
Escape Room
Escape Room~ singulari_tasFukuyama12
.
.
.
Tokoh:
• Finn Richardson (Finn/Dr. Richardson)
• Annabeth Ethelyn (Anna/Dr. Ethelyn)
• Fae O'Cleirigh (Clery)
.
.
.
Sial. Sial. Sial.
Proyek penelitianku memerlukan sangat banyak proses sterilisasi, hingga beberapa menit kemudian setelah alarm evakuasi dibunyikan (ada malfungsi di serambi kanan gedung) barulah aku dapat berlari keluar. Dengan kacamata pengaman bahkan masih tergantung di leher. Koridor yayasan yang telah kosong, berikut langkah kakiku yang menggema, membuat bulu tengkukku tegak dan merinding. Aku tak pernah tahu laboratorium sepi bisa semencekam ini.
Dan, demi Tuhan, bau busuk apa ini?
Langkahku terhenti tepat di hadapan lintasan cairan kental berwarna merah karat meliuk-liuk pada ubin laboratorium yang kini tak steril lagi. Wujud fisik dan aroma besi memuakkan mengatakan padaku bahwa itu adalah darah, tetapi aku tak ingin percaya.
Satu, karena bentuknya serupa seseorang yang telah diseret. Dua, karena tepat di sampingnya, jejak-jejak kaki besar berkuku tiga, yang mengingatkanku pada unggas, pun tercap di sana, dengan cairan serupa.
Sialnya, lintasan 'darah' tersebut mengarah tepat pada jalur evakuasi, hingga penasaran atau tidak, aku tak punya pilihan selain melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Refleks, kusentuh saku jas dan menemukan sebuah gunting di sana, properti laboratorium yang tak sengaja kubawa. Aku masih berharap semua ini punya penjelasan rasional (Apakah Clery sedang main prank? Atau rekayasa kolegaku yang jail?), meski begitu tanganku tetap mencengkram gagang stainless-nya dengan erat.
Kutempelkan punggung pada tembok dan berusaha keras mengendap-endap. Jantungku dengan kurang ajar berdetak sangat hebat hingga aku tak tahu dentuman berisik yang kudengar berasal darinya atau langkah kakiku yang berat. Kuharap itu hanya—
Tunggu dulu.
Bukan.
Bukan keduanya.
Suara tuk-tuk-tuk cabik bukan berasal dariku, melainkan apapun itu di ujung lintasan merah.
Bayangan gelap mulai terlihat seiring aku makin mendekat, berbentuk gundukan dua kali tinggiku tengah ... apa itu? Mematuk?
Napas dan gunting dalam genggamanku nyaris terjun bebas begitu figur tersebut mewujud sempurna.
Bulu. Begitu banyak bulu. Bukan, bukan buku lembut seperti kucing hitam-putih yang biasa berkeliaran di lab, melainkan bulu gelap unggas yang berukuran besar. Setengah rontok dalam kulit tipis berbintil. Ekor berbulu legamnya yang menancap tinggi keluar mengingatkanku pada seekor ayam, tetapi fisiknya yang luar biasa besar sangat mirip dinosaurus. Jadi entah aku tengah memandangi punggung ayam raksasa atau seekor T. rex.
Ini lucu—miris. Karena aku ingat jika kami baru saja yayasan kami menyelesaikan sebuah proyek beberapa bulan lalu, merekayasa genetik embrio seekor ayam dan berhasil menumbuhkan salah satu kakinya serupa rangka tulang Tyrannosurus rex. Kolega-kolegaku bergurau menyebut spesimen kami C. rex. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa kedua hewan tersebut memiliki kaitan DNA, adalah buyut-cicit masing-masing. Dan kami sukses, BBC bahkan sempat meliputnya dan Netflix ingin membuatnya menjadi film dokumenter.
Yang kutahu adalah, telur-telur, baik yang gagal dan sukses, telah dihancurkan seusai penelitian. Karena tujuan kami hanya itu, membuktikan sebuah teori. Tidak ada yang lain.
Jadi mengapa—
Lalu kesadaran menghantam kepalaku, layaknya puzzle yang akhirnya utuh.
Tepat seminggu setelah penelitian selesai, jalan masuk serambi kanan yayasan ditutup total. Kabarnya sebuah penelitian besar dan rahasia tengah dimulai di sana, pengembangan antidotum atau semacamnya, aku tak yakin dan orang-orang juga sama. Bahkan tidak jelas siapa yang ikut dalam penelitiannya. Sebenarnya ini tidak aneh karena memang ada penelitian rahasia demi mencegah plagiarisme (benar, sangat sering terjadi) dan hanya doktor level tinggi yang diberi akses.
Apakah ... mimpi buruk ini hasilnya?
Dentingan patukan mengembalikanku dari lamunan, dan tepat saat aku melihat, paruh mahabesar tengah mencabik abdomen kolegaku, menerbangkan jeroan dan pecahan daging ke mana-mana. Asam di perutku melambung naik, hidung dan tenggorokanku telah lelah sepenuhnya dengan amis darah, hingga harus kugigit bibir sekuat tenaga agar tak muntah.
Aku tak boleh bersuara. Tidak sekarang.
Dan, tentu saja, ponselku memilih momen ini untuk berdering. Panggilan telepon dari Annabeth Ethelyne, berikut kepala mutasi unggas-dinosaurus yang berbalik menatapku.
Sontak aku langsung meneguk salivaku kasar saat spesimen yang diberi nama C. rex itu menatapku bagaikan mangsa baru yang empuk untuk dimakan.
Aku mundur saat makhluk aneh raksasa itu berjalan ke arahku, sedangkan otakku terasa beku.
[Dr. Richardson, lari!]
Aku mengernyit dan menoleh dengan cepat mendengar suara keras dari pengeras suara yang entah berada di mana. Kepalaku kembali menatap C. rex yang mulai melangkahkan kakinya menujuku.
Seperti menemukan secercah harapan, aku mengangguk, kemudian berlari secepat mungkin sesuai arahan informan itu.
Sial, aku tidak mau mati konyol di sini!
Aku membalikkan badan, mengikuti lorong dan aba-aba super cepat dari—sepertinya itu Clery didengar dari suara melengking khasnya itu. Aku benar-benar kebingungan harus pergi ke mana dan otakku seperti tidak bisa berfungsi dengan baik, jadi aku hanya mengikuti ucapan Clery. Kakiku melangkah dengan keringat dingin yang tak keruan. Pikiranku kalut, memikirkan kejadian yang paling buruk.
Bagaimana bisa spesimen itu keluar dari sarang?
Aku mencoba mengingat kembali, menelusuri ingatan bak film yang diputar ulang. Ah, apakah ini karena kesalahan teknis, mengingat tadi generator listriknya sempat mati sehingga pengamanannya lepas?
Suara-suara yang menggema membuat otakku kembali dalam posisi normal. Benar, aku harus berjuang untuk tetap hidup.
Tak henti-hentinya mataku dibuat tercengang saat dalam pelarian ini aku melihat beberapa kolegaku yang sudah terkapar lemas di lantai. Hatiku bagaikan tercabik-cabik saat melihat mereka tewas dengan cara yang tragis. Meluluhlantahkan kebersamaan hingga membuat pandanganku sedikit buram karena air mata.
Ditambah, potongan-potongan organ dalam juga berserakan sepanjang lorong hingga—sekali lagi—membuat asam lambungku terasa naik.
Begah, melihat para jasad yang kukenal pergi tanpa salam perpisahan. Namun, harus kupaksakan untuk terus berlari saat suara telepon kembali berdering. Tidak ada waktu untuk menjawab panggilan. Nyawaku lebih berarti daripada seseorang yang sedang menelepon.
[Lurus, Dr. Richardson. Di ujung lorong ini belok kanan. Lalu bersembunyilah di dalam ruangan kebersihan! Beri aku waktu sebentar, sepertinya masih ada orang lain yang selamat.]
Bravo!
Aku dengan cepat masuk dan mengunci pintu. Tidak cukup dengan kunci biasa, aku memindahkan semua barang berat yang ada di sini ke belakang pintu sembari harap-harap cemas agar monster itu menemukanku dan membuka pintu ini.
Kemudian aku bersandar lemas di balik pintu ini saat merasakan dadaku kembang kempis dengan napasku yang terdengar berat sambil perlahan menjatuhkan bokongku ke lantai.
Setelah mengambil napas kasar, dengan iseng aku mengangkat ponselku yang masih bergetar. Nama Dr. Annabeth Ethelyne memenuhi layar. Dan Otak serta hatiku kembali menyadari adanya satu kehidupan yang sudah kulupakan.
Bagaimana aku bisa melupakan wanita ini? Wanita yang berhasil membuatku bangkit dari kegelapan hanya dengan melihatnya tersenyum.
Tanpa sadar mataku memanas, ada perasaan syukur saat melihatnya masih hidup.
Dengan segera aku menarik simbol hijau dan kembali meletakkannya di telingaku.
"Dr. Richardson!"
Seketika itu rahangku mengeras dengan kedua telapak tanganku yang mengepal kuat hingga kutarik sudut bibirku dan terciptalah perahu di sana saat suara Anna berhasil memberikan pasokan energi.
Ya, baterai-ku telah diisi hanya dengan mendengar suaranya.
"Dr. Ethelyn, bagaimana keadaanmu?"
"Ugh, perutku rasanya mual, tapi Clery terus menyuruhku untuk berlari."
Samar-samar, aku mendengar suara Clery dari telepon kami yang tersambung, sepertinya aku dan Anna berada di tempat yang berbeda hingga pengeras suara yang Clery pakai tidak berfungsi di bagianku.
Menit demi menit berlalu, dan aku sudah berjalam mondar-mandir mengelilingi ruangan ini selama lebih dari dua puluh kali. Rasanya seperti menunggu selama berjam-jam, dan perasaan cemasku diaduk-aduk setiap mendengar Clery yang memberi peringatan kedatangan C. Rex pada Anna.
Apa pun yang terjadi, wanita harus selamat. Apa aku harus meminta Clery agar meminta Anna menunggu di tempat yang aman dan aku saja yang pergi ke sana? Setengah nyawaku menghilang hanya dengan menunggu kedatangannya.
[Teman-teman, waktu kita tinggal lima bas menit sebelum lab ini diledakkan!]
Suara peringatan terdengar sedetik setelahnya. Aku tahu, pasti ini adalah perintah pimpinan karena takut makhluk itu keluar hidup-hidup dan membahayakan masyarakat sekitar.
Mendengar suara detik per detik peledakan dan bel peringatan yang terus berdering, malah semakin membuatku kalut. Aku pun mengacak rambutku frustrasi.
Sial!
Damn, aku mendaratkan kepalaku berkali-kali ke pintu sambil berteriak sekencang-kencangnya, mencoba mengeluarkan kekesalan karena terjebak dari situasi yang tidak terbayangkan sebelumnya, di susul suara C. rex yang sedang mengamuk di luar sana.
“Hei, Dr. Richardson, apa kau baik-baik saja? Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi di sini."
Seketika, suara Anna menjernihkan pikiran dan berhasil mengendalikan emosiku dari balik layar ponselnya.
“Aku berada di tempat yang (kuharap) aman, kok," jawabku. “You remember the experiment a few months ago? Tentang merekayasa genetik embrio ayam yang berhasil menumbuhkan rangka tulang kaki tyrannosaurus rex, Anna?”
“Tentu saja.”
“Sekarang spesies itu berhasil keluar dan membunuh semua pekerja di sini. Aku—tidak, kita beruntung bisa selamat. Clery sedang menunjukkan jalan keluarnya. Jadi ikuti aba-abanya," jelasku.
"Iya, aku sekarang sedang mengikutinya."
[Dr. Ethelyn, setelah keluar dari lab, pergilah ke lorong kiri ...]
Aku mendengar Clery mulai memberikan aba-aba pada Anna. Tunggu, jika sekarang terdengar, berarti aku dan Anna sudah berada di lantai yang sama. Ruang kebersihan tempatku berada lebih dekat dengan jalan menuju ruang bawah tanah yang kemungkinan menjadi target Clery sebagai tempat bersembunyi dari monster dan ledakan. Sedikit lagi, aku akan menunggu sampai Clery berhasil mengarahkan Anna padaku.
[Dr. Richardson, tunggulah sebentar, Dr. Ethelyn akan segera sampai.]
Seakan mengerti perasaanku, Dr. Clery mengatakan hal itu dan aku menatap terima kasih pada kamera putih di sudut ruangan. Aku tidak tahu harus memberi balasan apa pada Dr. Clery setelah ini semua berakhir.
[Bagus, Dr. Ethelyn! Sekarang kau hanya perlu menyusuri lorong ini untuk bertemu dengan Dr. Richardson. Dia sedang berada dalam ruang kebersihan. Monsternya ada di sekitar sayap kiri, cukup jauh darimu, tapi tetap waspada dan tidak membuat suara keras. Langkah kakimu Sepertinya sudah cukup membuat kebisingan.]
Aku bangkit dengan cepat saat mendengar hal itu, dengan segera aku menyingkirkan lemari dan segala hal yang kugunakan untuk pengaman. Semoga aku bisa memberikan ruang untuk pintu ini terbuka agar bisa memberi kesempatan pada Anna bisa masuk tanpa perlu menunggu lebih lama.
Samar-samar, aku bisa mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Dari celah pintu yang kubuka, wanita berambut cokelat gelombang itu muncul dalam pandanganku.
"Dr. Richardson!!"
Teriakan hangat itu menggema dalam lorong telingaku. Suara derap langkah cepat dari kaki jenjang wanita itu membuatku tanpa sadar merengtangkan kedua tangan, berusaha menyambut tubuhnya yang dipenuhi oleh keringat.
Dapat!
Kami jatuh bersama. Pantatku bertemu dengan lantai ruang bawah tanah yang keras. Namun tidak apa-apa, ini jutaan kali lebih baik daripada menjadi salah satu saintis yang terbujur dingin di luar sana.
"Anna! Syukurlah kau selamat!"
Aku memeluk Anna dengan seluruh tanganku, tidak memedulikan bibir yang tanpa sengaja mengucapkan nama kecilnya. Bahunya yang kecil itu bergetar dalam dekapanku, membuat sudut ruangan dalam hatiku terasa nyeri.
"Aku senang kau masih hidup, Finn! Tadi sangat menyeramkan, kupikir aku akan mati!"
Aku senang mendengarnya memanggil namaku, tetapi rasa bahagia bukanlah hal yang tepat sekatang. Wajahnya yang terangkat basah dengan keringat dan air mata yang sepertinya sudah ia tahan sejak tadi. Wajahnya pucat dan terlihat buruk, tetapi tidak memudarkan rasa sukaku padanya.
Aku menghapus air matanya dengan jari-jariku, tetapi bulir-bulir itu masih berjatuhan. Aku menarik napas panjang dan mendekatkan wajahnya yang tertangkap kedua tanganku. Sampai akhirnya, bibir ini menyentuh dahinya. Aku bisa merasakan rambutnya yang menempel di sana, juga rasa asin yang menggelitik perutku.
"Tenangkan dirimu. Ini belum berakhir, kita harus keluar sekarang. Lalu saat keluar nanti
"Finn ...." Matanya yang berkaca-kaca itu menatapku, lalu tersenyum dan ia mengangguk.
[Maaf, bukannya menggangu, tapi apa yang dikatakan oleh Dr. Richardson benar. Waktu kalian tidak banyak sampai tempat ini di ledakkan.]
Aku—dan sepertinya juga Anna—mematung saat menyadari Clery yang masih ada, yang tentu saja menatap kami berdua dari sudut mahatahu di sana. Ya ampun, jika Clery tidak menginterupsi kami, mungkin aku sudah bergerak mencium bibir wanita ini.
[Kalian harus segera pergi ke ruang interkom, lalu kita bisa pergi bersama-sama ke ruang bawah tanah. Kalian lewati lorong yang biasa kalian lalui saja. Jika C. rex itu mendekat, akan segera kuberitahu kalian.]
Aku mengangguk pada kamera dan siap untuk pergi meninggalkan ruang kebersihan. Besi dua meter—yang aku tidak tahu mengapa ada di sini— berdiri di pojok ruangan kuambil, mungkin aku akan membutuhkannya nanti. Tanganku yang kosong mencengkeram pergelangan Anna, dia tidak boleh terlepas dariku. Aku mulai mengambil langkah, tidak peduli dengan bercak darah yang menodai sepatu sneaker putihku atau ujung celana khaki yang kugunakan. Aroma anyir memenuhi indera penciuman dan kembali mengobrak-abrik perutku tanpa perlu dipinta.
Di ujung lorong, aku bisa melihat pintu yang terbuka dan menampilkan wanita berjaket ungu yang memberi aba-aba untuk mempercepat langkah. Tidak ada waktu untuk berhenti barang sedetik saja. Clery ikut berlari di sampingku.
"Kalian tahu kan harus pergi ke mana?" tanya Clery.
Aku mengangguk mantap. "Ruang bawah tanah, kan?"
"Benar. Waktu kita hanya tersisa lima menit sebelum gedung ini menjadi tanah," sambung Clery. Sepertinya Anna benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Dia hanya berlari dan mendengarkan aku serta Clery berbincang.
Itu dia tempatnya!
Sebuah ruangan yang ada di ujung lorong dengan pintu yang belum terjamah. Di dalam sana ada pintu menuju ruang bawah tanah, yang tertutup oleh pintu besi yang sejajar dengan lantai. Setelah masuk ke sana, maka semua selesai. Kami akan aman.
Ritme alarm peledakan mulai berubah cepat, menambah ketegangan pada detak jantung dan produksi keringat semakin berlebih. Peringatan bom yang akan meledak dua menit lagi terdengar.
Hanya beberapa meter untuk sampai di sana, tetapi suara auman yang menggema dan mencekat tenggorokan terdengar tepat di depan kami, tepat di ujung lorong yang bercabang.
Langkah kami benar-benar terhenti seolah-olah terjebak dalam lantai yang dipenuhi oleh cairan super lengket. Tulang-tulangku bergetar hanya dengan melihat wujudnya yang sedekat ini.
Tinggi! Seram! Sial! Tuhan, aku ingin hidup! Jangan makan aku!
"Ba-bagaimana ini?!"
Aku merasakan cengkeraman di bahuku. Anna dan Clery sama-sama bersembunyi di balik pundakku, tidak tahu jika aku sama takutnya dengan mereka.
"Pe-pergilah," Entah keberanian apa yang membuatku mengatakan hal itu, padahal jelas-jelas ada monster di depan mata kami. "Aku ... aku akan coba menghalanginya."
"Apa?" seruan di kiri tempat Anna berdiri tidak membuatku bisa menatap matanya. Aku fokus mengumpulkan keberanian dengan mengamati sosok yang penuh darah itu.
Aku menelan saliva, mencoba menghilangkan batu yang menghalangi tenggorakanku bernapas. Aku mengangguk dan berkata, "Benar, akan kucoba halangi makhluk itu. Saat aku menyerang, segera pergi ke ruang bawah tanahnya."
"Kau bisa mati!"
Cerewet! Apa kedua orang ini tidak tahu jika tidak banyak waktu yang tersisa? Atau coba lihat C. rex yang berjalan semakin dekat!
Aku menyadarkan mereka, "Sekarang pilihlah! Mati dengan C. rex, hancur karena ledakan, atau hidup selamat!"
"Tapi—"
"Tenanglah, Ann! Karena aku juga masih ingin hidup!"
Aku menoleh pada Clery, mentransfer semangat hidupku padanya. Mengerti apa yang aku pikirkan, Clery menarik Anna. Sekarang aku bisa memegang besi ini dengan kedua tanganku, kuharap aku bisa menggunakannya dengan baik, seperti super hero dalam film-film pahlawan yang biasa kutonton sejak kecil.
"Dalam hitungan ketiga," aba-abaku. "Satu ... Dua ...," Aku mencengkeram besi dengan kuat, tidak memedulikan ujung jari yang memutih, atau rasa dingin di kaki dan tanganku, "Tiga!!"
Aku berlari setelah getaran menghilang dari tulangku, menerjang monster yang berteriak bersamaku. Aku melayangkan pukulan, bunyi dentingan terdengar, dan besi itu penyok sebagai akibatnya. Beruntungnya, Anna dan Clery sudah pergi melesat di belakang punggungku.
Aku menarik besi dan menusukkan benda itu di mata bulat kecilnya—meski kecil, mata itu tiga kali lebih besar dariku, lalu menariknya lagi. Suara Geraman terdengar keras dari jarak sedekat ini.
"Finn, ayo, cepat!"
Panggilan itu membuatku menoleh, keduanya sudah membuka pintu besi itu, bahkan Anna sudah masuk ke dalamnya, aku hanya bisa melihat dua pertiga bagian tubuhnya dari sini.
Sayangnya, aku tidak bisa meninggalkan tempatku. Makhluk ini terlalu kuat, jika melepaskan besi ini, mungkin aku akan terpental dan C. Rex akan memangsamu, juga Anna dan Clery.
"Richardson, waktu kita tidak banyak!"
Aku sadar dan suara peringatan ledakan bom yang hanya tersisa tiga puluh detik dari sekarang terdengar.
"Pergilah!" teriakku. "Clery, bawa Anna pergi!"
"Tidak, Finn!"
Lima belas.
"Kau harus pergi!"
Dua belas.
"Finn, aku ingin hidup denganmu! Aku tidak bisa hidup tanpamu! Tinggalkan makhluk itu dan kemarilah!"
Delapan.
"Aku juga! Kau tahu? Aku mencintaimu! Jadi, demi diriku ini, tolong tetaplah hidup!"
Lima.
Aku menatap Clery yang berkaca-kaca dari sudut pandangku, ada Anna yang meraung. Ia mengangguk dan menarik jas lab Anna, menyeretnya masuk ke dalam bunker.
Tiga.
Mataku bertatapan pada mata Anna yang berkilauan. Di detik-detik ini, aku harus tersenyum.
"Aku mencintaimu."
Pintu bunker tertutup.
Satu.
Suara ledakan yang kencang dan bunyi dengungan memenuhi otakku.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro