Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🐢 Part 6 🐢


Labuhan Terakhir

Part 6

🐢🐢🐢🐢🐢🍓🍓🍓🐢🐢🐢🐢
🐢


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam warohmatulloh." Terlihatlah Pak Arman di ruang tamu. Laki-laki dengan kacamata baca itu menutup buku yang ada di tangan. "Baru pulang, Sahida?"

"Iya, Paman. Hujan lebat. Angkutan umum agak susah,” jelas Syifa takut-takut jika pamannya akan marah.

Pak Arman melirik ke arah luar, lalu menatap keponakannya. "Pulang sama siapa?"

"Sama Diaz, Paman." Terjadi keheningan. "Ternyata kita satu tempat kerja, Paman," jelas Syifa saat sang paman menampakkan wajah bertanya.

"Ya sudah. Kamu masuk sekarang. Baju kamu juga basah. Segera mandi dengan air hangat biar kamu tidak masuk angin."

Syifa mengangguk. "Iya, Paman." Perempuan dengan pakaian yang hampir basah seutuhnya itu memasuki kamar. Untuk sesaat, ia mengingat ucapan Diaz saat keduanya berada dalam mobil. Sesuatu yang benar-benar membuat Syifa terkejut dan merasakan deguban jantung yang tidak seperti biasanya. Tangan terangkat memegang dada. Meski tak sekeras tadi, deguban itu masih terasa.

Mengenyahkan pikiran tentang Diaz, Syifa bersiap untuk mandi, waktu sebentar lagi magrib. Tidak lupa mempersiapkan perlengkapan Salat sembari menunggu adzan, ia membaca ayat suci Al-Quran. Suara yang merdu begitu menenangkan untuk didengar.

Pak Arman dan Ibu Marwah senang mendengar lantunan ayat Alloh yang Syifa baca. Syifa sudah mereka anggap putri mereka sendiri. Semenjak kematian kedua orang tua di umur lima tahun, keduanya berjanji untuk bersungguh-sungguh merawat Syifa. Tidak akan membeda-bedakan dengan putra mereka yang kini tengah menempuh pendidikan di luar kota. Merawat dengan baik, menanamkan ilmu agama sejak dini, membimbing dengan bekal yang baik pula. Juga sering berpesan agar Syifa selalu mendoakan mendiang orang tuanya.

Adzan berkumandang. Syifa menyelesaikan bacaan Qurannya dan segera menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah yang patuh. Berpasrah dan berserah pada Allah. Setelahnya, ia menengadahkan kedua tangan. Mulai memohon pada Sang Pencipta. "Ya Allah. Hamba tidak tahu dengan apa yang hamba alami hari ini. Ucapan Diaz membuat hati hamba risau. Hamba tidak tahu mengapa. Hamba takut. Hamba hanya bisa meminta perlindungan-Mu ya Allah. Selalu jagalah hamba. Jaga hati hamba. Jauhkan hamba dari apa yang tidak Engkau Ridhoi. Aamiin."

🍓🍓🍓

Diaz menggeber motor yang dikendarainya. Memandang dengan sebuah seringai pada Darren. "Lo bakal kalah lagi malam ini," ucap Darren.

"Iya. Kalo lo curang lagi." Terlihat Darren memandangnya dengan sorot mata tajam. Namun, Diaz tak menghiraukannya.

"Habis lo malam ini, Diz." Sayup-sayup ia mendengar kalimat itu terlontar dari bibir lawannya. Namun, lagi-lagi ia tidak peduli. Apalagi—

Ah. Lupakan!

Malam ini, Diaz dan Darren melakukan balapan liar kembali, balapan kali ini berbeda. Keduanya tidak memakai motor mereka masing-masing. Semua ini berawal dari tantangan dari Darren yang ingin balapan dilakukan menggunakan motor lain. Dua motor yang tersedia terpajang di atas mobil kap. Darren mengizinkan ia memilih salah satu motor yang akan digunakan balapan malam ini, dan motor yang tidak Diaz pilih, otomatis akan digunakan oleh Darren.

Diaz yang notabenenya menyukai warna merah, tentu saja memilih warna itu. Suara semakin kencang saat malam makin pekat. Seorang wanita yang sudah mengangkat satu tangan di hadapan mereka membuat keduanya mengembalikan fokus. Tepat kain putih terjatuh, mereka segera saling melajukan motor.

Dan selalu, Diazlah yang memimpin. Darren membiarkan itu. Dia hanya memasang wajah angkuhnya. "Habis lo Diaz." Darren tertawa sepanjang jalan. Meski tertinggal jauh dari Diaz, ia menikmati dan tidak khawatir akan kekalahan yang akan didapat. Karena sejujurnya, balapan ini hanya pengalihan dari rencana yang sesungguhnya.

Namun, tawa itu terhenti kala ia melihat Diaz yang berhasil melewati tikungan pertama. "Bagaimana mungkin?" tanyanya tak percaya.

Merasa cukup bersenang-senang, Darren pun mulai menambah kecepatannya untuk mengejar Diaz. Tepat di tikungan, Darren tidak dapat mengurangi laju motornya. Rem motor yang ia gunakan tidak berfungsi, Darren pun mulai panik. Hingga tak dapat mengendalikan motornya, dia pun terjatuh.

Luka lecet didapat pada kaki dan tangan. Untunglah ia menggunakan helm, sehingga kepalanya terselamatkan dari benturan aspal. "Arghh sial. Bagaimana bisa?" Darren memukul tanah yang otomatis membuat lukanya bertambah sakit. Rasanya remuk semua.

"Shhh." Darren mendesis, dengan gerakan pelan, Darren meraih ponsel yang ada di saku. Ia Mendial nomor seseorang untuk meminta bantuan. "Jemput gue di tikungan pertama. Sekarang!!!" Teriakan Darren membuat seseorang yang dihubungi segera melakukan apa yang diperintahkan. Ia memutus panggilan begitu saja, menunggu temannya datang dengan duduk diam di tengah jalan yang sunyi. Mau bagaimana lagi? Jalan pun ia tidak bisa. Lagian, ia juga tidak mau. Tak lama, orang yang Darren hubungi datang, dan segera membantu Darren untuk menaiki motornya.

Saat Darren sudah sampai di tempat start, bisa dilihat Diaz yang tengah menikmati kemenangan. Ia pun berdecih sinis.

Diaz mengalihkan pandangan pada Darren yang baru tiba. Pemuda dengan jaket hitam itu berjalan angkuh mendekat, tangan terulur untuk membersihkan debu yang menempel di jaket Darren akibat terjatuh. "Udah gue bilang, lo pasti menang. Tapi, kalo lo curang. Kalo nggak, lo nothing."

Darren memandang Diaz emosi. Tapi satu yang menjadi pertanyaan Darren, bagaimana bisa?  "Lo penasaran, ya?" Darren tak menjawab Diaz. Ia hanya memandang penuh kebencian.

Diaz menarik salah satu sahabatnya. "Sahabat gue, tahu rencana busuk lo." Mulailah ia menceritakan bagaimana dia bisa tahu semuanya.

Diaz menutup pintu mobilnya saat ia telah sampai di bengkel milik Heru, memandang aneh Ricky yang tiba-tiba mendekat. "Tumben lo sambut gue, ada apa?" tanyanya saat ia melakukan tos ala lelaki dengan Ricky.

"Lo udah dapet telepon dari Darren?" Diaz menggeleng. "Kalau gitu, tunggu aja." Benar saja, tak lama dari itu, Ponsel berbunyi, menunjukkan sebuah nomor tanpa nama. Ia segera mengangkat panggilan itu saat Ricky memintanya.

"Hallo." Diaz melirik Ricky yang tersenyum yang tidak diketahui apa artinya, kemudian ia menutupi sebagian ponsel dengan tangan dan menjauhkannya sebentar. "Darren. Dia ngajak balapan."

"Terima," ucap Ricky.

"Tapi—"

"Udah terima aja," Diaz kembali menempelkan ponsel pada telinganya.

"Ok. Gue terima." Diaz memutuskan panggilan begitu saja, mulai menatap Ricky nyalang. "Gila lo. Si sexy belum beres noh."

"Tenang dulu, Diz. Kali ini balapannya beda," jelas Ricky.

kedua alis Diaz saling bertaut. "Beda gimana?" tanya Diaz tak mengerti.

Ricky merangkul bahu Diaz dan menuntunnya memasuki bengkel. "Tadi, gue ngantar ponakan gue beli motor baru. Dan di sana, gue lihat si Darren. Curiga dong ngelihat gelagat dia, gue deketin tuh. Dan gue dengar percakapan dia sama seseorang. Katanya, dia mau ngajak lo buat balapan tapi pakai motor baru. Dan sialnya, salah satu rem motor dia minta untuk dikamuflase. Tapi tenang aja. Gue udah beresin soal itu. Gue udah bayar yang ngerusak remnya supaya yang di rusak itu motor satunya."

"Tunggu, keyakinan dari mana lo kalo motor yang dirusak remnya bakal dipakai Darren?"

"Se-yakin dia yang yakin kalo lo bakal milih motor dengan corak banyak warna merahnya." Untuk sesaat Diaz diam. Tapi kemudian, mereka tersenyum.

"Lo, emang sampah." Selepas mengatakan itu, Diaz pergi meninggalkan Darren yang wajahnya sudah memerah. Diaz tertawa puas karena telah berhasil memukul Darren telak. Pecundang, akan selalu menjadi pecundang dengan segala tingkah sampahnya.

🐢🐢🐢🐢🐢🍓🍓🍓🐢🐢🐢🐢🐢

Hay!

Aku up lagi.


Pagi-pagi buta

🤗🤗🤗🤗🤗

🐢 Salam🐢
🍓 EdhaStory🍓

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro