KSP : Bagian 1
Kutukan Sang Penulis
Bab 1 : Bunuh diri?
*
*
*
Hai, teman-teman!
Disclaimer, cerita ini hanya FIKSI & murni karangan belaka. Apabila ada kesamaan nama, tempat, kondisi dll. itu hanya sebuah kebetulan dan tidak ada faktor kesengajaan!
Enjoy!
~~oo00oo~~
Belinda menatap gedung sekolah barunya, sembari berjalan ia memperhatikan aktivitas di sekitarnya. Gedung sekolah ini jauh lebih besar dan luas dibanding sekolah lamanya. Bangunan berbentuk U yang dihubungkan oleh koridor panjang dan lapangan berada di tengahnya.
Belinda memasuki kantor guru yang sebelumnya sudah pernah ia datangi bersama ibunya. Belinda cukup lega begitu melihat Bu Sintia, selaku guru yang mengurus pendaftarannya sekaligus juga menjadi wali kelas barunya di sekolah ini.
"Permisi, Bu, Pak." Belinda menyapa setelah sebelumnya mengetuk pintu.
"Belinda, ayo masuk! Sebentar lagi kamu ikut Ibu ke kelas, pelajaran pertama akan segera dimulai," ucap Bu Sinta.
SMA Garuda salah satu sekolah bergensi yang ada di Jakarta. Belinda sebenarnya lumayan gugup sebab ini adalah pertama kalinya pindah ke Jakarta secara permanen. Sebelumnya ia pernah beberapa kali ke Jakarta, ikut ibunya menyelesaikan pekerjaan yang tak lain adalah membangun sebuah toko bunga, mimpi ibunya sejak lama.
Sebenarnya Belinda sangat malas jika harus pindah sekolah, ia bukan anak yang pandai bergaul, maksudnya Belinda bahkan tidak peduli harus punya teman atau tidak. Bukan berarti Belinda tipe murid yang gampang diintimidasi, dia hanya tidak ingin terlibat dengan hal-hal rumit seperti pertemanan yang mengharuskan mereka nongkrong berjam-jam diisi obrolan tak jelas.
Sembari menarik napas panjang, Belinda berjalan di belakang Bu Sintia, menuju ruangan kelas XI MIPA 2.
"Selamat pagi, anak-anak!" sapa Bu Sintia, kemudian mengajak Sintia mengikutinya berdiri di depan kelas.
"Pagi, Bu!" Jawaban serentak dari anak-anak di kelas itu.
Ketika memasuki kelas itu, Belinda bisa melihat seluruh pandangan mata tertuju padanya. Inilah hal yang paling Belinda benci, menjadi pusat perhatian. Belinda bisa mendengar riuh tertahan bisikan-bisikan yang entah apa maksudnya.
"Belinda, silakan perkenalkan dirimu."
Belinda tersenyum tipis, kemudian memulai perkenalan dirinya. "Namaku Belinda Wirastri."
Hening.
"Lah, itu doang?" celetuk salah satu siswa, disambut tawa kecil. "Irit banget, neng!" lanjutnya lagi kemudian diikuti tawa siswa lainnya.
"Tambahin kek, hobi, alamat, pindahan dari mana, status single atau janda? Ehhh!" celetuk yang lainnya lagi, membuat seisi kelas menjadi makin ramai.
"Sudah, sudah! Kalian ini ada-ada saja, jangan membuat Belinda nggak nyaman! Belinda, kamu silakan duduk di samping Hoshi. Hoshi, angkat tangan kamu!"
Seorang cowok dengan rambut acak-acakan mengangkat tangannya dengan malas. Melihat itu, Belinda akhirnya berjalan menuju bangku kosong di samping cowok bernama Hoshi itu walau sebenarnya dengan perasaan enggan. Ia belum pernah memiliki teman sebangku laki-laki, tambah lagi perawakan anak itu seperti brandalan sekolah. Sekali lagi, Belinda ingin tenang, jauh dari permasalahan!
Belinda duduk di bangku itu, ia mulai mengeluarkan bukunya karena Bu Sintia akan memulai pelajarannya. Seakan perkenalan tadi belum cukup buruk, seseorang yang duduk di bangku depannya menghadap ke belakang dan menjulurkan tangannya.
"Hai, gue Alexis. Kim Alexis Leonard, salam kenal ya. Semoga betah di sini dan semoga betah duduk bareng—" Perkataan itu sengaja dijeda, Alexis memilih meneruskannya dengan isyarat mata yang mengarah ke Hoshi. "Dia sedikit aneh!" lanjutnya dengan bisikan.
Belinda tersenyum dipaksakan. Kemudian membalas uluran tangan gadis berponi yang tampak tersenyum ruang sehingga kedua matanya hilang membentuk bulan sabit.
"Alexis, apa yang kamu lakukan di belakang sana? Ibu sedang di depan, kenapa kamu asik menghadap belakang?" Teriakan itu membuat Alexis akhirnya berhenti berceloteh dan duduk tegak.
Saat itu, Belinda tahu bahwa dia akan semakin jauh dari cita-citanya yang ingin aman damai jauh dari keributan. Bagaimana tidak? Teman sebangkunya yang terlihat aneh, lalu orang di depannya sangat cerewet. Energinya akan terkuras habis hanya dengan sekali mengobrol bersama Alexis.
~~oo00oo~~
Belinda membasuh wajahnya dengan air di westafle, gadis itu baru saja menghindari Alexis yang terus menempel padanya. Setelah mematikan keran air, Belinda yang berniat untuk keluar dari kamar mandi itu terhenti ketika mendengar samar-samar tangisan seseorang dari salah satu bilik toilet.
"Gue janji, gue janji." Suara itu terbata-bata dan diucapkan dengan pelan. "Kasih gue satu kesempatan lagi, halo? Halo? Ah, sialan!"
Tak lama kemudian, salah satu bilik toilet itu terbuka, memperlihatkan seorang siswi dengan mata sembab tampak terkejut melihat Belinda. Apakah sejak tadi ia tak mendengar kedatangan Belinda? Namun, Belinda diam saja dengan ekspresi datar, ia bisa melihat nama yang tertera di name tag gadis itu, Helene Patricia namanya. Setelah itu, Belinda langsung berbalik tak peduli.
"Belinda!" Panggilan itu membuat si empunya nama terkejut, Alexis melambaikan tangan dengan semangat tak jauh dari posisinya. "Ternyata lo di toilet!" seru Alexis berjalan mendekati Belinda.
"Iya, aku ngantuk jadi tadi mau cuci muka doang," jawab Belinda. Alexis mengangguk-angguk.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi itu kembali terbuka, sehingga menarik perhatian Alexis.
"Hai, Len!" sapa Alexis, membuat Belinda akhirnya menoleh lagi ke belakang dan beradu tatap dengan Helene. Gadis itu tak membalas sapaan Alexis dan malah berlalu menaiki tangga. "Aneh banget," ucap Alexis dengan nada kesal.
"Kamu kenal?" tanya Belinda.
"Kenal dong, dia kan temen sekelas kita. Lo nggak ngeh ya? Eh, tapi wajar sih ini kan hari pertama lo."
Belinda mengangguk sekenaknya. Wajar ia tak tahu, Belinda juga bahkan belum memperhatikan wajah teman sekelasnya satu per satu, apalagi berkenalan.
"Ohiya, balik bareng gue yuk atau gimana kalau kita main dulu?" ajak Alexis kemudian menyerahkan ransel milik Belinda. "Sengaja, nih gue bawain tas lo biar cepet."
Belinda melirik sekilas, kemudian mengambil tasnya dan menyampirkan ke bahu. "Aku mau pulang. Lagipula, aku jalan kaki, rumahku nggak terlalu jauh."
"Main dulu yuk!" pinta Alexis memohon. Belinda terus saja berjalan cepat, tapi Alexis masih saja membuntutinya.
Terserahlah!
Sesampainya di lapangan sekolah, Belinda setengah berlari, mengabaikan panggilan Alexis di belakang sana yang terus mengajaknya main. Astaga, gadis itu benar-benar kekeuh. Saat gerbang sekolah berada di depan matanya, Alexis berhasil menyusul dan menarik tangan Belinda, napasnya terengah.
"Bel, tungguin! Gue bawa mobil, ayo kita naik mobil gue aja ya!"
"Rumahku deket, Lex. Aku jalan bentar aja udah sampai," kata Belinda menolak.
"Ayolah, nggak apa-apa kali. Ayo bareng gue aja!" Alexis menarik lengan Belinda dan dengan pasrah Belinda ikut saja.
"Tapi aku ingin pulang." Belinda menegaskan.
"Iya, iya, tapi sebelumnya kita singgah di cofeshop dulu gimana?"
"Maaf Lex, tapi aku—"
Perkataan Belinda mengambang di udara, tak bisa ia teruskan karena sesuatu yang terjatuh begitu cepat dan tepat tak jauh dari hadapan mereka, menimbulkan bunyi gedebuk sumbang dan mengejutkan. Hanya selang beberapa detik, jeritan Alexis pun terdengar.
"Aaaarrgggghhh!" Alexis sontak berteriak histeris, ketakutan melihat pemandangan di depannya.
Sementara itu, teriakan Alexis seakan menjadi pembuka teriakan-teriakan histeris dari siswa lainnya. Seketika suasana menjadi sangat kacau.
Belinda memundurkan langkahnya dengan kaku ketika cairan merah pekat perlahan mengalir ke arah mereka. Hal yang membuat Belinda makin shock adalah gadis itu tampak tidak asing.
Helene Patricia, gadis itu sedang meregang nyawa di hadapannya.
~~oo00oo~~
A/n
Bagaimana kesan pertamanya?
Baru bab pertama sudah memakan korban aja, seperti biasa ya cerita yang aku buat cenderung begitu. Pembaca lama pasti paham.
Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya?
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro