Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

:: Enam

Ajakan Ghi di lampu merah tadi benar-benar membuat Lana mematung tidak tahu harus menjawab apa selain tiga huruf itu tadi. Ia terlalu terkejut, sampai-sampai tidak bisa bereaksi yang benar.

Sampai saat ini mereka tiba di sekolah pun, Lana masih belum menjawab atau pun membalas ucapan Ghi tadi. Ia hanya terlalu terkejut dan tidak biasa dengan ajakan dari lawan jenis yang datang tiba-tiba seperti ini. Sebenernya sih, tidak bahaya. Toh, Ghi mengajaknya juga dengan niat yang baik ingin membantu Lana membeli gitar dengan harga yang mungkin lebih terjangkau. Tapi tetap saja Lana takut akan reaksi orang-orang, terlebih orang tuanya.

"Eh." Lana sempat mendengar Ghi bersuara di belakang, namun ia tetap saja berjalan ke depan.

Selain karena tatapan orang-orang di sekitar mulai mengarah pada dirinya dan Ghi, Lana merasa malu sekarang. Ia malu karena belum sempat membalas ucapan Ghi dan ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.

Namun sepersekian detik kemudian seseorang mencekal lengan Lana yang membuatnya menoleh karena tarikan yang cukup kuat. Lana memejamkan matanya seketika, ia semakin takut orang-orang itu menaruh perhatian kepadanya.

"Helmnya belum kamu copot." Ghi berkata pelan sebelum akhirnya membantu Lana mencopot helm miliknya.

Lana tetap memejamkan mata. Ketika ia merasa Ghi sudah melepas helmnya, Lana baru membuka matanya. Mengucapkan terima kasih lalu berlari sekuat tenaga. Ghi yang masih di tempat hanya bisa tersenyum akan tingkah Lana hari ini. Gadis itu cukup lucu ternyata, batin Ghi mengatakan demikian.

"Emang salah ya, aku nawarin bantu beliin gitar? Kan tetep aja pake uang dia." Ghi bergumam lalu kembali ke motornya untuk menaruh helm yang Lana pakai tadi.

***

"Cie-cie yang berangkat bareng Kak Ghi." Itu suara Galang, manusia paling bocor seluruh dunia menurut Lana.

Pasalnya cowok itu memang biangnya gosip. Selalu saja ada topik baru yang ia bawa ke kelas. Dan jelas Lana sangat tidak menyukai cowok seperti itu. Sangat tidak cowok sekali.

"Apa sih, pagi-pagi udah gosip aja. Kerjain tuh, pr kamu bareng temen-temen kamu," sahut Lana yang tidak terima.

Galang yang melihat balasan seperti itu hanya bisa tertawa. Umpannya kena kali ini. Biasanya gosip yang cowok itu bawa hanya jadi lalu-lalang saja. Tidak banyak yang peduli sekalipun itu menyangkut dirinya. Tapi ternyata Lana berbeda, cewek itu cukup mudah terpancing.

"Eits. Santai, dong. Pr gue udah selesai, nih."

"Gue, gue." Lana masih juga menyahut.

Banyak sekali kejadian hari ini yang membuatnya merasa malu. Pertama, ajakan Ghi yang belum sempat ia balas. Kedua, kejadian lupa melepas helm yang sampai-sampai membuat Ghi melepaskan helmnya. Sungguh, itu sangat memalukan sekali. Kemudian ditambah dengan mulut bocor Galang yang malah tambah memanas-manasi.

Ada apa sih, dengan hari ini?

Lana yang masih kesal plus malu hanya bisa pura-pura sibuk dengan ponselnya setelah mengemas beberapa buku di atas mejanya. Namun sebuah pesan masuk yang berasal dari nomor baru membuat Lana mematung sejenak.

Apa lagi ini Tuhan? Batin Lana menjerit.

08*********

Kalau jadi beli gitarnya kabarin, ya. Nanti saya atur kapan belinya. #Ghi

Demi Tuhan Lana tidak mengerti apa yang terjadi pada hidupnya hari ini disebut sial kah atau malah beruntung. Pertama pasal ayahnya yang meminjam motor miliknya berujung Lana berboncengan dengan Ghi. Kedua tawaran beli gitar bersama dan yang terakhir Ghi punya nomornya.

Lana ingin berteriak kencang saat ini juga.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro