Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🐰 28. Kekesalan Ali🐰

28. Kekesalan Ali

🐰🐰🐰🐰🐰🔥🔥🔥🐰🐰🐰🐰🐰

Seperti biasa, Ali selalu memasuki apartemen Ziqry tanpa permisi. Apalagi kali ini ia datang dengan membanting pintu secara kasar, membuat si empunya terkejut dan berjingkat di sofa.

Tidak memedulikan tatapan Ziqry yang penuh kebingungan ia membanting tubuh pada sofa tepat di samping sang sahabat. Ziqry berkomentar, "Kau kenapa? Datang-datang membuat orang jantungan saja. Bisa tidak kalau datang dengan cara yang biasa saja?" maki pria dengan celana tanpa kaus itu pada Kafka.

Ali melirik tajam pada keberadaan Ziqry, ia mengembuskan napas dalam sebelum bercerita, "Aku kira Illy dan kakakku akan bercerai karena masalah kemarin. Tapi hari ini, aku melihat Rasya meminta maaf pada Illy yang berakhir mereka di atas ranjang," jelasnya.

“Sialan," umpatnya, "bahkan aku harus melihat pergumulan mereka di sana." Membuang muka, Ali menumpu dagu dengan tangan yang terkepal kuat, gigi yang saling gemeretuk. Terlihat jelas pelampiasan kemarahan itu.

Bukannya ucapan iba atau kasihan, ia malah mendengar suara tawa nyaring dari sampingnya. Siapa lagi pelakunya kalau buka Ziqry?

Melalui ekor mata ia memerhatikan Ziqry yang tertawa lebar, kedua lengan berada di perut. Sepertinya sedikit menekan. Ah, rupanya cerita yang ia bawa membuat pria ini merasa lucu. "Sudah puas tertawanya?" tanya Ali dengan mendesis.

Langsung saja Ziqry mengatupkan mulut, pria itu berdehem sebelum menatap dirinya penuh. "Memangnya masalah apa yang mereka hadapi kemarin?"

Membanting punggung pada sandaran Sofa, Ali mulai bercerita, "Aku melihat mereka bertengkar di rumah sakit. Bukan melihat. Aku memang membuntuti mereka."

"Bertengkar tentang apa?"

Ali mengangkat kedua alisnya. "Soal mereka yang harus melakukan tes kesuburan. Rasya merasa dia dituduh tidak subur oleh Illy."

Ziqry hanya mengangguk. "Begini?" Lihatlah tingkahnya jika akan berbicara sok bijak.

"Menurutku, masalah yang mereka hadapi kemarin itu terlalu biasa. Karena itu hanya salah paham. Apalagi ikatan mereka bukan hanya pacaran. Mungkin membutuhkan masalah yang sedikit besar," jelasnya. "Mungkin." Pria itu mengedikkan bahu, seolah segala prediksi bisa saja salah.

Ali menatap Ziqry hanya dengan diam, tetapi otaknya sedang berputar tentang penjelasan yang baru saja diberikan oleh temannya. Kembali menegakkan tubuh, ia menopang dagu dengan jari mengelusnya.

Ali melirik keberadaan sang sahabat. "Menurutmu masalah apa yang membuat mereka bisa bercerai?"

Ziqry menipiskan bibir, kedua alisnya menukik tajam dan bola matanya melirik atas lalu ke kiri dan kanan. "Seperti perselingkuhan mungkin?"

Kening Ali mengerut, gerakan jarinya pada dagu berhenti, tidak ada kata apa pun yang keluar dari bibirnya. Hanya ada suara pendingin ruangan apartemen Ziqry yang terdengar seolah tidak ada siapa pun dalam ruangan tersebut.

Ali memutar tubuhnya, menghadap ke arah Ziqry sepenuhnya. Kedua tangan terangkat dan bergerak seiring ia menjelaskan sesuatu. "Jadi, menurutmu aku dan Illy harus terlihat berselingkuh begitu? Agar Rasya marah dan mau menceraikan Illy."

Mata Ziqry membulat sempurna, ada mimik terkejut dalam wajahnya. Detik kemudian Ali melihat pria itu mengangguk pelan dan menjawab kaku, "Bo—boleh seperti itu."

Ali mengetikkan jari, senyumnya melebar merasa rencana yang ia pikirkan adalah ide bagus. Ia kembali menghadap ke depan dengan kepala mengangguk beberapa kali. "Baiklah. Besok akan aku lakukan."

"Ta—Ta—Tapi, Li. Kalau seperti itu bukankah Illy akan terlihat buruk di hadapan kedua orang tuamu? Apalagi yang aku tahu mamamu saat ini sangat tidak menyukai Illy."

Ali diam. Apa yang dikatakan Ziqry memang benar adanya. Bagaimana jika Illy malah terlihat buruk di mata kedua orang tuanya?

"Apa kamu yakin kamu akan bisa menikahi Illy dengan restu mereka?" lanjut Ziqry.

Masih tidak ada jawaban dari pria pemilik alis tebal itu, mimik wajahnya seolah sedang memikirkan hal yang serius. Detik kemudian ia mengibaskan tangan di depan wajah.

“Ah, biarkan. Itu bisa dipikirkan mati. Yang penting saat ini adalah, Illy dan Rasya bisa cepat bercerai."

Bangkit dari duduknya ia menatap sahabatnya. "Kamar yang biasa aku tempati kosong, kan?" tanyanya dengan menunjuk salah satu kamar di apartemen Ziqry.

Pria dengan dada telanjang itu memutar bola mata. "Memangnya siapa yang mau menempati?"

"Baiklah. Akan aku tempati malam ini," ucap Ali dan berjalan ke arah kamar itu. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu.

Menoleh pada bahu, ia berucap keras, "Jangan lupa pesankan aku wanita malam ini, Ziq."

"Sialan. Memangnya aku ini babumu?" Ali hanya tertawa mendengar gerutuan temannya. Tidak perlu mengulang apa yang ia inginkan. Sahabatnya itu pasti melakukan apa yang diucapkannya tadi.

***

"Hati-hati di jalan," pesan Illy pada Rasya ketika mobil yang mereka kendarai berhenti di depan toko bunga yang dikelolanya.

"Iya." Illy turun setelah mendapat jawaban dari suaminya. Berhenti sejenak, ia melambaikan tangan ketika pintu kaca terbuka beriringan dengan mobil yang melaju pergi.

Membalikkan badan ia menatap toko bunganya, untuk hari ini ia akan meninjau toko ini terlebih dahulu. Memasuki bangunan persegi panjang berhias segala macam bunga, aroma wangi menyapa indra penciuman.

"Selamat pagi, Mbak Illy," sapa salah satu karyawan Illy. Gadis berkacamata itu merupakan mahasiswi tingkat akhir yang membutuhkan pekerjaan di sela-sela waktu kuliah dan belajarnya.

Mengetahui seberapa berat hal itu, Illy dengan senang hati menerimanya bekerja meski jadwalnya tidak pasti. Apa yang dilaluinya dulu cukup menguatkan akan hal itu.

Illy mendekat. "Apa saja bunga yang kosong, Rania?"

Gerakan tangan gadis itu dalam meneliti bunga berhenti, ia menatap Illy lalu menjawab, "Semuanya masih lengkap, Mbak. Stok pun masih banyak."

Illy mengangguk. "Bagus kalau begitu. Lanjutkan pekerjaanmu." Ia berlalu selagi karyawannya melanjutkan pekerjaan. Tidak lupa menyapa pekerja yang lain di sana.

"Mbak, Illy." Langkahnya terhenti saat seseorang memanggilnya. Illy berbalik, menatap seorang perempuan yang juga bekerja padanya.

"Ada apa?"

"Ada tamu untuk Mbak Illy. Dia berada di dalam ruangan Embak. Kami sudah mencoba menghalangi tapi dia memaksa," jelasnya dengan nada yang terdengar gugup.

Kening Illy terlipat? "Tamu? Siapa? Dan bagaimana dia bisa seenaknya memasuki ruangan saya?"

Perempuan dengan pita pada bagian rambut belakang itu menggeleng. "Tidak tahu, Mbak. Dia hanya mengatakan kalau dia adalah temannya Mbak Illy."

Bola mata hazzle itu berputar, memikirkan siapa yang dimaksud. "Baiklah. Terima kasih." Tidak ingin merasa penasaran, ia langsung memasuki ruangannya.

Kening Illy terlipat kala kursi yang biasa ia gunakan untuk bekerja dalam posisi membelakangi. Ia meyakini kalau seseorang itu duduk di sana. Dikarenakan adanya sandaran yang cukup tinggi membuat Illy tidak bisa melihat siapa tamu itu.

Berjalan mendekat ia memosisikan diri di hadapan orang itu. Helaan napas terdengar kala mendapati sosok Ali yang duduk dengan nyaman. "Ali. Aku kira siapa?"

Tidak ada jawaban dari pria itu, hanya sebuah senyum miring yang tercetak jelas di wajahnya. "Kamu ngapain pagi-pagi di sini? Dan bagaimana bisa kamu tahu tempat ini?" Jangan heran jika Illy bertanya demikian.

Pasalnya, mereka hanya pernah bertemu di toko kue milik Illy. Tidak dengan toko bunga ini. Apalagi Ali sampai memasuki ruang pribadinya.

Tubuh pria itu yang sebelumnya menyandar kini menegak. "Apa yang tidak aku ketahui dari kamu, Illy?" tanyanya dengan suara dalam dan serak.

Mendengar itu tentu saja alarm peringatan bagi Illy. "Apa mau kamu, Li?"

Hanya mengedikkan bahu, bola mata tajam itu meneliti setiap inci ruangan milik Illy. "Aku hanya merasa heran kenapa kalian masih bisa baik-baik saja setelah pertengkaran kalian waktu itu."

Illy mengerti benar siapa yang dimaksud kalian oleh Ali. Ia hanya memberikan senyum. "Namanya suami istri pasti ada salah paham, Li. Pasti nanti akan baikan."

Illy cukup terkejut saat Ali bergerak cepat mendekatinya. Sekarang, wajah mereka hanya berjarak satu inci saja. Senyum smirk terlihat jelas pada wajah keras itu.

“Dan kamu tahu bukan kalau aku tidak menyukainya?" ucap Ali yang terasa menyeramkan di telinga Illy.

Entah kenapa suasana di ruangan ini menjadi sesak dan terasa menyeramkan dengan mimik yang ditunjukkan Ali. Satu tangan Illy mencengkeram kuat pinggiran meja, mencoba untuk tidak terintimidasi oleh pria di hadapannya.

Menarik napas dalam, Illy mencoba membuang rasa gugup yang tiba-tiba menyelimuti dirinya. "Dan aku tidak peduli," jawab Illy.

Senyum miring semakin terlihat menakutkan. "Oh, iya?" Tanpa diduga, Ali mengangkat tubuhnya ala karung beras. Pria itu berjalan entah ke mana, tidak memedulikan dirinya yang meronta-ronta.

Oh tidak. Apakah hal itu akan terjadi lagi? Kata yang ia teriakkan terasa percuma. Ruangan yang didesain kedap suara membuat itu sia-sia. Sepertinya, hanya akan ada tangis yang ia keluarkan.

🐰🐰🐰🐰🐰🔥🔥🔥🐰🐰🐰🐰🐰

Selamat malam semua. Apa kabar kalian? Masih menunggu cerita ini kah?😁😁😁😁😁

Kuy ramaikan. Aku rindu suara kalian

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro