Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 15 • Friend

Akhirnya bisa up🤸 sungguh kebahagiaan yang warrrbyaasaah!

Jangan lupa vote komen yaa!

Setibanya di pusat Desa, Al langsung membantu Bu Ratih menjajakan jualannya. Rupanya Bu Ratih juga berjualan di sini. Sebuah meja kayu dengan atap yang terbuat dari terpal disulap menjadi bilik kecil layaknya warung di pinggir jalan.

Pikiran Al masih berkelana pada kumpulan tadi. Sekilas ia memikirkan keadaannya yang akhir-akhir ini sedang dalam kondisi buruk. Namun, ia tak ingin menceritakannya pada Bu Ratih. Meskipun beliau sangat baik, bukan berarti Al bisa dengan mudahnya percaya lagi pada seseorang.

Setelah dagangan Bu Ratih dirapikan, Alceena duduk di sebuah kursi plastik yang disediakan. Ia akan membantu Bu Ratih berjualan hari ini sambil memperhatikan bagaimana cara penduduk di sini bersosialisasi.

Ya, seumur hidupnya,  Alceena tidak pernah bersosialisasi. Kata Papa dia berbeda, dan ... Dia bodoh. Wajah garang sang Papa mendadak muncul di benaknya.

Bu Ratih yang melihat Alceena melamun pun langsung menepuk pundaknya pelan. Ini bukan pertama kalinya gadis itu melamun. Sepertinya ia memiliki cobaan hidup yang berat, tapi apalah daya jika dia tak ingin berbagi dengan Bu Ratih, maka Bu Ratih tidak bisa memaksa.

"Al, Ibu ke sana dulu ya," ucap Bu Ratih sembari menunjuk salah satu jalan ke arah rumah besar yang sedang ramai itu.

"Ibu mau pemeriksaan?" tanya Alceena bingung.

"Iya lah, masa mau ngutang. Hehe," kekeh Bu Ratih.

Alceena hanya tersenyum simpul. "Hati-hati, Bu," balasnya kemudian.

Bu Ratih mengacungkan jempol dengan semangat. "Siap! Oh ya, jangan lupa ya harganya seperti yang Ibu jelaskan tadi malam," ucap Bu Ratih sedikit berteriak karena telah menjauh beberapa langkah.

"Iya, Bu," jawab Alceena singkat. Gadis itu kembali terduduk sambil menatap nanar pada kue dagangan Bu Ratih di atas meja. Pikirannya melayang pada orang-orang di rumah.

Tapi tunggu dulu, orang di rumah? Bahkan Alceena sendiri tak tahu yang mana rumahnya sekarang. Apakah bersama Bu Ratih? Ataukah dengan Mama Rianna? Alceena tertawa miris mengingatnya.

Lupakan. Jalani saja apa yang ada. Hidup akan selalu bergerak ke depan. Jika Tuhan masih berniat untuk mengujinya, percayalah Alceena pasti bisa melewatinya. Semoga saja.

"Teh manisnya satu ya, Bu!" ucap seseorang di depan meja, sepertinya beliau mengira bahwa Bu Ratih yang sedang menjaga warung.

Alceena yang masih melamun, tak menyadari kehadiran orang tersebut.

"Bu Rat—lho kok jadi anak muda begini?!" pekiknya terkejut hingga menarik perhatian beberapa warga yang berlalu lalang hendak ke rumah besar itu.

"Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Al tersadar.

"Ah iya, saya pesan teh manis satu," ucapnya lagi.

Alceena menatapnya bingung. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata coklat yang bertengger di wajahnya. Tak lupa kemeja beserta rok lipit-lipit berwarna hitam yang terkesan santai, namun tetap rapi. Serta senyum menawannya memberikan karisma yang berbeda. Meskipun sudah berumur, wajahnya terlihat sangat cerah dilingkari hijab di kepala.

Alceena berdecak kagum. Bahkan auranya saja terasa berbeda. Seperti seseorang yang berwibawa. Apakah beliau ini seorang anggota dewan? Atau mungkin dia adalah pebisnis ulung? Kelihatannya ia sangat berwibawa.

"Halo, Dik? Saya pesan teh manis satu minum di sini," ulangnya lagi karena tak mendapat respon apapun dari Alceena.

Lagi-lagi Alceena tersadar. Entah ke berapa kalinya di jam yang sama, gadis itu tenggelam dalam lamunan yang fana.

"Ma--maaf, Bu. Sebentar saya buatkan," ucap Alceena gelagapan.

Gadis itu segera berbalik badan dan mulai menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Sedangkan wanita paruh baya tadi, menarik kursi kayu yang disediakan di depan warung dan duduk sambil mengamati pergerakan Alceena.

"Dik, itu gulanya kebanyakan! Dua sendok saja cukup," tegur wanita itu lagi. Alceena kembali gelagapan karena tak sengaja melamun di waktu yang salah.

Akhir-akhir ini banyak hal yang membuat Alceena semakin suka melamun dan sulit berkonsentrasi.

Ia menuangkan air panas ke dalam gelas. Lalu mengaduknya perlahan, setelah itu menambahkan sedikit air dengan suhu netral. Aroma seduhan daun teh yang begitu menyengat sungguhlah nikmat. Dengan hati-hati, gadis itu mengantarkan pesanan milik wanita paruh baya tadi.

"Duduk dulu yuk, temenin saya ngobrol!" ajaknya sambil menahan langkah kaki Alceena. Gadis itu langsung berbalik badan dan menatap wanita paruh baya tadi aneh.

"Kelihatannya yang lain masih pada sibuk periksa kesehatan di sana, jadi kamu temenin saya istirahat dulu di sini," ujarnya lagi. Alceena hanya diam, namun tubuhnya tetap mengikuti kemauan wanita paruh baya itu.

"Kelihatannya kamu bukan orang sini ya?" tanya wanita itu mengawali percakapan. Jelas, Alceena mengernyit bingung.

"Iya, Bu. Kok Ibu tahu?" tanyanya heran.

"Dari wajah kamu kelihatan kalau bukan orang sini. Saya gak familiar soalnya," jawab wanita itu santai.

"Ibu sering ke sini ya?" tanya Alceena penasaran.

"Bisa dibilang, iya. Hampir setiap bulan saya ditugaskan ke sini untuk mengadakan pemeriksaan gratis. Jadi, saya banyak tahu soal warga-warga sini juga," jawab wanita itu.

Alceena terperangah mendengarnya. Berarti ibu itu adalah seorang dokter? Pantas saja memiliki aura yang berbeda.

"Ibu dokter?" tanya Alceena masih tak percaya. Wanita itu tersenyum tipis melihat respon Alceena yang tampak terkejut. Memangnya gadis itu tak menyadari ya, kalau sejak tadi wanita paruh baya itu memakai name tag bertuliskan nama dan profesi di dada kanannya.

"Bisa dibilang gitu. Oh ya, nama kamu siapa? Supaya saya enak panggilnya," gantian Ibu itu yang bertanya.

"Al--Alceena," jawab Alceena tergagap. Mendadak ia panas dingin karena di hadapannya ini seorang dokter. Seumur hidup, ia tidak pernah bertemu dengan dokter. Sekali sakit, ia hanya dirawat di rumah.

"Bu Dokter sendiri?" tanya Alceena balik.

"Eh, saya tidak sepenuhnya dokter, Alceena," sela wanita itu.

"Lalu?" tanya Alceena bingung.

"Psikolog." Alceena melongo mendengarnya. Apa itu? Ia tidak tahu. Yang jelas itu terdengar keren di telinga Alceena.

"Nama Bu Psikolog siapa?" tanya Alceena mengulangi pertanyaannya.

Wanita itu terkekeh mendengar sebutan Al untuknya. " Nawa. Panggil saja Bu Nawa."

"Oke," balas Alceena pelan.

"Alceena dulunya tinggal di mana?" tanya Bu Nawa lagi. Seolah mereka tengah berada di reality show karena Alceena terus diberi pertanyaan.

"Di ..." Gadis itu tak langsung menjawab. Ia bingung. Apakah perlu dia sebutkan alamat rumah Papanya itu?

Melihat wajah Alceena yang ragu, Bu Nawa tersenyum maklum.

"Oke, tidak apa-apa kalo Al belum bisa jawab. Ganti yang lain aja pertanyaannya ya. Kenapa bisa sampai ke sini?" tanya Bu Nawa lagi.

Alceena menatap wanita paruh baya itu lekat. Seperti menyiratkan sesuatu yang sangat besar.

"Dibawa Pak Udin ke sini," jawab Alceena, "Pak Udin itu adiknya Bu Ratih."

Bu Nawa mengangguk mengerti, tetapi sedetik kemudian dahinya tampak berkerut. "Kenapa bisa dibawa Pak Udin?"

"Saya kabur dari rumah terus ketemu Pak Udin yang jadi sopir taksi online saya," jelas Alceena. Kalimat terpanjang yang berhasil ia ucapkan pada wanita itu.

Setelah jawaban Alceena, keduanya sama-sama terdiam. Bergelut dengan pikiran masing-masing. Terlihat dari wajah Alceena yang takut jika ditanya lebih lanjut. Maka dari itu, Bu Nawa segera menyudahi obrolannya.

"Sepertinya jam istirahat saya sudah hampir habis. Terimakasih untuk tehnya, Al." Alceena menghembuskan nafas lega, sedangkan Bu Nawa tersenyum mengerti.

"Semoga kita bertemu lagi, Al." Bu Nawa menandaskan secangkir tehnya, lalu bangkit berdiri.

Alceena ikut bangkit. Ia berdiri kaku di seberang Bu Nawa sambil memainkan tangan diam-diam. Apa yang dilakukannya pun tak luput dari perhatian Bu Nawa.

"Kalau kamu ada masalah, saya siap mendengarkan cerita kamu. Saya di sini sampai seminggu. Kamu tahu, sudah menjadi tugas seorang psikolog untuk menyimpan rahasia temannya," ujar Bu Nawa memberi pengertian.

Alceena langsung mengangkat kepalanya. Menatap Bu Nawa dengan raut tak terbaca. "Teman?"

"Iya. Saya percaya kamu sebagai teman saya dan kamu bisa percaya dengan saya," jawab Bu Nawa dengan senyum tulusnya.

Alceena terpaku mendengarnya, hingga tak sadar, wanita paruh baya itu telah meninggalkannya dengan  sisa elusan Di pundak Al.

***

Ucapan Bu Nawa jelas memberikan pengaruh yang besar bagi Alceena. Gadis itu jadi lebih sering melamun sekarang, hingga membuat Bu Ratih semakin khawatir dengan Al.

"Al, kenapa jadi semakin sering melamun?" tanya Bu Ratih sambil mendekati Alceena.

Alceena yang menyadari Bu Ratih berada di sampingnya langsung memberikan ruang agar Bu Ratih bisa duduk bersebelahan di teras.

"Ibu kenal Bu Nawa?" Bukannya menjawab, Alceena justru kembali mengajukan pertanyaan.

Bu Ratih menatap Alceena yang tengah memandang kosong tanaman-tanaman di depannya. Ia merasa sedih dengan keadaan gadis ini.

"Iya. Bu Nawa itu seorang psikolog, Al. Beliau bisa lebih kamu percaya daripada Ibu. Ibu pikir, kamu butuh seseorang untuk bersandar," jawab Bu Ratih.

"Kalau bukan Ibu orangnya, setidaknya izinkan Bu Nawa menjadi tempatmu bersandar ya," lanjut beliau lagi.

Tatapan teduhnya membuat Alceena langsung menumpahkan perasaan yang selama ini ia pendam. Rasa takut, khawatir, bersalah, kecewa, dan marah terus berkecamuk dalam benaknya. Sepertinya benar kata Bu Ratih, dia butuh tempat bersandar.

Akhirnya malam itu, dihabiskan keduanya dengan menatap langit sambil berpelukan.

***

Seharian ini, Al tidak menemukan Bu Nawa di warung milik Bu Ratih. Sepertinya posko kesehatan sedang sibuk-sibuknya. Ia berusaha mengerti, meskipun kepalanya ingin pecah karena memikirkan begitu banyak hal yang perlu ia curahkan.

Sampai tiba saatnya langit jingga menyapa. Semburat merahnya menghiasi garis cakrawala begitu indahnya. Dengan langkah pelan, Alceena menyusuri jalanan menuju kembali ke rumah. Ia seorang diri sekarang karena Bu Ratih sedang membantu di rumah besar itu.

Teedengar suara tapak kaki menggema bersahutan dengan langkahnya. Alceena yang awalnya tak menyadari pun baru berhenti saat bayangan hitam mulai mengikutinya.

Gadis itu berbalik badan. Betapa terkejutnya ia menemukan Bu Nawa dengan wajah bersalahnya.

"Bu Nawa ..." Lirih Alceena.

"Maaf saya lama. Kita ke rumah Bu Ratih saja ya. Kamu pasti butuh lebih banyak privasi."

Keduanya pun kembali berjalan hingga tiba di rumah Bu Ratih.

Detik-detik menuju ending, nih. Huhuuuu 😭  siap-siap buat say goodbye sama Al🤧

See u next chapter!

Ditulis bersama chynthiach

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro