Halaman Tujuh
"Kau yakin di sini tempatnya?"
Aku mengangguk. "Tentu saja, aku sudah pernah ke sini sebelumnya."
Sesuai perintah kakakku, aku dan kedua pria yang menahanku sebelumnya pergi ke rumah tua di mana kutemukan kalung kunci. Sejujurnya, sampai saat ini aku belum berkenalan dengan kedua orang itu. Aku yang malas bertanya, dan mereka yang enggan memberitahu sebelum ditanya, jadilah kita belum mengetahui nama satu sama lain. Untuk sekarang, akan kupanggil mereka Pria Tua dan Pria Muda saja.
Di sinilah kami bertiga berada. Perpustakaan tersembunyi di bawah tangga.
"Woah, sejarah dunia bawah!"
Si Pria Muda menemukan buku yang sama sepertiku temukan waktu itu. Dengan antusias, ia membuka dan membacanya kilat. "Astaga, ini asli."
Pria Tua itu tiba-tiba menyambar buku dari genggamannya. "Buku ini tidak seharusnya ada di sini."
"Ya, memang tidak." Kujatuhkan tubuhku di kursi malas. "Kecuali ada yang membawanya."
Ditutupnya buku itu oleh si Pria Tua sampai terdengar debum kecil. "Lantas apa yang akan kita lakukan di sini?"
"Mencari ... semacam ruangan rahasia mungkin—?"
"Woah! Lihat apa yang kutemukan!"
Kami berdua segera menghampiri Pria Muda. Benar saja, ia menemukan sebuah pintu ke bawah di balik karpet yang tersingkap.
"Tapi, ini terkunci."
"Tidak masalah." Kukeluarkan kunci yang sudah kukalungi selama beberapa hari ke belakang ini dan mencobanya. Kurasa keberuntungan sedang beranda dipihakku karena pintu itu terbuka.
Penampakkan tangga yang mengarah ke bawah menyambut kami. Kunyalakan sihir cahaya, lalu menuruni tangga tanpa banyak berpikir. Kedua pria itu mengikutiku di belakang.
Dua menit menuruni tangga, kami sampai di sebuah ruangan bawah tanah yang gelap gulita. Kami bakal kesusahan untuk melihat keseluruhan isi ruangan jika saja si Pria Muda tidak menemukan saklar lampu lebih dulu. Orang itu, dia sangat inisiatif.
Terpampanglah isi ruangan itu dengan jelas. Setiap sudutnya dipenuhi rak buku, meja-meja berisi barang antik dan sebuah kursi malas. Tidak jauh beda dengan ruangan di atas. Namun, ada peti mati di tengah ruangan.
Peti mati sungguhan.
Kudekati peti itu untuk melihat lebih jelas. Bentuknya sama seperti peti pada umumnya dan terbuat dari kayu. Di bagian atasnya ada ukiran nama 'Sabine Norwood'. Sepertinya aku tahu siapa yang akan kita jemput hari ini.
"Inikah yang kita cari?"
Aku mengangguk menanggapi Pria Muda. Langsung saja kubuka peti itu. Aku mengernyitkan hidung saat kubaui aroma samar yang sangat khas yang hanya dimiliki seorang vampir.
Dari dalam peti, terbangunlah seorang wanita berkulit pucat dengan rambut hitam legam panjang. Ia menguap, lalu meregangkan tubuhnya seperti orang yang baru bangun tidur. Begitu ia menyadari kehadiran kami bertiga, ia menyeringai. Dua taring menampakkan diri dari bibirnya.
"Selamat pagi, dunia!" serunya bersemangat. "Eh, apa sekarang sudah pagi? Tunggu, aku sudah tidur berapa tahun?"
Kukira ia orang yang dingin, serius, dan tidak bisa tersenyum. Namun, aku malah sebal dengan sifatnya yang 'eksplosif'. Aku jadi menyesal telah membangkitkannya. Ia sama bisingnya dengan kakakku dan umurnya kuperkirakan tak jauh dariku atau Pria Muda. Tetapi fakta bahwa ia vampir, mungkin umurnya lebih dari itu.
"Wah, kau tampan." Ia menggerling untuk menyapaku sambil dengan lancangnya menyentuh daguku, mentang-mentang aku kebetulan yang berada di paling dekat dengannya. Kutepis tangannya, tapi dia malah menyengir.
"Kau juga tampan!" katanya pada Pria Muda.
"Kau juga—" ia terdiam sesaat ketika mengarah pada Pria Tua. "Uwahhh, kakek-kakek!"
"Kurang ajar kau!" Ia tampak kesal. Tetapi yang mengatainya hanya tertawa. "Sini biar kututup lagi petimu!"
Sebelum Pria Tua melangsungkan niatnya, vampir itu buru-buru bangkit, keluar dari peti dan bersembunyi di balik Pria Muda. Ia masih saja tertawa. "Santai, santai. Aku hanya bercanda.
Tapi kau tidak tampan, kau biasa saja."
Sebelum terjadi keributan di sini, aku lebih dulu menghentikan keduanya. Kuminta mereka untuk tenang sebelum beralih pada vampir itu.
"Apa benar kau Sabine Norwood?"
"Ya, itu namaku." Akhirnya ia tidak bersembunyi lagi dari balik punggung Pria Muda. "Oh, ya. Ada perlu apa membangunkanku?"
Aku bermaksud untuk memberitahunya segala rencana kami untuk keluar dari hutan ini. Baru kubuka mulut untuk berbicara, dia lebih dulu menyelaku.
"Tunggu, tunggu, aku lapar dan haus, jadi tidak akan bisa fokus soalnya kau terlihat seperti akan membicarakan hal panjang." Bibirnya mengerucut sebal. "Apa kalian membawa darah? Aku mau darah manusia!"
Si Pria Tua meliriknya sekilas dari balik rak buku, masih menyimpan dendam. "Minum saja darahmu sendiri."
Sabine mengabaikannya, kemudian ia melirikku penuh arti, tetapi kembali cemberut. "Sayangnya darah iblis tidak enak."
Aku menghiraukannya. "Tidakkah kau ingin keluar dari hutan ini?"
Kurasa lebih baik jika aku bicara langsung ke intinya dari pada basa-basi. Dia tipe orang yang suka mengalihkan topik jika tidak diajak bicara serius. Sepertinya akan sulit.
"Keluar dari hutan, ya?" Ia tampak berpikir. "Tentu saja aku mau! Aku bahkan sudah diet seratus tahun lebih! Aku juga ingin bertemu dengan kakakmu dan minum banyak darah!"
Aku menghela napas pelan, merasa sedikit tertekan.
"Kita bisa saja pergi sekarang juga, tapi aku tidak mau. Karena aku baru bangun, aku ingin sedikit lebih lama di sini."
Ia menjentikkan jarinya, dua buah belati muncul dalam genggamannya. "Nah, ini buat kalian berdua. Sudah lama aku tidak memberi hadiah."
Sabine memberikan belati bersarung kulit itu pada si Pria Tua dan Muda yang tentu diterima mereka dengan senang hati.
"Terima kasih, Sabine." Pria Muda itu tersenyum. "Dan, apakah aku boleh melihat koleksi bukumu?"
"Tentu. Kalian bebas melihat apa saja di sini."
Vampir itu ganti menoleh padaku seusai bicara pada mereka berdua. "Ah iya, aku juga ingin memberimu hadiah. Kau mau belati juga? Katakan saja. Soalnya tidak ada barang yang tidak kupunya," katanya dengan bangga.
Aku tersenyum tipis. "Kalau gitu, apa kau punya mesin ketik?"
Sabine tampak berpikir. Sudah kuduga, ia pasti tidak memiliki—
"Oh, maksudmu mesin tik?" Wajahnya berubah cerah saat mengerti maksudku. Ia berjalan mundur beberapa langkah sampai tubuhnya terantuk pelan pada meja di belakangnya.
Di meja itu sendiri ada sebuah benda yang tertutupi dengan kain abu-abu, mencegahnya dari debu. Saat kain penutup itu dibukanya, tampaklah mesin ket—maksudku, mesin tik yang sama persis seperti di bangunan itu. Untuk sesaat aku terpana.
"Tentu saja aku punya! Oh—tampaknya kau suka menulis ya?"
Ia bergeser saat aku mendekati meja itu, menarik kursinya, lalu duduk di hadapan mesin itu. Ini sulit dipercaya, tapi aku sangat senang. Akhirnya aku bisa mengetik lagi.
Kukeluarkan kertas-kertas dari mesin tik dulu yang pernah kubuat, sedikit membacanya sambil bernostalgia. Sekarang kepalaku tengah sibuk mencari ide apa yang sekiranya bagus untuk kutulis.
Lagi, dengan seenaknya, Sabine merebut kertas-kertas dalam genggamanku. Lantas duduk di atas meja yang sama dengan mesin tik sambil membaca kertasnya. Entah mengapa aku malas menegurnya.
"Jadi, kau suka mengetik, ya?" Kepala manggut-manggut. "Bagaimana kalau kau mendengarkan ceritaku selama di sini sambil mengetiknya? Sebagai gantinya, kau boleh bawa mesin ini. Lagi pula, aku tidak memakainya.
Menurutku akan sangat keren jika suatu kisah dijadikan tulisan, dengan begitu, kisahnya akan abadi, bukan? Aku ingin kisah hidupku dijadikan buku setebal buku sejarah! Tidakkah itu keren?" Ia tersenyum antusias.
Aku memperbaiki posisi dudukku. Yah, apa boleh buat.
"Baiklah, ceritakan saja. Aku akan menulisnya."
Vampir itu bersorak senang. "Emm, ... menurutmu aku harus mulai dari mana? Sejak pertama kali aku lahir dan membuka mata atau ketika aku bangun tidur dan terlambat ke sekolah? Oh, tapi aku aku malu menceritakan kisah asmaraku."
Aku berusaha sabar. "Sejak kau keluar dari portal perbatasan saja. Sama sepertiku."
Sabine menyetujuinya. Setelah itu, ia bercerita banyak hal sampai petang, dan aku juga mengetik selama itu. Untung saja si Pria Tua dan Pria Muda sibuk membaca buku.
Aku tidak jago menceritakan ulang. Tapi Sabine bilang pertama kali ia muncul itu sudah lama sekali. Ia datang saat bangunan-bangunan di sini masih dihuni. Mengejutkannya, rupanya bangunan di sini adalah milik para pemburu makhluk dari dunia bawah. Mereka tahu titik portal kami adalah hutan ini, jadi mereka membangun hunian dan memasang sihir untuk menyesatkan iblis yang baru keluar.
Saat ia dan rombongannya muncul, mereka terkejar dan Sabine tertangkap. Ia dikurung di ruang bawah tanah dan hendak dijual oleh para pemburu. Sabine tidak khawatir karena ia pikir ia bisa kabur setelah dijual, tetapi ia malah 'ketiduran' sampai waktu kubangunkan tadi.
Kira-kira seperti itu. Usai cerita panjang, kuserahkan kertas-kertas hasil ketikanku padanya yang langsung ia jadikan buku dalam sekejap. Sesuai perjanjian, keesokan paginya kami berangkat.
Karena kami memiliki buku catatan dari kakakku serta peta hutan, mudah saja bagi kami untuk keluar. Kira-kira setengah hari perjalanan.
Kami sudah sangat senang saat menyadari pepohonan sudah tidak selebat di pedalaman hutan, yang mana pertanda bahwa kami berada di perbatasan hutan. Angin sejuk menyambut kami. Untuk pertama kalinya sinar matahari menyiramku dengan penuh, dan Sabine yang mengeluh karena panasnya walau ia sudah mengenakan pelindung.
Kami berempat sangat senang sampai kemudian menyadari sesuatu yang salah. Pasir pantai, serta laut ada di hadapan kami. Tidak butuh waktu lama untuk kupahami situasi di sini dan berdecak keras setelahnya. Aku tersenyum masam menyadari di mana kami berada selama ini.
Sebuah pulau terpencil.
— TAMAT—
... atau harus kubilang bersambung?
Kalau sempat, aku ingin sekali me-rewrite cerita ini di lapak lain dan menjadikannya kisah utuh tentang Lysander karena setelah kulihat lagi, ide cerita ini cukup menarik. Aku punya gambaran kasarnya, tinggal direalisasikan saja. Terima kasih pada kak Hallauth yang sudah mencegahku buat unpub tulisan aib ini ⁄(⁄ ⁄•⁄-⁄•⁄ ⁄)⁄
Ayo, lambaikan tangan dan katakan selamat tinggal pada Lysander. Cerita tentang iblis yang satu ini cukup sampai sini dulu. Kalian tahu? Tokoh ceritaku yang lain mengamuk saat mereka tahu aku mengutamakan menulis tentang tokoh yang baru kubuat kemarin ini. Jadi ..., ya begitulah. Aku akan mengurus yang lain setelah ini.
Terima kasih sudah membaca tulisanku yang kurang maksimal ini. Kuharap tidak memalukan.
Jangan menertawakanku, loh (ノ`Д´)ノ彡┻━┻
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro