
Bab 20 "Permainan Takdir"
Farhan dan Ofi sibuk memasukkan beberapa barang pada lemari di ujung ruang majalah. Selesai rapat membahas program kerja yang akan dilakukan tiga hari lagi di luar sekolah, beberapa anggota masih di ruangan mempersiapkan keperluan yang dibutuhkan.
Ofi mengibaskan telapaknya, tersenyum puas setelah selesai menata barang-barang di dalam lemari sana. "Ofi."
Panggilan dari Farhan membuat Ofi menolehkan kepala. "Beli barang-barangnya nanti, sama gue yuk. Mau, kan?"
Lama Ofi terdiam, sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Boleh."
Farhan tersenyum lebar mendengarnya. "Agak sorean nggak pa-pa, kan?"
Cowok berlesung pipit itu mengangguk, masih dengan senyuman lebar yang terus mengembang. "Nanti gue jemput ke rumah ya, kirim aja alamat rumah lo."
"Iya."
Terdengar kata cie dari anak-anak yang lain, tapi Farhan dan Ofi tampak tak memedulikan dan hanya terkekeh menanggapinya.
"Ofi, balik ke kelas, yuk." Panggilan dari Lia membuat Ofi dan Farhan menoleh bersamaan. Ofi pun menganggukkan kepala.
Baru saja Ofi ingin pergi, Farhan menahannya. "Boleh nitip ini ke kelas nggak, nanti minta tolong taruh di meja. Gue masih harus bantu yang lain."
Farhan memegang map hijau, berniat memberikan pada Ofi jika gadis itu mau menerima permintaan tolongnya. Tanpa pikir-pikir lagi, Ofi pun langsung mengangguk.
"Nggak pa-pa, sini." Ofi meminta map hijau itu dari Farhan.
"Makasih, Fi," ujarnya dan Ofi membalasnya dengan anggukan kepala.
"Duluan ya." Ofi berlalu pergi, menyusul Lia yang berdiri di ambang pintu menunggunya.
Kini keduanya berjalan menuju ke kelas, akhir-akhir ini mereka berdua jarang di kelas dan berkumpul bersama dengan Etha dan Dinda karena sibuk mengurus keperluan untuk acara majalah yang akan dilakukan dalam waktu dekat ini.
Odit yang sibuk mengambil sesuatu dari loker depan kelasnya seketika menoleh saat mendapati ada yang memanggilnya. Cowok itu menatap Ofi dan Lia yang berdiri di sampingnya.
"Ada apa?"
"Em, mau tanya, meja Farhan sebelah mana, ya? Mau taruh barang Farhan soalnya, tadi dia minta tolong," ujar Lia dengan wajah polosnya.
"Oh, sini gue antar." Odit berjalan ke dalam kelas, sedangkan di belakang, Lia dan Ofi saling dorong-dorongan.
"Udah sana, gue tunggu sini aja," ucap Lia dan Ofi hanya bisa menghela napasnya.
Sementara Lia menunggu di depan, Ofi pun menuju ke meja Farhan menaruh map hijau di kolong meja cowok itu agar lebih aman.
"Gue ... ke kelas dulu," ujar Ofi pada Odit, cowok itu mengangguk mengikuti langkah Ofi keluar kelas karena memang tadi dia mengurungkan diri untuk mengambil barang di loker.
"Makasih, Dit," ujar Lia dengan senyumnya.
Odit tersenyum kecil. "Sama-sama."
Ofi masih dengan wajah datarnya, menghindari tatapan Odit. Terbukti sedari tadi dirinya yang sibuk mengarahkan mata ke arah lain sebelum akhirnya bahunya disenggol Lia.
"Kita pergi dulu." Tanpa menunggu balasan Odit, dengan cepat gadis itu menarik Lia pergi dari sana.
Dinda yang memang melihat kejadian itu dari tempatnya duduk kini bersama Etha di kursi panjang depan kelas Ofi, menatapnya dingin. Wajahnya yang semula biasa saja entah kenapa begitu cepat berubah melihat interaksi antara Odit dan Ofi.
Etha yang duduk di sampingnya melambaikan tangannya pada Lia dan Ofi yang berjalan mendekat. "Ada apa?"
"Gue pergi dulu, Ta." Dinda tiba-tiba beranjak dari duduknya, membuat Etha menoleh dan menatap gadis berkacamata itu bingung.
Dinda berlalu pergi, bahkan melewati Lia dan Ofi tanpa menoleh sedikit pun. Menghiraukan suara Lia yang memanggil namanya berkali-kali, entah menuju ke mana, Dinda juga melewati kelasnya begitu saja.
***
Ofi menatap bayangannya di depan cermin, sebelum mengambil tasnya dan berjalan keluar kamar. Gadis itu menghampiri sang Mama, mengingat tadi dirinya mendengar bahwa Sarah sudah pulang dari kerjanya.
"Mau kemana, Fi?" baru saja Ofi sampai di ruang tengah, Mamanya lebih dulu menegurnya.
"Emm, mau pergi, Ma. Beli bahan buat acara ekskul majalah tiga hari lagi." Ofi sedikit ragu, tak yakin Sarah akan memberikan izin.
"Sama siapa? Udah mau malam gini."
"Assalamualaikum...."
Ketukan di balik pintu rumahnya itu terdengar yang membuat Ofi dan Sarah mengalihkan perhatiannya.
"Sama teman, tuh kayaknya udah di luar." Ofi menatap Mamanya lagi.
Ofi berjalan membukakan pintu yang diketuk beberapa kali menunggu pemilik rumah mendatangi. Begitu juga dengan Sarah yang mengikuti di belakangnya.
Farhan tersenyum lebar kala melihat Ofi, lalu pandangannya jatuh pada Sarah yang saat ini berdiri di samping Ofi. "Tante."
Cowok itu melangkah maju, menjabat tangan Sarah dengan sopan. "Ini Farhan, Ma, teman satu ekskul Ofi di majalah."
Sarah menatap Farhan dari atas hingga ujung kaki, membuat yang ditatap jadi keki sendiri. Perlahan, Sarah menarik ujung bibirnya ke atas.
"Pulangnya jangan malam-malam, ya," ujar Sarah membuat Ofi menoleh dan tersenyum.
"Siap, tante," ujar Farhan dengan semangat dan percaya diri.
"Kalo gitu Ofi pergi dulu ya, Ma."
Setelah keduanya berpamitan, mereka pun segera menuju ke motor Farhan yang berada di depan rumah.
"Mari, tante," ujar Farhan sekali lagi, menampilkan senyumnya hingga mata sipitnya membentuk garis lurus.
***
Ofi dan Farhan sibuk mengitari toko mencari barang-barang yang diperlukan. Sesekali menatap ke arah catatan yang dipegangnya dan mengecek satu persatu rak apakah barang yang tercatat ada di sana.
Mereka saling bercanda, lebih tepatnya Farhan lah yang memulainya. Menggunakan barang-barang di toko sebagai propertinya untuk sekadar menghibur Ofi dan membunuh suasana agar tidak membosankan. Ada-ada saja.
Masih dengan sisa tawanya, Ofi memukul bahu Farhan berkali-kali agar cowok itu menghentikan aksinya yang absurd itu, malu diperhatikan pengunjung lainnya, "Udah ah, capek."
Setelah mendapatkan semua barang yang dicari, keduanya pun berjalan keluar toko dengan tangan yang masing-masing dipenuhi kantung plastik. Bersisian menuju ke mana Farhan memarkirkan motornya tadi.
Di atas motor, keduanya saling terdiam karena Farhan fokus membawa motornya. Ofi menatap ke sekeliling jalanan dengan segala pikiran yang muncul dalam benaknya. Lampu-lampu jalan terlihat indah, kerlap-kerlip menerangi jalanan. Hingga akhirnya suara Farhan yang memanggilnya membuat Ofi mengalihkan perhatian. Gadis itu mendekatkan tubuhnya, suara kendaraan yang saling bersautan membuatnya sedikit kesusahan mendengar Farhan.
"Iya, Han, kenapa?"
"Makan dulu, yuk."
Ofi tak langsung menjawab, gadis itu melirik jam di tangannya sejenak. Masih terlalu dini untuk langsung pulang ke rumah, pikirnya.
"Boleh deh," jawab Ofi akhirnya.
"Mau makan apa?"
"Emm ... terserah deh, apa aja."
"Jangan gitu ... lo lagi mau makan apa?"
Ofi tampak berpikir. "Nasi goreng."
"Oke," balas Farhan, menatap sekilas ke arah Ofi dengan senyuman.
Farhan kembali fokus membawa motornya, membelah jalanan kota yang dipenuhi mesin beroda. Menuju ke tempat nasi goreng terenak menurutnya.
***
"Makasih ya, udah luangin waktu anterin gue." Ofi tersenyum kecil, menatap Farhan seraya mengarahkan sesuap nasi goreng ke mulutnya.
"Santai aja kali, kan, buat kepentingan ekskul juga." Farhan terkekeh, begitu pun dengan Ofi.
Suansana kembali hening, hingga Ofi membuka suara lagi. "Ikut ekskul gini, ya?"
"Gini gimana?"
"Capek," jawab Ofi membua Farhan tertawa. "Gue baru pertama kali sih, ikut ekskul. Di sekolah lama nggak pernah sama sekali."
Masih dengan sisa tawanya, Farhan membalas. "Ya ... wajar sih, gue awal dulu juga gitu. Sering bolos, karena saking capeknya habis pelajaran langsung rapat ekskul."
"Oh, ya?"
"Sekarang mah enggak, udah terbiasa. Capek sih, kadang-kadang. Ada lo juga, jadi makin semangat deh," ujarnya tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Ofi tertawa, mulutnya tergerak mengucapkan kalimat membalas gombalan receh cowok bermata sipit itu. Suasana makan malam sepiring nasi goreng ditemani teh hangat itu terlihat menyenangkan saat Farhan selalu mencari obrolan untuk membunuh keheningan. Berbagai macam topik mereka bicarakan, termasuk juga topik yang tidak penting. Namun, membahas itu dengan Farhan membuat Ofi nyaman.
Sementara di tempat lain, Odit tenang mengendarai motornya. Membiarkan keheningan menemaninya malam itu. Hingga kedua pupil gelapnya berhasil menangkap pemandangan dua remaja yang terlihat tengah menuntun motor di sudut jalan.
"Fi, gue benaran nggak pa-pa. Lo pulang aja ya, udah malam, loh." Farhan menghentikan motornya, menatap ke belakang di mana Ofi membantunya mendorong.
"Nggak pa-pa, beneran deh, Han. Gue tunggu sampai lo selesai benerin motornya di bengkel," ujar Ofi meyakinkan.
"Tapi udah malam Fi, nggak enak sama tante. Nanti kalo lo dimarahin gimana, kan, udah janji tadi bakal pulang cepat."
Ofi menggigit bibir bawahnya, nyaris saja dia melupakan janji dengan Mamanya itu. Tapi, pergi meninggalkan Farhan begitu saja tidak enak.
"Gimana, pulang aja ya? Gue pesenin ojek dulu," ujar Farhan kembali membujuk saat Ofi hanya diam.
"Tapi, lo gimana?"
Farhan kembali menatap Ofi, terkekeh melihat wajah gadis itu. "Gue nggak pa-pa, beneran. Santai aja."
"Emm ... ya udah deh. Gue bisa pesan ojek sendiri kok," ujar Ofi akhirnya, setelah Farhan menganggukkan kepala, gadis itu pun mengeluarkan hp dari tas-nya.
"Farhan, kenapa motor lo?"
Baik Farhan dan Ofi sama-sama mengalihkan perhatian saat mendapati Odit dan motornya sudah ada di depan mereka. Cowok dengan kemeja hitam yang membungkus tubuhnya itu turun dari motor dan menghampiri Farhan, sepertinya belum sadar jika Ofi juga ada di sana.
"Dari mana lo?" tanya Farhan, setengah kaget melihat Odit.
"Supermarket, ini kenapa motor lo?" Odit menatap motor Farhan.
Farhan mengembuskan napas kasar. "Nggak tau juga nih, tiba-tiba aja mogok. Padahal tadi nggak kenapa-napa."
"Oh, iya Dit, boleh minta tolong, nggak?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong anterin Ofi pulang dong," ujarnya, lalu memanggil Ofi yang sedari tadi sibuk menatap ke arah lain asalkan tidak bersitatap dengan Odit.
"Lo dianterin Odit pulang ya. Daripada naik ojek?"
Sedangkan Ofi dan Odit saling menatap sebelum akhirnya gadis itu memutuskan pandangannya lebih dulu. "Dit, nggak pa-pa, kan?"
Odit menatap Farhan, mengangguk. "Emm ... nggak pa-pa."
"Tuh Fi, nggak pa-pa. Tenang, lo bakal lebih aman dianterin Odit daripada naik ojek."
"Nggak usah, gue bisa pulang sendiri, kok," ujar Ofi menolak.
Ah, Farhan terus membujuk tanpa tahu bahwa Odit dan Ofi saling menyimpan masalah dalam hati. Ternyata seperti inilah takdir mempemainkannya. Mati-matian dia berusaha menjauhi Odit, tapi Tuhan selalu melibatkan cowok itu dengannya. Jadi, inikah yang dinamakan takdir tak selalu berpihak dengan keinginan manusia?
"Gue antar, nggak pa-pa," ujar Odit membuat Ofi menatapnya seraya merutuk dalam hati.
"Mau kan, Fi? Biar aman, itung-itung permintaan maaf gue ke tante karena nggak bisa anterin lo pulang cepat," sahut Farhan.
"Ya udah." Ofi mengangguk, terpaksa.
Setelah berpamitan dengan Farhan, Odit pun mengantar Ofi pulang. Suasana hening terus menyerang saat Ofi memilih diam saja di jok belakang. Hingga motor Odit yang berhenti tiba-tiba membuat Ofi cukup kaget dibuatnya.
"Kenapa berhenti?"
"Mau ditaruh depan aja nggak barangnya? Lo kesusahan gitu bawanya." Odit sedikit memutar badan, menatap Ofi yang duduk di belakang.
"Nggak usah, gue bawa aja."
"Yakin? Nggak bakal capek tangannya?"
Ofi terdiam, tidak menjawab. Sebenarnya, sejak pulang dari warung nasi goreng dan harus menenteng kantung belanjaan selama perjalanan karena motor Farhan yang mogok, tangannya sudah lelah. Bahkan sampai berdenyut nyeri karena beratnya barang yang dia bawa.
"Taruh depan aja, ya?"
"Emang bisa?" Ofi menatap motor Odit, tidak mungkin kan, cowok itu menaruhnya di atas tangki motor Kawasaki W175 itu.
"Bisa." Odit meraih kantung plastik di tangan Ofi, benar saja cowok itu menaruhnya di sana.
"Kalo jatuh gimana, Dit?" Ofi menatap Odit.
"Pegangin aja dari belakang"
"Hah? Nggak mau! Modus lo, ya!" Ofi membayangkan, posisi tersebut membuat dirinya secara tidak langsung memeluk Odit kan?!
"Terus gimana?"
Odit terdiam sejenak. "Ya udah, gue yang pegang."
Ofi merutuk kesal, sebelum Odit kembali menjalankan motornya dengan satu tangan memegang kantung plastik milik Ofi. Hingga beberapa menit sejak Odit menjalankan motornya tadi, Ofi menghela napasnya. Melihat Odit begitu kesusahan mengendarai motor hanya dengan satu tangan.
Diarahkan kedua tangannya ke depan, memeluk Odit dari arah belakang. Gadis itu bergerak lebih mendekat, meraih kantung plastik besar di depan Odit hingga berhasil dipeluknya. Odit cukup terkejut atas perlakukan tiba-tiba yang dilakukan Ofi, perlahan cowok itu melirik tangan Ofi yang sudah melingkar di perutnya.
CONTINUE
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro