Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

22 - [Everything About the Truth]

Para penjaga itu meninggalkan Seth dan Garret di lantai tiga. Lalu tanpa mengatakan sepatah kata pun, Garret memasuki ruangannya, dan membuat insting Seth berkata, jikalau Garret meminta Seth untuk mengikutinya. Tanpa pikir panjang, Seth melakukan itu, berjalan menyusul di belakang, dengan sejuta pertanyaan di kepalanya.

Sesampainya di dalam, pintu ruangan Garret terkunci dengan sendirinya. Seth sedikit terkaget, tapi rasa penasarannya membuat kejadian itu seolah biasa terjadi di sana.

"Katakan." Kata pertama yang keluar dari mulut Garret setelah terjadi keheningan di antara mereka.

Seth memikirkan hal yang paling penting yang ada di pikirannya. "Pria tadi, yang menyerahkan berkas padamu. Bukankah dia Wren Christopher?" ucap Seth pelan.

Garret menaikkan sebelah alisnya, mata elangnya menyipit, seolah berpikir. "Sebentar, aku lupa siapa nama panjangnya. Karena aku hanya memanggilnya 'Chris."

Dia membuka sebuah map yang baru saja ia ambil dari dalam laci. Lalu membalikkan beberapa halaman, sampai sia berhenti di halaman ketujuh dokumen itu. Matanya menatap sebentar, lalu beralih melihat Seth--yang masih saja memasang wajah tegang.

"Benar, lalu?" Suara Garret tiba-tiba saja berubah dingin.

"Kenapa dia ada di sini?!" bentak Seth sambil menggebrak mejanya.

"Benar juga, kau Seth Tyaga Wilfred Wren. Biar kutebak, kau anaknya?"

Seth mendecih. "Dia sudah bukan lagi kuanggap sebagai ayah," ketus Seth memalingkan wajahnya.

"Lalu, kenapa kau mencarinya?"

"Aku hanya ingin membawa kembali ibuku."

"Begitu? Hanya itu tujuanmu datang ke sini? Apa kau ingin mengorek informasi lain dari kepalaku dengan membaca pikiran? Kau tak akan bisa, Seth." Perkataan itu membuat Seth membulatkan matanya tak percaya.

"Berikan aku jawaban semua pertanyaanku!" bentak Seth mulai tak tahan lagi.

Garret berpikir sejenak, dia memegangi wajahnya sendiri dan menopang siku di atas meja. Satu lagi tangannya di atas meja, mengetuk meja dengan kuku-kukunya yang sedikit panjang. Tak lama kemudian, dia menatap Seth.

"Kurasa dia memang ayahmu. Namun, kurasa dia hilang ingatan dan sudah menjadi anak buahku selama 14 tahun untuk menjalankan setiap proyek yang aku inginkan."

"Ba-bagaimana mungkin?" seru Seth tak percaya. "Lalu, ke mana ibuku?"

"Ibumu, aku tak bisa memastikannya. Hanya saja, aku menduga jikalau kedua orang tuamu itu kehilangan ingatannya. Tapi tenang, kita bisa mengembalikan ingatan mereka," ucap Garret yang memandang ke arah pintu. "Benar begitu, Johnson?" lanjutnya.

Seorang laki-laki dengan setelan jas pekerja tersentak di balik pintu. Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana dan menguping pembicaraan Seth dan Garret. "Maaf, Tuan, saya baru selesai menjalankan tugas lain."

Dia menunduk penuh hormat, bersikap seolah memang sudah sangat terbiasa berhadapan dengan Garret. Garret pun membalas itu dengan senyuman tipis.

Seth yang melihat Johnson berada di ruangan itu semakin bertanya banyak hal di kepalanya. Ke mana orang tuanya, kenapa dia merasa kehilangan beberapa keping ingatannya, dan kenapa bisa ada Johnson di tempat ini?

"Tak apa. Aku hanya ingin bertanya, apa kemampuanmu sebagai murid di GT akademi, Seth?" tanya Garret mulai membuka sebungkus rokok yang ada di atas mejanya.

Seth terdiam sejenak, lalu memandang mata Garret tajam. "A-aku hanya seorang pembaca pikiran," ucapnya.

Garret mengangguk mantap, lantas menatap Johnson yang berdiri dengan sopan di sebelah Seth. "Benarkah itu, Johson?"

"Benar, Tuan. Dari awal saya menjemputnya, dia memang memiliki kemampuan untuk membaca apa yang ada di pikiran orang lain."

"Begitu?"

Johnson mengangguk, sedikit gugup.

Mata Garret kembali menatap Seth. "Dan ... kau ingin membawa kembali ibumu agar tidak bersama ayahmu lagi dan kembali ke kampung halaman?"

Anggukan mantap dari Seth membuat Garret tersenyum sumbringah. Dia kemudian berdiri, lalu mendekati Seth yang dengan berani melawan balik tatapan tajam itu.

"Ya, aku akan melakukan apa pun."

"Baiklah, kau bisa pu--"

"Tapi, Tuan. Bukankah dia sekarang sedang belajar di Gold Taksa Academy? Kenapa Anda membiarkannya pulang begitu saja hanya dengan satu syarat?" potong Johnson maju ke depan beberapa langkah.

Brak!

Tubuh Johnson terlempar ke belakang. Dia merasakan seluruh tubuhnya kaku dan membeku. Tubuhnya menempel di dinding ruangan, tangannya terasa dicengkeram, dan lehernya seolah-olah sedang dicekik. "Jangan ikut campur, Johnson. Aku hanya ingin seorang remaja bahagia dengan keluarganya."

"Ma-maafkan a-aku ...." Johnson berkata terbata, berusaha menghirup napas tapi sama sekali tidak bisa.

Selang beberapa detik kemudian. Johnson terlepas, dia segera menghirup udara sekitar dengan rakus. Seth yang melihat itu hanya bisa terdiam dengan ekspresi takut. Orang yang ada di depannya bukan orang sembarangan.

"Bagaimana, Seth? Apa kau mau membantuku?" lanjut Garret melonggarkan kerah bajunya.

Tanpa pikir panjang lagi, Seth hanya mengangguk. Membuat Johson yang ada di belakangnya membulatkan mata tidak percaya.

"Satu fakta yang harus kau ketahui, Seth. Kemampuanmu tidak hanya membaca pikiran orang lain. Kau lebih dari itu."

"Maksudnya?" heran Seth mendengar pernyataan itu.

Johnson yang sudah berusaha berdiri malah tersudutkan karena kalimat itu. Dia merasakan ketakutan di dalam hatinya. Dia berusaha melawan tatapan intimidasi dari Garret yang sekarang diarahkan padanya.

"Namun, si pengkhianat ini tak kusangka merebut ingatan kemampuan terhebatmu. Kau bahkan bisa memberikan ilusi dan mengendalikan pikiran orang lain, Seth. Dia menipuku dan kau atas semuanya."

Terlihat wajah Johnson sekarang berubah menjadi licik. Ekspresi takutnya berubah, dan tatapan mengancam serta intimidasi sekarang dia arahkan pada Garret. "Lalu, kau akan melakukan apa?" tantang Johnson sinis.

"A-apa maksudnya ini?!" bentak Seth yang mulai berdiri dan memegang kepalanya sendiri.

Johnson yang melihat itu lantas mengangkat tangannya. Seth pun merasakan aliran-aliran listrik mulai menyerang tubuhnya. Bersamaan dengan itu, Seth kembali melihat kenakalan yang pernah ia lakukan dengan kemampuan pengendali pikiran yang ia miliki.

Setelah itu terjadi, Seth menatap Johnson penuh amarah. Dia mengambil sebuah vas bunga yang ada di atas meja dan melemparkannya pada Johnson. Akan tetapi, dengan sigap laki-laki itu berhasil menghindar.

"Kau ... apa kau juga yang sebenarnya membawa ibuku?" bentak Seth berusaha menahan emosinya.

Johnson tak menggubris. Lalu dia mengeluarkan sebuah tombol dari tangannya. "Kau akan mengetahuinya nanti, Seth." Dia kemudian menghilang, bersamaan saat tombol merah itu dia tekan.

Sontak, Garret langsung memegang bahu Seth. Dia tersenyum ramah. "Sekarang kau tahu, bukan? Siapa dalang dari semua ini. Dan tujuanku hanyalah, untuk memusnahkan rencana Johnson dan pasukannya. Dia berencana untuk menghancurkan seluruh High Sense yang memiliki kekuatan di atas rata-rata. Agar dia, dan pasukannya tak terkalahkan. Untuk itu, maukah kau membantuku untuk menjalankan sebuah rencana pembersihan agar aku bisa memaksimalkan kemampuanku?"

-oOo-

Ternyataaa ... yang jahat selama ini Johnson, ya? Dia yang bisa hilangin ingatan orang-orang tentang suatu hal?

Terus, dia juga yang culik ibunya Seth! Beneran, ahhh ... Kalau kepo langsung aja baca part selanjutnya, ya! 😭😭🔥

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro