🐰 36. Galau 🐰
44. Galau.
***
Ia hanya mampu berdiam diri. Duduk dengan tangan menyanggah dagu sembari memandang kosong ke arah luar kaca ruangan kerjanya. Di balik benak sana masih diingat jelas kejadian yang ia alami satu bulan lalu. Kejadian yang menurutnya adalah hal menyakitkan dan menyenangkan yang telah dilalui secara bersamaan.
Kejadian yang bersangkutan dengan seseorang. Seseorang yang berarti dalam hidupnya. Masihkah bisa ia tetap menomor satukan Dia? Maka jawabannya adalah iya.
"Hah." Lagi-lagi ia mengembuskan napas kasar.
Seperti masih bisa ia rasa saat tubuh kekarnya memeluk erat tubuh mungil yang kedinginan.
Seperti masih bisa ia rasa kakinya yang lelah namun berusaha ditampik karena ada seseorang yang berharga dalam gendongannya.
Seperti masih bisa ia rasa tetesan-tetesan peluh yang mengalir di sudut keningnya kala tubuhnya menerima sengatan matahari demi melindungi seseorang yang ada di gendongannya.
.
Namun, seperti masih ia ingat juga pandangan benci, amarah murka, kata-kata kebencian yang ia terima dari bibir manis seseorang itu.
Pastinya masih bisa ia ingat pandangan kosong yang diberikan kala tubuh yang ada pada gendongannya itu telah diambil alih oleh seseorang yang lebih berhak akan seseorang itu.
Apa kurangnya ia? Pertanyaan itu sering kali terlintas di benaknya. Tidak sepantas itukah ia mendapatkan cinta? Kepulangannya sebulan lalu tentulah hanya akal-akalan saja.
Suara ketukan membuyarkan lamunannya akan seseorang. Dilihatnya pintu ruang kerja yang saat ini terbuka menampilkan sosok wanita dengan pakaian rapi. "Maaf, Pak. Sepuluh menit lagi meeting dimulai."
Ia mengangguk. "Ya. Terima kasih," ucapnya.
Mengenyahkan sejenak pikirannya. Saat ini, ia harus fokus. Move on lebih tepatnya. Dengan membenarkan jasnya, ia mulai melangkah ke ruangan di mana meeting akan dilaksanakan. Menarik napas panjang, ia bergumam. "Lupakan, Li."
***
"Permisi." Illy dan Clara baru saja memasuki ruang rawat Resti. Hari ini keduanya tengah menjenguk sahabat mereka yang baru saja melahirkan bayinya.
"Kalian," ucap Resti antusias. Keduanya memasang senyum bahagia, mendekati Resti lalu berpelukan erat. Tidak lupa sapaan untuk suami Reti yang tengah menata sesuatu di meja samping brankar sahabatnya dirawat.
"Kita bawakan sesuatu nih untuk keponakan kita." Clara berucap dengan memperlihatkan apa yang ia bawa dan apa yang Illy bawa. Dan setelahnya, mereka melipir ke arah box bayi di mana bayi Resti tengah terlelap di sana.
"Lucu ya, Li," ucap Clara dengan tatapan memuja pada bayi laki-laki Resti.
"Iya." Ucapan itu terdengar lirih di pendengaran Clara dan Resti. Keduanya mengerti dengan perasaan Illy saat ini.
Hampir enam tahun menikah belum juga diberi momongan. Pasti sedih rasanya. Belum lagi tekanan dari sang mertua. Jika keduanya membayangkan berada di posisi Illy, mungkin mereka sudah meminta cerai karena tidak kuat akan sikap sang mertua.
Namun, Illy begitu sabarnya ia hingga tetap bertahan dalam rumah tangganya. Sungguh wanita yang tangguh. Semoga ia lekas diberi momongan.
Dilihatnya Illy yang tengah mengelus pipi gembul bayi Resti dengan pandangan berkaca-kaca. Dalam hati ia bertanya. "Kapan aku bisa memiliki dia?"
"Li." Panggilan Clara menyadarkan Illy dari khayalannya. Ia memasang senyum untuk menyembunyikan perasaan sedih. Mencoba memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja.
Sedangkan Clara dan Resti tahu, di balik senyum itu ada luka yang teramat dalam di hati sang sahabat.
Tangan Resti terulur untuk menggenggam tangan Illy. "Kamu bisa menganggap anakku adalah anak kamu juga. Kamu boleh datang kapan saja untuk bermain bersama dia." Hancur sudah pertahanan Illy. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini jatuh juga mendengar ucapan itu.
Illy memeluk Resti dengan erat sembari bergumam, "Terima kasih. Terima kasih. Kamu memang sahabat terbaik." Resti membalas pelukan Illy dan mengangguk.
"Jadi ... aku bukan sahabat terbaik juga, nih?" Ucapan Clara yang seperti merajuk membuat pelukan Illy dan Resti terlepas. Clara tahu bukan itu maksud Illy. Akan tetapi, ia berusaha untuk mencairkan suasana.
Illy dan Resti pun tertawa. Keduanya sama-sama merentangkan tangan pada Clara. Tentu saja perempuan itu menyambut dengan semangat. Pelukan sahabat yang menenangkan di saat kita mempunyai masalah.
***
Suara heels yang berbenturan dengan lantai menggema di suatu ruangan. Seorang wanita cantik dengan pakaian minim berjalan angkuh dengan mengangkat dagu. Tidak peduli akan tatapan banyak orang yang mempertanyakan siapa dirinya dan apa keperluannya di tempat ini.
Tombol lift ia tekan, memasukinya yang memang sudah terisi beberapa orang. Menunggu membawanya ke lantai yang ia tuju sembari mengetukkan ujung heels-nya pada lantai. Lagi-lagi tidak memedulikan tatapan orang-orang yang berdiri di belakangnya.
Saat lift itu terbuka di lantai tujuannya, melangkah dengan anggun dan masih menyempatkan sikap angkuhnya. Ketukan heelsnya berhenti kala ia telah berada tepat di depan sebuah meja.
"Rasya ada di dalam?" tanyanya dengan tatapan angkuh.
"Ada." Satu kata itu sudah cukup baginya. Tak ingin berbasa-basi, ia pun melangkahkan kakinya ke arah pintu sebuah ruangan.
"Tunggu. Tunggu. Tunggu." Seruan itu membuatnya berhenti. Ia membaliknya tubuh menghadap seseorang. "Apa Anda sudah membuat janji?"
Mendengar pertanyaan itu terucap untuknya, tidak lantas membuatnya untuk menjawab. Ia malah meraih ponsel berlogo buah tergigit miliknya. Mendial nomor seseorang. "Aku ada di depan ruangan kamu."
Mematikan panggilannya begitu saja tanpa menghiraukan perasaan terkejut dari si penerima panggilan. Kata-kata angkuh miliknya sebelumnya yang terucap kini tampak berubah menjadi nada manja kala ia berbicara dengan seseorang di seberang sana. Seseorang yang diyakini pemilik ruangan di depannya saat ini.
Tidak lama, pintu yang tertutup itu pun terbuka. Menampilkan lelaki sang pemilik ruangan. "Biarkan dia masuk. Dia tamuku."
Mendengar ucapan itu, salah satu wanita yang berpakaian sopan itu mengangguk. "Baik, Pak." Hanya menunduk merasa takut akan mendapat amarah dari sang atasan.
Wajah angkuh itu menampilkan senyum sinisnya terhadap perempuan yang sebelumnya menghentikan dirinya. Setelahnya, ia Kembali berjalan anggun memasuki ruangan kerja milik seorang laki-laki tampan.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku dulu sebelum kemari?" tanya lelaki itu. Dia adalah Xavi Rasya Yarendra.
Mendapat pertanyaan itu, wanita itu pun berhenti dan berbalik. Mulai menatap nakal ke arah Rasya sembari mengalungkan kedua lengannya pada leher Rasya. "Sebenarnya, aku ingin mengejutkanmu. Lagi pula, aku sudah terlalu merindukanmu."
Sesaat kemudian, tatapan nakal itu kini berubah menjadi kesal. "Sayangnya Sekretaris bodohmu itu mengacaukan segalanya."
Suara tawa Rasya menggema. Tangan bebasnya kini mulai merangkul pinggang ramping wanita di hadapannya. "Merindukanku he? Kamu tahu? Aku lebih merindukanmu. Apa lagi, kehangatan milikmu."
Perempuan sexy itu mendorong Rasya hingga terlepas rangkulan darinya. Berjalan ke arah meja kerja dengan melenggak-lenggokkan bokongnya seakan menggoda pria itu.
Dan berhasil. Terlihat Rasya yang saat ini menjilat bibir bawahnya. Gairahnya tiba-tiba saja membuncah Sedang wanita itu, tampak menumpuk beberapa berkas yang ada di meja Rasya. Mendudukkan dirinya dengan membuka kaki sehingga terpampanglah jelas dalamannya.
"Merindukan kehangatanku?" Perempuan itu seolah bertanya. "Bukankah semalam kamu sudah mendapatkannya?"
Rasya berjalan mendekatinya, lalu berdiri di antara kaki wanita itu yang terbuka. "Jangan bertanya seperti itu. Kau tahu aku selalu merindukan kehangatan milikmu," ucapnya dengan menyisipkan senyum smirk.
Lengan halus kini kembali melingkari leher Rasya. Meniupkan udara hangat ke wajah pria itu. "So, kamu ingin aku menghangatkan dirimu saat ini?" Satu tangannya kini telah beralih ke bawah. Meremas pelan gundukan yang sudah terasa menonjol di balik celana kain bahan.
"Kamu selalu mengerti aku, Sayang." Keduanya tampak sama-sama tersenyum.
"Jadi, silakan. Aku milikmu."
***
illy baru saja selesai menjenguk Resti dan bayinya di rumah sakit. "Kamu mau aku antar pulang, Ly?" tanya Clara yang sudah menaiki mobil sang kekasih.
"Tidak. Aku akan naik taksi saja," jawab Illy dengan menggelengkan kepala.
"Kamu yakin?"
"Iya." Ia tersenyum manis.
"Baiklah. Aku duluan kalau begitu." Mobil itu melaju, membuat ia mengangkat tangan untuk melambaikannya pada Clara.
Ia harus berpisah dengan Clara saat kekasih perempuan itu menjemputnya tadi. Sejujurnya, ia merasa heran dengan sahabatnya yang satu itu. Bukankah beberapa waktu lalu Clara datang dan mengeluhkan sikap sang kekasih pada dirinya?
Akan tetapi, kenapa sekarang sepertinya bauk-baik saja? Ava menghela napas dalam. Ah, yang namanya suatu hubungan tidak ada yang mulus bukan? Mungkin beberapa waktu lalu mereka memang terlibat masalah. Dan sekarang, sudah baikan
menoleh ajakan Clara, tentu saja. Ia tidak mungkin, kan menjadi obat nyamuk dai sahabatnya itu. Bisa-bisa dirinya menjadi kambing conge lagi.
"Jalan-jalan dulu saja kali, ya." Ucapan Illy yang katanya akan menaiki taksi tadi entah kenapa tidak ia realisasikan.
Perempuan dengan blazer putih itu malah melangkahkan kaki di pinggir trotoar, mengamati sekeliling dengan berbagai ekspresi. Sejujurnya, pikirannya saat ini tengah berkelana, memikirkan sesuatu yang terasa mengganjal akhir-akhir ini.
Memegang erat tali tas yang ada di pundak, Illy menyusuri jalan dengan begitu pelan, Ingatannya kembali pada kejadian satu bulan yang lalu. Kejadian yang membuat dirinya sakit begitu dalam tentang sesuatu yang baru ia ketahui. Bahkan ... sampai dirinya melakukan hal yang tidak dapat dikendalikan.
Dalam kemarahan, Illy memberontak mengeluarkan apa yang dirasa. Kata-kata kasar dan tatapan amarah tertuang begitu saja. Hingga tidak menyadari telah menyakiti hati seseorang. Yaitu sahabatnya sendiri.
Sebentar. Menyakiti? Bukankah Ali lebih menyakiti dirinya dengan apa yang telah pria itu perbuat padanya? Mengambil malam pertama yang harusnya menjadi milik ia dan Rasya. Meskipun ... secara tidak sengaja.
Kamu adalah orang berarti dalam hidupku. Sebisa mungkin aku akan membuat kamu bahagia. Jika memang bahagiamu tidak lagi melihatku, aku akan mengabulkan itu. Maaf atas sikap bejatku kepada kamu di malam itu. Aku mencintaimu.
Masih bisa ia ingat betul kalimat itu. Kalimat yang dikirimkan Ali melalui sebuah pesan saat keberangkatan pria itu dari puncak menuju Surabaya. Sejak saat itulah, ia tidak lagi melihat Ali, bahkan ketika ia menginjakkan kaki setelah liburan dari puncak. Liburan yang hancur karena kejadian yang tidak bisa diprediksi.
Ya. Karena Ali yang meminta kembali ke Surabaya, maka perempuan bernama Zizi itu pun juga memintanya pulang. "Lalu. Ke mana Ali sekarang?" tanyanya lirih.
Ya, sampai saat ini pun ia tidak lagi mendengar kabar dari Kafka. Bahkan saat ia berkunjung ke rumah mertuanya pun ia tidak juga mendapatinya. Ke mana kah dia?
Illy mengerjap. menggelengkan kepalanya. Ah. Untuk apa kamu menanyakannya, Ly? Bukan kah kamu memang tidak ingin lagi melihatnya?
Illy masih menyusuri jalan, bermain dengan pikirannya sendiri. Ia berbelok begitu saja pada jalan yang tidak dikenali. Tanpa ia tahu, seseorang yang sedari tadi mengintainya. Di rasa tempat ini mulai sepi, orang itu pun mulai berjalan mendekati.
Satu gerakan cepat mengejutkan Illy. Seseorang tengah menarik tas yang ia bawa. "Tolong!" Illy berteriak dengan masih mempertahankan tas miliknya. Hingga terjadi perebutan antara dirinya dan orang itu.
"Serahkan tasnya," ucap seseorang dengan penutup kepala, hanya memperlihatkan mata dan mulutnya saja. Ah, naas bagi Illy karena harus bertemu dengan seorang penjambret.
"Tidak. Tolong. Jambret!" Illy berteriak kencang, pandangannya mengedar. Oh tidak, kenapa ia tidak menyadari jika tempat ini sangatlah sepi.
Semua ini karena Ali. Ya. Karena ia memikirkan Ali jadinya tidak memikirkan jalan. Akhirnya, ia harus terdampar di sini bersama penjambret yang berusaha mengambil tas miliknya.
"Tolong!" Entah kenapa ia tetap berteriak meski menyadari bahwa apa yang ia lakukan terasa percuma mengingat lokasi di mana ia berada saat ini.
"Lepaskan!" Sosok itu kembali berucap dengan suara penuh ancaman. Saat itu pula, pria di hadapannya mulai menodongkan pisau.
"Tolong!" teriak Illy dengan suara tercekat. Bola mata hazzle itu melotot seketika melihat tajamnya pisau yang ada di hadapannya.
Tidak ada cara lain, Illy pun menyerahkan tasnya pada penjambret itu. Namun, baru saja sosok pertopeng itu akan kabur, sosok lain datang memukulnya dengan keras.
"Ah." Illy terkejut, ia menutup mulut ketika melihat penjambret itu tersungkur. Perempuan itu menoleh, menatap pria berjas yang kini berdiri tidak jauh dari dirinya.
"Ali," lirih Illy kala menyadari siapa yang berdiri di sana. Ya. Illy tahu betul postur tubuh itu. Itu Ali. Ali yang sudah sebulan ini tak pernah ia lihat.
Pandangan keduanya sempat bertemu, bisa dilihat bila mata hitam pekat itu memancarkan kemarahan. Bahkan desisan yang keluar dari sela gigi seperti bisa ia dengar.
Ali mengalihkan pandangan, Illy hanya menatap sang sahabat yang kembali mendekati ke jambret itu. "Akh!" Ia memekik, terkejut kala Kafka mendapat satu pukulan.
Namun, Ali tidak tinggal diam. Pria itu malah membalasnya dengan membabi buta, seolah tidak memberi kesempatan penjambret itu untuk melawan. Hingga beberapa saat kemudian, lawan pun tumbang.
"Berikan tasnya," ucap Ali. Tanpa perlawanan lagi, pria itu mendapatkan tas Illy dengan mudah.
Ada degupan jantung yang sulit diartikan saat Ali berjalan mendekatinya, pria itu mengulurkan tas miliknya. "Tas kamu." Ragu, ia menerimanya dengan gerakan pelan tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun dari Ali.
Ia mengamati baik-baik wajah yang selama sebulan ini tidak ia lihat sama sekali. Kalau boleh jujur, bolehkan ia mengatakan kalau merindukan sosok di hadapannya ini?
Melalui ekor mata Illy melihat penjambret itu yang bangkit lalu lari. "Penjambretnya," ucap Illy dengan tangan yang menunjuk arah pelarian.
Ali, pria itu hanya menoleh sesaat lalu kembali menatapnya. "Aku antar kamu sekarang." Diam. Tidak ada kata yang mampu ia ucapkan. Masih memandang sosok Ali yang berdiri tidak jauh darinya.
"Mm maaf. Bukannya bermaksud untuk menampakkan diri di depan kamu. Hanya saja, aku tidak sengaja melihat seseorang dijambret. Aku hanya ingin menolong dan tidak tahu kalau itu kamu. Jadi, aku mohon. Kamu mau aku antar. Takutnya ada penjambret lain." Mendengar penuturan Ali membuat hati Illy mencelos.
Begitu dalam makna kata-kata yang ia ucapkan pada Ali saat ia marah sebulan lalu. Hingga pria ini begitu menanamkannya pada ingatan. "Ayo," ucap Ali kembali.
Illy mengangguk, ia berjalan mendekati mobil lalu masuk ketika Ali membukakan dirinya pintu mobil. Duduk tepat di kursi penumpang samping kemudi, tanpa terasa air matanya menetes begitu saja saat melihat sahabatnya yang berlari memutari mobil. Ia dengan segera menghapus lelehan air asin di pipi saat pria itu akan membuka pintu bagian kemudi.
Dalam perjalanan, tidak ada satu pun pembicaraan. Hanya ada keheningan di antara keduanya. Sesekali Illy mencuri pandang ke arah kanan di mana Ali berada tengah mengendalikan kemudi. Tidak ada pembicaraan atau godaan manis yang biasa Ali lontarkan ketika mereka duduk bersama.
"Ke mana?" Pertanyaan Ali membuat Illy tersentak karena terkejut. Ia gelagapan karena sedari tadi melirik pria itu.
"Ke toko," jawabnya kemudian.
Hingga beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Ali telah terparkir di depan toko Illy, masih tidak ada dari keduanya yang mengeluarkan suara.
Illy mengembuskan napasnya. "Terima kasih," ucap Illy memberanikan diri berucap lebih dulu, Ali hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari arah depan. Bisakah kalian bayangkan perasaan Illy saat ini?
"Luka kamu?" Illy berucap sembari mengangkat tangannya, mendekatkan pada sudut bibir Ali yang terlihat memar. Namun, belum juga tangannya menyentuh bibir terluka itu, Ali sudah lebih dulu menghindar.
"Tidak papa. Hanya luka kecil." Illy meremas tangannya yang menggantung di udara. Merasakan hatinya yang tercubit akan penolakan itu. Jujur, Ali belum pernah memperlakukannya seperti ini.
"Kalau bisa, kamu turun sekarang. Soalnya aku masih ada urusan," ucap Ali. Memang, pria itu mengucapkannya secara halus. Namun, siapa saja yang mendengarnya jelas menangkap bahwa kata-kata itu adalah sebuah pengusiran.
Tidak ingin membuat Ali merasa tidak nyaman, Illy pun segera turun dari mobil Ali.
Mobil hitam itu langsung melaju sesaat setelah ia turun. Illy hanya mampu menatap nanar pada arah kepergian mobil Ali. Satu tangannya terangkat untuk memegang dada. Rasa apa ini? Kenapa terasa sakit?
"Ada apa dengan aku?" tanyanya lirih.
🐰🐰🐰🐰🐰🔥🔥🔥🐰🐰🐰🐰🐰
Maaf ya telat.
Lagi enggak enak bada nieh
😥😥😥😥😥
Telinga sama rahang nyut-nyutan
😪😪😪
Happy reading
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro