
18/30
CHISAZAWA HOSHI
Before I Walk To Heaven ....
Itu yang kubaca di ponselku saat ini. Tadi sore, saat aku, Otohara-Kun, Ichisaki-Kun dan Suzuko-Chan (Ninomiya yang memintaku untuk memanggilnya begini) pulang bersama, Suzuko-Chan mengirimkan link untuk masuk di situs bacaan ini.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi, kucoba melakukan reka ulang di kepalaku sendiri.
Suzuko-Chan mengatakan, "Baca yang judulnya Everlast Love, ya. Berikan kritik dan saran setelah membacanya, ya."
"Tidak perlu sungkan untuk mengatakan yang sejujurnya tentang karya itu, karena saat aku membaca kalimat pertamanya, aku langsung mengantuk." Otohara-Kun menyambung dari samping Suzuko-Chan.
Suzuko-Chan memilih beradu mulut dengan Otohara-Kun daripada menjelaskan kepadaku apa yang harud kulakukan.
Mereka berdua memang dekat sekali. Kurasa seisi kelas sudah mengetahuinya.
Aku sering mendengar hal tentang Suzuko-Chan dan Otohara-Kun saat di kelas. Banyak yang membicarakan mereka saat mereka sedang beradu mulut dan tidak memperhatikan keadaan di sekitar mereka.
Katanya, mereka berdua adalah sahabat sejak kecil. Mereka juga adalah tetangga. Rumah mereka bersisian. Konon katanya pula, mereka sering mengunjungi rumah masing-masing. Orangtua mereka sudah kenal saling mengenal dengan baik.
Aku hanya mendengarkan sampai sebatas itu. Sungguh.
"Chisazawa." Ichisaki-Kun memanggilku di sela perdebatan mereka yang sepertinya masih panjang. Aku mengangkat kepalaku, dia melanjutkan, "Itu tulisan Ninomiya. Dia hanya memberitahu orang dekatnya kalau dia menulis."
Aku mengerjap, tersipu dalam hati. Suzuko-Chan memberitahuku ... Bukankah itu berarti dia menganggap kami dekat?
Dan sekarang, aku di kamarku, memakai kacamata yang biasanya kugunakan saat membaca.
Oh, ngomong-ngomong aku jarang membaca cerita yang panjang dari digital, jadi sepertinya aku akan mulai dari tulisan pendek. Setelah mataku terbiasa, mungkin aku baru akan membaca Everlast Love.
Dan aku memilih judul ini ...
Tuhan, ini adalah akhir-ku.
Aku ingin tahu, apakah semua tugasku di dunia telah berakhir. Apakah aku telah menyelesaikan semuanya?
Mungkin, aku terlalu percaya diri, terlalu yakin bahwa aku akan berakhir di Nirvana indah semacam itu.
Tetapi, Tuhan, jika memang aku akan berakhir di sana, aku ingin berbincang sejenak dengan-Mu.
Terima kasih atas hidup yang berharga ini. Seluruh keluargaku yang mencintaiku, teman-teman yang menyayangiku, dan terima kasih untuk segalanya.
Terima kasih, untuk semuanya.
Mungkin aku bukan terlahir di tempat yang paling sempurna, mungkin aku bukan terlahir di tempat yang paling bahagia,
tetapi, aku benar-benar sangat berterima kasih.
Terima kasih karena membiarkan aku hidup. Jiwa, raga, dan di hati orang-orang yang kusayangi.
Terima kasih untuk semua kenangan.
Dan aku ingin minta maaf atas semua penyesalan yang pernah kurasakan ketika hidup. Aku pernah lupa untuk merasa bersyukur, merasa bahagia, aku pernah melupakan keberadaan-Mu.
Semoga, semua orang di dunia ini bisa diberkahi kebahagiaan yang melimpah. Baik yang kukenal, maupun yang tidak kukenal. Semuanya.
Dan sekali lagi, terima kasih tanpa batas. Terima kasih, karena aku hidup.
TING!
Pesan dari Suzuko-Chan.
Hoshiii-Chan!
Apakah kau sudah membaca ceritaku? Kalau sudah, bagaimana pendapatmu? ^^
Aku membalas,
Sedih.
Eh? Padahal itu cerita romance comedy, lho. Kau tidak apa-apa?
Brak, pintu terbuka. Bersamaan dengan itu, kakakku, Sora mengatakan,
"Aku pulang. Oh. Kau di kamarmu, pantas saja tidak ada yang menja--waaaaa. Hoshi! Kenapa kau menangis?" tanya Nee-San dengan panik.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya habis membaca cerita sedih," jawabku sambil menghapus air mataku.
"Astaga, kau membuatku kaget."
* * *
18/30
Tema: Jika kau berada di Surga, apa yang akan kau katakan kepada Tuhan?
Dan muncullah Chisazawa Sora! Huhuhu.
Kemunculan Sora = peluang memperkenalkan semua chara sampai selesai.
Dan karena kuharus menyesuaikan tema, aku sampai ga mendapat kesempatan untuk Chizuko.
Berasa Suzu yah, heroine-nya wkwkwkw.
Cindyana
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro