Chapter 5 • Recurring Problems
Sebelum baca, bisa voment dulu yaa✨
Alceena baru saja memasuki kamarnya. Belum sempat ia merebahkan tubuh, suara teriakan dari kamar sebelah telah menggema di seluruh penjuru lantai dua.
Dengan cepat, ia segara menghampiri kamar yang ada di sebelah. Kamar yang didominasi warna ungu dengan bermacam-macam hiasan di dindingnya. Tak lupa kasur berukuran besar dengan barang-barang yang berserakan di atasnya. Pintu walk in closet-nya pun terbuka, menampakkan banyak baju yang berhamburan di lantai. Ditambah lagi berbagai peralatan make up di atas meja rias yang berserakan.
Alceena dapat melihat adiknya tengah duduk di atas ayunan kayu berwarna putih dengan kaki yang disilangkan dan ponsel pintar di tangan. Entah apa yang dia lakukan, yang jelas Alceena muak melihatnya.
"ALCEENA!!!" teriak Eveline dengan suara yang memekakkan telinga, Alceena harus menutup telinga agar pendengarannya tetap sehat.
"Aku di sini," sahut Alceena pelan. Kakinya melangkah memasuki kamar yang berantakan ini.
Setelah mendengar suara Alceena yang ada di belakangnya, Eveline langsung membalik badan. Gadis itu langsung tersenyum miring setelah melihat kakaknya yang telah berjalan masuk ke kamarnya.
"Bagus, lo sudah ada di sini." Eveline bangkit dari duduknya. Ia masukkan ponsel pintarnya ke dalam saku, setelah itu berjalan mendekati Alceena.
"Lo bisa lihatkan? Kamar ini butuh sentuhan pembantu supaya bersih. Sayang, papa gak pernah setuju buat nyari pembantu," ucap Eveline sambil menatap kamarnya sendiri.
"Tapi sekarang gue ngerti, kenapa papa gak setuju. Jawabannya itu karena lo," sambung Eveline.
"Hah? Aku?" tanya Alceena tak mengerti.
"Iya, lo. Wajah lo kan cocok buat jadi pembantu. Lagian gak akan ada kerjaan yang cocok buat anak autis kaya lo. Pantas aja sih, papa sebenci itu sama lo," ucap Eveline menusuk.
Alceena bungkam setelah mendengarnya. Kedua telapak tangannya mulai mengepal di sisi tubuh.
"Udahlah, mending lo mulai kerjain aja. Gue mau keluar." Eveline berjalan meninggalkan Alceena. Ia memasuki walk in closet dan menginjak beberapa pakaian yang berserakan di lantai dengan sepatu sekolahnya. Alceena terpaku melihatnya.
"Ups, kotor," ucap Eveline tanpa rasa bersalah setelah melewati pakaian yang ia injak. "Al, cuciin baju ini, ga sengaja barusan gue injek. Lo kenapa gak ngasih tau gue sih kalo ada baju di lantai?"
Alceena mendengus pelan. Ia menahan kesal setengah mati. Gadis itu benar-benar tidak tahu sopan santun.
"Percuma. Sekalipun aku kasih tahu, kamu gak akan peduli," jawab Alceena. Kemudian ia berjalan ke walk in closet.
"Eh, bener juga lo. Baru kali ini otak lo bisa dipakai," celetuk Eveline tanpa dosa.
Alceena hanya diam tak ingin menanggapi. Ia mengambil beberapa helai pakaian yang tergeletak mengenaskan di lantai. Kemudian memasukkannya ke dalam keranjang cucian, lalu kembali lagi untuk menyusun beberapa sepatu yang Eveline biarkan berhamburan.
Sayang sekali, padahal sepatu-sepatu ini sangat bermerk, harganya pun tak main-main. Betapa beruntungnya gadis itu begitu disayangi papa dan mama. Berbeda dengan dirinya. Tak ada ruangan semewah ini di kamarnya. Adanya hanya sebuah lemari berwarna putih polos dengan cermin di salah satu pintunya. Tak ada meja rias, yang ada hanya meja belajar.
Jelas, kamar Eveline jauh lebih besar daripada kamarnya sendiri. Padahal, Alceena lah kakak tertua di sini.
"Selesai beresin baju, lo beresin kasur gue. Setelah itu meja rias gue. Jangan sampai ada yang pecah apalagi patah. Gue pites lo, kalau gue liat lipstik gue terbelah jadi dua!" ancam Eveline sambil melirik Alceena tajam dari ujung matanya.
"Iya, gue bakal hati-hati," jawab Alceena mengiyakan saja.
"Bagus. Awas, gue mau lewat." Tanpa Alceena sadari, rupanya Eveline telah memilih pakaian yang akan ia kenakan untuk pergi. Salah satu tangannya membawa pakaian berwarna ungu dan putih yang masih menggantung pada gantungan baju.
Style Eveline ini sangat kekinian. Ia selalu mengikuti perkembangan zaman. Seperti akhir-akhir ini, banyak gadis yang suka berpakaian warna ungu dipadukan dengan celana berbahan kain dengan warna putih, ataupun sebaliknya.
"Al, ambilin sepatu gue yang warna putih garis ungu di lemari sepatu!" titah Eveline dari dalam kamar mandi.
Alceena menghela napas pelan. Dengan langkah terpaksa, gadis itu berjalan mendekati lemari sepatu. Begitu pintu lemari di geser, ia langsung mendapati puluhan pasang sepatu yang berjejer rapi di sana. Matanya sampai kesulitan untuk mendapatkan sepatu putih dengan garis ungu, karena salah satu rak berisi sepatu berwarna putih semua.
"Hayo ngapain?" sapa seseorang secara tiba-tiba di sebelahnya.
Alceena berjingkat kaget saat merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. "El?! Dari mana aja? Aku nungguin tau."
"Ya maaf, aku belum bisa nemuin kamu tadi," jawab El dengan raut wajah bersalah.
"Males ah sama kamu." Alceena membuang muka dan beralih menatap jejeran sepatu di depannya.
"Maaf Al, aku ada urusan tadi. Please, jangan marah," bujuk El.
"Hm," gumam Alceena.
"Kamu nyari apa sih? Kelihatannya serius banget," tanya El penasaran.
"Sepatu putih dengan garis ungu. Bantu cari dong. Nanti kalau kamu yang temuin, aku maafin kamu," ucap Alceena memberi penawaran. Dengan penuh semangat, El membalas, "oke!"
Tak butuh waktu lama, El langsung menemukan sepatu yang dimaksud. Ia langsung berteriak kegirangan dan mengambil sepatu itu untuk diberikan pada Alceena. "YEAY! AKU NEMU NIH!"
"Pokoknya habis ini Al gak boleh marah lagi sama aku!" teriaknya girang.
"Oke-oke, aku gak marah lagi sama kamu." Alceena tersenyum saat melihat El melakukan selebrasi.
Gadis itu menari seperti kebanyakan orang di aplikasi ternama. Ia menggerakkan pinggul, pundak, serta tangan secara bergantian. Raut wajahnya terlihat sangat ceria, membuat Alceena merasa terhibur karena kehadirannya.
"Jogetnya sudah dong, El," ucap Alceena menghentikan pergerakan El.
"Aku lagi seneng, jangan ganggu dong!" El melepaskan tangan Alceena yang menahan pundaknya. Lalu ia kembali melanjutkan tariannya.
"Sudah El, kamu ini ada-ada saja!" ucap Alceena lagi.
"WOI! LO NGOMONG SAMA SIAPA, HAH?!" Suara bentakan di ambang pintu walk in closet membuat Alceena terkejut bukan main. Gadis itu segera membalikkan badan dan menemukan Eveline dengan pakaian yang telah rapi berdiri dengan wajah merah padam menahan kesal.
"Eveline?" tanyanya masih dalam keadaan terkejut.
"Gue cuma minta lo ambil sepatu gue, Alceena, bukan minta lo beliin sepatu. Gitu aja lama kaya siput!" lontarnya penuh amarah.
"Udah gitu lo pakai acara ngobrol segala. Lo kira lo ini dukun yang bisa ngobrol sama setan?" tanya Eveline penuh dengan nada sindiran.
"Dia bukan setan," kilah Alceena tak terima.
Eveline berjalan mendekati Alceena sambil memandangi wajah gadis itu yang masih shock di tempat. Lalu, ia mengedarkan pandangan seolah mencari sesuatu. Hanya ada lemari serta sepatu yang terlihat di sana. Tidak ada sosok manusia. Jadi, bagaimana ia bisa percaya pada ucapan kakaknya ini?
"Terus apa? Malaikat?" tanya Eveline meremehkan.
"Bukan. Kamu gak ngerti, jadi gak usah sok mengurusi hidup aku," balas Alceena menatap nyalang mata Eveline.
"Oh, mulai berani rupanya. Sekali gue aduin ke papa, paling lo langsung tumbang. Cih," desis Eveline sambil memutar bola mata.
"Denger ya." Tiba-tiba Eveline langsung mendorong Alceena hingga punggungnya menabrak lemari sepatu. Tatapan mata Eveline menyiratkan kemarahan yang begitu dalam. "Lo itu udah autis, bodoh, gak berguna, tapi kelakuan lo itu masih aja bikin orang ilfeel. Apa gue harus bunuh lo supaya lo menghilang dari muka bumi?"
Tangan kanan Eveline kini telah bertengger di lehernya. Perempuan itu terus mengetatkan cengkraman tangannya hingga terasa mencekik leher Alceena.
"To--tolong le--lepasin," rintih Alceena kesakitan.
"Lo gak tau apa, seberapa malunya gue punya kakak autis kaya lo? Lo gak punya temen, lo dijauhin orang-orang, apa kata mereka kalau mereka tahu ternyata lo suka ngomong sendiri kaya gini? Lo mau bikin gue makin gak punya harga diri, hah?!?!"
Cekalan tangan di leher Alceena semakin mengetat, membuat Alceena merasa kehabisan napas. Ia berusaha melepaskan tangan Eveline susah payah, tapi apalah daya tubuhnya telah melemah karena kehabisan nafas. "A--aku gak bi--bisa nafas, Eve."
"Arghh, mati aja lo temennya setan!" umpat Eveline benar-benar di puncak kekesalannya.
Alunan lagu berjudul Yummy milik Justin Bieber tiba-tiba menggema. Dengan nafas yang masih memburu, Eveline melepaskan cekalan tangan dari leher Alceena dan beralih mengangkat telepon yang masuk. Setelah menggeser tombol berwarna hijau, gadis itu segera menempelkannya di telinga.
"Iya, sebentar lagi gue otewe," ucap Eveline saat telepon telah terhubung.
"Bye." Gadis itu segera mematikan telepon dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Setelah itu, ia melirik Alceena yang tengah terduduk melalui ujung matanya.
"Untung selamat lo." Setelah itu, Eveline melangkah keluar walk in closet dengan kekesalan yang masih tersisa.
"Jangan lupa, kamar gue harus sudah bersih pas gue pulang nanti!"
Suara Evelyn dari ambang pintu sayup-sayup masih Alceena dengar. Alceena tak mampu membalas ucapan gadis itu. Dadanya terasa sesak karena kekurangan pasokan oksigen. Tubuhnya terasa lemas sekali. Darahnya seolah sempat berhenti mengalir. Tanpa sadar, air matanya mengalir di pipi.
"El, kenapa kamu lakuin ini ke aku?" rintihnya pelan.
Thank you all✨
Jangan lupa, kalau ada typo, ketidaklogisan, atau hal yang tidak sesuai bisa diingatkan ya.
Ditulis bersama chynthiach
See u next chapter!
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro