KSP : Bagian 16
Kutukan Sang Penulis
Bab 16 : Pelaku pembunuhan Fani
*
*
S
esuai dengan rencana mereka, malam ini tiga remaja itu sedang berada di dalam mobil menuju kediaman Bu Yola. Jangan tanyakan siapa pemilik mobil itu, tentu saja adalah Daniel yang juga berperan sebagai sopir mereka malam ini. Sementara itu Hoshi duduk di bangku sebelahnya dan Belinda di belakang.
"Lo yakin kita akan dapet sesuatu di rumah Bu Yola?" tanya Daniel, fokusnya tetap berada di jalanan yang syukur saja tidak terlalu macet malam ini.
"Asalkan lo berdua pinter ngulur waktunya."
"Masalahnya kalau kita gagal, gimana?" tanya Belinda khawatir.
"Jangan berencana gagal sebelum memulai sesuatu dong! Gimana sih kalian ini. Pokonya tetap dalam rencana. Lo berdua ngalihin perhatian suami Bu Yola dengan cara bertamu dan gue akan masuk ke kamar mereka dan mencari apa pun barang yang berkaitan dengan Bu Yola di sana."
Sesungguhnya, Belinda masih saja cemas karena tentu saja tindakan ini salah dan sangat nekat. Ini juga pertama kalinya Belinda melakuka hal yang termasuk 'kriminal' seperti ini.
"Lo tenang aja, Daniel bisa ngebantu banget. Dia jago berakting," ucap Hoshi menenangkan.
"Pala lu!" umpat Daniel.
Tak berselang lama, mereka akhirnya memasuki kompleks rumah Bu Yola. Daniel memarkirkan mobilnya tak jauh dari gerbang rumah berukuran sedang dengan halaman yang dipenuhi rumput hijau nan rapi itu. Rumah yang terlihat hangat dan bergaya minimalis.
"Kita berpisah di sini, lo berdua bertamu sesuai dengan yang direncanakan dan gue akan mencari jalan belakang." Intruksi itu diangguki keduanya.
Belinda dan Daniel berjalan menuju gerbang besi yang ukurannya sepinggang orang dewasa, sembari membawa sebuah kardus di sebelah tangannya, Daniel membuka gerbang yang tak dikunci itu.
Daniel mengetuk pintu. "Assalamu'alaikum, permisi." Kemudian sekali lagi ia mengetuk.
Tanpa menunggu lama, pintu dibuka dan muncul seorang pria dewasa berumur pertengahan 30-an dengan rambut klimis dan kumis tipis. Tampak kebingungan, pria itu menyambut uluran tangan Daniel dan Belinda.
"Halo, Pak, perkenalkan saya Daniel dan ini teman saya Belinda. Kami murid di SMA Garuda dan malam ini bermaksud mau mengembalikan beberapa barang Bu Yola yang masih ada di kubikel kantornya."
"Oh begitu, saya Rinto. Silakan masuk."
Belinda menegak ludahnya dengan gugup, mereka memasuki ruangan pertama rumah itu. Cukup luas dan minin interior, ada dua buah sofa di sana, satu berukuran panjang dan satunya lagi pas untuk diduduki satu orang. Daniel dan Belinda duduk di sofa panjang dan meletakkan kardus di atas meja.
"Kalau boleh tahu barang-barang ini apa aja, ya? Bukannya sudah disita polisi untuk kepentingan penyelidikan?"
"Ah, iya, Pak, memang benar. Tapi ini adalah beberapa barang yang berkaitan dengan pekerjaan Bu Yola, jadi dari pihak sekolah menyarankan agar dipulangkan saja," jawab Daniel tenang. Tampaknya Belinda kali ini percaya dengan Hoshi, cowok di sampingnya sangat membantu dan dengan mudah mendapat kepercayaan suami Bu Yola.
"Ngomong-ngomong, kami turut berdukacita atas kepergian Bu Yola, yah, Pak. Kami sangat kehilangan guru berbakat dan penyayang seperti beliau," ucap Belinda yang akhirnya menemukan sebuah kalimat untuk memberi kontribusi ke akting mereka malam ini.
Rinto tersenyum tipis. "Iya, begitulah takdir Tuhan. Kita nggak bisa apa-apa."
"Bapak pasti merasa terpukul," ucap Daniel lagi, berusaha sebisa mungkin memperpanjang obrolan.
"Iya, tapi saya harus tanah. Ini sudah takdir Tuhan."
Jawaban yang hampir sama terulang, membuat telinga Belinda rasanya begitu gatal. Mengapa pria ini terdengar menyepelekan kematian istrinya sendiri? Ekspresi wajah Rinto juga tampak datar, tidak seperti seseorang yang baru saja kehilangan orang tersayangnya. Minimal harusnya ada tanda-tanda kelelahan di wajahnya, namun nihil. Tak terlihat sedikitpun di wajah pria itu, bahkan sebaliknya Rinto terlihat bugar dan segar.
Di tengah usaha Daniel dan Belinda yang ingin memperpanjang obrolan, ada Hoshi yang tengah frustasi karena tak mendapatkan apa pun di kamar pasangan suami istri itu. Ya, Hoshi telah berhasil memasuki kamar itu dengan mudah karena tidak ada penghalang apa pun selain tembok yang dengan mudah ia lewati dan juga jendela kamar tanpa kawat besi yang kebetulan tidak ditutup. Tentu saja Hoshi sudah memakai sarung tangan latex berwarna hitam yang dengan gampang ia dapatkan di ruangan ibunya.
Hoshi membulatkan tekat, setelah mendengar obrolan yang masih berlanjut di ruang tamu, cowok itu membuka pintu. Beruntung Rinto duduk membelakangi posisi kamar itu sementara Belinda yang sempat beradu tatap dengan Hoshi langsung mengalihkan pandangannya. Pelan-pelan cowok itu melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar yang tepat berada di depan kamar Bu Yola dan Rinto.
Setelah berada di dalam kamar itu, Hoshi bisa mencium aroma pengharum ruangan yang aktif, menandakan kamar itu juga digunakan atau ditempati seseorang. Tetapi siapa? Menurut informasi yang mereka dapatkan, Bu Yola dan Rinto hanya tinggal berdua dan pasangan itu belum dikaruniai seorang anak. Lantas, siapa yang mendiami kamar ini?
Merasa ada yang janggal, Hoshi membuka lemari pakaian dan menemukan setelan pakaian yang biasa Bu Yola gunakan, beralih ke laci nakas, ia menemukan beberapa peralatan kecantikan di sana dan juga ada sebuah notes berukuran sedang berwarna merah.
Hoshi mengambilnya dan membuka buku itu. Di halaman pertama ia menemukan tulisan yang membuatnya yakin harus membawa buku ini bersamanya.
I HATE YOU RINTO!
Kalimat itu ditulis dengan huruf besar dan juga berukuran besar, bahkan kertas itu sedikit robek pada bagian huruf-hurufnya sehingga mengindikasikan ditulis dengan penuh emosi dan kemarahan. Tak kalah mengejutkan, ketika Hoshi hendak mengecek seberapa banyak halaman buku yang sudah tertulis, sebuah foto jatuh dari sana. Hoshi memungutnya dan mendapatkan foto yang membuatnya tak kalah terkejut.
"Oh, my gosh." Hoshi menggumam, menahan rasa terkejutnya.
Foto itu menunjukkan seorang perempuan dengan seragam sekolah mereka yang tak lain adalah Fani. Beberapa bagian fotonya tampak robek yang Hoshi asumsikan disebabkan oleh tusukan pulpen.
Cowok itu segera mengirimkan pesan kepada Daniel dan dengan segera ia keluar dari kamar itu melalui jendela dan bergegas menjauh dari sana.
Sepertinya mereka sudah tahu siapa pelaku pembunuhan Fani.
*
A/n
Siapa sangka? Sangka siapa? Wkwk
Part selanjutnya akan menjawab sesuatu yang ingin kalian ketahui dan mungkin ada di antara kalian yang udah tahu, kenapa Bu Yola membunuh Fani? Dan gimana caranya? Hmm, aku pengen nulis POV Bu Yola waktu ngebunuh itu sih, tapi masih mikir-mikir, perlu atau nggak ya?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro