Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

LFU_39

"Kamu nanti liat hasil akhir pembangunan villanya, ya?"

Leon hanya mengangguk, ia masih sibuk dengan revisi novel terbarunya. Selain menjadi seorang penulis, dia memang sedang mengelola beberapa villa yang menjadi kerja samanya dengan Vera. Sejauh ini, usaha ini cukup menjanjikan.

"Oh ya! Tadi aku juga udah pesen beberapa pajangan. Kayaknya bakalan dateng siang, deh. Kamu tolong tungguin juga, ya?"

Kali ini Leon menoleh dengan tatapan penuh protes.

"Hari ini aku diajak Mas Faris ketemu sama keluarganya," kata Vera dengan wajah serius.

Kalau sudah seperti ini, Leon hanya bisa mendesah pasrah. Sudah saatnya Vera mengurusi kehidupannya sendiri. Wanita itu berhak bahagia, setelah melewati tahun-tahun yang berat. Semoga laki-laki bernama Faris itu adalah orang yang tepat bagi Vera. Harapan hidup Leon saat ini hanya satu, melihat Vera bahagia. Karena hanya wanita itu yang ia miliki di dunia ini.

Leon segera bangkit dari kursinya saat terdengar deru suara mobil meninggalkan rumah. Ia menyambar kunci motor besarnya yang baru beberapa bulan ini ia beli, namun jarang dipakai. Bayang-bayang masa lalu terus saja mengganggu setiap kali dia menggunakan kendaraan itu. Apalagi saat ini satu benda berada di kamarnya. Sebuah benda yang akan mempersulit langkahnya untuk melupakan.

Leon masih bingung siapa kiranya yang mengirim lukisan ini. Yang pasti bukan Rere. Karena ia yakin, Rere tidak pernah mengetahui jika dirinya ada di Bandung. Begitu juga dengan dirinya yang tidak pernah tahu jika ternyata Rere pun ada di kota ini. Kenapa takdir harus mempertemukan mereka? Padahal ia pikir, kemungkinan bertemu dengan Rere di kota ini sangat kecil. Seharusnya ia memilih kota lain. Ah entahlah ....

Leon melanjutkan langkahnya. Dan meninggalkan rumah dengan motor besarnya.

*

Rere sedang mempersiapkan lukisan pesanan seseorang yang harus ia antar hari ini.

"Udah siap semua, kan?" tanyanya sebelum mengangkat lukisan-lukisan itu ke mobil yang sengaja ia sewa. Hari ini dia berjanji akan mengantar lukisan itu ke salah satu alamat yang kebetulan tidak jauh dari sanggar. Sepertinya Rere sering melewati tempat itu. Kalau tidak salah sebuah bangunan villa baru.

"Bapak tahu alamatnya, kan?" tanya Rere setelah memastikan duduk dengan aman. Lalu merasa lega saat sang driver mengatakan tahu dengan jelas alamat tersebut.

Tidak lama mobil pun melambat dan berhenti di sebuah villa yang baru saja selesai dibangun. Terlihat dari beberapa pekerja yang masih tampak hilir mudik mengerjakan pekerjaannya.

"Permisi, Pak. Yang punya villa ada?" tanyanya pada salah satu pekerja.

"Belum dateng, Neng. Tapi biasanya sebentar lagi."

Rere melirik arlojinya. Ternyata dia memang datang lima menit lebih awal. Akhirnya Rere meminta driver taksi online untuk menurunkan lukisan-lukisannya dan memilih menunggu. Semoga tidak lama, dia paling malas jika harus menunggu sendiri seperti ini.

Dulu mungkin memang dia lebih suka menyendiri, tapi semenjak beberapa tahun belakangan ini, sendiri bukan lagi hal yang ia sukai. Nyatanya memang banyak hal yang telah berubah. Termasuk dirinya, namun sayang hatinya tidak termasuk di dalam perubahan itu.

"Itu yang punya, Mbak!" Tunjuk pekerja yang tadi Rere tanyai. Gadis itu sontak menoleh ke arah di mana seorang laki-laki tampak mengendarai motor besarnya.

Sama seperti dirinya yang terlihat begitu terkejut. Bahkan laki-laki itu langsung menghentikan motornya yang baru sampai di pintu gerbang. Seolah tidak mempercayai penglihatannya.

*

"Ini lukisan pesanan Vera?"

Rere tidak langsung menjawab, dia mengamati wajah Leon yang menunjukkan ekspresi dingin. Bahkan hal yang pertama kali Leon tanyakan bukanlah kabarnya. Laki-laki ini bersikap seolah mereka tidak pernah saling mengenal.

"Ini pesanan Vera?" tanya Leon lagi membuat Rere tersentak.

"Kak Vera?" Rere malah terlihat bingung. Karena nama pemesannya memang bukan nama perempuan. Tapi nama laki-laki yang sama sekali tidak ia kenal.

"Iya. Vera bilang dia memesan beberapa pajangan," kata Leon lagi. Masih dengan ekspresi dingin dan datar.

"Kalau yang mesen ke aku namanya Pak Reno. Dan alamatnya alamat villa ini," jawab Rere canggung. Banyak rasa yang berkecamuk dalam hatinya. Terutama perasaan sedih, kecewa, sakit. Kenapa Leon harus bersikap seperti ini. Apa salahnya?

Laki-laki itu tampak berdecak kesal, "Tunggu sebentar," katanya seraya merogoh saku jaket kulit yang ia kenakan. Lalu terlihat seperti menelpon seseorang.

Rere hanya bisa berdiri kaku di tempatnya. Masih dengan perasaan kecewa, ia menatap punggung Leon yang kini berjalan menjauhinya. Haruskah Leon bersikap seperti ini? Tidak bisakah mereka saling menanyakan kabar? Tidak masalah jika laki-laki itu memilih untuk tidak membahas masa lalu. Atau memilih untuk tidak melanjutkan pertemanan mereka dulu. Tapi setidaknya, bisakah mereka saling menyapa, bertanya kabar? Rere hanya ingin tahu apakah Leon baik-baik saja.

"Iya ini pesanan dia. Sudah dibayar, kan?"

Pertahanan diri Rere nyaris jebol saat dia mengangguk, dan dengan kikuk memilih pamit. Ia bahkan harus menggigit bibirnya kuat-kuat, untuk menggantikan sakit yang ada di hatinya. Benarkah Leon tidak mau menyapanya secara layak? Setidak berarti itukah dirinya di hadapan laki-laki itu sekarang? Sehingga ia harus diperlakukan seperti ini.

Leon mengepalkan kedua tangannya untuk meredam sakit karena bersikap begitu dingin pada gadis yang kini tampak berjalan menjauhinya. Ia tahu sikapnya kejam karena memilih bersikap dingin dan seolah mereka tidak saling mengenal. Katakan lah dia jahat. Dia hanya sedang melindungi hatinya dari kerapuhan. Karena sekali saja dia bersikap lembut. Dan mulai menyapa Rere dengan basa-basi yang seharusnya memang ia lakukan, Leon yakin pertahanan hatinya akan runtuh saat itu juga. Dan pada akhirnya, Rere juga yang akan bingung karena harus menghadapi laki-laki rusak seperti dirinya. Lebih baik jika mereka tidak lagi saling menyapa. Bersikap seolah-olah tidak saling mengenal. Setidaknya, hari-hari Rere yang sudah indah tidak akan kembali berantakan karena kehadirannya.

*

"Jadi kamu nyuekin dia?" tanya Vera nyaris berteriak saat tahu fakta apa yang terjadi tadi.

Rere sempat mengirim pesan kepadanya. Mengatakan jika gadis itu kecewa, karena telah dibohongi soal keberadaan Leon. Vera sempat membalas pesan tersebut, meminta maaf karena telah bertindak salah dengan berbohong. Namun sayang, sepertinya Rere sudah memblokir nomornya.

"Leon!" jerit Vera frustasi karena laki-laki itu seolah tidak mendengarkannya.

"Ver. Udahlah. Rencana kamu nggak akan berhasil. Aku udah bilang, nggak akan gangguin hidup Rere lagi. Dia udah bahagia." Leon membuang napas kasar. Ia sudah menebak jika veralah yang mengatur pertemuan tidak sengajanya dengan Rere siang tadi.

"Dari mana kamu yakin kalau dia udah bahagia?" Vera belum bisa menurunkan nada bicaranya. Wanita itu benar-benar kesal dengan sikap Leon yang pasti sangat menyakiti hati Rere.

Leon hanya berdecak, enggan menjawab.

"Kamu tahu! Rere juga masih terjebak di masa lalu kayak kamu!"

Leon menggeleng, enggan mendengarkan kalimat itu.

"Ini!" Vera melemparkan sebuah undangan ke arah Leon yang kini mengerutkan kening ke arahnya. Namun Vera memilih bungkam. Mengamati bagaimana mata Leon yang tampak melebar saat melihat undangan pernikahan Mahesa.

"Mahesa dan Rere sudah tidak pernah lagi bertemu sejak empat tahun yang lalu. Dan jika kamu melihat mahesa ada di sanggar, itupun tanpa sepengetahuan Rere. Kamu tahu siapa yang ngirim lukisan itu!" Vera menunjuk lukisan yang Leon gantung di pintu kamarnya.

"Itu Mahesa yang kirim. Dia sedang berusaha menyatukan kisah masa lalu dua anak manusia yang masih terjebak di masa lalu."

Leon tanpa sadar meremas undangan di tangannya.

"Dan soal laki-laki yang kamu lihat waktu itu. Itu adalah upaya mama Rere untuk membantu anaknya bangkit. Dia berusaha menjodohkan Rere dengan beberapa laki-laki. Dan nyatanya apa, Sampai saat ini Rere masih menutup hatinya. Kamu mau tahu apa alasannya?"

Leon semakin merasakan denyutan nyeri di hatinya.

"Dan lihat apa yang kamu lakukan hari ini. Kamu menambah luka di hati Rere dengan cara mengabaikannya. Kamu punya hati nggak si Leon!" Vera sengaja menekankan nama Leon karena kesal.

Laki-laki itu hanya diam. Mencoba meresapi setiap kata yang sudah Vera ucapkan. Bukan ucapkan, tapi teriakan.

"Perbaiki semuanya sebelum terlambat. Buang ego kamu. Kamu layak mendapatkan cinta yang kamu inginkan. Karena faktanya, Rere juga merasakan hal yang sama kayak kamu," ujar Vera. Kali ini dengan nada yang lebih lembut.

"Tadinya aku pikir. Dengan mempertemukan kalian, akan meluruskan kesalah pahaman yang selama ini kamu pikirkan. Aku sengaja nggak menjelaskan semua dari awal, karena aku mau kamu dengar semuanya dari mulut Rere sendiri. Tapi apa yang kamu lakuin Leon." Vera menggeleng jengah, lalu memutuskan pergi begitu saja. Meninggalkan Leon yang masih diam seperti patung.

Laki-laki itu tersenyum pahit. Benarkah Rere masih menunggunya? Benarkah hati Rere tersimpan rapi untuknya? Jadi, dia telah melakukan hal bodoh dengan menyakiti hati gadis itu? Jika bukan bodoh, apa kata yang pantas yang bisa ia sematkan untuk sikapnya ini?

*

Rere menatap kosong gelap yang tersaji di depan sana. Ia tidak bisa menggambarkan rasa sakit yang kini ia rasakan karena kebodohannya sendiri. Bukankah luka masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran? Seperti luka hati karena penantian yang pernah ia alami dulu. Seharusnya Rere belajar dari sana. Seharusnya ia tidak melakukan hal yang sama. Menunggu tanpa kepastian itu menyakitkan. Dulu rasanya sakit, dan kali ini lebih sakit.

Perlahan air mata itu turun. Air mata yang sejak tadi ia jaga untuk tidak keluar, akhirnya meruntuhkan dirinya. Apalagi saat pesan Renata masuk. Membuat satu alasan untuk matanya tidak juga berhenti menangis.

Renata : Re, besok jadi pulang, kan? Papa sakit.

🌿🌿🌿

15 Maret 2020

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro