalau ke negara lain juga, barang yang dijual ke gue suka dimahalin." Mel mencibir. "Padahal harunya mereka tahu pendapatan orang Asia nggak segede itu."

Ternyata dia lumayan cerewet juga, ya? Sejujurnya, gue menikmati ocehannya.

Gue berharap obrolan ini bisa berlangsung lebih lama, tapi tahu-tahu kami sudah berada di area luar bandara. It ends way too fast. Taksi dan berbagai kendaraan lain sudah berjejer di pinggir jalan, tapi Mel berjalan ke sebuah mobil BRV abu-abu. Dari kursi kemudinya, seorang cewek berambut sebahu keluar sambil melambaikan tangan, tapi terhenti begitu tatapannya tertuju ke arah gue. Dia tersenyum sopan sebelum menunduk dan berputar dari depan ke bagian belakang mobil. Jika cewek itu terkejut melihat Mel dan orang asing kayak gue, dia nggak berkomentar apa-apa.

"Itu teman gue yang ngejemput," jelas Mel sebelum gue sempat bertanya. "Ternyata udah nyampe. Lo sendiri ke mana, Rob?"

"Gue mau ke BSD dulu sih, ketemu saudara."

"Oh, shame. Kalau ke Jakarta mungkin bisa bareng."

Tawaran itu agak menggiurkan, karena artinya gue bisa lanjut mengobrol lagi dengan Mel. Masalahnya, gue sudah janjian dengan sepupu cilik gue. Kalau gue nggak datang, bisa ada perang dunia mini nanti. Terpaksa tawaran tersebut gue tolak. Teman cewek Mel sudah membuka bagasi mobil, jadi gue mendekat dan meletakkan koper Mel di sana, sementara Mel menyodorkan kembali barang bawaan gue.

"Anyway, thank you for your help," ucap Mel. Dia tersenyum, dan gue baru sadar setelah ternyata ada lesung pipi samar di bagian kirinya. "Gue jadi bingung harus balas pakai apa nih, Rob. Sorry banget ngerepotin."

Gue bisa saja menepis rasa sungkan itu. Lagi pula, menolong nggak seharusnya mengharapkan balasan. Tapi kali ini, seenggaknya sekali ini saja, gue punya satu keinginan. Tanpa pikir dua kali, gue langsung menyeletuk, "Balasnya pakai tukeran nomor WhatsApp aja gimana?"

[]

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro