Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Bagian Dua Belas: [Sivi? Alvaro?]

Ketika kita sudah mengubur kenangan dari masa lalu, hal yang dibenci adalah ketika dia hadir kembali dalam hidup kita.

🎵🎵🎵🎵

SEMENJAK kejadian di UKS, di mana Kevin mengkhawatirkan Melody, sekarang Melody dan Kevin semakin akrab, meskipun sifat Kevin masih saja cuek. Dia menyebalkan, tetapi sebenarnya baik. Mereka berempat sering pergi ke kantin, jalan, dan belajar bersama.

Bel masuk pun berbunyi. Semua siswa-siswi berhamburan ke kelas mereka masing-masing. Melody duduk di posisinya, karena guru pengajar belum datang, dia mencoret-coret buku gambarnya asal, sedangkan gadis di sampingnya hanya mendecakkan lidah dan menggeleng heran.

"Ck! Ngapain, sih, Dy kurang kerjaan banget sih lo!" Melody menatapnya datar, "Iya, lagi gabut banget."

Tak lama, Pak Rudi selaku wali kelas masuk ke kelas IPA 7, karena hari ini bukan jadwal pelajaran Pendidikan Agama.

"Selamat pagi anak-anak!" sapa Pak Rudi ramah.

"Pagi, Pak!" jawab seisi kelas serentak.

"Baik, Bapak akan mengumumkan sesuatu, hari ini kalian kedatangan teman baru pindahan dari Jerman, silakan masuk, Nak," jelas Pak Rudi.

Melody yang sedari tadi mencoret buku gambar dengan malas sekarang mendongakkan kepala ke depan kelas. Semua teman-teman kelasnya berbisik-bisik kian heboh melihat siswi di depan kelas. Dia seorang cewek dengan rambut pirang panjangnya membuat dia tampak lebih cantik. Dia tersenyum ramah, ramah sekali membuat anak cowok di kelasnya terpesona. Dasar cowok!

"Hello guys, my name is Sivi Angeline Louis, i'm from Jerman. Nice to meet you guys!"

"Baik Sivi, silakan kamu duduk di bangku yang kosong. Oke, anak-anak sekarang Bapak tinggal dulu," terang Pak Rudi lalu meninggalkan kelas.

Di XI IPA 7 sangat heboh, bahkan lebih heboh. Semua berlomba-lomba untuk kepo kepada Sivi, terlebih anak cowok yang berdatangan di bangku Sivi. Sivi sampai kewalahan menjawab pertanyaan seisi kelas dan terus tersenyum ramah.

"Eh, guys! Lo pada enggak kasihan apa kepoin Sivi terus, lihat dia kewalahan," kata Melody sambil menujuk ke arah Sivi.

Sivi yang mendengar penuturan Melody tersenyum manis.

"Iya, ya kasihan juga."

"Sivi lain kali kita kepoin lagi ya!"

"Gilaa ... bule di kelas kita euy."

"Udah cantik, ramah lagi."

Banyak celetukan dari teman-teman kelasnya, Melody hanya menghela napas lega, lalu dia pun beranjak dari kursinya.

"Ada apa Sivi?" tanya Melody yang melihat tangannya dicekal Sivi.

"Thanks, ya, lo udah mau nolongin gue, nama lo siapa?" tanyanya sambil menjabat tangan Melody. Dia pun membalas jabatan tangannya. "Gue Melody, panggil aja Ody."

"Gue Nadira," celetuk seseorang yang tak diundang.

"Senang bertemu dengan kalian."

"Kita juga," jawab Nadira.

Ternyata jadwal Bahasa Indonesia kosong, Melody dan Nadira mengajak Sivi pergi ke kantin karena perut mereka sudah keroncongan dari tadi.

Sesampai di kantin mereka mencari tempat di pojok kantin yang biasa mereka tempati, kali ini dengan personil baru. Kini Nadira memesankan makanan sembari menunggu mereka manghabiskan dengan mengobrol.

Tak jauh dari meja Melody, terlihat tiga cowok berjalan mendekat ke arah mereka. Mata Melody menyipit melihat seorang cowok bule yang cool dan ganteng. Dia melihat Melody menatapnya langsung tersenyum ke arahnya.

Gila bikin melting!

"Hei, guys kenalin temen baru kita namanya Alvaro," jelas Diki sambil memperkenalkan cowok bule itu.

Sivi menoleh ke arah tiga cowok itu, lalu dia terkejut. Entah apa yang membuatnya terkejut. Kevin, dia juga terkejut melihat Sivi.  Ada apa dengan mereka?

"Hai, gue Alvaro," sapa Alvaro dengan ramah.

Melody membalas senyumnya. "Hai, gue Melody, ini temen gue Nadira dan Sivi."

"Siv, lo di sini?" tanya Alvaro kepada Sivi membuat mereka berempat menatap duo bule itu bingung.

"Iya, Kak gue di sini sama temen gue," kata Sivi dengan santainya.

"Iya, gue sama Alvaro kakak adik, kami pindah ke sini lagi karena bokap kita pindah tugas ke sini. Udah lama rasanya enggak ke Indonesia, kangen banget," jelas Sivi sembari melirik ke arah Kevin. 

Seketika netra Melody terjatuh kepada Kevin, sepertinya dia sedang melamun, entah apa yang dipikirkan oleh Kevin. Semenjak dia bertemu dengan Sivi dia lebih banyak diam.

Tanpa sadar ada tangan yang melambai di depan wajah Melody, dia pun langsung tersadar, ternyata dia adalah Alvaro. Kali ini dia tertawa karena melihat Melody melamun, entah apa yang dipikirkan Alvaro terhadapnya. Dia hanya tersenyum simpul karena malu atas perilakunya.

"Rese lo Nad!" ketus Melody membuat seisi meja terbahak kecuali Kevin.

Tak lama pesanan mereka datang, sembari  menyantap makan siang mereka pun mengobrol dengan seru.

🎵🎵🎵🎵

"Eh, Kak, maaf nih gue mau ada latihan di rumah Pak Adi gimana? Lo gakpapa, kan, naik angkot atau nebeng temen?" katanya merasa bersalah.

"Santai aja, Ra. Iya, gakpapa kok, hati-hati ya jangan pulang malem-malem," jawab Melody sambil menepuk pundak Clara.

"Thanks, Kak! Lo kakak gue yang paling baik sedunia!" jawabnya sambil mencubit pipi sang kakak.

"Aww, iya-iya udah sana cepet jalan."

Clara pun melajukan motornya ke rumah Pak Adi. Melody mencoba menunggu angkutan yang lewat, tetapi belum ada satu pun yang lewat. Tak lama, terdengar suara klakson mobil, dia menatapnya bingung, kaca mobil pun diturunkan.

"Dy, lo belum dijemput?" tanya Alvaro yang berada di kursi kemudi.

"Belum, gue masih nunggu angkutan."

"Bareng kita aja, yuk!" pinta Sivi.

"Ah, enggak usah, ngerepotin," kata Melody berusaha menolak dengan halus.

"Udah, bareng kita aja, rumah lo di mana?" tanya Alvaro kedua kalinya.

"Di Perumahan Cendrawasih blok A 19" jelas Melody.

"Wow, kita sekarang juga tinggal di sana blok A 22!" kata Sivi dengan girangnya.

"Really? Wow, kita tetanggan," kata Melody mengindahkan ucapan Sivi.

"Ayo, masuk keburu sore," ajak Alvaro

Melody pun mengangguk mantap dan masuk ke dalam mobil milik keluarga Louis itu. Selama perjalanan, Sivi selalu membuat jokes yang membuat Melody tertawa hingga perutnya dan Alvaro sakit. 

"Udah, sini, Al. Makasih banyak ya, Siv, Al." Melody turun sembari tersenyum.

Sivi membalas senyumnya. "Sama-sama, Dy. Kita balik dulu, ya. See you!"

"See you!"

Melody pun masuk ke rumahnya. Terlihat sang ibu sedang bersantai di sofa ruang tengah sembari menonton serial kesukaannya.

"Ass-salamualaikum, Ody pulang, Bu," ucap Melody sembari menyalami.

"Walaikumus-salam eh udah pulang, Clara mana Dy?" tanya Ibu ku bingung karena aku tak pulang bersama Clara.

"Dia latihan di rumah Pak Adi, Bu."

"Lha terus kamu pulang sama siapa? Naik angkot?"

"Enggak Bu, aku nebeng temen baru yang baru pindah dari Jerman. Rumahnya enggak jauh dari rumah kita, Bu."

"Ini kebetulan Ibu bikin kue bolu, nanti kamu kasih ke mereka, ya? Sebagai tanda terima kasih sama jadi tetangga baru kita," ucap sang ibu membuat Melody mengangguk setuju.

"Siap! Ody ke atas dulu, ya."

"Iya, terus cepet makan ya, Dy!" teriak Ibu dari ruang tengah.

Semburat oranye terlukis di atas sana, sembari jalan santai Melody menenteng kue bolu buatan sang ibu menuju kediaman Louis.

"Non, cari siapa, ya?" ucap wanita paruh baya yang sedang menyirami tanaman.

"Ini bener rumahnya Sivi sama Alvaro Louis, kan, Bu?" tanya Melody memastikan.

"Iya, bener. Non, temenya Den Al sama Non Sivi, ya?"

"Iya, saya temennya."

"Ayo, silakan masuk," ajaknya membuat Melody mengekor sampai di ruang tamu kediaman Louis.

Di hadapkan pada ruang tamu bernuansa klasik, Melody menunggu asisten rumah tangga keluarga Louis memanggil sang pemilik rumah. Sembari menunggu, netranya dibuat kagum oleh nuansa klasik ruang tamu.

"Melody?" panggil Alvaro yang sudah berdiri di ambang tangga.

Melody kaget, sangking kagum dengan desain ruang tamunya hingga tak tahu si pemilik rumah sudah menyapanya. "Eh, hai, Al. Gue ke sini mau kasih kue bolu buatan nyokap gue. Buat rasa terima kasih karena lo dan Sivi udah anter gue, sekalian buat kasih hadiah tetangga baru.

"Astaga, titip salam ke nyokap lo, ya. Enggak usah repot-repot. Kelihatannya enak nih, pasti gue makan sama Sivi. Thanks, ya, Dy," jawabnya dengan wajah sumringah.

"You're welcome. Ya udah, gue balik dulu ya, Al salam ke Sivi sama keluarga lo."

"Yah gak mau main dulu, Dy?"

"Lain kali gue pasti main kok. See you, Al!"

"Okey, see u too!"

🎵🎵🎵🎵

*LINE*

Gaje group

Sivi Angeline: Guys, jogging, yuk!

Nadira Khansa: Ayo! Lama enggak jogging nih

Marchel Alvaro: Setuju!

Diki Pratama: Setuju

Melody Vraynka: Ayo, kuy!

Nadira Khansa: Ketemuan di stadion ya

"Eh, mau ke mana, Dy? Rapi banget," tanya Ibu sambil memotong sayur.

"Mau jogging sama temen-temen. Bolehkan, Bu?"

"Iya, tapi udah beres-beres, kan?"

"Udah dong. Udah beres semuanya."

"Ya udah, hati-hati di jalan."

"Iya, aku pamit, Bu. Assalamualaikum," ucap Melody sambil mencium punggung tangan sang ibu.

"Waalaikumsalam."

Butuh waktu sekitar dua puluh menit perjalanan untuk sampai di stadion yang dituju. Di sana mereka sudah berkumpul, lalu masuk bersama-sama.

Melody berlari terlebih dahulu diikuti yang lainnya, tak lupa dia meyumpal telinga dengan earphone supaya lebih enjoy.

Sudah empat kali putaran berkeliling, Melody  berniat istirahat di tribun stadion. Dari sana dia melihat teman-temannya masih bertahan.

Netra Melody menangkap Sivi yang hampir pingsan dengan sigap ditangkap Kevin. Dia pun membawa Sivi ke tribun diikuti yang lain turut cemas.

"Sivi ... bangun, lo gakpapa, kan? Gue kan udah bilang kalau lo enggak kuat udahin aja jangan dipaksa," kata Alvaro dengan raut wajah cemas.

Melody pun menyodorkan sebotol air mineral kepada Sivi.

"Gue nggakpapa, guys. Thanks, ya, Dy," katanya lemas.

"Udah, lo istirahat di sini aja sama gue Siv," celetuk Melody. Sivi pun mengangguk.

"Thanks, Vin," ucap Sivi sambil tersenyum.

Melody merasa ada yang aneh interaksi antara dua insan di depannya, dia merasa mereka saling mengenal, tetapi kenapa harus pura-pura?

"Sama-sama," jawab Kevin datar, tetapi dengan raut cemas.

"Iya, mending lo istirahat aja, Siv," ucap Diki yang baru bergabung dengan yang lain.

"Astaga, Sivi! Iya, mending lo istirahat dulu, jangan dipaksa lari," celetuk Nadira yang datang bersama Diki.

Alvaro pun mengajak pulang, melihat kondisi Sivi yang sudah lemas. Mereka pun ikut ke rumah keluarga Louis.

Sesampai di rumah keluarga Louis, Alvaro pun membaringkan Sivi ke tempat tidurnya.

"Al, emangnya Sivi sakit apa?" celetuk Melody membuat Alvaro menoleh.

"Dia ...."

"Enggak, gue cuman kecapekan aja, nanti juga pulih lagi," potong Sivi.

Sivi memandang kakaknya seperti isyarat bahwa Alvaro tak boleh memberi tahu teman-temannya.

"Ya, udah lo istirahat aja Siv, cepet sembuh ya." Nadira pun memeluk Sivi lalu berjalan ke luar.

"Iya, lo harus banyak istirahat supaya cepet pulih lagi," ucap Melody sembari tersenyum.

"Cepet sembuh ya, Siv," ucap Diki lalu pergi.

"Thanks guys!"

Ketika semuanya sudah turun. Kevin juga ingin pergi, tetapi ditahan oleh Sivi. Deg! Jantung Kevin berpacu ketika Sivi menahannya. Kevin menoleh ke arah gadis yang sedang terbaring lemah itu, lalu duduk di samping kasurnya.

"Lo masih marah sama gue?" tanyanya lemas.

"Menurut lo?" jawab Kevin datar.

"Maafin gue, maaf banget kalau gue udah buat lo kecewa Vin, tapi gue gak bermaksud," ucap Sivi, runtuh sudah pertahanannya.

"Yang berlalu udah berlalu, enggak perlu dijelasin lagi."

"Tapi gue sayang lo Vin, hati gue masih sama," isaknya lagi.

"Tapi gue enggak."

"Lo pasti bohong, Vin. Gue mau jelasin, semuanya enggak seperti yang lo pikirin," isaknya lagi.

Isak Sivi membuat Kevin geram dan mendekap Sivi dalam pelukannya. Sivi merasa hangat dan nyaman dipelukan Kevin. Dia sudah merindukan dua tahun yang kelam tanpa Kevin.

Kevin membelai halus surai gadis dipelukannya, Kevin juga sangat menyayangi gadis ini, tetapi setelah apa yang dia lakukan kepada Kevin, membuat Kevin kecewa sampai saat ini. Namun, hati Kevin sudah untuk orang lain, gadis yang sudah mengisi hari-harinya dengan warna baru.

Namun, kenapa takdir begitu kejam? Ketika dia sudah ingin melupakan gadis masa lalunya dan ingin beralih ke hati yang baru, kenapa sekarang dia hadir di hidupnya lagi? Itu membuat luka lama terbuka kembali.

Kevin tidak tahu memang alasan Sivi meninggalkannya dulu, tetapi dia sudah sangat kecewa karenanya.

Kevin merasa dilema mana yang harus dia pilih, kembali dengan orang masa lalu  atau dengan orang yang baru?

Jangan lupa Vomment ya:) , jangan jadi silent readers ya :).

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro