9 - Hilang
Happy Reading^^
Semenjak pertanyaan ambigu dari bang Gani beberapa hari yang lalu, rasanya dia jadi canggung jika dekat dengan ku. Aku sih menanggapi nya biasa aja. Bukan karena aku bodoh, tidak peka, atau apapun itu. Hanya saja aku tidak mau terlibat awkward moment dengan kolega ku sendiri. Kalau mas Arga kan lain cerita.
"Mas Arga nanti ke datang kan ke acara ulang tahun perusahaan?" tanya ku. Saat ini kami tengah berjalan di lobby menuju kantor setelah sebelumnya menemui klien di luar. Perusahaan yang di maksud adalah perusahaan keluarga ku.
"Iya," jawabnya singkat.
"Mau bareng sama aku gak?" tanyaku.
"Enggak!" tolaknya langsung.
Aku hanya mengerucutkan bibir ku karena kesal dengan jawabannya.
"Mas," panggilku dan dia pun menoleh.
"Loh, wajah kamu pucat. Mas lagi sakit?" tanya ku berusaha menempelkan telapak tanganku ke keningnya tapi dia dengan sigap menghindar.
"Enggak. Saya cuma cape aja," jawabnya dan keluar dari lift tanpa perlu repot-repot melihat ke arahku.
***
Sudah dua jam acara berlangsung. Aku duduk sendiri memisahkan diri dari keluarga ku setelah sebelumnya sangat kecapean karena harus mengenalkan diri pada orang-orang yang menghampiri keluarga ku.
Anehnya dari tadi aku tidak bertemu mas Arga. Apa dia tidak datang?
Akhirnya ku putuskan untuk menghubunginya saja.
Satu kali
Dua kali
Tiga kali
Tidak ada jawaban. Aku pun cukup tahu diri dengan tidak menghubunginya lagi.
Aku menatap bosan orang-orang yang tengah sibuk dengan kegiatan mengobrolnya. El tidak datang walaupun orang tuanya ada. Semenjak dia bekerja menjadi lawyer kegiatannya menjadi sangat padat.
Instagram menjadi pilihan ku untuk mengusir sedikit rasa bosan. Aku melihat akun mas Arga dan hanya menampilkan sedikit foto. Walaupun followers nya banyak, tapi mas Arga sepertinya tidak terlalu tertarik dengan media sosial.
Aku pun iseng mengunggah foto yang tadi sempat diambil oleh fotografer andalan ku yaitu kak Arkan.
@rainaputri_ballafavian
Saya tahu saya tidak sempurna, tapi bisakah kita saling menyempurnakan?
Taken by : @arkanaputra_ballafavian #hutballacompany
"Sudah tante duga kamu akan menyepi sendirian."
Aku menoleh dan tersenyum ke arah tante Hanin, istrinya om Bian adik mommy.
"Ateu kok sendirian?" tanyaku. Pasalnya om Bian sangat jarang membiarkan istrinya ini lepas dari pandangannya.
"Ayah anak-anak dibawa paksa sama tante Ashilla," jawab tante Hanin sambil terkikik.
Tante Ashilla yang dimaksud adalah oma Ashilla, adiknya opa aku.
"Om Bian masih keukeuh gak mau jadi direktur rumah sakit?" tanyaku sambil terkekeh dan hanya di jawab anggukan oleh tante Hanin.
"Dia akhir-akhir ini justru bilang ingin buka praktek sendiri aja," ujar tante Hanin.
Aku paham sih, di usia yang sudah tidak muda lagi biasanya kan orang ingin menghabiskan banyak waktu dengan keluarga dan mulai mengurangi aktivitas pekerjaan. Lagi pula aku yakin, tanpa bekerja lagi pun uang om Bian sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarganya. Daddy pun sebenarnya enggan untuk menerima posisi direktur utama, tapi apa daya hanya daddy satu-satunya harapan opa untuk saat ini. Kak Arkan kan masih tahap belajar.
"Aku cari-cari kamu ternyata di sini." Aku memutar bola mata malas begitu melihat om Bian yang langsung berbicara dan merangkul tante Hanin.
"Kenapa Rain? Ngiri ya?" goda om Bian sambil melirik ke arahku.
"Om sadar umur apa? Jangan julid!" ujarku.
"Kamu galau ya? Pake ngepost foto di instagram pake caption kek gitu," ucap om Bian tidak berhenti menggoda ku.
"Semua orang memiliki hak untuk mengeluarkan pendapatnya. Caption adalah salah satu hak mengeluarkan pendapat, dan pemikiran," ucapku. Aku bicara gini kok jadi keinget mas Arga ya? Dia di mana sih?
"Berat emang kalau bicara sama calon advokat," ucap om Bian sambil terkekeh.
"Udahlah Om, Rain cape di godain mulu. Tante, Rain permisi dulu ya mau ke oma," pamitku.
Setelah itu aku berjalan mencari keberadaan oma, dan yang kulihat hanya pemandangan serupa. Oma dan opa yang sedang duduk sambil berpegangan tangan. Aku pun memutuskan untuk mencari mommy, tapi yang kulihat hanyalah beliau yang tengah berbincang asik dengan seorang perempuan dengan tangan yang berada di gandengan daddy.
Oh my God! Bukankah di hadapan keluarga ku pun aku terlihat ngenes?
Kuputuskan untuk menghampiri kak Arkan saja yang seperti biasa tengah di dekati beberapa wanita yang cari perhatian.
Aku langsung menggandeng tangannya, dan tampaknya kak Arkan terkejut. Dia langsung menoleh ke arahku dan tersenyum begitu mengetahui bahwa aku yang berada di sampingnya.
"Dari mana aja?" tanya kak Arkan.
"Keliling melihat ke uwu an keluarga kita," jawabku sambil mendengkus pelan.
Kak Arkan terkekeh dan menjawil hidung ku.
"Ish Kakak!" protesku dan hanya di balas tawa pelan.
Beberapa perempuan di sekitar kami memandang ku dengan tatapan, iri?
Aku hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. Jangan harap bisa mendekati kakak ku seperti ini. Calon pewaris perusahaan yang masih muda, belum pernah terlibat skandal percintaan, dan pembawaannya yang menawan, wanita mana coba yang hatinya tidak akan tertawan?
***
Sudah hampir tengah hari dan aku belum melihat mas Arga sama sekali. Padahal pukul dua nanti kami harus bertemu dengan salah satu klien yang ingin berkonsultasi. Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali tapi tak ada jawaban. Whatsapp dari ku pun belum dia baca.
"Mbak, ada pesan dari mas Arga, tidak?" tanyaku pada mbak Sri. Sebagian orang-orang di sini memang sudah mengetahui panggilan ku terhadap mas Arga, walaupun pada awalnya banyak kaum perempuan di sini yang nyinyir kepada ku.
"Gak ada Rain. Bang Bima kemana ya tumben gak ada kabar. Padahal kemarin dia minta saya untuk mengetik ulang semua dokumen perjanjian PT Yessi," jawabnya.
Entah kenapa feeling ku tidak enak untuk hal ini.
"Ok deh Mbak, makasih ya Mbak," ucapku dan keluar dari ruangan sekretaris.
"Rain!" aku menoleh dan rupanya yang memanggil ku itu pak Gading, salah satu senior partner.
Canggung rasanya kalau aku harus manggil bang pada beliau karena usianya mungkin sama dengan daddy aku. Aku pun baru bertemu ketiga kalinya sekarang dengan beliau, waktu pertama bertemu itu di luar kantor ketika aku baru pulang dari bertemu klien bersama mas Arga dan tak sengaja bertemu beliau. Kedua kalinya aku bertemu adalah semalam, di acara pesta Balla Company. Rupanya beliau adalah salah satu koleganya daddy. Bertemu atau bahkan dikenal oleh seorang partner bagi anak magang seperti ku adalah hal langka.
"Iya Pak," jawab ku sopan.
"Kamu masih aja panggil Bapak," ucapnya sambil terkekeh dan hanya ku balas dengan senyuman.
"Bima kemana ya? Saya hubungi kok enggak bisa. Saya mau ambil dokumen tentang akuisisi Nirwana Corp," tanyanya.
Tuhkan ini hal yang benar-benar tidak biasa! Tidak mungkin mas Arga mengabaikan panggilan dari seorang senior partner. Kalau panggilan aku sih sangat mungkin.
"Dokumennya urgent banget ya Pak?" tanyaku dan dibalas anggukan.
"Kalau saya tahu di mana dia simpan, mau saya ambil aja," ujar Pak Gading.
"Saya boleh ambilkan tidak Pak? Kebetulan saya tahu," izinku. Kemarin aku memang kebetulan sedang bersama mas Arga ketika dia menyelesaikan dokumen itu. Kalau dia tidak pindahkan, dokumennya ada di laci nomor tiga.
"Ok, saya antar kamu ke ruangannya," ucap pak Gading menyetujui.
"Mari Pak," ajakku dan mempersilahkan beliau jalan terlebih dahulu.
Setelah menyelesaikan urusan dengan pak Gading aku pun kembali ke ruangan ku. Ku coba menghubungi kembali mas Arga, tapi hasilnya nihil! Dia kenapa sih?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro