Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

14

Aku menyerahkan uang parkir, kemudian mengeluarkan mobil dari pelataran area rumah sakit. Mengemudi secepat mungkin agar sampai di rumah. Dua puluh menit kemudian, aku tiba. Membuka pintu lalu langsung duduk di sisi ujung ranjang. Kembali mengeluarkan dompet. Ada kartu nama Asgaf, kakak laki-laki Mentari. Aku lantas menghubungi nomor yang tertera. Terdengar nada sambung yang lumayan panjang.

Masih nada sambung

Dua menit.

Tiga menit.

Apa Asgaf sesibuk itu?

Empat menit.

Ah, kumatikan saja. Mungkin, jika kuhubungi esok, akan dijawab.

"Halo, di sini Asgaf. Ini dengan siapa?" Baru saja aku akan memutus sambungan, Asgaf menjawab.

"Ini gue, Ari."

"Ari yang mana, ya?"

"Ari, yang bantuin adek lo pas hipotermia di Bromo."

"Oh, Awan, ya? Awan, kan? Kalau Awan, gue tau. Ari, gue nggak tau. Lagian adek gue bilang kalau nama lo Awan."

Aku melenguh pendek. Bahkan sekarang Asgaf ikut-ikutan memanggil 'Awan'.

"Yah, whatever." Pasrah. Terserah saja hendak memanggilku apa.

"Oh iya, ada apa? Tadi lo nelpon pas gue lagi mandi. Sori kalau gue angkatnya lama."

Alasan yang masuk akal.

"Adek lo, masuk rumah sakit."

"Hah? Rumah sakit? Hipotermia lagi? Kabur lagi naik gunung?"

Aku mendengus. Apa Asgaf sedang mencoba bercanda?

"Kena tusuk sama perampok."

Hening. Tak terdengar suara apapun di seberang sana. Apa Asgaf telah menutup sambungan? Yang benar saja? Kakak dan adik sama saja. Awkward.

"Lo jangan bercanda, Awan."

Belum ditutup ternyata.

"Gue nggak bercanda."

"Serius? Terus, sekarang keadaannya gimana? Pantas aja dia belum pulang sampai jam segini. Gue hubungi, hp nya mati. Gue tanyain temannya, kata mereka dia juga dari tadi udah pulang." Nada ucapannya terdengar panik. Satu lagi, aku tidak tahu kalau laki-laki bisa berbicara sepanjang itu dalam satu tarikan nafas. Sudah seperti perempuan saja.

"Lo mau tau keadaan adek lo atau mau nyurhat?" interupsiku.

"Oh, sori sori. Gimana adek gue?"

"Dirampok, di tusuk bagian perutnya. Kekurangan banyak darah, kritis, dan sekarang adek lo udah sadar."

"Makasih banyak udah tolongin. Sekarang gue ke sana."

Keningku berkedut.

"Ke mana?"

"Rumah sakitlah! Lo kira ke pasar?"

"Emangnya lo tau alamatnya?"

"Di mana?"

Aku melengos. Langsung saja kusebutkan alamatnya.

"Oke. Berkunjung kalau sempat, ya, Awan. Makasih udah nolongin." Belum sempat kuberi salam penutup, Asgaf sudah memutuskan sambungan saja.

Aku menghubungi Kinan sekarang.

"Kin, Mentari bilang makasih," ungkapku langsung tepat sasaran.

"Sama-sama, Mas. Gue juga senang udah bisa berbagi. Oh iya, Mbaknya cantik banget, Mas. Gue suka lihatnya. Ntar kalau ketemu lagi, sampein salam gue ya," ujar Kinan, dalam satu tarikan nafas.

"Kalau jumpa, ya. Gue nggak janji," balasku.

"Loh? Kan Mas temannya."

"Jarang jumpa. Dia juga teman baru, bukan teman keseharian gue."

"Masa iya, teman baru sakit gitu Mas sampai cemas banget kayak tadi? Nggak percaya gue."

Aku menelan ludah. Memangnya seberapa paniknya diriku saat Mentari kritis? Yah, memang panik sih. Eh, tapi bukankah wajar? Siapa pun pasti akan panik jika mendengar kata 'kritis' dalam konteks ilmu kedokteran.

"Woi, Mas! Ngelamun? Gue masih nunggu Mas ngomong loh ini."

Aku mengerjap saat Kinan membuyarkan pikiranku. Aku menggeleng pelan.

"Gue ngantuk. Itu aja yang mau gue bilang.  Satu lagi, jangan beberin ke mama dan papa tentang alamat baru gue."

"Iya, ah! Nggak percayaan banget sama gue. Tapi, kalau gue mau main, boleh dong?"

"Terserah aja."

"Oke, itu aja kan? Gue tutup ya?"

Aku mengangguk.

"Assalamu'alaikum,"

"Wa'alaikum salam."

***

"Assalamu'alaikum," salamku, Sasha, Rifan dan Rinai saat membuka pintu kamar rawat Mentari. Ada Asgaf juga Raufa di sana, sedang menemani Mentari.

Mentari tampak tak menyangka dengan kehadiran sahabat-sahabatku. Meski begitu, kemudian ia tersenyum manis lalu menjawab salamku. Sasha berjalan menuju arah nakas, lalu meletakkan parsel buah-buahan di sana.

"Gimana keadaan lo? Baik?"

"Alhamdulillah, udah baikan. Tapi belum boleh keluar dari rumah sakit," balas Mentari.

"Oh, iya. Tadi, gue juga ngajak sohib gue, buat jenguk lo," ucapku.

"Iya, nggak apa-apa. Gue senang dikunjungi kok," ujar Mentari, masih dengan senyumnya.

"Rif, ini yang namanya Mentari. Yang bikin lo penasaran. Cuma lo yang belum ketemu."

"Eh, bukannya Rinai juga belum pernah ketemu?" Rifan menoleh ke arah Rinai.

"Gue udah pernah. Di kafe, pas keluar."

"Elah, lo kok nggak ngasih tau gue? Kan, gue penasaran sama si Mentari ini."

"Wah, gue lupa. Lagi pula, udah gue ajakin masuk, tapi Tari nya nggak bisa. Sibuk," celetuk Rinai.

"Panggil gue, kek. Ah, lo Rinai. Nggak bisa diajak kerja sama."

"Ya, kalau gue lupa mau dibuat apa, coba?"

"Ah, udah, ah. Mau jenguk atau mau ribut, nih? Lagian, udah pada jumpa Mentari aja masih ributin hal itu-itu juga." Sasha memperpendek perdebatan Rifan dan Rinai.

"Hai, gue Rifan. Temen deketnya Ari." Memutuskan tidak melanjutkan perdebatan, Rifan mengulurkan tangannya. Hendak mengenalkan diri.

"Oh ... Temen deket Mas Awan? Salam kenal. Gue Icha."

Rifan mengernyitkan kening. Mungkin merasa heran dengan sebutan 'Mas Awan' dan juga 'Icha', padahal sedari tadi kami memanggilnya Mentari.

"Awan? Teman dekat awan itu angin, kali," cerocos Rifan, tertawa renyah. "Trus, Icha? Bukannya lo Mentari?"

"Manusia lola, ya, gini," ceplos Rinai, Rifan segera melayangkan tatapan maut.

"Itu loh, Mentari panggil Ari dengan sebutan Awan. Ari panggil Icha dengan sebutan Mentari. So, Awan, Mentari. Paham?" Sasha yang mengambil alih penjelasan. Menunjukku dan Mentari saat mengatakan nama kami.

"What? Awan? Serius lo Ri?" Dugaanku lagi-lagi benar. Apa lagi kalau bukan Rifan yang sedang tergelak, menertawai panggilan baruku?

"Aduh, perut gue. Sumpah. Awan? Lo ngelucu banget, ya, Tari." Rifan berusaha menghentikan tawanya, sambil masih memegang perut. Aku mendecih. Rasanya tidak selucu itu. Ia tertawa berlebihan.

"Biasa aja tawa lo!" Sasha mengusap wajah Rifan.

"Lo berpikir nggak, sih? Di nama Ari kan, nggak ada 'Awan-Awan'-nya." Rifan menatap Sasha, gurat wajahnya menandakan kebingungan yang nyata. Memang Rifan adalah yang paling penasaran di antara aku, Sasha dan Rinai.

"Noh, tanya sama orangnya." Rinai Menunjuk Mentari dengan isyarat mata.

Mentari yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian tergagap. Pasalnya, dari tadi ia hanya ikut menertawakan apa yang ditertawakan Rifan.

"Eh, gini. Gue ambil dari nama Razwan nya. Ilangin aja huruf 'R' sama 'Z'. Jadi, kan? Awan." jelas Mentari.

"Eh, kenapa lo bisa dapet ide buat panggil dia Awan, sih?" Rasanya ingin kubungkam saja mulut Rifan yang banyak bertanya ini.

"Biar beda aja, gitu. Kan, kalau nama 'Ari' udah pasaran. Bagusan Awan. Legend gitu," terang Mentari.

"Enak aja ngatain nama gue pasaran. Kayak nama 'Icha'-lo nggak pasaran aja," tukasku.

"Udah, ah. Lagian Awan, 'kan, bagus juga, iya, nggak, Mbak, Mas?" Aku mencebik. Mentari malah mengalihkan topik lantas mengarahkannya pada Sasha Rifan dan Rinai. Sontak saja ketiga sohibku itu menangguk cepat.

"Cocok banget," jawab Sasha.

"Ya ampun, cuma masalah nama ribet banget, lagian." Kami spontan menoleh ke arah Raufa. Gadis itu duduk di ujung ranjang Mentari. Menyadarkan kami masih ada orang yang tidak kami lihat sejak tadi. Siapa lagi kalau bukan Asgaf dan Raufa?

"Ya, sori, Ra."

"Ini temannya Tari yang waktu itu kan? Kita sempat jumpa, loh. Ingat gue?" tanya Rinai. Raufa tampak mengingat-ingat.

"Iya, Mbak. Gue ingat. Cantiknya masih sama."

"Ah, lo bisa aja!" Rinai salah tingkah. Raufa mengangguk, lalu kembali tersenyum. Kesannya saat pertama bertemu denganku sangat beda. Kali ini ia tampak lebih jinak.

"Kalau Mas Awan ini, gue ingat juga. Yang jalannya ngadat. Berhenti nggak maju-maju." Aku melotot.

"Wah, lo parah. Ngajakin berantem."

"Enggak, nggak perlu. Jangan tersinggung, kali. Gue kan nggak nyalahin Mas Awan lagi," jawab Raufa.

Aku memutar bola mata. Jangan terpancing, Ari. Lagian dia hanya bocah. Bukannya memang hobi mereka begitu? Ah, sudahlah.

"Ri, gue mau ngomong sesuatu," bisik Asgaf ke telingaku.

"Apa?"

"Di kantin?"

"Oke. Boleh."

Asgaf lebih dulu keluar kamar.

"Gue ke kantin dulu, ya, mau beli air. Lo bertiga nunggu di sini aja." Serentak mereka mengangguk. Rinai dan Rifan bahkan sudah kembali bercerita dengan Mentari dan Raufa.

"Gue nitip jus mangga. Satu. Nggak pakai gula," suruh Sasha. Aku mengangguk.

Aku berjalan cepat, menyusuri koridor. Asgaf sudah menghilang. Ia berjalan cepat sekali. Apa yang ingin dibicarakan Asgaf? Kenapa wajahnya tampak sangat serius saat membisikiku tadi?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro