
BAB 7 "Bunga Matahari"
Aneka lauk sudah tertata rapi di meja makan oval berukuran 130 cm. Terlihat lezat dengan asap yang masih mengepul. Wanita paruh baya yang kecantikannya tak lekang oleh waktu itu, melepas celemek dan menaruhnya di gantungan dekat rak piring.
"Banyak banget, siapa yang mau habisin, Ma." Ofi yang baru saja datang, cukup terkejut melihat banyaknya lauk yang Sarah masak.
"Semua bahan makanan di kulkas Mama masak, takut busuk," jawab Sarah dengan senyuman kecut.
"Udah, nggak pa-pa. Bisa buat makan malam juga, nanti dimasak lagi," ujar Sarah, lalu mengambil dua piring untuknya dan Ofi.
Ofi tidak bicara lagi, selain menurut dan menarik salah satu kursi untuk segera duduk. Kini keduanya tengah fokus sarapan, tidak ada suara. Hanya sesekali terdengar dentingan sendok yang mengenai piring kaca. Sebelum akhirnya satu kalimat pertanyaan muncul dari mulut sang Mama.
"Cowok yang kemarin antar kamu pulang, siapa Fi?"
Ofi menghentikan gerakan tangannya, menatap Sarah. "Teman," jawabnya sebelum kembali menyendok sesuap nasi ke mulutnya.
Gadis itu sudah tahu sang Mama akan bertanya. Karena kemarin, Sarah tidak sengaja melihat Ofi turun dari motor dengan cowok yang membonceng anaknya. Berbekal mengintip diam-diam di balik kaca depan, Sarah tahu bahwa kala itu Ofi diantar cowok pulang.
"Fi, hati-hati ya, kalo pilih teman. Apalagi cowok, jaman sekarang nggak sedikit anak yang salah pergaulan," tutur Sarah, khawatir.
"Belajar dari yang dulu, jangan sampai terulang lagi, ya."
"Iya," jawab Ofi singkat.
"Namanya Odit," ujar Ofi membuat Sarah kembali menatapnya, "cowok yang kemarin antar Ofi pulang. Nggak ada maksud apa-apa, dia cuma mau antar Ofi karena kemarin Ofi benar-benar nggak bisa jalan."
"Kebetulan aja ketemu di depan toko bunga," jelas Ofi, berusaha memberi tahu agar tidak timbul kesalahpahaman.
Sarah hanya diam, menghela napasnya. "Terus, kamu sekarang mau kemana? Tumben bajunya rapi."
"Nongkrong aja, sama teman. Cewek, Ma." Ofi memberi tahu dengan jelas sebelum Sarah kembali curiga.
"Ya udah, hati-hati, ya." Sarah akhirnya menyetujui.
"Kaki kamu udah nggak pa-pa, kan?" raut wajahnya kembali khawatir.
Ofi mengangguk. "Nggak pa-pa, kan, tadi malam udah diurut," jawab Ofi dengan wajah meyakinkan bahwa dirinya memang baik-baik saja.
Ucapan Odit waktu itu benar-benar Ofi turuti untuk mengurut kakinya yang terkilir.
***
Setelah puas menghabiskan waktu nongkrong di kafe, keempat gadis itu memutuskan pulang saat hari sudah mulai petang.
Ofi menatap seseorang yang tak asing tengah berada di toko bunga langganannya, membuat Dinda yang duduk di sampingnya mengikuti mata Ofi memadang. "Siapa, Fi?"
Ofi mengalihkan pandangannya. "Eh, bukan siapa-siapa."
Gadis itu turun dari ojek sesampainya di depan rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan lampu-lampu jalan sudah mulai menyala karena memang hari sudah mulai gelap.
Langkah kakinya terhenti, bersamaan dengan dahinya yang mengernyit kala melihat rangkaian bunga matahari tergeletak di lantai depan pintu. Ofi membungkuk, mengambilnya.
Mencari apakah ada nama dari si pengirim bunga. Saat itu juga nama Odit terpampang jelas di sana. 'Untuk Ofi, dari Odit'
Kenapa cowok itu tiba-tiba mengirim bunga? Tanya Ofi dalam hati. Meskipun masih diselimuti perasaan heran, Ofi tetap membawa bunga itu ke kamarnya.
Setelah menaruh tas selempang-nya, gadis itu berjalan ke ranjang dan duduk di tepi sana. Membuka secarik kertas yang terselip pada bunga pemberian Odit.
Maaf buat kemarin, Sofi
Ini buat ganti bunganya
Jangan menghindar lagi, ya
Kalimat singkat yang mampu membuat Ofi mengembuskan napas panjang. Cukup lama gadis itu hanya menatap dalam diam tulisan di kertas itu. Sebelum pandangannya mengarah pada bunga matahari yang dipegangnya.
CONTINUE...
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro