Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

KSP : Bagian 3


Kutukan Sang Penulis
Bab 3 : Tetangga baru
*
*
*
Hai, readers!
Apa kabar kalian? Cerita ini akan memberikan detail yang terlihat sepele, tapi aku harap kalian tetap ngikutin prosesnya karena bisa jadi detail sepele itu adalah plot twist di akhir.

Enjoy and happy reading!

~oo00oo~

Setelah pertemuannya dengan Hoshi siang itu, Belinda menjadi kepikiran apakah benar Helene dibunuh dan bukan bunuh diri? Belinda menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran itu.

"Bel, mama denger di sekolah kamu ada siswi yang bunuh diri?"

Bukan hanya pertanyaan itu yang membuat Belinda terkejut, melainkan juga kedatangan mamanya yang tiba-tiba membuka pintu kamar dengan kuat.

"Ma, ketuk dulu pintunya, aku bisa jantungan kalau bgini," kata Belinda sembari mengubah posisinya yang semula berbaring, sekarang bersandar di tempat tidur.

"Bel, ayo jawab!" balas mamanya tak peduli, malah menyodorkan handphone ke Belinda. "Ini lagi heboh banget di grup perwalian siswa. Beritanya juga sudah terbit di TV."

"Belinda juga nggak tahu pastinya, Ma. Yang jelas memang benar ada siswi yang jatuh dari atas gedung sekolah."

"Ya ampunn, Bel, apa kamu pindah lagi aja? Pindah aja, Bel, nanti mama hubungi Bu Sintia, ya!" kata Flora—Mama Belinda.

"Aduh, Ma, nggak usah. Aku capek harus pindah lagi, baru juga hari pertama masa udah pindah lagi."

"Justru karena baru hari pertama, masa udah ada anak yang meninggal di sekolah. Bel, kamu nggak takut? Bisa aja anak itu bunuh diri karena dibully, berarti sekolah itu banyak penbully, sayang."

Flora memang suka mendramatisir masalah atau mungkin semua ibu di luaran sana sifatnya dramatis begini. Belinda berdiri, memegang pundak ibunya dan mereka bertatapan dengan garis yang sama.

"Ma, percaya sama aku, nggak akan ada apa-apa kok. Aku nggak mau pindah, masalah ini ya semua sekolah juga pernah ada masa kelamnya nggak, sih, Ma? Mungkin saja pas banget sekarang jadi masa kelam bagi SMA Garuda. Tapi bukan berarti aku dalam bahaya juga 'kan?"

Flora berpikir keras, mengapa Belinda mendadak seperti punya kemauan besar menetap di sekolah itu? Biasanya juga dia tidak peduli dengan hal seperti ini, apalagi Flora tahu betul kalau Belinda adalah anak yang paling menjauhi segala sesuatu yang berpotensi membuatnya dekat dalam masalah.

"Bel, kamu tiba-tiba jatuh cinta sama seseorang ya?"

"Oh, gosh!" Belinda melepaskan tangannya dari pundak Flora, lalu duduk lagi di kasurnya. "Kenapa malah arahnya ke sana? Nggak nyambung banget."

Flora menatap penuh selidik. "Biasanya kamu iya-iya aja dengan keputusan Mama, kenapa sekarang kayaknya kamu bersikeras pengen tetap di sekolah itu? Hayoo, ngaku kamu!"

Suara menggoda Flora membuat Belinda jengah. "Mulai deh," balas Belinda kesal.

"Tapi serius loh, Bel, kamu nggak mau pindah? Mama siap banget ngurusin semuanya, bahkan Mama juga bisa carikan kamu sekolah malam ini juga!" kata Flora lagi, masih ingin memastikan.

"Nggak, Ma. Udah ya, aku mau tidur, besok ke sekolah." Belinda bergerak ke posisi tidur dan menarik selimut. "Good night, Ma."

Pengusiran secara halus. Flora mendengus pelan, anaknya yang keras kepala. "Good night, Bel, kalau berubah pikiran, bilang ke Mama ya." Sebelum meninggalkan kamar anaknya, ia berdiri di pintu kamar, teringat sesuatu. "Oh, iya, Bel. Rumah depan yang kosong, sekarang berpenghuni, loh. Ada anak cowok, Mama liat dia ganteng dan sepantaran kamu deh."

"Ma!" teriak Belinda, membuat Flora tertawa dan akhirnya menutup pintu kamar anaknya itu.

~oo00oo~

Paginya saat di sekolah, masih ramai sekali anak-anak yang berkumpul membentuk kelompok kecil yang Belinda tahu membicarakan topik hangat dan menghebohkan. Bukan hanya di lingkungan sekolah saja, melainkan juga di masyarakat luas hingga menjadi pemberitaan di TV nasional. Tak heran pagi ini masih ada cukup banyak wartawan yang berkumpul di depan kantor guru, mungkin menunggu kedatangan Kepala Sekolah.

"Lo sudah menonton berita?" Suara itu muncul tiba-tiba dari belakang, membuat Belinda terkejut. "Kenpa kaget?"

Sial sekali Belinda harus ditakdirkan hidup berdampingan dengan orang-orang yang hobi sekali mengagetkan seperti ini.

"Ya menurut kamu?" balas Belinda sinis.

Hoshi berdecak. "Intinya lo udah lihat berita soal Helene nggak? Apa gue bilang, berita ini akan disimpulkan menjadi kasus bunuh diri."

"Diam, kalau wartawan denger, bisa-bisa kamu akan dikejar dan dimintai keterangan."

"Pendapat gue juga nggak murahan kali!" Hoshi menampik. "Lo tahu nggak kenapa kasus ini dengan cepat diberitakan sebagai kasus bunuh diri?"

Belinda diam walau sebenarnya menyimpan rasa penasaran. Masih terus berjalan seakan mengabaikan Hoshi di sampingnya.

"Karena sekolah harus mempertahankan akreditasnya. Ironis 'kan? Nyawa yang melayang nggak cukup jika dibandingkan dengan nama baik sekolah."

"Nggak usah sotoy dan jangan libatkan ini dengan aku," ucap Belinda sebelum melanjutkan langkahnya dengan cepat.

"Jadi maksudnya, lo juga ada di barisan orang-orang yang menutup mata?" Pertanyaan itu membuat Belinda berhenti dan balik menatap Hoshi.

"Lalu menurutmu dengan ikut campur juga akan mengubah sesuatu yang sudah terjadi?"

"Mungkin tidak. Tapi nggak adil untuk Helene jika—"

"Jangan memaksakan asumsi kamu!" ujar Belinda memotong perkataan Hoshi. "Kita nggak hidup di dalam buku serial thriller dan kamu bukan pemeran utama yang harus memecahkan kasus ini. Bisa nggak berpikirnya yang logis aja? Memangnya kamu lebih tahu daripada polisi?"

Hoshi menatap Belinda dengan tenang. Gadis itu tampak marah, kelihatan dari wajahnya yang memerah di kedua pipi. Setelah itu, Belinda meninggalkannya. Hoshi terdiam, menatap punggung gadis itu yang perlahan mengecil oleh jarak.

"Kita memang nggak lagi di dalam buku serial thriller, Bel. Tapi, mungkin saja lebih buruk dari itu," gumam Hoshi.


~o0o~

Kira-kira siapa ya tetangga baru Belinda? Ikutin terus dan cari tahu di babak selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian!!!
Jadwal update: Setiap malam pukul 19.00 WIB

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro