Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🏆MC 31 : Tuan Baron.

سْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
{اَللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ}

"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad."

Sebelum memulai membaca cerita ini mari kita kita awali dengan membaca sholawat bersama🥰

.

.

.

.

.

Duduk di kursi penumpang kepalanya berdenyut sakit, melihat kedepan pria itu tampak begitu kuat pergerakannya sangat gesi. Tak ada tanda apapun tiba-tiba saja badannya di tarik dengan sangat cepat. Mencoba untuk melawan tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan pria ini.

Dilihat dari perawakan tampaknnya dia adalah orang yang kuat badannya tinggi tegap, gerakannya licah. Namun dari sudut mata terlihat sedikit keriput seperti sudah berumur.

"Siapa? Kau siapa? Cepat lepaskan aku!" ucapnya berusaha untuk memberontak namun pintu mobil sudah di kunci oleh orang yang duduk dikursi pengemudi.

Melirik kebelakang, Aiden menarik sudut bibirnya akhirnya setelah sekian lama tidak bertarung dia sedikit kesulitan, gerakannya semakin lambat sekarang. Namun pemuda di belakang bukanlah tandingan untuknya.

"Hey orang tua cepat lepaskan aku!" teriaknya lagi.

Aiden tak merespon, dia tetap fokus pada pengemudi tampa peduli celotehan nyamuk di belakang. Pemuda itu sangat berisik, benar-benar menganggu telinganya.

Di sisi lain mobil sedan hitam melaju membelah keramaian kota. Kanaya menghela napas menikmati kebebasannya. Akhirnya setelah bersabar cukup lama di dalam gudang berdebu itu dia dapat menghirup udara segar lagi.

"Aku tidak tahu siapa kau, tapi terimakasih banyak telah membantuku kabur dari gudang neraka itu. Oh iya kita mau ke mana? Sepertinya ini bukan jalan menuju rumah tuan Nerendra," ucap Kanaya.

Dia menyadari rute yang dilalui berbeda dengan arah rumah Tuan Nerendra, rumah Tuan Nerendra di luar kota Banjarmasin sedangkan mobil melaju ke dalam kota. Pria di depan terlihat lebih tenang dari sebelumnnya, Kanaya mengerutkan kening apakah dia yang terlalu berisik hingga merubah Pria cerewet itu menjadi pendiam?

"Em Tuan maafkan aku, jika aku membuat Tuan tidak nyaman, ku pikir setelah menerima telponku kemarin Tuan Nerendra berusaha untuk lari dari masalah ini dan meninggalkanku. Tapi ternyata saat melihatmu aku sadar jika Tuan masih peduli padaku," ucap Kanaya.

Senyuman senang terukir di wajahnya, dia bahagia mengetahui jika atasannya Tuan Nerendra tidak lepas tangan dari akibat perbuatannya sendiri.

"Oh iya apakah Tuan sudah punya solusi tentang berita miring yang saya sebarkan untuk Kiayi laknat itu?" tanyanya.

Lagi-lagi tidak ada jawaban, Pria itu terlihat sangat pendiam dan dingin saat ini. Tiba di suatu tempat mobil memasuki pintu gerbang raksasa sebuah markas, tempat di mana para pengawal yang tidak bertugas beristirahat dan tidur.

Tempat itu sangat luas dengan bangunan membentuk huruf U, halaman besar di lengkapi dengan pohon mangga tua di tengah lapangan mobil terparkir tepat di depan mushola kecil yang terletak di samping bangunan markas.

Pintu mobil dibuka oleh Pria yang tadinya duduk di kursi pengemudi, dua orang penjaga menutup cepat pintu gerbang hitam raksasa dan menguncinya dengan erat.

Suasana yang sangat nyaman, Kanaya terpesona melihat bangunan-bangunan kayu satu lantai itu. Beberapa pria berbadan tegap tengah berlalu-lalang. Beberapa diantaranya sedang duduk di dalam mushola mengenakan sarung dan peci, tampak seperti sebuah pesantren tradisional.

"Aku tidak tahu jika Tuan Nerendra punya tempat seperti ini. Cih, padahal hatinya sangat busuk bagaimana bisa suasana di sini sangat sejuk?" gumamnya.

Tertawa pelan dia menggelengkan kepala, "Kalian beribadah begitu sudah kaya orang Alim saja, padahal perkerjaan kalian tidak lebih hanya seorang bawahan yang mengikuti seluruh perintah busuk Tuan Nerendra," ucap Kanaya.

"Siapa bilang ini markas milik keluarga Nerendra?" akhirnya setelah lama diam pria berpakaian serba hitam itu bersuara.

Kanaya terdiam, sepertinya dia menyadari sesuatu apakah orang yang menyelamatkannya di gudang dan membawanya ke markas ini beda orang?

"K-kenapa suaramu berubah? S-siapa kau?" tanya Kanaya.

Merasa cemas dari arah belawanan Aiden berjalan mendekat menyeret seorang pria ke arahnya. Manik mata Kanaya seketika membulat badanya membeku, melihat orang yang dia kenali sedang berjalan mendekat.

"K-kau-"

Tersenyum Aiden masih mengunci pergerakan pria berpakaian serba hitam yang sudah tidak berdaya di depannya.

"Hay apakah kita pernah saling kenal?" tanya Aiden.

Dengan tatapan tajam Aiden berhasil membuat wanita pengasuh itu gemetar ketakutan, apakah suara benda jatuh yang dia dengar waktu itu adalah ulah Aiden? Dia menukar orang kepercayaan Tuan Nerendra dengan orang milik keluarga Almert, pantas saja pria itu tidak bicara sama sekali saat dia ajak bicara.

Kekuatan dan kelincahan Aiden memang sangat terkenal dan paling ditakuti pada masanya, kekuatanya 11, 12 dengan Keenan walau tidak bisa di bandingan dengan Keenan tapi cukup untuk membuat orang lain gemetar ketakutan hanya dengan mendengar namanya saja.

"Nak, kerja bagus," ucap Aiden.

Mengangguk Reyhan membuka penutup wajahnya, "Terimakasih Bah," jawab Reyhan.

Mengerutkan kening Kanaya menoleh kearah Reyhan dan Aiden secara bersamaan.

"A-abah! J-jadi kalian berdua bersekongkol untuk menjebakku?"

Tidak ingin merespon Aiden melirik Reyhan memberi isyarat pada sang menantu untuk langsung menjalankan tugas kedua sementara dia mengamkan pria berpakaian hitam anak buah Tuan Nerendra.

"Nak, kalian langsung ke sana saja, Yang Mulia sudah menunggu sejak tadi," ucap Aiden lalu beranjak pergi.

Berjalan memasuki kawasan kediaman para pengawal, Kanaya terus memeberontak namun pergerakannya di tahan oleh cengkraman erat Reyhan. Tenaganya tidak sekuat itu untuk bisa melawan Reyhan.

"Hey cepat lepasin, mau kau bawa kemana aku hah?" tanyanya dengan nada tinggi.

Tidak berusara Reyhan menyeret tubuh Kanaya yang terus mengoceh menuju tempat di mana Keenan berada, area belakang yang sepi terdapat taman kecil untuk hiburan pada para pengawal menikmati waktu istirahat. Beberapa pohon mangga, rambutan juga tanaman bunga tumbuh subur di sana, dengan meja dan kursi taman yang tersebar hampir di seluruh area taman.

Keenan duduk di atas sebuah gazobo kayu yang terletak di pinggiran taman, terdapat meja kayu kecil diatasnya menjadi tempat favorite para pengawal untuk menikmati teh sambil berbincang.

Mengenakan pakaian serba putih dengan ikat pinggang perak yang berkilauan Keenan terlihat berbeda dari biasanya, itu adalah pakaian latihan Keenan ketika hendak berkuda, memanah atau latihan pedang dan bela diri. Dengan bahan dasar kain yang lembut mempermudah gerakannya ketika berlatih.

Pakaian itu memang indah dan memukau jika di pakaian olehnya tampak begitu mempesona bagaikan seorang panglima perang yang sangat kuat, namun siapa sangka jika pakaian itu dikenakan mampu membuat lawannya ketar-ketir karena sudah pasti gerakan lincahnya itu tidak akan pernah memberikan kesempatan bagi lawan untuk menyerang.

Selain pakaian Keenan juga punya pedang putih yang sangat tajam pedang itu terbuat dari perak, pedang itu adalah pedang yang sudah berusia ratusan tahun pedang warisan yang akhirnya diserahkan kepada Keenan. Pedang yang bukan hanya cantik dan tajam namun juga sangat berat tak sembarang orang dapat mengangkatnya bahkan menggunakannya untuk senjata.

Berjalan mendekat dengan hati-hati tampaknya Keenan masih fokus dengan biji-biji tasbihnya membaca zikir tampa peduli sekitar. Kanaya duduk tepat di depan Keenan, melirik ke samping Reyhan masih berdiri di tempatnya mengawasi pergerakannya di atas gazebo.

Dua orang pengawal mengenakan pakaian santai sarung dan baju koko, berjalan membawa nampan berisi teko teh dan camilan ringan. Menyajikan dengan sangat hati-hati ke atas meja.

Perlahan Keenan mulai membuka matanya, melihat Kanaya yang duduk di depan dia tersenyum. Mengucapkan terimakasih pada pengawal yang telah nuangkan teh untuknya dan Kanaya.

"Assalamualaikum. Selamat datang, apa kabar? Terimakasih telah menjaga putraku dengan baik, waktu itu Saya sedang berada juah dari istri dan putra saya, dan kamu telah membantu istri saya meringankan tugasnya untuk mengurus Keano, saya mengucapkan beribu terimakasih atas jasa itu," ucap Keenan.

Mengerutkan kening itu bukan kalimat yang ingin dia dengarkan, mengapa Kiayi ini sangat aneh apakah dia sengaja mempermaikan dirinya dengan kalimat itu?

"Mari silahkan diminum tehnya," ajak Keenan.

Mengangguk ragu, Kanaya menatap tajam cangkir porselen berisi teh itu, takut jika ada racun di dalamnya. Siapa yang tahu jika zat tertentu sudah dimasukan kedalamnya kan.

Meminum teh perlahan Keenan meletakan kembali cangkir teh itu ke atas tatakan, melihat Kanaya yang ketakutan dan enggan mengangkat cangkir teh dia mengulas senyuman lembut.

"Kenapa tidak diminum?" tanya Keenan.

Tersenyum sinis Kanaya menatap Keenan dengan kebencian, "Cih, siapa yang tahu entah zat berbahaya apa yang ada di dalamnya, aku tak sebodoh itu percaya pada orang begitu saja."

Tersenyum Keenan hanya membalas ucapakan Kanaya dengan anggukan pelan, mengambil biskuit dan memakannya perlahan. Tidak mau kontak mata berlama-lama dengan lawan jenis kecuali saat mendesak sebagai dokter pasien, itulah sifat Keenan.

Mengerutkan kening Kanaya benar-benar muak dengan pertemuan membingungkan saat ini, dia seperti berbicara dengan batang kayu. Sama sekali tidak ada respon ataupun umpan balik, bahkan orang di depannya tak pernah melakukan kontak mata denganya.

"Cukup! Pa Kiayi sebenarnya ada apa? Kenapa Bapak mengirim orang untuk membawa aku menghadap Bapak? Jika memang karena berita yang aku sebarkan, yasudah keluarkan seluruh kebencian Bapak kepada ku, jangan bertingkah aneh seperti itu, Bapak telah mempermainkan ku," ucap Kanaya.

Berhenti menyuap biskuit setelah terus menghindari kontak mata untuk pertama kalinya Keenan mengangkat wajah dan menatap tajam lawan bicaranya.

Udara sekitar mulai berubah hawa dingin seolah menusuk badanya. Kanaya meneguk salivanya kasar, badanya gemetar merasa takut akan tatapan tajam Keenan. Mata Kiayi itu sangat berbahaya seolah memancarkan cahaya yang menembus masuk kedalam dadanya.

Entah memang setiap orang yang bertatapan dengan Keenan merasa seperti ini ataukah tidak tapi dia menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres dari tatapan itu.

"P-Pa Kiayi maaf," ucapnya gagab.

Sepertinya film horor tidak lebih menakutkan dibanding tatapan maut Keenan, pantas saja tidak ada yang berani menatap matanya.

"Cih diam kan sekarang. Makanya jangan nantangin Tuan tau akibatkannya kan," gumam Reyhan, asisten muda itu berusaha keras agar tidak tertawa.

Dia sudah sangat muak dengan ocehan Kanaya, melihatnya diam membisu di depan Keenan sangat menghibur.

Menghela napas Keenan mengalihkan pandangan mengangkat cangkir teh dan meminumnya perlahan.

"Saya tidak peduli dengan berita yang kamu sebarkan, dan membenci bukan tugas saya. Saya rasa yang kamu lakukan ini sudah direncanakan sejak lama, bahkan sebelum kamu masuk kerumah saya dan menemui istriku saya untuk menjadi pengasuh putra saya."

Terdiam sejenak Keenan menoleh ke samping melihat bunga kenanga yang menguning di ujung sana, pohonnya yang tinggi dan bunganya yang lebat menyebarkan aroma wangi yang khas.

"Katakan saja apakah saya atau keluarga saya membuat kesalahan di masa lalu yang mendorong kamu untuk melakukan ini?" tanya Keenan.

Terdiam Kanaya bingung harus menjawab apa pertanyaan dari keenan, tampaknya sejak tadi Kiayi ini selalu menanggapi dirinya dengan tenang tidak ada perlawanan bahkan nada bicaranya masih saja lembut. Jika dia terus berteriak mungkin orang lain yang melihat dialah wanita tidak waras itu.

"Jika aku mengatakannya, apakah Pa Kiayi yakin bisa memperbaiki kesalahan itu?" tanyanya.

Tersenyum, "Insya Allah jika Allah mengizinkan saya akan memperbaikinya," jawab Keenan.

Mengangguk tidak ada salahnya dia percaya untuk kali ini saja.

"Apakah Pa Kiayi bisa mengembalikan Abah ku, dan membebaskan adikku dari penjara?" tanyanya.

Melihat raut wajah Keenan yang tampak kebingungan dia tersenyum miring, sudah ditebak Keenan tidak akan bisa memperbaiki kesalahan itu.

"Kenapa diam bukankah Pa Kiayi sudah berjanji akan memeprbaiki kesalahan yang sudah Pa Kiayi buat?" tanya Kanaya.

Menghela napas ternyata kasusnya memang tidak sesederhana itu, "Untuk adikmu saya tidak bisa ikut campur itu adalah urusan adikmu dan Tuan Sanjaya. Tapi Abahmu Insya Allah saya masih bisa membantu, siapa namanya?" tanya Keenan.

Mengingat apa yang telah dilakukan adik wanita ini dengan Dinas Sanjaya dia tidak bisa ikut campur, karena urusan pengasuh yang sengaja mengajari dan memberikan tontonan video porno sudah bukan tanggang jawabnya, dia hanya membantu, Tuan Sanjaya yang memegang keputusan.

"Nama Abahku Tuan baron, dahulu pernah bekerja di rumah Nyonya Eveliny, namun pada hari itu saat menajalankan tugas Nyonya Eveliny, Abah hilang ditangkap oleh Pa Kiayi, jika memang Pa Kiayi bisa mengembalikan Abahku aku akan mengaku salah," ucapnya.

Mengangguk Keenan menoleh ke arah Reyhan, "Reyhan tolong panggilkan Tuan Aiden kemari ada hal yang ingi saya bicarakan," pinta Keenan.

"Saya akan antarkan kamu ke tempat Tuan Baron besok, untuk sekarang beristirahatlah di kamar, jangan cemas Abahmu aman di rumahnya," ucap Keenan.

Seorang pengawal berjalan mendekat, mendapatkan perintah dari Keenan untuk membawa Kanaya ke kamar yang telah disiapkan mereka berjalan menjauh. Aiden mendekat pria itu tampak tergesak-gesak untuk menemui Keenan.

Menunduk hormat, "Yang Mulia memanggil saya?" tanyanya.

Tersenyum Keenan mengangguk mempersilahkan Aiden untuk duduk bersamanya, meminta seorang pengawal yang tidak sengaja melintas untuk membawakan gelas baru tidak lupa mengucap terimakasih.

"Paman, apa Paman masih ingat dengan trageti penyerangan pada saya dan Lia 12 tahun lalu? Saat itu istri saya Lia baru hamil minggu pertama dan saya mengajaknya jalan-jalan di taman hiburan," ucap Keenan.

Mengangguk bagaimana bisa dia melupakan momen itu, momen yang membuatnya hampir tidak bisa bernapas ketika Aurelia menghubungi dirinya dengan panik karena Keenan melawan puluhan penjahat bersenjata api seorang diri.

"Iya saya mengingatnya Yang Mulia," jawab Aiden.

"Paman ingat dengan pria bernama Baron, yang keluarganya tidak berhasil kita temukan?" tanya Keenan lagi.

Tentu saja dia ingat karena itu adalah tugasnya, mencari tahu alamat seluruh keluarga para penjahat itu. Demi mengamankan dari Eveliny dan membebaskan mereka dari perkerjaan keji itu Keenan bersedia membantu seluruh anak buah Eveliny yang berhasil dia tangkap untuk pulang ke kampung masing-masing.

"Iya saya mengingatnya, saat itu memang sangat sulit untuk saya mencari alamat keluarga mereka, apakah gadis pengasuh itu ada kaitannya dengan Tuan Baron, Yang Mulia?" tanya Aiden.

Menghela napas Keenan menatap ke samping, "Benar dia adalah putrinya Tuan Baron, dan alasan dia menyebarkan fitnah itu adalah karena terhasut omongan Almarhumah Nenek Eveliny," terang Keenan.

Menghela napas, seorang pengawal datang membawakan cangkir baru dan menuangkan teh untuk Aiden. Meminum teh sebentar, Aiden meletakan kembal cangkirnya ke atas tatakan.

"Ternyata Nenek sihir itu lagi penyebab masalahnya," gumam Aiden mulai merasa lelah dengan perbuatan Nyonya Eveliny.

Tertawa pelan mendengar ocehan Aiden, rasanya dia rindu dengan tingkah Aiden yang selalu menghiburnya. Sayang sekali sekarang Aiden sudah pensiun, setiap pertemuan pasti diakhiri dengan perpisahan, seseorang harus selalu siap kapanpun perpisahan datang.

"Paman besok saya dan Reyhan akan kesana mengantar Kanaya bertemu Tuan Baron, apakah Paman mau ikut?" tanya Keenan.

Sudah lama dia berdiam diri di rumah tampa ada kegiatan yang seru, hanya bangun minum teh nonton tv jalan-jalan keliling kampung dan tidur lagi. Rasanya dia rindu melakukan pekerjaan yang diberikan Keenan, sekalipun pekerjaan itu diluar akal sehat.

"Tentu saya akan ikut Yang Mulia, ah iya apakah setelah ini Yang Mulia memaafkan gadis pengasuh itu?" tanya Aiden.

Tersenyum Keenan mengangguk, "Tidak ada hak untuk saya membenci orang lain, apapun yang dia lakukan kepada saya, saya tidak peduli. Namun urusan hukum saya tidak ingin ikut campur, Kanaya adalah orang milik Tuan Agatha beliau berhak memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan setelahnya," terang Keenan.

Mengangguk paham, Aiden mendekat ke arah Keenan membisikan sesautu tentang Pria berpakaian serba hitam yang menyelinap ke rumah Tuan Agatha dan menyelamatkan Kanaya, dia sudah mengamankan orang itu.

"Yang Mulia harus hati-hati gadis pengasuh itu tidak sendiri, ada Tuan Nerendra di belakangnya. Saya sudah selidiki tampaknya Yang Mulia bukan target utama Tuan Nerendra, melainkan Tuan Agatha dia sengaja menggunakan Yang Mulia menjadi senjata," bisik Aiden.

Tersenyum Keenan mengangguk, "Baiklah saya akan urus itu nanti," jawab Keenan.

🏆🏆🏆🏆🏆

Hay-hay bagaimana kabarnya hari ini? Saya harap kalian sehat selalu🙏🥰

Oh iya karena cerita ini adalah cerita lanjutan dari cerita pertama saya yang berjudul "Lorong Gelap Menuju Kebenaran" Maka konflik ini masih berkaitan dengan cerita di masa lalu, jika ada yang penasaran siapa itu Tuan Baron dan Nyona Eveliny bisa cek di cerita itu yah, di bab 13 dan 14.

Sampai jumpa di bab Selanjutnya, Salam sehat semuanya🙏🥰

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro