Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🐰 Benak Ali 🐰

9. Benak Ali

🔥🔥🔥🔥🔥🐰🐰🐰🔥🔥🔥🔥🔥

Dua benda kenyal itu masih saling bersilat. Beradu dalam decapan kepuasan. Saling menggigit kecil memberi kenikmatan melalui tukaran salifa.

Erangan milik sang wanita membuat sang lelaki tersenyum dalam pagutannya. Dengan pasti ia mulai membawa tangan sang wanita melingkari lehernya. Merapatkan duduk di antara keduanya. Meremas pelan pinggang sang wanita.

Terlepasnya tautan yang sedari tadi terpaut, meninggalkan deru napas yang memburu. Pengaturan tarikan yang seolah berlomba menarik oksigen dalam keadaan kening yang masih menyatu.

Kedua sudut bibir mereka tertarik untuk membentuk seutas senyuman di sela deru napas. Kilatan cahaya mata yang menampakkan gairah berkobar seakan sama-sama menginginkan satu sama lain.

"I love you," ucap parau sang lelaki.

"I love you to," balas sang wanita lirih membuat lelaki di hadapannya kembali menarik senyuman di bibir.

Tidak ingin membuang waktu. Ia mulai kembali menyatukan bibirnya, kembali melumat dan mengeksplor setiap tempat dalam mulut. Ciuman itu kini beralih pada leher jenjang nan putih. Memberi hiasan dengan warna keunguan.

Tidak ingin menyia-nyiakan suatu hal, tubuh kokoh itu mulai membopong sosok mungil cantik itu. Membawa tanpa melepas pagutan bibir mereka. Menempatkan pada tempat empuk yang tidak jauh dari keberadaan mereka. Merebahkan daksa bergairah pada sofa.

Masih dengan penyatuan bibir, tangan mulai berlaku nakal. Mulai meneliti setiap kancing yang ada. Membuka satu persatu melepas halangan. Membuang semua serat kain yang menutupi halusnya porselen. Dua tubuh, telah polos.

"May i?" tanya sang lelaki dengan suara parau yang telah bergairah. Meminta perizinan atas jamahan yang akan ia laksanakan.

"Do it." Sebuah senyuman saat mendengar jawaban pasti membuatnya semakin yakin akan hal yang akan dilakukan. Mulai memosisikan diri, mencoba untuk melakukan dengan hati-hati.

“Ali, li Ali!" Kibasan tangan dan panggilan keras menyadarkan lamunan Ali. Membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali.

"Sudah bersih belum?" Oh tidak. Apa yang baru saja kamu pikirkan Ali? Kamu baru saja—

Dengan gerakan cepat Ali melepaskan jari dari sudut bibir Illy. "Sudah. Sudah tidak cemong lagi," ucap Ali yang sudah kembali dalam kesadarannya.

Illy yang tidak tahu apa yang terjadi pada Ali kembali memakan spagetinya. Tidak melihat Ali yang dalam keadaan tersiksa.

Ali yang baru saja menyadari hal apa yang terjadi menggeram dalam hatinya. Ia menggelengkan kepala atas khayalan singkat nan panas itu.

Shitt. Membayangkannya saja membuat adik kecilnya benar-benar berdiri. Membuatnya terasa sesak di bawah sana. Kepala Ali benar-benar terasa pusing sekarang.

Penuntasan. Ya. Ia butuh penuntasan. Mencari alasan, Ali melihat jam yang melingkar di tangannya. "Ly. Aku pergi dulu, ya. Kamu tidak papa, kan sendiri di rumah?" Illy mengangguk.

"Kamu yakin?" tanya Ali meminta kepastian. Illy menjawabnya dengan anggukan lagi dan senyuman. "Ya sudah. Sepertinya aku bisa terlambat jika tidak bergegas. Aku harus pergi. Jaga diri baik-baik," wanti Ali terhadap Illy.

Illy berdecak. "Ucapan kamu seperti akan terjadi sesuatu saja padaku."

"Ya. Aku hanya ingin kamu berhati-hati." Setelah mengatakan itu, Ali segera mengecup kening Illy dan berlalu dari hadapan perempuan itu.

Jika tidak, Ali tidak bisa memungkiri apa yang baru saja ia khayalkan akan benar-benar dilakukan. Melihat tingkah Ali, membuat Illy menggelengkan kepalanya. Pria itu memang tidak pernah berubah.

Ali menutup pintu mobilnya dengan keras. Segera melajukan kuda besi itu ke tempat yang diinginkan. Saat kendaraan roda empatnya menyatu dengan yang lain di jalanan padat, Ali mencoba menghubungi seseorang melalui sambungan bluetooth ponselnya.

"Kau di mana?" tanya Ali pada seseorang di seberang sana.

"Aku akan ke sana. Dan, siapkan satu untukku." Memutuskan panggilannya, Ali segera melajukan mobil ke tempat orang yang baru saja ia hubungi. Ingin segera menyelesaikan segalanya.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Ali sampai di tempat itu. Setelah memarkirkan mobilnya, Kafka segera memasuki lift untuk menuju ke lantai tujuh.

Dengan mengetukkan sepatunya pada dasar lift, Ali menunggu kotak persegi itu sampai dengan rasa gusar. Keluar dari lift segera mencari apartemen yang tidak lain milik temannya. Tanpa mengetuk pintu, ia memasuki begitu saja.

Ali memutar bola matanya jengah saat ia disuguhi pemandangan panas ketika memasuki apartemen itu. Menyebalkan. rutuknya dalam hati. Si pemilik apartemen tengah bercumbu dengan seorang wanita yang dalam keadaan setengah telanjang.

"Tidak adakah kamar di apartemen ini?” Suara Ali menghentikan kegiatan dua manusia di atas sofa. Membuat si laki-laki mendengus kesal akan kehadiran Ali.

"Kau ke kamarlah dulu, Baby." Setelah memberikan kecupan kilat pada bibir lelaki itu, si wanita berlalu begitu saja ke dalam kamar. Tidak memedulikan keadaan tubuhnya yang telanjang bisa dilihat oleh Ali.

"Kapan kau sampai di Indonesia, Li?" tanyanya sembari bertukar kepalan tangan dengan Ali.

"Tadi malam,” jawab Ali singkat. "Mana pesananku, Ziq?" tanya Ali tanpa basa basi.

Ya, yang dihubungi Ali sebelumnya adalah Ziqry. Teman Ali yang membantu dirinya pada kejadian lima tahun lalu.

"Hey, kau baru memesannya, Dude. Dia belum datang. Tunggulah sebentar lagi.” Jawaban Ziqry membuat Ali mendesah keras. Sepertinya penuntasannya akan tertunda sebentar.

"Kau sepertinya terlihat frustrasi sekali, Li. Apa yang terjadi?”

"Kau tahu? Aku mengantarkan Illy pulang. Saat kita makan, aku membersihkan bibirnya dari saus," ucapnya terhenti.

"Lalu?"

"Aku sudah membayangkan sex dengannya hanya karena memegang bibirnya." Jawaban Ali Membuat Ziqry tertawa hingga terpingkal-pingkal. Membuat Ali memandang Ziqry dengan tatapan dinginnya. "Diamlah! Brengs*k."

Mendengar nada tegas dari Ali membuat Ziqry mau tidak mau harus menghentikan tawanya. Jika tidak, ia harus menerima kepalan tangan dari Ali. "Kenapa tidak kau wujudkan saja? Illy sudah ada di depanmu. Kenapa kau harus jauh-jauh datang kesini untuk memesan seorang jalang?"

"Sialan. kau ingin Illy membenciku?" tanya Ali dengan tatapan yang mengerikan.

"Ok. Ok. Kau mengatasnamakan cinta dalam urusan Illy." Melihat tidak ada respons dari Ali, membuat Ziqry mencebikkan bibirnya.

Tidak lama suara pintu apartemen milik Ziqry terketuk. Merasa tahu siapa yang datang, pria itu pun dengan segera membukakan pintu.

Ali hanya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi sembari memejamkan mata. Masih menahan sesuatu yang bergejolak di bawah sana.

Hingga kedatangan Ziqry membuatnya membuka mata kembali. "Pesananmu, Dude,” ucap Ziqry dengan menunjuk wanita dengan pakaian minim di sampingnya.

Dengan satu lambaian tangan, wanita itu pun mendatangi Ali dan duduk di pangkuannya. Tanpa diminta, wanita itu mulai memberi sentuhan-sentuhan pembangkit panas pada rahang Ali.

Melihat itu adalah hal biasa, Ziqry hanya memutar matanya malas. "Lanjutkan saja, Dude. Jika butuh kamar, kau tahu tempatnya." Selesai mengatakan itu, Ziqry berlalu masuk pada salah satu kamar. Mungkin, meneruskan hal yang sempat Kafka kacaukan.

Sedangkan Ali yang masih menikmati belaian wanita di hadapannya, tampak menikmati setiap sentuhan wanita di pangkuannya. Ingin menuntaskan sesuatu yang menyiksanya akibat ulah Illy.

Ulah Illy? Hey, pikiranmu saja yang kotor, Ali.

Tidak ingin berlama-lama, Ali segera menyeret wanita itu pada salah satu kamar dengan sedikit kasar. Mendudukkan dirinya kembali pada sofa di dalam kamar. "Kau yang bekerja,” titah Ali tidak mau mendapat bantahan sedikit pun.

Dengan cekatan wanita yang Ali bawa bekerja sesuai dengan keinginannya. Ia cukup puas dengan kerja wanita di hadapannya.

Hingga ringisan dan erangannya keluar tidak terduga. Menanti datangnya hal yang telah hampir sampai di ujung kepala. Meremas rambut wanita yang bekerja di bawahnya, meski bayangan wajah cantik lain hadi di kepala. Hingga sesuatu itu tiba di depan mata.

"Illy." Nama cantik itu tetap yang ia sebut.

***

Rasya menuruni mobilnya setelah ia memarkirkannya di dalam garasi. Dengan gerakan pelan, Rasya memasuki rumah berjalan ke arah kamar, lalu membuka pintu kamarnya pelan.

Di sana, seorang bidadari cantik berdiri di depan lemari. Sosok yang tengah membelakanginya hanya dengan balutan handuk melilit tubuhnya.

Sepertinya, sang istri baru saja selesai mandi. Ingin memberi kejutan, Rasya melangkah dengan pelan mendekati tubuh indah milik Illy.

"Kamu sudah pulang?" Suara halus Illy menghentikan gerakan tangan milik Rasya. Membuat Rasya mengembuskan napas kesal. Gagal. Dan hal itu, membuat Illy berbalik menghadapnya sembari menahan senyum. "Kamu tidak bisa mengejutkanku."

Dengan tawa Rasya mulai merengkuh tubuh istrinya. Satu kecupan manis Rasya berikan pada pucuk kepala Illy. "Ini untukmu." Rasya memberikan bunga yang memang sengaja ia bawa.

Illy menerima bunga itu dengan senyum manisnya. "Maafkan aku," ucap Rasya yang kini memberi kecupan pada kening Illy.

"Maafkan aku karena telah membiarkanmu pulang sendiri dari rumah Mama,” ucapnya penuh sesal dengan memeluk erat tubuh Illy.

Illy yang mendengar ucapan maaf dari Rasya membuat ia tersenyum dalam pelukan sang suami. Dengan mengangguk pelan, tanda Illy memaafkan Rasya. "Terima kasih," ucap Rasya masih dalam memeluk Illy.

"Ya sudah. Mandi sana! Kamu bau," ejek Illy pada Rasya.

"Bau eh? Ingat kamu. Setelah mandi nanti, habis kamu!" Keduanya sama-sama tertawa.

Suara tawa bebas mengiringi langkah Rasya yang memasuki kamar mandi. Begitu mudah masalah mereka terlupakan begitu saja.


🔥🔥🔥🔥🔥🐰🐰🐰🔥🔥🔥🔥🔥

Selamat siang.

Bagaimana punya kabar? Masih sehat, kan? Semoga, ya

Btw, di sini ada yang seorang penulis nggak?

Jawab, ya

Happy reading🤗🤗🤗🤗🤗

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro