Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🐰 46. Kebenaran 🐰

46. Kebenaran.



🐰🐰🐰🐰🐰🔥🔥🔥🐰🐰🐰🐰🐰




"Ayo a." Ali mengarahkan sendok yang berisikan bubur ke mulut Illy. Sedari tadi ia begitu telaten menyuapi Illy yang susah untuk memasukkan makanan ke dalam perutnya.



"Sudah Ali. Aku sudah kenyang." Illy menyingkirkan tangan Ali yang ada di hadapannya pelan.



Ali menghela napas. "Kamu baru makan beberapa suap saja. Kamu itu butuh asupan banyak, Sayang! Buat kamu, dan anak kita." Tangan Ali mendarat pada perut rata Illy dan membelainya sayang.



Illy hanya diam tanpa kata. Entah apa yang terjadi dalam hidupnya saat ini. Semua ini begitu rumit baginya. "Kamu mikirin apa, sih? Hem?" Telapak tangan Ali kini membelai rambut Illy dan turun ke pipinya, perempuan itu hanya menggelengkan kepalanya.



Suara pintu terbuka mengalihkan atensi mereka. Desi memasuki ruang rawat Illy dengan senyuman lebar. "Mantu Mama!" Perempuan dengan rambut disanggul itu menghampiri Illy dan memeluknya.



Melihat itu, Ali dan Illy diliputi perasaan bingung. "Mama," panggil Ali.



Desi melepaskan pelukan dari Illy dan memberikan senyuman manis pada putra bungsu dan menantunya. "Gimana keadaan cucu Mama?" Desi mengarahkan tangan pada perut Illy.



Saat itulah perempuan bermata hazzle itu menyadari sesuatu. Bahwa semua perhatian sang mertua terhadap dirinya hanyalah karena bayi yang ada di dalam perutnya. Hanya saja tetap, itu membuat dirinya merasa asing.



"Baik, Ma!" Bukan Illy yang menjawab melainkan Ali. "Mama ke sini sendirian? Papa mana?"



"Papa lagi nunggu kakak kamu. Ada yang mau dibicarakan katanya." Ali menerbitkan senyumnya. Sedangkan Illy meremas jari tangannya.



"Kamu sudah makan, Sayang?" Illy mengangguk untuk menjawab pertanyaan Desi. "Kalau begitu, Mama kupasin jeruk, ya!" Desi meraih jeruk yang sebelumnya ia bawa dan segera mengupas kulitnya. Illy pun hanya diam menerima perlakuan Mama mertuanya. Setidaknya saat ini, Desi masih menjadi Mama mertuanya. Entah nanti.



"Memangnya Papa mau bicara apa sama Kak Rasya, Ma?" tanya Ali yang merasa ingin tahu.



"Ya masalah rumah tangga kakak kamulah." Desi menyuapkan jeruk yang sudah ia kupas kepada Illy.



"Papa mau memperbaiki hubungan Rasya dan Illy," ucap Desi dengan senyum bahagia. Namun, Ali menatap sang Mama terkejut, tidak percaya akan apa yang barusan ia dengar. Pun dengan Illy yang bola matanya sudah membola.



Desi meraih tangan Illy dan menggenggamnya. "Illy, kamu, kan lagi hamil, masalah perselingkuhan Rasya kemarin tolong dilupakan, ya! Mungkin, Rasya sudah terlalu ingin punya anak. Makanya dia seperti itu. Tapi sekarang, kan kamu sudah hamil, maafin, ya. Anggap saja kemarin Rasya khilaf." Seolah Illy tidak mempunyai perasaan, Desi mengucapkan kata-katanya begitu mudah.



Jangan tanyakan perasaan Illy. Sungguh ia pun tidak merasa habis pikir. Ia kecewa. Kecewa akan perselingkuhan suaminya dan sang sahabat, tetapi ini-semuanya terasa buntu.



Sedangkan Ali mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. "Ma. Ali mau pulang. Mau ganti baju. Tolong jagain Illy," ucapnya dengan mimik wajah datar. Illy tahu apa yang dirasakan Ali.


Sekuat tenaga pria bermata tajam itu menahan emosi. Namun, tidak bisa. Ia segera keluar dari ruang rawat Illy, melampiaskan kemarahan yang tidak mampu lagi dibendungnya. Rasa marah dan kecewa melebur menjadi satu.



Mempercepat langkah terdengar napas Ali yang memburu. "Papa sudah berbohong. Aku tidak akan membiarkan Papa memperbaiki hubungan Illy dan kak Rasya."



***


Pintu yang terbuka secara paksa dan tiba-tiba membuat Tuan Yarendra terlonjak karena terkejut dari duduknya di ruang kerja. Dilihat sang putra bungsu yang datang dengan wajah memerah.



"Ali. Ada apa? Kamu membuat Papa terkejut," ucapnya sembari memegang dada.



Ali mencoba menahan amarah, ia berjalan mendekati papanya. "Apa benar Papa tidak akan memisahkan Kak Rasya dan Illy?" tanyanya tanpa basa-basi.



"Iya." Satu jawaban itu membuat Ali semakin tersulut emosi.



"Kenapa, Pa? Bukankah kemarin Papa ingin mereka berpisah?"



"Ali, Illy sedang hamil. Tidak mungkin Papa memisahkan mereka." Tidak. Alasan sang papa tidaklah mau Ali terima.



"Tapi Kakak sudah berselingkuh di belakang Illy, Pa."



"Iya Papa tahu, makanya Papa sedang menunggu Kakak kamu untuk membicarakan hal ini. Dia harus meminta maaf pada Illy dan harus meninggalkan selingkuhannya. Siapa tahu karena Illy hamil Rasya mau meninggalkan selingkuhannya." Bodoh. Kenapa hal ini tidak Ali pikirkan sebelumnya? Rutuk Ali dalam hati.



"Tidak semudah itu dong, Pa. Kakak sudah melakukan kesalahan fatal. Apa Papa tidak memikirkan perasaan Illy?"



"Untuk itu Papa mau minta Rasya meminta maaf pada Illy. Di keadaan saat ini, Illy harus mengesampingkan egonya. Ada anak di dalam perutnya yang butuh sosok seorang ayah, mau bagaimanapun, kan dia anaknya Rasya." Ali menggeleng saat papanya menyebut anak yang ada dalam perut Illy adalah anak kakaknya.



"Apalagi Rasya. Pasti dia akan senang mendengar kehamilan Illy. Dan Papa yakin, Rasya pasti mau meninggalkan selingkuhannya demi anaknya." Sudah cukup.



"Bayi itu bukan anak Rasya. Tapi anakku!" ucap Ali dengan teriakannya. Sungguh Ali tidak sanggup lagi jika papanya masih menyebut kehamilan Illy adalah karena kakaknya.



"Apa?" Yarendra memastikan pendengarannya.



"Bayi dalam kandungan Illy, bukan anaknya Kak Rasya. Dia anakku. Dia darah dagingku." Untuk sesaat, terjadi keheningan di antara mereka. Hingga tiba-tiba Tuan Yarendra tertawa. Tawa yang membuat Ali merasa bingung.



"kamu ini ada-ada saja, Li. Papa tahu kamu mencintai Illy sejak SMA. Tapi jangan sampai membuat kamu harus mengakui anak Kakak kamu sebagai anakmu demi mendapatkan Illy." Jawaban papanya membuat Ali menatap tidak percaya.



"Apa, Pa?" Ali berjalan mendekati Papanya yang masih tertawa kecil. "Papa tahu aku mencintai Illy sejak SMA?" Saat itulah tawa Tuan Yarendra berhenti.



Sekarang Ali telah berdiri tepat di hadapan papanya. "Papa tahu aku mencintai Illy tapi Papa masih menikahkan Illy dengan Kakak?"



Tuan Yarendra mengalihkan wajahnya dari pandangan putranya. "Ya," jawabnya tanpa memandang Ali.



"Papa egois tahu!" Ali sedikit meninggikan suaranya. "Dan keegoisan Papa, membuat empat hati tersakiti." Tuan Yarendra masih diam.



"Papa tahu betapa sakitnya aku ketika Papa mengumumkan Kakak akan menikahi Illy?" Tunjuk Ali pada dirinya sendiri. "Sakit, Pa." Ali berucap lirih dengan memukul dadanya.



"Papa pikir aku memutuskan untuk pergi ke London itu karena apa? Karena aku tidak sanggup melihat wanita yang aku cintai membina rumah tangga dengan Kakakku sendiri." Ali memutuskan untuk mengeluarkan semua yang ia rasa selama ini.



"Apa Papa tahu? aku berusaha mati-matian berdiri tenang seperti tidak terjadi apa-apa saat di hari pernikahan mereka. Padahal hatiku sangat hancur waktu itu." Seolah mendapat kesempatan, Ali mengungkapkan semuanya. Tentang apa yang ia pendam selama ini.



"Asal papa tahu, kak Rasya dan Clara itu saling mencintai. Dan papa memisahkan mereka. Menyakiti hati mereka." Ali menunjuk ke arah luar kaca seolah di sanalah Rasya dan Clara berada.



"Dan Papa tahu siapa hati yang paling tersakiti akibat keegoisan Papa?" Ali bertanya menuntut. "Putri kesayangan Papa, Illy," ucap Ali.



Ucapan Ali kali ini mampu membuat Yarendra menatapnya. "Apa maksud kamu?"



Ali tertawa. "Asal Papa tahu. Aku, dan Illy saling mencintai," ucap Ali dengan tawanya. "Papa seenaknya memisahkan Illy dengan aku." Mata Tuan Yarendra membulat.



"Tapi, dia setuju menikah dengan Rasya." Lagi-lagi Ali tertawa. Namun, siapa pun yang mendengar tawanya, mereka akan tahu itu adalah tawa kesedihan. Bahkan terlihat jelas setitik air mata yang terjatuh dari sudut matanya.



"Illy putri Papa," jawab Ali ringan. "Putri Papa yang akan selalu menuruti apa pun keinginan Papa, bukan? Jadi, apa Illy akan menolak saat Papa memintanya menikah dengan Rasya dulu?" Yarendra hanya diam.



Ali kembali tertawa dengan air mata yang jatuh kembali. "Sekarang, hatinya kembali terluka. Rumah tangga hasil pengorbanan perasaannya yang ia jaga ternoda. Perselingkuhan Kak Rasya yang masih mencintai Clara."



Ali tertawa. Namun tawa kali ini semakin terdengar menyayat hati. Tawa disertai isak tangis. Air matanya semakin deras mengalir. "Dan aku ...," tunjuk Ali pada dirinya sendiri. Semakin deras air mata kala ia mengingat perbuatan bejatnya terhadap Illy.



"Dan aku telah menjadi salah satu penyebab sakit hatinya. Karena cintaku yang terlalu dalam, dan karena aku tidak ingin kehilangan dia, aku telah menyakitinya. Aku menyakitinya. Dengan memperkosanya. MEMPERKOSANYA. MENANAMKAN BENIHKU DI DALAM RAHIMNYA!!!" tubuh Ali luruh ke lantai. Menyesali perbuatannya terhadap Illy. Tapi, tidak dengan bayi yang saat ini tengah tumbuh di perut Illy.



"A-apa? Ka-kamu? Akhh." Yarendra memegang dadanya yang terasa berdenyut. Rasa sakit yang tiba-tiba saja menyerangnya tidak dapat membuatnya berkata. Hingga ia tidak lagi mampu berdiri, detik selanjutnya tubuh itu ambruk begitu saja.



"Papa!"








🐰🐰🐰🐰🐰🔥🔥🔥🐰🐰🐰🐰🐰

Selamat malam😋😋😋😋😋

Ada yang masih bangun?

Pasti udah tidur, ya.

Yuk tanya jawab.

1. Jam berapa kalian baca certa ini?

2. Sedang apa kalian saat notif cerita ini datang?

3. Pakai baju warna apa saat kalian baca cerita ini?

4. Sambil apa kalian baca cerita ini?

Tanya jawab hanya untuk senang-senang saja.

😋😋😋


Selamat membaca

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro