Epilog
Last part huhuu😭 pasti bakal kangen banget sama cerita ini🤧
Kehidupan itu beragam. Ada orang yang selalu merasakan kebahagiaan, ada juga orang yang selalu merasakan kesedihan dan kepedihan.
Ada kalanya semua itu berubah, karena itulah orang-orang biasa menyebutnya "roda kehidupan berputar."
Seperti sekarang, seorang gadis yang selama hidupnya tidak pernah merasakan bahagia kini berubah total. Walau ingatan masa lalu masih sering menghantuinya.
Ya, dia Alceena.
Lima tahun sudah Al dinyatakan sembuh dari penyakitnya. Semua itu berkat bantuan ketiga wanita yang Al sayang, Mama, Bu Nawa dan Bu Ratih. Janji Bu Nawa berhasil ia tepati, ia bisa menuntun Alceena sampai ia berhasil dinyatakan sembuh.
Dengan jubah toga wisudanya Al berjalan dengan anggun, tepat hari ini ia resmi menjadi seorang dokter bedah.
Di depannya sudah ada Rianna yang tersenyum hangat menatap putrinya. Kerutan di wajah wanita paruh baya itu semakin terlihat jelas di mata Alceena. Perlahan Al memeluknya, air mata jatuh saat mendengar Rianna berucap.
"Selamat ya, anak Mama. Mama bangga sekali sama Al," ucapnya. Alceena merenggangkan pelukan itu dan menatap kembali Rianna.
"Semua ini berkat bantuan Mama dan juga doa-doa dari Mama untuk Al, Mah. Terima kasih Mama udah jadi orang tua Al yang paling baik, Al janji Al bakal membahagiakan Mama," jawab Alceena.
"Iya sayang, sama-sama. Ya sudah yuk kita pulang," ajak Rianna sembari tersenyum manis.
***
Rianna dan Alceena sampai di rumah mereka, gadis itu melirik mamanya dan kembali menatap rumah.
"Ma, ini beneran?" tanya Alceena memastikan.
Setelah ia melihat ramainya tamu yang datang ke rumah Al semakin yakin bahwa Rianna lah yang mengundang penduduk desa. Al senang, bahkan sangat senang.
"Iya, beneran. Al senang?"
"Senang sekali, Ma." Gadis itu keluar dari mobil taxi dan berlari ke arah warga yang sudah menunggu kedatangannya. Ada salah satu sahabat Alceena yang memegang kue tar yang indah. Sifa namanya.
"Selamat ya Bu Dokter, udah sah nih jadi dokternya. Aku tau, dokter itu profesi mulia yang menyelamatkan banyak nyawa. Tangan kamu akan jadi kehidupan para pasienmu," ucap Sifa bak motivator dadakan. Alceena tertawa mendengarnya. Tak biasanya sahabatnya berfikir dewasa seperti ini.
"Kenapa kamu ketawa? Memang ada kata-kataku yang salah? Aku lama tau menghafalnya sedari tadi." Sifa memajukan bibir karena kesal. Dan itu malah membuat Alceema semakin gemas dengan tingkahnya.
"Gak kok, aku kaget aja ternyata kamu bisa juga berbicara kaya motivator di luar sana."
Sifa berdecak. "Ya sudah, tiup lilinnya. Aku pegal nih."
"Oh iya, hehe." Setelah api lilin padam terdengarlah riuh tepuk tangan di sekitarnya.
"Selamat ya Alceena."
"Congrats Kak Al."
"Cie udah jadi dokter, nih."
"Yeeeeee!"
"Terima kasih semuanya," jawab Alceena.
"Yuk kita masuk, makanannya sudah siap!" teriak Bu Ratih dan Bu Nawa dari pintu, semuanya pun masuk ke rumah Alceena dan Rianna. Menikmati hidangan sembari bercanda ria.
Tuhan, terima kasih telah mengirimkan orang-orang baik ke dalam kehidupan Al. Ayah, Bunda. Al sudah bahagia, benar kata Bunda saat kita bertemu di mimpi, bahwa masih ada yang peduli pada Al. Terima kasih telah melahirkan Al, tunggu Al ya, kita pasti akan bertemu suatu saat nanti.
Dan untuk Papa, Eveline dan Fieta. Al sudah maafkan kalian, Al selalu berdoa agar Tuhan mau memaafkan kesalahan kalian semasa kalian hidup di dunia.
Ditulis bersama chynthiach
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro