🐢 Part 17 🐢
Labuhan Terakhir
Part 17
🐢🐢🐢🐢🐢🍓🍓🍓🐢🐢🐢🐢🐢
Diaz membuka kelopak matanya yang terasa berat, dilihat ruangan putih yang sangat ia kenali. Rumah sakit. Ya, dia kembali masuk ke tempat ini. Ia mencoba mengingat apa penyebab dia bisa terbaring di sini. Mendatangi Cafe tempat Syifa bekerja, menunggunya, kedatangan Ilyas, kebenaran Sahida yang dimaksud sepupunya adalah Syifa. Ya, mengingat itu semua menimbulkan nyeri di dada.
Sampai ia yang mengendarai motor tidak tentu arah, lalu bertemu dengan Darren dan anak buahnya di jalan. Berkelahi, satu banding lima orang lebih, ia yang kewalahan menangkis serangan, sampai ia yang jatuh dan mulai tak berdaya. Hingga ia tidak mampu mengingat apa pun lagi karena hilang kesadaran.
Pintu terbuka, menampilkan sosok keempat temannya. Ia memberikan senyum tipis pada mereka yang malah dengusan ia dapat dari Ricky. Saat keempat temannya mulai mendekat, Diaz mencoba bangkit. Namun, seseorang menahannya. Lagi-lagi Diaz tersenyum, melihat Johan di sampingnya.
"Udah tahu kondisi babak belur, masih aja aneh-aneh." Diaz tertawa, tetapi tak lama ia mendesis kala merasakan sakit di perutnya. "Nah, lo. Baru juga gue bilang. Sakit banget?" Diaz memutar bola mata mendengar pertanyaan itu. Padahal, ia baru saja mendesis masih juga dipertanyakan.
"Nggak. Biasa aja," jawabnya ketus. Wajahnya semakin kesal kala ia malah ditertawakan oleh teman-temannya. Ngomong-ngomong, ia tidak berbohong. Ia sakit, ya. Dia akui. Namun, bukan sakit karena pukulan dari Darren dan komplotannya. Ada sakit yang lebih terasa menyayat, yang tidak mampu ia sebutkan apa namanya.
"Heh! Malah ngelamun!" Diaz menoleh, memasang wajah jengkel atas kelakuan Ricky. Teman satunya ini, memang yang paling menjengkelkan. Jika saja bukan teman, mungkin Diaz sudah menggantungnya di pohon Tomat.
"Kayaknya otaknya geger, Ric." Satu lagi. Ya Tuhan, ia sedang sakit. Kenapa malah dikirimkan orang-orang macam mereka?
"Sialan lo pada!" Ia mencoba meraih sesuatu di atas nakas, berniat untuk melempar teman-teman laknatnya. Namun, sayang pergerakannya terbatasi akibat luka-luka yang ia dapat. Hal itu, semakin membuat ia merasa jengkel karena ledakan tawa yang semakin keras ia dengar dari teman-temannya.
"Dosa apa gue dapat teman kayak kalian," gerutunya. Bukannya mereda, tawa yang ia dengar semakin keras. Memenuhi ruangan yang seharusnya sunyi. Memutar bola mata jengah, ia pun memilih untuk merebahkan tubuhnya kembali. Bersikap seolah-olah tidak ada keempat temannya di ruangan ini.
Ia menutupi matanya dengan lengan, menyembunyikan mata yang terpejam. Dalam gelap mata tertutup, ia kembali didatangi bayangan kisah yang baru saja harus ia akhiri.
🍓🍓🍓
“Anak mama kenapa melamun aja?” Sebuah belaian Diaz rasakan di kepala. Ia menoleh dan melihat sang mama yang kini duduk di sampingnya. “Ada masalah?”
Diaz menatap dalam mata mamanya. Haruskah ia mengatakan? Menghela napas panjang, mengubah posisi duduknya yang kini menghadap sang mama sepenuhnya. Diraih tangan lembut yang selalu ada untuk dirinya. “Ma,” panggil Diaz pelan.
“Mama tahu, 'kan kalau beberapa hari lalu Bang Ilyas ke rumah perempuan yang dijodohkan dengannya?” Felly mengangguk ucapan putranya. “Ternyata, perempuan yang dijodohkan dengan Bang Ilyas adalah Syifa, Ma.”
“Apa?” Felly terkejut? Pasti. Kenapa dunia terasa sempit seperti ini? Ia membalas genggaman tangan Diaz, sedikit memberi remasan. “Lalu kamu bagaimana?”
Diaz hanya tersenyum, ia coba tutupi kesedihan meski ia pun yakin sang mama melihatnya. “Mama tahu, 'kan keluarga Syifa tidak menyukai Diaz?” Diaz melihat mamanya mengangguk kaku.
“Memang apa yang harus Diaz lakukan sekarang, Ma? Kalau bukan mundur? Mama juga pasti tahu perbedaan jauh antara Diaz dan Bang Ilyas. Sudah pasti Bang Ilyas yang mereka harapkan untuk menjadi pendamping Syifa.”
Felly sungguh tidak tega melihat sang putra seperti ini. Ia rengkuh tubuh itu, menepuk punggungnya memberi kekuatan. Belum pernah ia melihat sang putra jatuh cinta pada seorang gadis. Sekalinya ia jatuh, maka dibuat jatuh sejatuh jatuhnya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menenangkan Diaz.
“Kamu yang sabar, Sayang. Mungkin Syifa memang bukan jodoh kamu.” Felly merasakan sebuah anggukan. Tak lama kemudian, bahunya terasa basah. Oh, anak semata wayangnya menangis karena cinta pertamanya.
🍓🍓🍓
Seminggu telah berlalu, pagi ini, Diaz bisa kembali lagi ke tempat ini. Ke tempat di mana Syifa bekerja. Untuk apa? Memangnya untuk apa lagi jika bukan untuk menemui Syifa. Dan lagi, untuk apa? Bicara. Ya, Diaz hanya ingin bicara.
Menata hati, ia mendekati kasir. Melihat dengan dalam keberadaan Syifa yang tengah menunduk. Perempuan itu pasti tidak tahu kedatangannya. "Sati Roti rasa Vanila," ucapnya saat ia tepat berada di depan Syifa. Dapat ia lihat mata jernih milik Syifa saat wanita di depannya mendongak. Mata indah yang selalu suka ia pandang. Namun, kini ia menyadari, binar keindahan itu bukan untuknya.
"Sebentar!"
Diaz menunggu, menunggu pesanannya disiapkan. Dan tepat saat Syifa memberikannya, ia pun berucap, "Makan siang!" Diaz menatap dalam mata cantik yang kini juga menatapnya.
"Aku hanya ingin mengobrol sebentar saat makan siang, di taman dekat sini," jelasnya lagi. Tidak ada jawaban. Hanya anggukan yang menurutnya sudah cukup sebagai jawaban. Diaz mengerti, ia pun segera berlalu dari sana.
🍓🍓🍓
Seperti yang ia ucapkan tadi pagi, bahwa ia ingin menemui Syifa di taman. Saat ini, Diaz sudah duduk di salah satu bangku taman, menikmati roti yang sebelumnya ia beli di Cafe tempat Syifa bekerja. Ia duduk memandangi beberapa anak kecil yang tampak bermain senang. Meski sorot matahari tampak sangat menyengat, tetapi semua itu tak meleburkan semangat mereka untuk bermain. Ah, anak-anak dan segala kepolosan mereka. Tertawa lepas, tanpa beban.
Bangku yang ia duduki bergerak, Diaz merasakan seseorang duduk di samping kanannya. beba menoleh, ia sudah mendapati keberadaan Syifa di sana. Duduk tanpa menoleh padanya. Hanya diam sembari menatap ke depan. Meski keduanya duduk berdua dalam satu bangku, tetapi Syifa memberi jarak di antara mereka. Diaz tersenyum tipis.
Masih tidak ada ucapan dari keduanya, hanya diam dan sama-sama menatap ke depan. "Asyik bukan?" Suara Syifa tiba-tiba terdengar. Membuat Diaz menoleh. Masih, ia masih melihat Syifa yang menatap ke depan.
"Menjadi mereka sangat asyik. Mereka bisa bebas mengekspresikan perasaan mereka. Tawa, tangis, bahagia, sedih, ngambek dan marah. Mereka tertawa lepas, tanpa beban." Diaz masih memperhatikan Syifa yang bicara. Ia tetap mendengarkan tanpa menyela saat Syifa diam, karena ia yakin Syifa belum menyelesaikan kata-katanya.
"Juga ... mereka tidak tahu masalah apa yang akan mereka hadapi saat dewasa nanti." Selesai. Diaz tahu itu. Ia pun kembali mengalihkan pandangannya ke depan.
"Jadi ... Bang Ilyas?" Diaz bisa melihat anggukan Syifa dari ekor matanya, wanita itu tidak mengalihkan pandangannya sekalipun. Diaz tersenyum tipis.
"Sepertinya, aku sudah harus berhenti." Diaz kembali menoleh pada Syifa. Kali ini, ia mendapat balasan tatapan Syifa. Diaz tidak tahu apa arti tatapan itu. "Ya. Aku harus berhenti di sini untuk memperjuangkanmu." Diaz menunduk, menautkan jari-jarinya.
Masih diam, tidak ada balasan dari Syifa. Semakin membuat Diaz yakin bahwa ia memang harus berhenti di sini. Toh Syifa tidak mencegahnya. "Jangan! Jangan sekali-kali kamu berpikir bahwa aku menyerah. Tidak. Aku tidak pernah menyerah. Aku ... hanya mencoba menyadarkan diri akan posisi."
Diaz terkekeh, ia mendongak untuk menghalau matanya yang sudah berkaca. "Ya, ini akhirnya. Aku hanya ingin mengatakan. Kalau aku ... sangat mencintaimu." Kali ini, Diaz memberanikan diri menatap Syifa. Ia tidak peduli jika Syifa melihat matanya yang merah. Ia tidak peduli jika Syifa mengira dia seseorang yang lemah. "Terima kasih. Terima kasih untuk semua yang kamu kenalkan padaku."
Ponsel Syifa berbunyi, Diaz bisa melihat Syifa yang tampak mengeluhkan sesuatu. "Aku ... aku harus kembali ke Cafe." Diaz hanya tersenyum, lalu mengangguk. Saat Syifa bangkit pun, ia hanya diam. Karena ia tahu, jika ia tidak ada kuasa lagi untuk menahan Syifa. Kini, ia hanya memandang punggung wanita yang ia cintai berlalu pergi. Merelakannya bahagia bersama dengan yang lain.
Tidak keduanya sadari, seseorang memperhatikan keduanya sejak tadi. Memperhatikan dengan saksama dan penuh keyakinan.
🍓🍓🍓
Syifa berjalan menuju rumahnya setelah ia turun dari angkutan umum. Hari ini, Ilyas mengabarinya jika laki-laki itu tidak bisa menjemputnya. Ia cukup bersyukur akan hal itu, ia jadi bisa menumpahkan kesedihannya.
Ya, sejak pertemuannya dengan Diaz di waktu makan siang tadi, perasaannya menjadi tidak tenang. Apa karena ia tidak makan saat waktu istirahat tadi? Ah sepertinya tidak. Itu hanya jawaban yang berusaha ia tekankan pada dirinya.
Namun, akhirnya ia kini menyerah. Semua kegelisahan ini, akibat ucapan-ucapan yang ia dengar dari Diaz. Menyerah, Diaz menyerah. Ah tidak, laki-laki itu tadi bilang hanya menempatkan posisi yang harus ia sadari. Sempat tadi ia ingin mengelak, tetapi Diaz seolah tidak memberikannya kesempatan membuka suara.
Belum lagi, waktu mereka yang terbatas. Belum sempat ia mengatakan hal yang ingin ia katakan, ponselnya berbunyi, memberitahukan bahwa ia harus segera kembali ke Cafe. Syifa hanya memahami satu hal, bahwa pertemuannya tadi tidak menghasilkan apa-apa.
Tiba-tiba, Syifa terkejut saat seseorang menarik tangannya kasar, Syifa menatap dua orang yang saat ini menatapnya dengan sebuah seringai. Baru saja ia ingin berteriak, tetapi gagal saat seseorang membekapnya. Ia meronta, mencoba melawan dua orang yang tidak ia kenali ini. Namun, entah kenapa, lama-kelamaan tubuhnya terasa lemas, ia seolah kehilangan tenaga. Ia pun menyadari satu hal, bahwa ia baru saja dibius. Sampai akhirnya, kesadaran tak lagi mampu ia pertahankan.
🐢🐢🐢🐢🐢🍓🍓🍓🐢🐢🐢🐢🐢
Syifa kenapa itu 😱😱😱😱😱
Oh tidak.
Ayo! Jangan lupa vote dan komennya.
🐢Salam🐢
🍓 EdhaStory🍓
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro