Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

🐢 Part 18 🐢

Ucap Ikhlas

Part 18

🐢🐢🐢🐢🐢🍓🍓🍓🐢🐢🐢🐢🐢

Mata Syifa mengerjap, menyesuaikan pandangan pertama kali yang dilihat. Hanya gelap, dinding lembab yang bisa ia lihat dari keremangan dengan bantuan cahaya dari celah bawah pintu. Rasanya ruangan ini begitu hampa.

Syifa tercekat, tenggorokannya terasa sakit, kering, ia haus saat ini. Ya Tuhan, tolong Syifa. Ia mulai memejamkan mata, melantunkan asma Alloh di dalam hati berharap ketenangan dari pencipta.

Pintu terbuka, suara derap langkah dapat Syifa dengar. Membuka mata, ia menatap lamat-lamat pada asal suara. Ruangan yang gelap, membuat ia kesulitan menangkap bayangan yang terpancar cahaya dari luar. Hanya bayangan hitam yang ia tahu tengah mendekatinya.

Lampu tiba-tiba saja berpendar, sedikit menyilaukan matanya. Terpejam sebentar, ia mulai membuka kelopak mata dengan perlahan. Di sana, di depannya. Seorang pemuda dengan Kaus oblong, celana jeans panjang dengan sobekan di lutut. Wajah blasteran tengah memandang dengan sebuah seringai, entah kenapa membuatnya tidak nyaman.

"Siapa kamu?" Akhirnya, apa yang ingin ia tanyakan berhasil diucapkan. Ia berusaha agar suaranya terlihat tegas, seolah tidak ada ketakutan di sana. Nyatanya, jantungnya saat ini berdegup dengan kencang, bisa dirasakan keringat yang berjatuhan di pelipis.

Bagaimana tidak, keadaannya saat ini tengah duduk di sebuah kursi dengan kondisi terikat, belum lagi ia tidak kenal tempat di mana ia berada saat ini, bersama seseorang yang tidak ia kenal pula. Takut, iya pastinya. Namun, Syifa tidak akan mau menunjukkan di depan pemuda ini.

Suara tawa menggelegar, Syifa memandang aneh pemuda berlesung pipit di depannya. Bukan menjawab pertanyaan yang ia berikan, malah tertawa dengan keras. "Pertanyaan yang klise. Apa tidak ada pertanyaan lain?" Saat pemuda di hadapannya semakin mendekat, mata Syifa melotot. Ia takut jika pemuda ini akan berbuat sesuatu padanya.

Ah, bukan. Ternyata, pemuda itu hanya ingin memutari kursi tempat ia diikat. Namun, tetap saja ia merasa takut. Bahkan, debaran jantungnya semakin bisa ia rasakan karena jaraknya dengan pemuda ini semakin dekat.

Syifa hanya diam, memandang penuh pada pemuda yang ia taksir se-umuran dengannya ini telah berdiri tepat di hadapannya. Syifa menatap tak mengerti pada tangan yang terulur padanya, ia hanya memandang tangan dan wajah pemuda itu bergantian.

"Ah, saya lupa jika kamu tidak bisa menjawab jabatan tangan saya." Syifa hanya menatap tangan yang mulai ditarik, tak peduli akan hal itu.

"Siapa kamu?" Syifa mengulang pertanyaannya. Berharap pemuda asing yang telah menyekapnya menjawab pertanyaan kali ini.

"Mm ... perkenalkan. Namaku Darren. Aku ...," Syifa tetap menunggu saat pemuda yang mengaku bernama Darren itu menjeda ucapan. "Ya, bisa dibilang aku ini temannya Diaz."

Syifa masih diam, ia menunggu pemuda di hadapannya berbicara. Saat pemuda itu berjalan ke arah kanan, pandangannya mengikuti. Ah, ia baru tahu jika di sudut sana juga ada bangku lain, yang saat ini digunakan untuk menopang kaki pemuda-. Siapa tadi? Ah, ya Darren.

"Sayangnya, aku dan Diaz tidak dalam satu jalan." Darren membuat gerakan memutar dengan kedua tangannya, memberikan gambaran dengan gerakan rumit, menunjukkan jika hubungan pertemanannya dan Diaz memang rumit.

Syifa bingung dengan pemuda blasteran ini, entah apa maksudnya memberi tahu tentang ia dan Diaz. "Kamu bingung?" Syifa tetap diam, memandang tanpa ada jawaban. "Dia mencintaimu bukan?"

Saat itulah, Syifa mengerti arah pembicaraan Darren ke mana. Syifa mulai melotot, menatap tajam Darren akan apa yang sudah dimengertinya.

Darren terkekeh melihat ekspresi wanita yang ia jadikan sandera telah berubah. Rupanya, wanita ini telah mengerti apa yang ia maksud. Ia kembali berjalan ke depan bangku di mana Syifa terikat. Tangannya merogoh saku celana meraih ponsel dari sana. Pada Syifa, dia menunjukkan sebuah seringai. Tanpa mengalihkan pandangan, tangannya mengutak-atik ponsel itu.

Setelahnya, Darren mulai mengangkat ponselnya dan mengarahkan pada Syifa. "Lets see. Apa yang akan dia lakukan setelah dia melihat vidiomu terikat di sini." Seringai tercetak jelas di wajah kepuasan Darren.

🍓🍓🍓

Suara ayat-ayat Alloh begitu menenangkan kala seorang pemuda bermata legam tengah melantunkannya. Menggunakan pakaian kokoh putih dan peci hitam, Diaz kembali melatih bacaan kita Al-Quran dibantu oleh Kakak sepupunya, Ilyas. Keduanya duduk bersila di gazebo belakang rumah kediaman Ilyas. Semilir angin di taman belakang rumah seolah mengiringi sayup-sayup syair untuk Alloh. Meski pembawaan Diaz dalam membaca sedikit kaku, Kalam-kalam Alloh tetap menenangkan bagi para pendengarnya. Subhanalloh.

"Sebentar, Diz." Pemuda dengan sarung coklat dengan corak kotak-kotak itu menghentikan bacaan Diaz, yang segera Diaz lakukan. Ia meraih Al-Quran Diaz dan menggesernya sedikit. Satu telunjuknya mengarah pada satu bacaan.

"Saat kamu membaca ini, kamu harus mendengungkannya," jelas Ilyas, ia menatap Diaz seusai memberi pelajaran.

"Mendengung?" Ilyas mengangguk.

"Mendengung bagaimana maksudnya, Bang?" Diaz kembali bertanya, ia tidak memahami apa yang diucapkan kakak sepupunya. Tatapannya menggambarkan wajah bingung.

"Kamu lihat!" Ilyas kembali menunjuk salah satu potongan ayat yang sebelumnya Diaz baca.

Tentu saja ia langsung memperhatikannya juga. "Ada nun mati, bertemu dengan huruf mim. Ini hukum bacaannya dinamakan idghom bigunnah." Ilyas kembali menjelaskan dengan menunjuk huruf-huruf yang ia ucapkan. Pelan, dia menjelaskan pada sepupunya.

Diaz masih belum mengerti, ia sesekali mengernyitkan kening mencoba untuk memahami. "Jadi begini. Indghom bigunnah itu salah satu hukum bacaan dalam tata cara membaca Al-Quran. Yaitu, kita harus meleburkan disertai dengan dengungan. Atau, kita memasukkan salah satu huruf nun mati atau tanwin ke dalam huruf sesudahnya," jelas Ilyas pelan.

Diaz mengangguk, kernyitan di dahinya sedikit menghilang. "Jadi, kalau ada nun mati, kita harus membacanya dengan dengungan?" Diaz bertanya kembali, ia ingin memastikan apa yang baru saja ia tangkap dari penjelasan kakak sepupu yang berumur dua tahun lebih tua darinya itu benar.

Namun, Diaz malah melihat Kakaknya yang menggeleng. "Oh, tidak." Kernyitan kembali terbentuk di kening pemuda yang baru beberapa waktu belajar membaca Al-Quran itu.

"Kita membaca dengan dengungan, saat kita menemukan bacaan dengan hukum idghom bigunnah saja."

"Cara kita bisa tahu itu bacaan idghom bigunnah dari mana, Kak?" tanya Diaz yang belum memahami sepenuhnya. Ia tidak malu untuk bertanya. Yang ia takutkan, ia akan keliru ke depannya nanti jika hanya menangkap pelajaran setengah-setengah.

Mendengar pertanyaan Diaz, Ilyas tersenyum. Ia cukup senang dengan keingintahuan sepupunya ini. Wajah antusias yang ditunjukkan membuat ia turut semangat untuk mengajar. "Bagaimana kita bisa tahu itu bacaan idghom bigunnah? Yaitu saat kita menemukan huruf nun mati atau tanwin bertemu dengan empat huruf idghom bingunnah. Empat huruf itu ialah, nun, mim, waw dan ya'. Seperti ini." Ilyas kembali menunjuk beberapa penggalang ayat yang menunjukkan hukum bacaan idghom bigunnah.

Diaz kembali memperhatikan, ia mulai mengangguk karena sudah mengerti. "Hukum bacaan dalam Al-Quran juga ada yang lainnya." Diaz menoleh pada guru mengaji gratisnya itu.

Ilyas mengangguk. "Ya. Ada idghom billagunnah, ihfak, dan yang lainnya. Ini namanya ilmu tajwid." Diaz tampak mencoba memahami, beberapa kali ia memperlihatkan kernyitan. Sesekali mengetukkan pena yang ada di tangan.

"Begini saja. Bagaimana nanti kita buat satu hari untuk belajar ilmu tajwid ini?" Ilyas memberi solusi. Ya, membaca Al-Quran tanpa memahami cara membacanya pun serasa kurang. Selagi ia mampu berbagi ilmu pada orang lain, kenapa tidak? Apalagi ini adalah sepupunya sendiri. Ilyas akan sangat mendukung dan membantu serta membimbing Diaz sampai bisa.

Wajah antusias semakin ditunjukkan Diaz. "Wah. Setuju, Bang!" Diaz tersenyum, merasa bersyukur karena ada seseorang yang mau menuntutnya. Kakak sepupu di mana dia adalah calon suami dari wanita yang ia cintai. Ada senyum kecut yang Diaz ukir meski samar, sehingga tidak akan bisa orang lain melihat. Syifa gadis yang baik, soleha, pantas mendapatkan laki-laki seperti kakak sepupunya. Ya, itu lebih baik dari pada Syifa dimiliki orang lain.

Tiba-tiba saja, ponsel Diaz berbunyi. Menampilkan nomor asing yang melakukan panggilan vidio terhadapnya. Merasa penasaran, Diaz pun menerima Panggilan itu. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati sebuah gambar perempuan diikat di atas kursi. "Syifa," panggilnya dengan cemas.

"Diaz," panggil seorang perempuan di seberang sana. Setelahnya, suara tawa laki-laki yang terdengar.

Ilyas yang berada di samping Diaz mengernyitkan kening, merasa heran dengan raut wajah Diaz yang berubah menjadi khawatir. Belum lagi, suara perempuan yang ia dengar sebelumnya. Turut merasa penasaran, ia juga melihat layar ponsel Diaz yang menampilkan seorang perempuan dalam keadaan terikat. Untuk sesaat, ia tampak mencoba mengenali perempuan itu. Hingga satu nama berhasil melewati memorinya. "Itu Sahida, 'kan?" Ia menatap Diaz menuntut jawaban, wajahnya pun juga turut menampilkan kekhawatiran.

Diaz menoleh, tanpa pikir panjang ia mengangguk. Mau berbohong pun untuk apa? Toh Ilyas adalah calon suami Syifa. Keduanya kembali menatap ponsel Diaz saat ponsel itu kini menampakkan wajah seorang laki-laki. "Darren!" Diaz memanggil musuh bebuyutannya dengan geram. Wajah kemarahan kita tercetak jelas pada Diaz.

"Hay, Diz," sapa Darren dari seberang sana, pemuda itu menoleh sekilas pada keberadaan Syifa yang masih terikat. Tampak memberontak mencoba melepaskan diri. Darren tertawa sebentar, lalu kembali memenuhi layar ponsel Diaz. "Cantik juga wanita lo." Senyum smirk itu kini tampak di wajah Darren. Semakin membuat Diaz menjadi geram.

Sedangkan Ilyas, selain wajah khawatir, ia juga tampak kebingungan. Belum lagi saat ia mendengar kata 'wanitamu' diucapkan oleh laki-laki yang ada di ponsel Diaz. Ada apa ini sebenarnya?

"Jangan macam-macam, Ren. Berani lo sentuh dia, abis lo sama gue." Diaz mengancam, matanya melotot dan memerah. Sedangkan Darren di seberang sana kembali mengeraskan tawanya. Semakin membuat Diaz naik pitam.

"Terserah gue mau gue apain. Toh nggak ada lo di sini." Tawa Darren kembali terdengar, kali ini semakin keras. Rasa marah dan khawatir yang Diaz rasakan bercampur aduk. Darren adalah orang yang nekat, ia bisa melakukan apa saja untuk membuatnya merasa menang akan musuhnya.

"Kalau lo ingin wanita yang lo cintai ini selamat, ya selametin dong." Di seberang sana Darren kembali tertawa. Seolah meluapkan seluruh kebahagiaan atas apa yang telah ia lakukan. Ia merasa berhasil. Ya, ia merasa berhasil membuat seorang Diaz kalang kabut.

"Bay, bay." Darren melambaikan tangan di depan kamera, menampilkan senyum miring yang Diaz yakini ditujukan padanya. Setelah itu, layar ponsel dias menggelap. Tanda panggilan telah berakhir.

"Darren, Darren. Bangsat!" umpat Diaz. Rasa cemas kini merajai dirinya. Apalagi, dia tidak tahu keberadaan Syifa di mana. Ia tidak tahu Darren membawa Syifa ke mana.

"Diz, ada apa ini sebenarnya? Dan kamu ... kamu mengenal Sahida?" Oh tidak, bagaimana Diaz lupa kalau masih ada Ilyas di sampingnya. Ilyas pasti mendengar semua ucapan Darren di ponsel tadi.

Menarik napas dalam, Diaz menjawab. "Ya, Bang. Diaz mengenal Syifa." Berbohong pun tidak akan ada gunanya, Ilyas sudah mendengar semuanya.

"Lalu, maksudnya kamu men-"

"Bang." Diaz memotong ucapan Ilyas, ia mengangkat kedua tangan seolah meminta Ilyas berhenti melontarkan pertanyaan sejenak. "Itu bisa kita bahas nanti. Saat ini, keselamatan Syifa jauh lebih penting. Diaz akan mencari tempat di mana Darren menyekap Syifa," jelasnya. Bahkan, saking khawatirnya ia sampai tidak menarik napas dalam menjelaskan pada Ilyas. Akibatnya, napasnya kini terasa berat. Belum lagi rasa khawatir yang juga ia rasa.

Setelahnya, Diaz turun dari gazebo, berlari keluar dari taman belakang rumah Ilyas. Meninggalkan tempatnya belajar syair-syair Alloh. Tak memedulikan panggilan Ilyas yang masih membutuhkan penjelasan.

🍓🍓🍓

Syifa masih terkurung dalam ruang pengap nan lembab. Bersyukur kali ini pemuda yang katanya musuh Diaz itu tetap membiarkan lampunya menyala sebelum meninggalkan Syifa kembali. Syifa menunduk, menahan rasa perih pada perutnya. Ya, semua ini karena ia lambungnya belum terisi oleh apa pun. Ia ingat, terakhir ia makan adalah pagi kemarin. Saat ia sarapan sebelum berangkat ke tempat kerja. Dan siangnya, ia menghabiskan waktu istirahat dengan Diaz untuk berbicara.

Diaz. Ah, apakah Diaz akan menolongnya? Satu butir mutiara kini jatuh di pipinya. Membasahi wajah kusam yang sejak kemarin belum tersentuh air sama sekali. Baru kali ini ia merasakan rindu pada kejernihan air. Apalagi, jernih dan segarnya air wudu.

Pintu terbuka, membuat ia mendongak untuk melihatnya. Siapa lagi kalau bukan pemuda bernama Darren yang masuk. Kali ini, Syifa bisa melihat sebuah nampan di tangan pemuda itu. Setelah jaraknya telah dekat, Syifa bisa melihat sepiring makanan dan segelas minuman.

Pemuda itu meraih bangku yang berada tidak jauh dari keberadaan dirinya yang terikat, meletakkan di depannya dan menduduki sehingga kini ia dan pemuda itu duduk berhadapan. Syifa bisa melihat senyum yang terukir di wajah tampan namun menyimpan iblis di baliknya.

Masih diam, ia menatap tangan besar yang meraih sebuah sendok pada piring. "Ternyata laki-laki yang lo cintai itu payah, ya. Sampai sekarang dia belum bisa nemuin di mana lo disekap." Syifa masih diam, bahkan saat satu sendok nasi diarahkan padanya.

"Ayo makan!" Bibirnya masih setia menutup. Tak ingin sekali pun menerima makanan dari pemuda di hadapannya.

"Nggak mau, ya?" Sifa tetap diam. Hanya memerhatikan pemuda yang menculiknya ini meletakkan kembali sendok yang sebelumnya disodorkan padanya.

"Baiklah. Setidaknya, lo minum. Biar perut lo itu ada isinya sedikit." Untuk kali ini, sepertinya tidak ada kejadian meminta ijin. Pemuda itu tampak memaksanya minum dengan menempelkan kasar gelas pada bibirnya. Ia memberontak, tetap tidak mau meminumnya.

Akhirnya, minuman itu pun tumpah mengenai bajunya. Membasahi dadanya. Membuat sesuatu di balik baju kain satin berwarna biru itu tercetak jelas di sana. Syifa melotot, merasa malu karena dengan begini, ia sama saja memperlihatkan auratnya.

Di tempatnya, Darren tampak terpaku. Sesuatu di balik baju itu tampak menggoda baginya. Ia letakkan nampan berisi makanan beserta minuman, lalu berdiri memutari kursi. Tanpa kata, Darren melepaskan simpul tali yang mengikat Syifa.

Segera, Syifa menarik tangan. Ia gunakan untuk menutupi dadanya. Belum lagi, ia merasa panik saat Darren kembali berdiri di hadapannya. Tatapan Darren kali ini tampak berbeda, ia berdiri dengan dagu yang ditopang tangan sembari menatap penuh pada tubuhnya. Seolah menjelajah dari atas sampai bawah. Entah kenapa perasaan Syifa menjadi semakin khawatir.

"Ternyata lo cantik juga, ya. Pantas si Diaz suka sama lo." Mendengar itu, Syifa semakin panik. Belum lagi Darren kini melangkah mendekatinya. Sontak saja ia berdiri, segera menjauhi Darren. Tatapan Darren seolah seseorang yang lapar. Lapar akan sesuatu.

"Hay, kenapa lo menjauh?" Syifa menggeleng saat Darren kembali mendekatinya. Ia mencoba lari kembali pada sudut ruangan yang lain. Namun, rupanya Darren berhasil meraih tangannya. Syifa meringis, merasa sakit pada pergelangan tangan yang dicengkeram oleh Darren.

Syifa terkejut saat Darren menariknya, membawa Syifa pada pelukannya. Ya Alloh, Syifa mengucap maaf dalam hatinya. Meminta pertolongan pada Sang Kuasa. "Mari kita main sebentar manis." Ucapan Darren membuat Syifa melotot.

"Enggak. Jangan!" Syifa menggeleng, menolak sesuatu yang sangat ia mengerti arah pembicaraan Darren. Namun, apa yang ia lakukan hanyalah sia-sia. Darren, si lelaki liar, musuh dari Diaz, adalah seseorang yang sangat nekat. Ia akan melakukan apa pun untuk membuat musuhnya kalah. Di malam itu, di malam yang sunyi itu, hanya terdengar suara tangis dan teriakan Syifa meminta pertolongan. Dengan sebuah asa yang mungkin saja telah binasa.

🐢🐢🐢🐢🐢🍓🍓🍓🐢🐢🐢🐢🐢

Ayo!
Mom up lagi.

Siapa yang nunggu.

Jangan lupa vote dan komennya
🤗🤗🤗

🐢Salam🐢
🍓 EdhaStory🍓

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro