8
🌹🌹🌹
Kedai es krim bernuansa strawberry menjadi pilihan Kevia untuk singgah. Ia sedang duduk di sudut ruangan dengan es krim coklat yang sudah tersaji di depannya. Tadi setelah pamit pulang kepada Reno, ia tak langsung pulang. Ia ingin menenangkan diri terlebih dulu karena kencan yang rusak hari ini. Bukannya tenang Kevia malah semakin ingin meledak, karena perusak kencannya sedang duduk didepannya sambil menikmati es krim coklat matca tanpa rasa bersalah.
"Kak Natha sengaja, kan, ada di taman tadi?" tanyanya dengan sorot mata tajam kearah Natha yang terlihat santai.
Natha hanya meliriknya sekilas lalu mengedikkan bahu acuh sambil tetap menikmati es krimnya. Kevia semakin kesal dibuatnya.
Kevia menghela nafas kasar, "Kak Natha maunya apa, sih?"
"Gue mau lo jadi tim sukses gue." jawabnya acuh, "Hmm, ternyata es krim disini enak. Pinter juga lo nyari tempat."
Jadi ceritanya, Natha meninggalkan Sherly dan Reno untuk mengikuti alias menguntit Kevia yang katanya akan pulang. Tapi keberuntungan berpihak kepada Natha saat Kevia memilih mampir ke kedai es krim. Ia bisa melancarkan aksinya tanpa menunggu besok-besok. Jadilah Natha bisa disini.
"Gue nggak mau." tolak Kevia.
"Ya terserah, sih, kalo lo nggak mau. Gue bakal lakuin hal kayak tadi, seperti yang udah gue bilang kemarin."
Seketika ucapannya membuat Kevia mengingat kejadian kemarin di lapangan basket.
Natha baru selesai latihan basket. Ia langsung menghampiri Kevia di bangku penonton yang masih tetap menunggu sejak tadi.
"Nurut juga lo gue suruh nunggu." kata Natha ketika sudah duduk di samping Kevia.
"Biar cepet kelar urusan gue sama lo." jawabnya sewot, "Cepetan, lo mau ngomongin apa?" Kevia sudah ingin pulang, Natha malah sok basa basi.
"Seperti yang gue bilang waktu itu. Lo harus jadi tim sukses gue."
"Gue udah bilang, kan, waktu itu. Gue.nggak.mau." tekan Kevia.
"Ya terserah, sih, kalo nggak mau." Natha menatap Kevia tajam, "Gue bakal bikin lo gagal PDKT bahkan jadian sama Reno. Atau bisa aja gue kasih tau Reno soal lo saat SMP biar dia ilfeel dan pergi jauh-jauh dari lo."
Ancaman Natha membuat Kevia terdiam. Melihat keterdiaman Kevia, Natha mengalihkan pandangan ke jam tangan di pergelangannya.
"Udah sore, mending kita pulang. Tolong lo pikirin baik-baik." Natha berlalu meninggalkan Kevia yang mencak-mencak sendiri.
Natha, memang semenyebalkan itu.
Kevia menghela nafas panjang, "Terus kalo gue mau jadi tim sukses lo, lo bakal berhenti gangguin gue sama Kak Reno, gitu? Nggak, kan?"
"Mungkin. Lihat dulu cara kerja lo. Kalo lo bisa bawa banyak pendukung buat gue. Ya...bisa lah gue pertimbangin." jawaban Natha semakin buat Kevia kesal.
Kenapa juga ia harus terjebak dengan makhluk sejenis Natha. Apes sekali hidupnya. Kevia ingin cepat selesai urusannya dengan Natha. Mungkin dengan menerima tawaran Natha ia bisa lepas dari makhluk menyebalkan ini.
"Oke, gue mau jadi tim sukses lo. Tapi ada syaratnya." Semoga Kevia tidak salah mengambil keputusan.
"Apa syaratnya?"
"Gue kasih tau nanti. Gimana?"
Natha tampak berfikir sejenak, "Oke, deal."
"Deal."
Mereka besalaman tanda persetujuan. Tanpa mereka sadari bahwa di dalam pikiran, mereka sedang menyusun rencana masing-masing. kevia dengan rencananya yang ingin lepas dari Natha dan Natha dengan rencananya yang ingin terus mengganggu Kevia. Siapakah yang akan menang?
"Ehem." Suara deheman membuat tangan mereka terlepas. Kenandra Agam.
Kevia memang mengirim chat kepada abangnya itu untuk menjemputnya di kedai.
"Andra, gue kan udah nyuruh tunggu diluar."
"Kenapa emang? Takut ketahuan, ya, sama dia?" Andra mengedikkan dagu ke arah Natha yang memandangnya sengit.
"Siapa lo? Main nylonong aja." tanya Natha sewot.
"Kenalin, gue cowoknya Kevia." Andra mengulurkan tangan kearah Natha, tapi diabaikan.
"Andra! Nggak usah macem-macem, deh."
Natha membelalakkan mata mendengar penuturan cowok bertampang sengak ini. Wah, nyari ribut nih orang.
"Ha-ha-ha." Natha ketawa mengejek, " Nggak usah ngaku-ngaku lo." Natha menatap tajam Andra.
"Kenapa? Cemburu lo? Nggak terima karena kalah dari cowok seganteng gue." balas Andra tak kalah sengit.
Kevia menepuk jidatnya. Tak habis pikir dengan kelakuan abangnya ini.
Natha tertawa keras mengejek, " Tampang kayak biji kedondong aja bangga. Gantengan juga gue."
"Sialan, lo nantangin gue? Sini lo, one on one kalo berani."
"Oke. Siapa takut." Natha beranjak berdiri dan maju kearah Andra.
"Stop." triak Kevia, "Andra, mending kita pulang sebelum gue gila." Kevia menarik tangan Andra.
"Bentar. Ini anak sengak banget nantangin gue." Andra hendak maju ke arah Natha, tapi lengannya sudah ditarik lebih dulu oleh Kevia.
"Nggak usah diladenin kenapa, sih? Kita pulang sekarang. Ayo." Kevia menarik tangan Andra lebih keras. Dan kali ini berhasil menyeret Andra keluar kedai.
"Urusan kita belum selesai." triak Andra saat sudah mencapai pintu keluar Kedai.
"Gue tunggu lo biji kedondong."
Natha masih menatap kepergian Kevia dan Andra dengan tajam.
"Sialan, tuh orang." umpat Natha, "Tapi nggak papa, deh, yang penting Melodi udah mau jadi tim sukses gue. Urusan cowok itu nanti aja."
****
Rumah megah bergaya eropa bercat putih berdiri dengan sombongnya dikomplek perumahan elit. Natha memasuki rumah sambil bersiul dan memutar-mutar kunci motor ditelunjuknya.
"Kayaknya ada yang lagi happy, nih?" suara seorang perempuan menyapanya saat Natha sampai diruang tengah khusus keluarga.
Natha hanya senyam-senyum saja dan duduk disalah satu sofa.
"Gimana? Berhasil, kan?" tanya sang perempuan, " Mana hadiah gue? Gue, kan udah bantuin lo."
"Bawel lo. Ganggu orang lagi happy aja."
"Justru itu, mumpung lo happy. Kalo nanti-nanti pasti lo sok lupa. Buruan."
"Iya-iya, Mira yang cantik. Sini kirim nomor rekening lo, ntar gue transfer." jawab Natha sedikit sebal.
Mira, perempuan yang sejak tadi menunggu Natha pulang itu langsung membuka ponselnya dan mengirim nomor rekening kepada Natha.
"Cepet amat." Natha mengambil ponselnya yang berbunyi.
"Iya, dong. Keburu habis jam edisi terbatas inceran gue."
"Dasar matre lo, untung sepupu." dumel Natha yang fokus ke ponsel yang sedang mentransfer sejumlah uang untuk Mira, "Nih, dah masuk. Coba lo cek." Natha memperlihatkan ponselnya kepada Mira.
Mira pun langsung mengecek onselnya memastikan kalo sudah masuk, "Yey, thanks brother. Gue balik dulu."
"Nggak nunggu Mami lo?" triak Natha karena Mira sudah menjauh.
"Nggak. Salam aja buat Mami." balas Mira.
Sebenarnya Mira merasa sedikit bersalah terhadap sahabatnya itu. Tapi mau bagaimana lagi. Ini demi kebaikan Kevia yang keras kepala itu.
"Duh, maafin gue, ya, Kev. Gue nggak bermaksud menghianati lo." gumamnya setelah ia memasuki mobilnya.
****
Senin pagi yang cerah berbanding terbalik dengan suasana hati Kevia. Setelah melaksanakan upacara bendera yang semakin membuat moodnya hancur, Kevia langsung menuju kelas.
"Woi, manyun aja lo." tanya Mira sambil menyenggol bahu Kevia, "Kenapa, sih? Lagi dapet lo?"
Pasalnya sedari tadi Kevia hanya duduk diam sambil menyangga kepalanya dengan dua tangan.
"Sttt, diem, deh, gue lagi gak mood." jawab Kevia singkat.
"Nggak mood kenapa? Lo dikerjain Andra lagi? Atau lo belum minum susu coklat." tanya Mira beruntun.
"Ck, Mir, gue lagi nggak mood becanda ya." Kevia mengalihkan pandangannya kearah Mira.
"Siapa yang becanda, sih? Gue kan cuma nanya." jawab Mira santai.
Guru mata pelajaran pertama belum masuk, jadi mereka masih bisa mengobrol bahkan penghuni kelasnya saja belum lengkap.
"Kenapa, sih? Sini-sini cerita sama gue." Mira mengubah duduknya menghadap Kevia.
Kevia menghela nafas panjang dan menyandarkan punggunnya ke kursi.
"Gue setuju jadi tim suksesnya Kak Natha."
"What? Kok bisa? Bukannya lo nolak waktu itu?"
Bagus sekali Mir aktingmu. Sekarang Mira sudah merasa seperti sahabat rasa musuh dalam selimut. Duh, Mira merasa bersalah sekali melihat sahabatnya galau seperti itu. Namun, mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur.
"Ini semua, tuh, gara-gara hari sabtu kemarin."
"Tunggu, deh. Lo kan hari itu ngedate sama Kak Reno? Apa hubungannya sama keputusan lo itu?" tanya Mira yang sok tidak tahu soal hari sabtu kemarin.
"Iya. Dan lo tau apa yang terjadi?"
"Apa-apa?" tanya Mira semangat. Ia ingin tau kronologi kejadian yang membuat sepupu gilanya itu happy.
"Lo inget kan waktu lo bilang mau nyusul ke taman?" Mira mengangguk sebagai jawaban, "Bukan lo yang dateng malah Kak Natha sama Sherly yang tiba-tiba muncul disana."
"WHAT? SHERLY?"
"Mira, suara lo. Kuping gue sakit, nih." Kevia mengusap telinganya yang pengang.
"Maaf-maaf. Habisnya gue kaget." balas Mira cengengesan.
Ia kaget bukan karena Natha muncul di taman melainkan Sherly yang ikut muncul bersama Natha. Dasar sepupu oncom, kenapa juga dia harus bawa Sherly? Kalau Kevia berpikir yang nggak-nggak bagaimana?
"Terus-terus?" tanya Mira yang masih penasaran.
"Ya gitu deh. Gue males nyeritainnya. Intinya Kak Natha bakal gangguin PDKT gue sama Kak Reno, kalo gue nggak mau jadi tim suksesnya. Ya gue iya'in aja." jawab Kevia kesal karena teringat kejadian sabtu kemarin.
"Yaudah, sih. Kak Natha kan cuma minta bantuan lo doang." nasihat Mira.
"Minta tolong, sih, tapi maksa."
"Kev, udah lo terima aja. Lagian kalo dilihat Kak Natha juga nggak jahat-jahat amat." bujuk Mira, "Dia nggak pernah, kan, ngusilin lo, pukul lo, atau kasarin lo?"
"Iya, sih." jawab Kevia yang mulai terpengaruh oleh Mira.
"Nah, kan. Dia mau aja, tuh, nganterin lo pulang waktu Kak Reno nggak bisa nganterin lo. Kalo dia jahat, pasti udah nolak dan biarin lo pulang jalan kaki kali."
Ucapan Mira benar. Semua benar. Natha memang tidak pernah menyakiti secara fisik kepadanya bahkan sejak dulu waktu masih berpacaran. Natha baik, sangat baik bahkan dengan kucing jalanan sekalipun.
Tapi dengan satu kesalahan Natha kepadanya yang membuatnya tidak bisa melupakan kejadian memalukan itu dan membenci Natha hingga menutupi semua kebaikannya.
****
Typo bertebaran
Terima kasih buat yang udah baca cerita ini. Jangan lupa dukung terus ya.
Salam dunia halu
By : V
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro