Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

6 - Masih Single

Happy Reading^^

Sudah hampir dua minggu aku magang di sini dan selama ini pula aku tidak pernah melihat mas Arga. Entah karena memang kami tidak kebetulan berpapasan, atau mungkin karena dia terlalu sibuk di luar. Kebanyakan lawyer di sini memang sering sekali bekerja di luar kantor.

Tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu, apa mungkin dia sudah tidak bekerja di sini? Syukurlah jika memang benar.

"Bi, kamu kenal sama yang namanya Abimana Arga Satya gak?" tanyaku pada Geby yang tengah makan.

Saat ini adalah jam istirahat dan kami berada di cafetaria yang berada di lantai satu. Gedung ini entah ada berapa lantai, dan yang menghuni tiap lantainya itu perusahaan yang berbeda-beda. Tahu sendiri kan firma kami berada di lantai 22.

"Bang Bima?" pertanyaan Geby hampir membuat aku tersedak kopi yang sedang aku minum.

"Jadi beliau masih kerja di sini?" aku malah melempar pertanyaan balik.

"Lah, lo udah kenal doi?" tanya Geby dan aku hanya mengangguk lemas.

"Doi kan salah satu senior associate di sini. Emang sih akhir-akhir ini jarang ke kantor karena kerjaannya lebih banyak di luar," ucap Geby menjelaskan dan aku pun hanya ber oh ria.

"Bi, istrinya pernah ke sini gak sih?" pancingku. Entah kenapa sampai saat ini pun bagian terdalam hatiku masih meyakini bahwa mas Arga itu belum menikah.

"Istri? Ngawur lo!" ujar Geby sambil tertawa. Aku hanya mengerutkan kening karena bingung, tapi sisi positif dalam diriku mengartikan lain.

"Doi belum nikah, dan seluruh kantor tahu itu. Makannya orang-orang pada bilang pantas aja masih jomblo, terlalu perfeksionis sih," ucap Geby lagi. Dan itu membuat senyum terbit di wajahku.

"Kenapa wajah lo tiba-tiba sumringah gitu? Lo mau naksir bang Bima?" tanya Geby dengan ekspresi menyelidik.

"Kagak Bi! Gue cuma kepikiran sesuatu aja." Bohongku.

"Lo kalau mau naksir doi mending pikir-pikir lagi deh," saran Geby.

"Kenapa?" tanyaku penasaran.

"Hampir semua lawyer perempuan yang masih single itu naksir sama bang Bima, begitu pun dengan para sekretaris. Namun mengingat bagaimana perfeksionis dan cabenya mulut bang Bima, kayanya gak ada yang berani terang-terangan deketin doi. Ya paling cuma caper-caper manja aja," jawab Geby sambil terkikik geli.

Aku menyetujui sih dalam hati tentang cabe nya mulut mas Arga. Dia kan dulu juga suka gitu kalau bicara denganku. Tapi sekarang kepercayaan diriku kembali lagi setelah mengetahui bahwa mas Arga masih single. Misi ku kali ini adalah membuat mulut cabe mas Arga berubah menjadi semanis gulali.

***

"Kamu jadi penguntit saya?" aku begitu terkejut ketika mas Arga tiba-tiba berdiri di hadapanku yang baru keluar dari ruangan bang Gani. Tapi pertanyaan nya jauh membuat ku terkejut dari pada keberadaannya. Penguntit? Dia pikir dirinya idol!

"Menuduh orang sembarangan bisa kena pidana Mas," jawabku asal dan dia hanya mendengkus.

"Nih." ucapku lagi sambil memperlihatkan id card ku dengan sombong.

"Raina! Eh, bang Bima di sini juga." Mbak Ajeng yang merupakan hrd di sini menghampiri kami.

"Ada apa Mbak?" tanyaku.

"Saya mau bawa kamu ke lawyer pendamping, tapi rupanya udah ketemu di sini." Jawaban mbak Ajeng membuat otakku sedikit berpikir.

"Saya jadi pendamping dia Jeng?" tanya mas Arga yang bernada lebih ke arah protes.

"Iya Bang Bim. Saya udah lihat resume Raina dan sepertinya dia akan cocok bekerja dengan Bang Bima." Rasanya aku ingin mengatakan, bukan hanya cocok sebagai partner kerja mbak, partner hidup pun cocok.

"Bang Bima kan sibuk banget, jadi dengan adanya Raina bisa meringankan beban Bang Bim. Lagi pula bahasa inggrisnya Raina bagus banget, cocok dengan Bang Bim yang sering menanggani klien dari luar negeri," lanjut mbak Ajeng seperti mempromosikan aku.

Mas Arga hanya menghembuskan napasnya dan melirik sejenak ke arahku.

"Kamu! Ikut ke ruangan saya." Perintahnya dan langsung berlalu meninggalkan ku yang terburu-buru untuk pamitan pada mbak Ajeng dan mengikutinya.

"Saya minta kamu translate surat perjanjian ini," ucapnya begitu masuk ruangan dan menyerahkan sebuah dokumen yang tebalnya sekitar sepuluh halaman. Ceritanya dia mau nguji aku?

"Saya kerjakan di ruangan saya atau di sini Mas?" tanyaku.

"Di ruangan kamu, tapi ingat jangan minta tolong sama anak magang lainnya," ucapnya penuh peringatan.

"Anak-anak lain juga sibuk Mas, gak bakalan nolongin saya," jawabku dengan nada malas.

"Satu lagi, jangan panggil saya Mas, panggil saya seperti cara orang lain memanggil saya."

"Gak mau! Aku kan special jadi panggilan untuk Mas Arga juga berbeda dengan yang lain. Biar Mas Arga terus ingat aku." Tolakku sambil terkekeh pelan.

"Kamu lupa dengan ucapan saya ketika terakhir kita ketemu?" tanyanya.

"Yang mana ya Mas? Maaf sudah terlalu lama kita tidak berjumpa." Tanyaku pura-pura lupa.

"Bagaimana jika saya telah memiliki istri," ucapnya mengingatkan.

Aku tersenyum simpul dan berkata, "Jangan ngehalu Mas. Semua orang tahu kalau Mas Arga tuh belum beristri."

"Kamu nyari informasi tentang saya?" tanyanya penuh selidik.

"Informasinya yang menghampiri adinda," jawabku santai.

"Kamu boleh keluar sekarang!" Perintahnya dengan dingin hingga membuat AC ruangan kalah saing.

Melihat situasi yang tidak kondusif, aku pun menghindari perdebatan dan segera keluar dari ruangannya.

***

"Mommy aku capek." Renggekku dan merebahkan diri di sofa ruang tengah dengan posisi kepala di pangkuan mom.

"Jangan nyerah dong," ucap mom sambil mengusap rambutku yang tampaknya berantakan.

"Aku gak nyerah Mom, cuma pengen ngeluh aja," ucapku sambil memejamkan mata sejenak.

Aku baru pulang dan sekarang waktu telah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Mas Arga memang sungguh kejam. Setelah aku selesai mengerjakan tugas harus translate surat perjanjian, dia pun tak berhenti terus memberi ku tugas. Hari ini aku benar-benar seperti sekretarisnya saja. Bahkan mengcopy dokumen pun harus aku yang melakukan. Akhirnya setelah di ajari oleh Geby cara mengoperasikan mesin fotocopy aku pun mulai terbiasa menggunakannya.

"Daddy belum pulang Mom?" tanyaku karena rumah tampak sepi.

"Daddy kamu lembur sampai tengah malam kayanya," jawab mom dengan ketus. Semenjak opa pensiun, daddy memang menggantikan opa menjadi direktur utama, itu pun atas persetujuan saat rapat umum pemegang saham. Otomatis, semakin hari dad semakin sibuk. Dan aku tahu mom sering merajuk karena hal itu.

"Kak Arkan gak pulang?" tanyaku.

"Katanya mau tidur di apartement," jawab mommy. Kakak ku memang memiliki sebuah apartement di dekat perusahaan, dan dia lebih sering tinggal di sana daripada pulang ke rumah. Katanya sih demi kepraktisan dari pada harus macet-macetan tiap hari.

"Kamu ke kamar dulu, terus mandi pake air hangat." Perintah mom.

"Baik Ibunda, akan ananda laksanakan," ucapku sambil terkekeh, mom pun mencubit hidung ku pelan.

"Mom aku ke atas dulu ya. Nanti kalau dad pulang jangan merajuk-rajuk manja. Aku yang dengernya suka iri," ucapku sambil terkikik geli dan hanya mendapat pelototan dari mommy.



***

Ceritanya gak bakalan up tiap hari, tapi malah keasikan tiap hari>< Gpp deh ya untuk menemani hari-hari gabut kalian apalagi weekend kaya gini, wkwkwk

Tapi untuk part selanjutnya gak janji mau up hari apa ya, sambil nungguin cerita ini kuy baca cerita ku yang lain bagi yang belum ^^

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro