Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

||🐰 11. Kebetulan 🐰||

11. Kebetulan

***




"Kamu?" Suara terkejut yang mengalun merdu itu mengembangkan senyum Rasya.

Perasaan marah dan kecewa yang beberapa saat lalu dirasa telah menguap seketika saat mendapati senyum manis dari sosok cantik yang kini tengah berada di hadapannya. Tidak hanya itu. Rasa penasaran pun kini turut hadir dalam benaknya.

"Tasya? Kamu ngapain di sini?" Kini Rasya mulai dapat mengontrol rasa terkejutnya. Memulai pembicaraan yang membuat suasana menjadi terasa lebih santai. Ya. Wanita yang kini di hadapan Rasya bukan lain adalah Tasya.

"Aku mau ketemu klien atasan aku. Tadi tiba-tiba saja atasan aku ada keperluan mendadak. Jadi, aku yang harus menggantikan dia," jelasnya.

"Atasan kamu?" Rasya tampak berpikir. "Pak Rudi bukan?

"Iya," jawab Tasya dengan senyuman.

Sesaat kemudian, bola mata perempuan itu membulat sempurna. "Apa jangan-jangan ... kamu kliennya pak Rudi?" Tangan kanan terangkat menunjuk ke arah Rasya.

Terkekeh pelan Rasya pun mengangguk. "Ya ampun. Maaf sekali Pak Rasya. Karena urusan Pak Rudi yang mendadak, pertemuannya jadi terlambat. Dan maaf sudah membuat Anda menunggu." Tasya meminta maaf dengan ucapan formal, pergerakannya terlihat buru-buru membuka berkas yang ia bawa.

Merutuki diri karena memanggil Rasya tanpa embel-embel "Pak". Tentu saja Tasya tidak ingin kerja sama yang ditugaskan padanya akan gagal hanya gara-gara sikapnya tadi.
Akan tetapi, lain hal dengan Rasya. Mendengar ucapan Tasya beberapa saat lalu, membuat ia tidak dapat menahan tawanya. Memancing perempuan di hadapannya menarik alisnya.

"Kenapa Bapak tertawa? Apa ada yang salah dengan saya?" tanya Tasya dengan meneliti keadaan dirinya. Serasa tidak mendapati yang aneh, Tasya menautkan kedua alisnya tanda tidak mengerti.

"Tidak. Cara bicara kamu lucu Tasya," ucap Rasya dengan berusaha menahan tawanya.

"Maksudnya?"

"Eh, duduk dulu, Sya. Tidak enak kalau kita berbicara sambil berdiri," ujar Rasya seraya menarik satu buah kursi di sampingnya dan mempersilahkan Tasya untuk duduk.

"Sudahlah. Kita bicara santai saja. Jangan terlalu formal. Panggil aku seperti biasa saja. Jangan pakai embel-embel Bapak segala." Rasya berbicara santai.

"Tapi—"

"Sudah. Lebih baik kita bicarakan yang memang harus kita bicarakan." Keduanya pun mulai melanjutkan niatan pertemuan ini, meeting sebuah proyek yang akan dikerjakan bersama oleh mereka.

***

Setelah acara buntut membuntuti telah ia lakukan sedari tadi, di sinilah Kafka berada saat ini. Di depan sebuah toko yang baru saja dimasuki oleh wanita cantik. Hingga tidak peduli adanya wanita lain yang saat ini juga tengah menunggunya di tempat lain.

Ah, mengingat wanita itu, Kafka tidak peduli. Yang penting, wanita yang baru saja ia buntuti. Merasa rindu tidak pernah habis singgah di hatinya tertuang untuk seseorang tadi, tanpa ragu pun Kafka turut memasuki toko itu.

Satu langkah kaki Kafka memasuki bangunan persegi itu, aroma wangi kue menyeruak penciumannya. Membuat pria itu merasa penasaran akan cita rasa yang didapatkan dari kue dengan aroma sewangi ini.

Hampir saja Kafka tergoda untuk mencicipi rasa kue yang dibuat oleh toko ini dan melupakan tujuan awalnya. Akan tetapi, keberadaan wanita cantik yang tengah berbicara dengan seorang pelayan menyadarkan Kafka akan itu semua.

Dengan memasang senyum lebar agar terlihat lebih tampan, meskipun kenyataannya Kafka selalu terlihat menawan. Pria itu berjalan untuk mendekati sosok wanita yang tidak jauh keberadaan dari dirinya.

Ketika sudah sampai di belakang sosok berambut panjang itu, ia mengulurkan tangan untuk menepuk pundak wanita yang saat ini sudah berada di hadapannya. Sosok yang telah ia buntuti sedari tadi.

Dua tepukan pelan pada pundak itu mampu mengalihkan atensi si wanita. Dapat Kafka lihat wajah terkejut itu saat melihat dirinya. Sangat lucu sekali, selalu seperti itu. "Kafka," panggil wanita itu dengan senyumnya.

"Hai," sapa Kafka dengan usapan lembut pada pipi wanita itu.

"Kamu kok di sini?" Untuk sesaat, Kafka merasa bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Tidak mungkin, kan ia akan mengatakan kalau sedari tadi sudah membuntuti wanita ini?

Hingga pemandangan jajaran toko di etalase tertangkap pandangannya. "Ini toko kue, Va. Siapa saja bisa ada di sini." Jawaban yang cukup logis bukan?

"Ah. Iya juga, ya?" ucap wanita itu salah tingkah, sosok bermata hazzle yang tidak lain adalah Ava.

"Sekarang, aku yang bertanya. Sedang apa kamu di sini?" tanya Kafka dengan menaik turunkan alisnya untuk menggoda Ava dengan membalikkan pertanyaan wanita itu sebelumnya.

"Suka-suka aku dong. Ini, kan toko kue aku," jawab Ava sombong dengan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Really?" Ava mengangguk pasti. Setelahnya, keduanya memecahkan tawa mereka. Tidak peduli beberapa orang dan beberapa pelayan toko Ava memandang mereka aneh.

"Kamu tahu? Saat aku baru saja memasuki toko ini, aroma kuenya sudah mengundangku. Jadi, bolehkah aku mendapatkan satu buah roti gratis dari toko ini?"

Ava memiringkan kepalanya dan berkacak pinggang di hadapan Kafka. "Kalau tahu kamu akan memalakku dengan meminta kue gratis, aku tidak akan memberi tahumu kalau toko ini adalah milikku," ucapnya dengan ekspresi wajah yang merasa jengkel.

"Ah. Ternyata perubahan statusmu dari wanita menjadi ibu rumah tangga juga mengubah sifatmu padaku, ya? Kau ...," tunjuk Kafka pada hidung Ava. "Berubah menjadi sangat pelit."

Dengan pelan Ava menggeser jari Kafka dari hidungnya. "Maaf. Saya bukannya pelit. Hanya berusaha menjaga toko kue saya dari kebangkrutan akibat ulah orang-orang seperti Anda, Tuan," ucap Ava dengan santainya.

Sesaat setelah mengucapkan itu, tidak ada suara lagi yang keluar dari keduanya. Hingga beberapa detik kemudian, keduanya sama-sama tertawa menyikapi kelakuan konyol mereka.

Seperti biasa, Kafka selalu refleks mencubit hidung juga mengusap kepala Ava. Dan dengan manjanya, wanita itu akan melabuhkan pelukan pada dirinya.

Siapa pun yang melihat kelakuan mereka saat ini, pasti akan menyadari betapa dekat keduanya, dan berprasangka kalau mereka adalah sepasang kekasih jika belum tahu Ava sudah menikah.

Ava menuntun Kafka untuk duduk di salah satu meja. "Baiklah. Hari ini aku akan memberikan kue hasil tokoku ini secara gratis. Mau pilih yang mana?" tanya Ava dengan memberikan buku berisikan beberapa gambar kue yang ada di tokonya.

Sembari mengelus dagunya, Kafka nampak berpikir dengan melihat-lihat gambar kue yang terlihat menggiurkan di matanya. "Saya minta setiap kue satu, ya?"

Senyum yang sebelumnya terpatri di wajah Ava, kini berubah menjadi dengusan. Sembari berkacak pinggang, ia menatap Kafka dengan tajam. "Kamu benar-benar mau bikin toko aku bangkrut?"

Sontak saja ucapan Ava membuat Kafka tergelak. Melihat itu, si pemilik toko semakin memberengut kesal. Ok. Ia benar-benar merasa kesal.

Saat melihat raut wajah Ava yang telah berubah, Kafka mulai mengatur reda tawanya. Satu tangannya terulur untuk menangkup satu pipi chubby Ava dan mengelusnya lembut. "Sorry, Baby. Just kidding. Oke?"  ucap Kafka dengan kelembutan.

"Aku tidak perlu memesannya. Aku yakin kamu tahu apa yang aku suka," ucapnya dengan senyuman.

"Tunggulah sebentar." Ava memperingati Kafka diiringi senyuman sebelum ia berlalu.

Ahh, sikap itu. Selalu berhasil membuat Kafka semakin jatuh hati pada sosok Ava. Meski ia tahu, apa yang ia rasa dan lakukan memang salah.

***

"Langsung balik ke kantor?" Tasya dan Rasya baru saja menyelesaikan meeting mereka.

"Pak Rudi mengizinkan aku untuk langsung pulang saja setelah menemui kamu." Rasya mengangguk dan terdiam sesaat.

Tatapan Rasya beralih pada jam tangan yang melingkar di tangannya. "Sebentar lagi masuk waktunya makan siang. Kita makan siang di sini saja mau?"

Rasya menatap Tasya yang masih terlihat membereskan beberapa kertas yang baru saja mereka diskusikan.

Tasya tampak menghentikan pergerakannya sesaat sebelum ia mengangguk untuk menyetujui ajakan Rasya. "Boleh."

"Tasya." Terdengar suara berat seseorang yang memanggil nama Tasya.

Bukan seperti Rasya yang langsung mengalihkan pandangannya pada si pemilik suara, Tasya malah terlihat diam mematung seperti orang yang merasa ketakutan.

Dan itu memang benar. Tanpa mengalihkan pandangannya, Tasya tahu si pemilik suara itu hanya dari mendengar suara beratnya. Ragu-ragu, Tasya pun menoleh.

Terlihat seorang laki-laki yang memakai kaos polos dilapisi dengan jaket Levis yang tengah memandang tajam pada dirinya.

"Re—Revan?" panggil Tasya terbata. Hal itu pun tidak luput dari pandangan Rasya.

"Kenapa Tasya terlihat seperti ketakutan?" Batin Rasya bertanya. Ia memandang Tata dan pria bernama Sean bergantian.

"Ngapain kamu di sini?" tanya laki-laki yang bernama Revan tersebut. Suaranya jelas terdengar tidak ramah.

"Aku, baru saja meeting," jawab Tasya lirih.

Revan yang mendengar jawaban dari Tasya tampak memperhatikan meja yang memisahkan Tasya dan Rasya.

"Meeting? Yakin? Bukannya makan siang sama laki-laki lain?" Pertanyaan itu sarat akan penekanan.

Tasya ingin mengelak, tetapi entah kenapa lidahnya terasa keluh.

Rasya yang menyadari itu mengambil alih. "Silakan duduk dulu, Mas," tawar Rasya secara ramah.

Namun, ucapan Rasya tidak mendapat balasan yang baik dari Revan. Tasya yang melihat itu hanya mampu menelan kasar salivanya.

"Begini, Mas. Kami tadinya memang meeting. Dan baru saja selesai. Maka dari itu, kita juga akan makan siang melihat waktunya juga sudah tiba."

Ucapan panjang Rasya hanya mendapat tatapan sinis dari Revan. "Sudah selesai, kan?"

Dengan gerakan tidak terduga, Revan meraih tangan Tasya secara kasar yang membuat Tasya berdiri dari duduknya. "Kita pulang," ucap Revan yang mulai menarik tangan Tasya.

"Mas, jangan kasar dong," ucap Rasya saat melihat kelakuan Revan. Dengan gerakan cepat pula, Rasya berdiri dan menahan Revan yang terlihat seperti ingin menarik tangan Tasya.

"Anda tidak usah ikut campur. Ini urusan saya dan tunangan saya," ucap Revan. Pria itu tidak suka dengan sikap Rasya.

"Van, sudah." Tasya menahan Revan saat ia melihat pergerakan ingin memukul. "Iya. Kita pulang."

"Tapi, Sya." Ucapan Rasya terhenti kala mendapat tatapan memohon dari Tasya.

Ingin sekali Rasya tetap menahannya karena merasa ada yang aneh dari sikap laki-laki yang bernama Revan itu. Akan tetapi, melihat tatapan Tasya membuat ia mau tak mau membiarkan Tasya dibawa pergi oleh Revan.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" monolog Rasya. Ingin ia mengikuti karena takut terjadi apa-apa, tetapi sebuah pesan yang masuk mengurungkan niatnya.

***

Versi Non APL juga sudah up☺

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro