Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

15 - Bukan Honeymoon


"Mas kita kesana yuk," ajak ku pada mas Arga sambil menunjuk ke arah beringin kembar.

"Kamu mau laku masangin?" tanya mas Arga.

"Enggak Mas, aku cuma mau foto aja," jawab ku. Aku pernah melakukan masangin yaitu berjalan dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin kembar itu bersama kak Arkan dulu saat kami tengah berkunjung ke Yogya.

Oh ya, saat ini kami tengah berada di alun-alun kidul Yogyakarta. Waktu sudah menunjukan pukul setengah 6 sore. Tadi aku memang memaksa mas Arga untuk pergi kesini. Dan dengan bantuan bapak akhirnya mas Arga pun menemani ku.

"Mas Arga udah bosen ya kesini?" tanyaku sambil berjalan di sampingnya. Saat ini kami tengah berjalan menuju masjid terdekat karena sebentar lagi adzan magrib.

"Udah cukup lama saya juga enggak kesini," jawabnya.

"Terakhir pulang kapan mas?" tanyaku.

"Idul fitri tahun kemarin," jawabnya.

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, pantas saja ibu terlihat begitu merindukan dia.

"Punya orang tua itu sering-sering di jenguk Mas," ucapku.

"Kamu sedang menasihati saya?" tanya dia dan melirik ku.

Aku hanya memutar bola mata malas dan berkata, "Sekali-kali Mas daripada kena ceramah terus mendingan aku aja yang ceramah."

"Kenapa gak di masjid aja?" tanya dia dengan menyebalkan.

"Belum tertarik, entar kalau udah tertarik aku coba," jawabku asal.

Kami pun melanjutkan langkah kami menuju ke masjid yang tinggal beberapa meter lagi.

***

"Mas awas loh kalau di lepas." Aku memperingatkannya entah yang ke berapa kalinya.

"Iya. Bawel banget sih kamu. Ngapain coba pengen main ini kalau gak bisa?" gerutu mas Arga yang saat ini tengah membantu ku bermain egrang.

"Udah ah capek," ucap ku dan turun dari egrang setelah beberapa kali mencoba tapi tidak juga bisa.

Setelah itu kami pun duduk duduk di atas tikar menikmati angin malam.

"Mas aku kesana dulu," pamitku dan mulai melangkah kan kaki menuju para pedagang.

"Kamu mau makan itu semua?" tanya mas Arga sambil memandang ku seolah tidak percaya begitu aku kembali membawa beberapa makanan.

Aku pun mengangguk dan duduk di samping mas Arga diatas tikar.

Kuletakkan semua makanan yang aku bawa dimulai dari bakso tusuk, cilok, cilor, makcilor, dan jagung bakar.

"Mas Arga ini untuk Rain?" tanya ku sambil menunjuk wedang ronde yang tersaji di hadapan ku.

"Buat sesajen," jawabnya datar.

"Emangnya aku demit," gerutu ku tapi kemudian tersenyum kembali dan mulai menikmati semua jajanan yang tersaji di hadapan ku.

"Kamu kelaparan ya?" tanya mas Arga begitu aku menghabiskan semua makanan ku.

"Mumpung lagi di Yogya Mas. Rain kan kalau di Jakarta gak pernah jajan kaya gini," jawab ku sambil minum air mineral yang dibelikan mas Arga.

"Di Jakarta kan makan di restoran bintang lima terus ya," ucap mas Arga.

Aku menoleh sebentar dan menjawab. "Enggak gitu juga. Rain kurang main kalau di Jakarta. Akhir pekan kalau sama El pasti gak jauh-jauh dari mall."

"Ayo pulang Rain," ajak mas Arga dan kubalas dengan anggukan karena waktu pun sudah menunjukkan pukul 8 malam.

Kami pun berjalan menuju tempat parkiran motor. Tadi kami kesini memang mengendari motor milik ibu mas Arga.

"Gini ya Mas rasanya di bonceng calon suami," ucapku dengan cukup keras karena jalanan ramai.

"Jangan mulai halu," jawab mas Arga walaupun samar tapi masih dapat ku dengar.

"Gak papa Mas, ucapan adalah do'a. Dan halu adalah cita-cita yang harus di wujudkan, juga berisi perkataan-perkataan penuh do'a yang perlu di aminkan," tuturku tanpa mendapat jawaban dari mas Arga.

"Mas besok ke pantai yuk," ajak ku.

"Saya capek."

"Jangan gitu Mas, nyenengin calon istri itu harus," ucapku.

"Kamu bukan calon istri saya."

"Nanti kalau saya jadi istri Mas dan saya bahagia terus rezeki kamu bakal lancar," ucapku mengabaikan perkataan dia sebelumnya.

"Tanpa kamu menjadi istri saya pun sekarang rezeki saya udah lancar."

Aku menepuk bahunya dengan keras karena kesal. Orang ini memang tidak ada niat membuat ku senang!

***

Aku menatap takjub pemandangan lautan di depan ku. Keadaan di sini tidak terlalu ramai, dan rasanya aku ingin berteriak di sini.

Pantai Pok Tunggal yang berlokasi di kecamatan Tepus, kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta di sini lah kami berada sekarang. Perjalanan kesini memakan waktu hampir 2 jam dari rumah orang tua mas Arga.

"Mas makan dulu," panggilku dan mulai membuka rantang makanan yang tadi di berikan oleh ibu di bawah payung dan di alasi tikar yang kami bawa.

"Kamu udah lapar lagi?" tanya mas Arga dan duduk di depan ku.

"Yaelah Mas kan tadi kita cuma makan bakso bukan nasi," jawab ku. Tadi kami memang sempat berhenti dulu di daerah Wonosari dan membeli bakso.

Tanpa banyak berbicara lagi kami pun makan dalam diam ditemani angin dan deburan ombak.

Selepas makan aku pun membereskan kembali semua peralatan makan kami dan mulai berjalan-jalan mendekati air.

"Mas sini! Ayo ikut main," teriakku sambil berlari lari seolah di kejar ombak.

Aku mengerucutkan bibir karena mas Arga hanya bergeming di tempatnya.

"Rain." Geramnya karena aku menginjak kakinya dengan kaki ku yang kotor penuh pasir.

"Ha ha ha ha." Aku hanya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kesalnya.

"Berani kotor itu baik Mas," ucapku menirukan sebuah slogan iklan salah satu produk pembersih pakaian.

Tanpa aku duga mas Arga mendekati ku yang berada di pinggir pantai. No! Jarak kami sekarang sudah terlalu dekat, aku pun memundurkan langkah ku tapi dia malah semakin mendekat.

Byur ...

Aku terkejut dengan deburan ombak yang tiba-tiba menghantam kaki ku. Dan karena keterkejutan ku itu pun aku kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh hingga baju ku basah dan juga kotor.

"Mas Arga ..." kesalku dan si tersangka itu malah tertawa melihat ku sambil berjalan menjauh.

Padahal aku belum sempat ootd dengan outfit ku hari ini.

"Mas Arga tuh berdosa banget," gerutu ku sambil duduk di sampingnya dan berharap pakaian ku segera kering.

"Kan kata kamu berani kotor itu baik," ujarnya santai dan membuat ku mendelik.

"Kamu tunggu sebentar di sini," ucapnya dan beranjak dari duduknya.

"Jangan kemana-mana," lanjutnya sebelum benar-benar melangkah kan kaki nya.

Aku pun hanya mengangguk dan melihat punggungnya yang semakin menjauh.

"Nih pake," ucap mas Arga dan menyodorkan jaket nya begitu kembali.

Dia tadi ke mobil untuk membawa jaket?

"Aku lagi ngeringin baju," tolakku.

"Outer kamu bisa kamu lepas biar cepat kering. Terus kamu pake jaket saya," ucapnya.

"Kalau dipake malah lebih cepat kering Mas," ujarku

"Nanti masuk angin," ucapnya lagi.

"Yaudah Rain lepas, tapi gak mau pake jaket," ucapku dan hendak membuka outer yang ku kenakan.

"Jangan!" ucapnya dengan cepat membuat ku mengernyit heran.

"Kaus kamu terlalu tipis, dan juga berwarna putih."

Aku berpikir sejenak maksud ucapan mas Arga dan setelah mengerti maksud ucapannya aku memukulnya keras dan berkata, "Mas Arga mesum!"

"Me—mesum?" tanya dia dengan membelalakan mata.

"Setelah saya capek-capek mengambilkan kamu jaket saya malah di bilang mesum?" tanya dia lagi.

Aku mengendikkan bahu dan merebut jaket yang di pegangnya.

"Sana jangan lihat ke sini, Rain mau buka outer," ucapku dan hanya ditanggapi dengan dengkusan mas Arga. Tapi tak ayal dia pun membalikkan badannya jadi memunggungi ku.

"Udah," ucapku dengan ketus setelah beberapa saat.

"Kamu marah?" tanya dia.

"Mas Arga tuh yang suka marah," sindir ku.

"Kamu udah terkena pasal 310 ayat 1 KUHP," ucapnya dengan nada menyebalkan.

"Aku hanya membeberkan fakta Mas. Orang-orang di firma siap kok untuk bersaksi, bahkan sebagiannya bakalan jadi korban bukan saksi," ucapku sambil tersenyum miring ke arahnya.

"Keterangan saksi tidak cukup untuk membuktikan terdakwa bersalah Rain," ujar mas Arga dengan senyum menyebalkan tapi sialnya menambah ketampanannya.

"Sudahlah aku tidak mau memperdebatkan ini lagi," ucapku mengalah karena dirasa tak akan ada guna terus mendebatnya.

"Merasa kalah Rain?" tanya mas Arga dengan nada menyebalkan.

"Lagi belajar untuk jadi istri yang baik Mas, kan seorang istri tidak boleh keras kepala. Makmum mah cuma bisa ngikut imam," ucapku sambil terkekeh.

"Otak kamu pernah terbentur apa sih Rain?" tanya mas Arga.

"Terbentur pesona nya Mas Arga," jawabku santai.

Mas Arga hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, sepertinya dia sudah kehabisan akal untuk menghadapi ku.

"Kita dari kemarin jalan-jalan di Yogya, sekarang ke pantai serasa lagi honeymoon ya Mas," ucapku sambil terkekeh.

Mas Arga menatap ku dengan pandangan horor?

"Santai Mas, cuma becanda kok. Rain belum siap honeymoon, kan kita harus akad dulu," lanjutku dengan senyuman andalan.

Mas Arga hanya mendengkus mendengar ucapan ku, loh kok gitu? Orang-orang kan biasanya terpesona dengan senyum andalan ku. Mas Arga benar-benar ajaib!

***

Hampir pukul 9 malam dan kami baru tiba di kediaman orang tua mas Arga. Tadi aku memang memaksa mas Arga untuk melihat sunset terlebih dahulu.

Kami berjalan memasuki rumah yang sudah sepi, sepertinya orang tua mas Arga sudah tidur.

Aku berhenti sejenak di ruang tamu dan melihat ke arah piagam. Jiwa penasaran mendorong ku untuk membaca nama yang tertera di sana.

Aji satya? Mana mungkin ...

"Mas Arga tunggu!" ucapku pada mas Arga yang hendak menaiki tangga menuju lantai dua.

Aku menghampirinya dan langsung berkata, "Bapak Mas Arga namanya Aji satya?"

Selama di sini aku memang belum mengetahui nama beliau karena aku hanya memanggilnya bapak saja.

Mas Arga mengangguk sebagai jawaban.

"Jangan bilang kalau bapak itu adalah senior partener sekaligus salah satu owner di Firma tempat kita kerja?" tanya ku.

"Dari namanya aja kamu pasti tahu tanpa bertanya pada saya, kan?" tanya mas Arga dan melanjutkan langkahnya meninggalkan ku yang terduduk di tangga.

Kenapa aku bisa sebodoh ini dengan tidak menyadari hal itu? Wajah bapak yang familiar rupanya karena aku pernah melihat foto nya sekilas di firma.

***





Hei hei double nih><

Btw para readers, berterima kasihlah pada yang suka komen, berkat mereka aku jadi sering update cerita ini. Wkwkwkwk

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro