Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Babad Adwaya Badi

Kali ini, Ki Abdi Daluman memainkan para lakon wayangnya di balai kota. Kendati rintik halus yang turut menghadirkan sepoi lemah sudah datang lebih dulu, para orang desa Gunung Barat tetap berjubel menaiki angkot guna mematok tempat di sana. Termasuk Sri yang menyelipkan diri, meninggalkan simbah yang merintih di tikar rotan dan mungkin tengah tawar-menawar dengan kematian.

Sri begitu menggilai cara Ki Abdi menyabet para wayang, ketika adegan perang. Pun ketuk cempala pada dodogan yang mengiringi gerak-gerik lakon yang bertindak. Dibanding guyon yang kerap terlontar dari mulut Ki Abdi, Sri sangat menikmati suara penyinden dan riuh gamelan yang tumpang tindih. Lebih dari itu semua, alasan utama tubuh gempal Sri beranjak dari sisi simbah yang engap-engapan adalah perkataan Ki Abdi selepas mempersiapkan para wayang di sanggar kemarin sore. "Romo-mu ini akan membawakan cerita kesukaanmu, Ndhuk."

Sri merasakan dada kirinya diketuk-ketuk degup yang juga membuat perutnya terasa digelitik, kala Ki Abdi menampakkan dua gunungan di kelir. Rintik halus tidak lagi menusuk-nusuk kulit, meski angin tetap menggigit. Sri merasa sekujur bulu halusnya meremang. Sering dia dengar suara Ki Abdi, tetapi malam selalu menampakkan hal yang berbeda. Dibarengi irama gamelan yang melambat dan merdu pesinden mengidungkan bait rendah, Ki Abdi memulai kisah.

Babad Adwaya Badi.

Desa Gunung Barat dulunya adalah sebuah kerajaan bernama Mangulon. Batas awal wilayahnya memang sempit. Namun, semenjak Karunasankara III naik takhta, perlahan batas kerajaan semakin luas. Lewat siasat dan ketangkasan Karunasankara III berserta para prajuritnya, Mangulon tumbuh dengan wajah garang bagi siapa saja yang menantang.

Namun, kesenangan yang melingkupi seluruh orang Mangulon, tidak dirasakan Bhanuresmi. Putri ketiga Karunasankara III ini harus mendekam di keputren sedari cilik. Meski terlahir dari seorang ratu, Bhanuresmi yang memiliki fisik berbeda dari saudara-saudaranya yang lain dibiarkan tumbuh tanpa pernah mengintip langsung dunia luar.

"Apa sekiranya yang Gusti Raden Ajeng perlukan?" Ki Abdi yang selesai menggerakkan satu tokoh memukul dodogan dengan tangan kiri. Lalu, ditampilkanlah wayang dengan bentuk yang buruk: bahunya lebar, sekujur kulitnya legam, hidungnya bulat bak tomat, dan perutnya buncit. Dialah Bhanuresmi.

Jika anak-anak gadis yang lain lebih memilih menjadi Bimala atau Bhanuwati, Sri lebih menggilai sosok Bhanuresmi. Bagi Sri, Bhanuresmi mirip dengannya. Tidak ada yang mau bermain lantaran ada banyak gundukan kecil serupa bisul di sekujur betis Sri. Di pinggiran koreng yang terbuka, kulitnya tampak kering hingga seperti sisik. Jadilah dia sering membungkuk untuk menggaruk.

Bedanya, Bhanuresmi dikarunia Sang Hyang Langit dengan kemampuan seperti para pendahulu Mangulon. Bhanuresmi dapat melihat masa depan dalam mimpi. Namun, keengganan Karunasankara III dan ibu kandung Bhanuresmi untuk mengunjungi keputren putri mereka, menjadikan kemampuan Bhanuresmi seolah milik sang adik; Bimala. Jika datang mimpi yang merupakan pertanda, pada seorang dayang dia minta tolong dipanggilkan Bimala. Ke Bimala-lah diceritakan semua, hingga Karunasankara III berpikir Bimala adalah berkah. Bagi Bhanuresmi, itu tidak mengapa.

Tak ada yang tahu bagaimana perangai Bhanuresmi, kecuali seorang dayang. Melihat langsung sang putri tumbuh dalam kungkungan, si dayang menaruh sayang. Terlebih, Bhanuresmi menghadiahinya banyak kemban. Meski kebesaran, kemban itu menjadi semacam penghubung bagi batinnya dengan sang putri. Jika Bhanuresmi merasa sedih, si dayang pun turut pedih.

Selain si dayang, seorang kesatria yang pernah mendengar tentang Bhanuresmi dari si dayang pun turut menjadi bagian kehidupan si putri. Acap kali bisa lolos dari latihan, Ranajaya pasti menyelinap masuk ke keputren Bhanuresmi. Awalnya, Bhanuresmi menolak keras, tetapi kegigihan Ranajaya meluluhkan hati Bhanuresmi. Tidak hanya sebagai penghibur, Ranajaya dan Bhanuresmi juga menyulam kasih.

"Bhanuresmi-lah yang harus bertanggung jawab, Ayahanda." Suara Ki Abdi jauh lebih tinggi dibanding saat memerankan dayang Bhanuresmi. "Saya sering melihat Bimala bertandang ke tempat Bhanuresmi."

Satu di antara tokoh yang paling dibenci Sri adalah Chandramaya; kakak Bhanuresmi. Chandramaya tertarik pada Ranajaya yang merupakan seorang kesatria mumpuni. Sosok Ranajaya yang tinggi-tegap dan berkulit cokelat mampu meliarkan nafsu para hawa yang menatapnya. Belum lagi tutur kata dan nada suaranya. Tidak heran, jika Chandramaya nekat meracuni Bimala agar Bhanuresmi terusir.

Ki Abdi memainkan tangan wayang Karunasankara III. Diletakkannya tangan itu di kepala sang Prabu. Karunasankara III tergambar sangat memiliki beban. Dia tidak percaya, tetapi tidak juga bisa menyangkal. Apalagi dayang Bhanuresmi bebas keluar-masuk keputren utama. Dan belum selesai pencarian obat untuk Bimala, ikhbar penyerangan bukan lagi sekadar kabar angin. Pergesekan dengan wilayah tetangga semakin cepat dan panas. Maka, Karunasankara III memutuskan mengasingkan Bhanuresmi. Tidak ada yang diperbolehkan masuk keputren Bhanuresmi dan dayang Bhanuresmi pun dilarang keluar. Hingga pergolakan wilayah memadam, Bhanuresmi terhitung sebagai tahanan.

Sri semakin kencang menggaruk seiring bertambahnya tempo suara gamelan. Inilah yang dia nanti. Adegan perang pada babak ketiga Babad Adwaya Badi. Tangan Ki Abdi begitu luwes melakukan sabetan. Ditambah gamelan dan lirih kidung penyinden yang ditimpali suara Ki Abdi, Sri sampai tidak sengaja menggaruk boroknya. Bocah itu meringis. Darah keluar dan menjalar. Namun, Sri kembali fokus ke kelir.

Sri ingat apa yang terjadi selama perang pecah. Ki Abdi sering berkisah hingga tertanam semua di ingatan Sri. Sementara Karunasankara III ikut mengangkat pedang dan Ranajaya turut menjadi kesatria di garis depan, ratu yang sudah dicekoki hasutan bersama Chandramaya mendatangi Bhanuresmi. Kondisi Bimala semakin mengkhawatirkan. Ibu mereka yang terlanjur gusar mengusir Bhanuresmi. Dianggapnya Bhanuresmi-lah penyebab kemalangan Bimala. Padahal, Bimala sudah banyak membantu ayah mereka dalam menjalankan kerajaan. Karena Bimala, mereka siap menghadapi kemarau panjang. Berkat Bimala, mereka sudah siap dengan siasat. Bhanuresmi tidak membela diri. Dalam mimpinya ini sudah terjadi. Dengan kelapangan hati, dia pergi dan dayang yang selalu bersamanya pun turut angkat kaki.

Sepeninggal Bhanuresmi dan dayangnya yang dikabarkan melarikan diri, Mangulon menang dan Bimala berangsur sehat. Namun, kemenangan Mangulon harus dirasa pahit karena pengakuan Bimala. Karunasankara III hanya terdiam sepanjang Bimala berkisah tentang alasan Bhanuresmi yang memintanya datang ke keputren. Sedangkan Chandramaya dan ratu bungkam.

Yang paling terpukul karena kepergian Bhanuresmi adalah Ranajaya. Sebelum Bhanuresmi dikurung, dia sudah mendengar hal ini akan terjadi; Bhanuresmi akan pergi dari keputren. Direlakan tetap tak bisa. Namun, terus berkubang dalam kesedihan pun tidak menghilangkan gundah. Ranajaya memilih menjalani hidup layaknya yang sudah diberi tahu Bhanuresmi. Dia asah kemampuan berpedang dan batinnya. Berguru ke semua pendekar dalam wilayah Mangulon, hingga dia menjadi sakti mandraguna dan berbudi luhur, lalu lebih dikenal dengan julukan Ki Agung Barat. Sampai akhirnya, dia mampu menggantikan Karunasankara III setelah menikahi Chandramaya.

Bertahun-tahun Mangulon dalam kejayaan. Ranajaya yang sudah digerogoti usia, memutuskan menyerahkan takhta pada putranya. Dia ingin mengasingkan diri. Ingin menyahuti mimpi yang saban terlelap hadir. Mimpi tentang Bhanuresmi yang menggendong seorang bayi. Batinnya selalu tidak tenang. Belakangan semakin tak karuan. Lalu, datang bisik yang menyuruhnya mendaki Gunung Barat. Tanpa pengawal, tanpa bekal, Ranajaya melaksanakan titah gaib itu. Lepas memilih tempat untuk berdiam diri, dia bersemadi. Pusat dari pikirannya adalah Yang Maha Kuasa dan Bhanuresmi. Meski tidak dapat bersua lagi, keinginan Ranajaya untuk terus membantu dan mendampingi Bhanuresmi masih sangat kuat. Sampai alam menjawab seruan batinnya. Kesaktian yang dimiliki membawa raga dan jiwanya melebur; menyatu dengan angin, dan muncullah sekuntum bunga. Bunga berisi sari pengabulan.

Ki Abdi kembali menampilkan dua gunungan. Cerita berakhir, tapi tidak untuk Sri. Dalam kepala Sri tergambar apa yang dikisahkan Ki Abdi hanya padanya. Kata Ki Abdi, si dayang yang masih mengabdi pada sang putri didatangi Ranajaya dalam mimpi. Melalui petunjuk yang diberi, berangkatlah si dayang ke Gunung Barat bersama seorang cucu Bhanuresmi. Di sana, dipetiklah sekuntum mawar, dan diberikanlah pada Bhanuresmi.

"Saya didatangi kesatria Ranajaya di mimpi. Katanya, ini untuk Gusti Raden Ayu dan seluruh keturunan Raden Ayu. Sarinya bisa dijadikan obat atau perantara pengabulan hajat."

Meski belum ada orang dari darah rakyat biasa yang dapat, bunga Adwaya Badi tetap dipercaya ada. Lewat mulut Ki Abdi Daluman, kisahnya pun tetap larut dan turut berdenyut dalam nadi penduduk di Gunung Barat. Juga merasuki sukma siapa saja yang mencari harta dan kuasa. Namun, tidak seorang pun tahu bahwa kemunculannya sudah ditentukan pada siapa dia beri pertanda dan pada siapa bisa direguk sarinya.

Jauh setelah Sri tidak sengaja menggaruk korengnya, Ki Abdi Daluman mengajak menyusuri jalan setapak di kaki Gunung Barat. Perlahan mereka menjamahi lereng. Lewat cahaya dari petromaks yang dia dan Ki Abdi tenteng, tampak sosok makhluk putih yang tingginya mungkin setara pohon beringin di pelataran pendopo Ki Abdi. Kehadiran sosok itu tidak hanya meremangkan bulu kuduk Sri, tetapi juga mengumbarkan manis kantil yang tajam. Itu hanyalah penjaga di sini, di antara kerik jangkrik dan bising hewan malam, lirih suara Ki Abdi memberi tahu.

Jalur yang dilalui semakin terjal, tetapi Ki Abdi sangat gesit dalam menapak. Hampir tergelincir, Sri tetap bungkam dan terus mengikuti ritme kaki Ki Abdi. Makhluk sebesar beringin tak lagi mengikuti mereka. Aroma kantil juga tertinggal di belakang. Baru, ketika bau anyir samar tercium, Ki Abdi memelankan langkah. Mereka berhenti dan Sri bersandar pada pohon dengan hidung yang disumbat amis. Tak jauh dari mereka ada sebongkah pohon yang ambruk; melintang, menutupi jalan. Ki Abdi menyorotkan sinar petromaks ke sana; ke batang pohon yang sudah disantap ajal. Pada pinggiran bagian batang yang berlubang, ada sekuntum bunga tumbuh tegak.

Ki Abdi tersenyum seraya mengarahkan petromaks ke wajah Sri yang letih. "Seperti janjiku, Ndhuk. Itu punyamu."

Yang Sri tahu, Ki Abdi sosok yang baik lagi penyayang. Yang Sri yakini, Ki Abdi sangat dermawan. Saking tidak perhitungan dalam berderma, rela memberikan apa yang diincar penduduk desa. Namun, Sri tidak mencari tahu lebih dalam. Berhenti untuk melacak nasabnya. Tidak lagi menanyakan masa lalu Ki Abdi. Dan menerima begitu saja Adwaya Badi.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro