Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

25. Bengong

Ouch!

"Katanya kamu anak kuat?" tanya Yuda yang sedang mengobati luka di tangan Mia dengan kapas alkohol. Mia tak menjawabnya dan Yuda hanya meliriknya sesekali. Suasana hening, hanya terdengar suara Yuda sedang mengobati tangan Mia.

"Dok! Saya boleh tanya?" celetuk Mia dengan ragu-ragu.

Yuda memandanginya, "apapun. Keluarkan saja!"

Mia menghela nafas pendek. "Apa ... seorang cewek itu pasti lemah? Apa cewek nggak bisa melindungi cowok? Atau seorang cewek harus latihan judo dulu biar dirinya menjadi kuat?"

Yuda mengernyitkan dahinya, "kenapa dengan pertanyaanmu itu?"

Mia tak menjawabnya dan hanya menunggu jawaban Yuda yang dapat memuaskan rasa penasarannya.

Yuda memutar bola matanya, memikirkan apa yang dimaksud oleh pasiennya. "A ... apa ini ... ada hubungannya sama Ken?"

Mia mengangguk pelan sebagai jawabannya. Yuda menghirup nafas dalam-dalam, "apapun yang kamu lakukan, asalkan kamu sudah berusaha ... saya yakin, kamu sudah melindungi dirinya. Kamu nggak perlu belajar macam-macam, asalkan kamu berani berdiri di jalan yang benar, itu sudah cukup."

"Begitukah?"

Yuda mengangguk, "memangnya, ada apa? Kenapa kamu bisa terluka seperti ini?"

Mia menggigit bibirnya dan ragu untuk menceritakannya.

Duk!

Yuda mendorong dahi Mia dengan telunjuknya, "bagaimana bisa kamu melindunginya, kalau kamu nggak berani cerita?"

Mia masih diam menatap Yuda dengan ragu. Yuda mengusap kepala Mia, "ya sudah. Kalau kamu belum siap, tapi jangan lama-lama. Kita selesaikan masalahmu bersama."

(ノ≧∇≦)ノ ミ ┻━┻

Ken termenung di belakang halaman sekolah, ketiga seniornya tidak hadir karena masih malas dan waspada jika gadis berkepang muncul lagi tiba-tiba dan membawa mereka terseret dalam masalah. Ken memegangi kepalanya dan meremasnya mengingat kejadian kemarin. "Gak guna banget lu Ken! Kenapa lu gak bisa ngelindungi Mia?"

Uhhhh!

Otot di wajah Ken mulai kelihatan karena dirinya yang menegang, terlalu keras memikirkan sang calon kekasih. "Apa ... sebaiknya gue jauhi dia?"

DOR!

"Eh, Mia cantik, Mia!" seru Ken latah dan membuat orang yang mengagetkannya dari belakang bersemu merah sambil memegangi pipinya.

Ken memutar kursi rodanya dan membulatkan matanya melihat pujaan hatinya berdiri di depannya dengan malu-malu.

"Makasih Ken," sahut Mia dengan lirih.

"A ... ng ... eh! Gue gak muji lu! Gue cuma ng ...," Ken gugup sendiri dan menyangkal apa yang diucapkannya. Ken mengalihkan topiknya dengan lirikan matanya yang khas, "ngapain lu di sini?"

"Makan yuk!"

Ken memandangi Mia dari atas ke bawah, lalu mendapati siku Mia yang diplester. "Sakit?"

Mia ikut melihat sikunya sendiri lalu tersenyum, "nggak papa kok! Gini aja mah, nggak ada apa-apanya!"

Ken melirik Mia dengan malas, "cengeng gitu bilang nggak ada apa-apa!"

Mia memiringkan mulutnya sedikit sebal karena ucapan Ken. Mia mengibaskan tangannya, "a ... pokoknya nggak papa deh! Lu nggak perlu khawatir sama gue!"

"Idih!" sanggah Ken, "siapa juga yang khawatir sama lu!"

Ken memalingkan wajahnya, dalam hatinya ia sangat menghawatirkan Mia, berbeda dengan yang ia ucapkan. Ken melirik Mia, berpikir jika harus menjauh dari Mia lagi, ia merasa tak sanggup harus berjauhan. Ken membayangkan dirinya yang kesepian lagi dan merindukan Mia, berat.

"Ken?" panggil Mia, "lu mikirin apa?"

"Hah?" Ken tertegun, "mikirin ... makanan lah! Laper gue!" Ken beranjak pergi dari sana begitu saja menuju arah kantin dan Mia mengejarnya.

"Tungguin!"

(ノ≧∇≦)ノ ミ ┻━┻

Hari itu, Ken berada di ruang guru karena wali kelasnya memanggil. Setelah sedikit berbincang, ia keluar sambil membawa sebuah kertas. Mia telah menunggunya di depan pintu dengan wajah pucat karena khawatir. "Pak Zen ngomong apa, Ken?"

"Mau tau aja lu!" Ken mengabaikannya lalu menjalankan kursinya keluar ruangan dan berhenti di tengah jalan karena Mia menyusulnya untuk menghadangnya. "Eh, minggir! Ngalangin gue lu!"

"Nggak!" sergah Mia, "gue penasaran, ada apa?"

"Ngotot amat sih lu!" Ken melirik tajam pada Mia lalu menyodorkan kertas yang dipegangnya ke wajah Mia, "nih!"

Mia terkejut lalu mengambil kertas itu dan membacanya. Mia menepuk bahu Ken, "oh ... tentang klub! Bilang dong dari tadi, Ken!"

Ken hanya merengut sebal. Ken mengulurkan tangannya, "udah puas kan? Mana!"

Mia tidak memberikannya, "tapi, lu mau masuk klub apa?"

"Bodo amat bukan urusan lu juga!" ketus Ken.

"Urusan gue lah, kan lu temen gue!"

Ken merengut, dalam pikirannya kenapa gadis manis di depannya hanya menganggap dirinya sebagai teman. "Gue gak bakal ikut apa-apa!"

"Nggak boleh, Ken! Peraturan sekolah minimal lu harus ikut satu!" nasihat Mia dengan serius bagaikan seorang guru.

"Tapi, nggak ada yang cocok!"

"Hmmm," Mia mencoba berpikir, "mau ikut klub gue aja? Gue ikut jurnalistik!"

Deg.

Dalam pikiran Ken dia sangat mau mengikuti Mia apapun klubnya, namun sebuah bisikan tak terlihat mengurungkan niatnya. "Ogah! Gak gue banget!"

Mia berubah kecewa, ada sedikit keinginan untuk satu klub dengan pujaannya.  "Kalau ... lukis?"

"Gak bisa!"

"Osis?"

"Males!"

"Musik?"

"Gak bakat!"

"Sepak bola?"

Ken melirik tajam pada Mia, "gak liat kaki gue?"

Mia menutup mulutnya, "sorry ... gue lupa."

"Terus apa dong?"

Ken tak menjawabnya, hanya merebut kertas itu. "Minggir!"

"Tunggu, tunggu!"

"Apa lagi?" tanya Ken dengan malas.

"Basket aja! Lu dulu kan jago, ehm!" kata Mia dengan malu-malu.

"Lu hina gue?"

Mia mengibaskan tangannya, "bukan gitu! Mm ... tapi lu kan masih bisa masukin bola pakai tangan!"

Ken berpikir, memang benar bermain basket poin utamanya adalah memasukkan bola dengan tangan. Tapi tidak mungkin dengan keadaannya.

"Gue punya ide!" imbuh Mia bersemangat, "gue bakal bantu ngomong sama pengurus klub basket, biar ngijinin lu ikut klub. Seenggaknya, lu bisa latihan lari pake kursi roda ini dan masukin bola ke ring kan? Gimana?"

"Apa itu mungkin?"

"Kalau belum dicoba, kan nggak tau!"

Ken mengernyit tak percaya. Mia memegangi bahu Ken, "siapa tau ... nantinya jadi terobosan baru di dunia olahraga?"

Ken terpaksa setuju, lagipula baginya hanya untuk sekedar formalitas untuk mengikuti satu kegiatan klub. Dia tidak terlalu berharap banyak bagaimana ke depannya, apalagi mengikuti turnamen. Yang terpenting dirinya tidak di usir dari sekolah hanya karena tidak mengikuti klub.

(ノ≧∇≦)ノ ミ ┻━┻

Di gedung olahraga ....

Ken dan Mia sedang berbicara dengan pelatih basket sekolah itu yang bernama Rahmat Hidayat. Rahmat memegangi dagunya, "jadi kamu mau masuk klub ini?"

Ken mengangguk, "sebagai formalitas saja sih, Pak! Kalau bapak mengizinkan, soalnya saya nggak cocok sama klub lain."

"Iya, Pak!" imbuh Mia, "formalitas saja. Saya juga bakal melatih Ken buat berlari dengan kursi rodanya, Pak! Ya ... seenggaknya dicoba dulu, Pak! Saya berani merekomendasikan dia, karena saya satu sekolah dulu, Pak. Dia jago dalam hal basket, saya yakin nggak akan mengecewakan bapak, kok!"

Rahmat masih memandangi Ken dari atas ke bawah dan berpikir dengan serius. "Ya ... kalau sebagai formalitas saja sih, nggak masalah. Bahkan nggak perlu ikut latihan, hanya datang melihat itu sudah cukup."

"Apa saya ... nggak boleh ikut latihan?" tanya Ken dengan ragu. Ia juga memiliki sedikit keinginan untuk ikut bermain.

"Hmm ... ya sudah, kamu boleh ikut. Tapi saya nggak bisa memasukkan kamu ke dalam tim inti. Itu tidak mungkin, kamu tau kan maksud saya?" tegas Rahmat yang ingin memberi perhatian namun tidak berlebihan.

"Iya, Pak!"

Akhirnya Ken mulai diizinkan mengikuti klub itu, setidaknya dia tidak akan dikeluarkan sekolah dan juga sedikit menghindar dari tiga senior.

"Ken, gimana kalo kita rayakan lu masuk klub basket?" tanya Mia setelah Rahmat pergi dari sana.

"Hah? Ngapain gini doang pake dirayain? Kek anak kecil aja!" balas Ken memalingkan mukanya.

"Nggak papa dong, Ken! Menurut gue ini sebuah keberhasilan! Bisa bujukin pak Rahmat yang tegas kek gitu, bukannya hebat?"

Ken tak menjawabnya, ia tidak peduli dengan apa yang barusan dilakukannya. Apalagi masih belum dimulai, masih belum merasakan kesenangan didalamnya.

"Jadi ... kamu nggak mau? Padahal aku yang traktir loh!" bujuk Mia.

"Bakso doang? Males!"

Mia melipat tangannya, "bakso premium yang legenda itu, tetep nggak mau? Ya udah!"

Ken segera memegang tangan Mia, "tunggu, tunggu! Ditraktir kan?"

"Iya!"

"Terserah gue mau pesen berapa kan?"

"Iya!"

"Terserah gue mau ngomong apa kan?"

"Emang lu mau ngomong apa?" tanya Mia penasaran. Mungkinkah ....

"Mau ngomong kalo gue ...," Ken tersadar dengan ucapannya lalu merengut, "mau jitak lu!"

Mia memegangi kepalanya dan mundur satu langkah, "kok jitak gue sih? Kenapa?"

"Karena lu butuh dijitak! Udah ah minggir!" usir Ken pada Mia yang menghalangi jalannya. Mia menurut karena sedang sedih akibat ucapan Ken. Ken melengos pergi meninggalkan Mia yang masih terpatung.

"Lu ... kapan ngomong 'itu' sama gue?"

Di kejauhan dalam gedung olahraga itu, ada seorang lelaki berjaket hitam, tinggi, kurus, rambut sedikit bergelombang, mengamati Ken dan Mia yang sedang berbicara dengan Rahmat. "Ngapain mereka?"

Seorang pria lainnya merangkul pria berjaket itu. "Ada apa sih, Gi?"

Lelaki jaket hitam itu bernama Egy Ferdiansyah menoleh pada pria bertubuh kurus dan menjulang tinggi di sebelahnya. "Anak cacat itu, ngomongin apa sama pelatih kita?"

Pria jangkung itu melongok, "kepo banget lu! Mana gue tau!"

Egy merengut lalu memandangi Ken, "perasaan gue nggak enak nih, Yo!"

Dio namanya si pria jangkung itu, "jangan suudzon lu sama orang!"

Egy menatap lurus teman sepermainannya itu, "gimana kalau sampai dia ... gabung klub kita?"

(ノ≧∇≦)ノ ミ ┻━┻

"WOY, ANAK CACAT!" pekik Roy pada Ken dan Mia yang saling bertatapan di halaman belakang.

Mia menoleh namun Ken menahan wajahnya untuk tetap menatap dirinya, "nggak usah didengerin! Setan lewat!"

"Eh, kampret lu bocah! Ngatain kita-kita setan?" omel Siska yang mendengar ucapan Ken.

"Eh, lu! Beliin kita-kita soda!" perintah Riana yang berjalan mendekat.

Mia berdiri di depan Ken, "kalian nggak gue ijinkan nyuruh-nyuruh Ken lagi!"

"Aish! Sis, singkirin!" umpat Roy lalu memberi kode pada Siska dan Siska mengangguk sebagai balasannya.

"Ken!" pekik Aulia lalu berlari ke arahnya.

"Ck! Pengganggu datang lagi!" decak Riana kesal.

Siska menyikut Riana, "gimana kalo kita bully sekalian deh, rame-rame kan seru!"

Aulia berhenti dan hanya menatap lurus pada Ken tanpa memedulikan keberadaan tiga serangkai. "Lu dipanggil Pak Rahmat, ada rapat klub sekalian perkenalan diri katanya."

"Eh tunggu, tunggu!" Roy ikut menimbrung penasaran, "Pak Rahmat itu kan pelatih basket. Maksudnya, lu ikut klub basket?"

Ken tak menjawab dan hanya menatap tajam pada Roy.

"Wuah, wuah, wuah ajaib! Cacat gini masuk klub basket?" imbuh Siska tak percaya.

"Ck, ck, ck!" Riana melipat tangannya, "kalo mimpi jangan ketinggian, Ken! Kalau jatuh, sakit!"

Hahahaha!

Mereka bertiga pun tertawa dengan alay.

Mia berjalan ke belakang Ken dan menarik kursi Ken, "kita pergi aja dari sini!"

Mia, Aulia dan Ken pun pergi dari sana tidak peduli dengan mulut-mulut seniornya yang dengan seenaknya mencibir Ken. Ken mendongak lalu tersenyum tipis. Untung, ada lu di sini, Mi!

Di gedung olahraga, Ken mulai memasuki ruangan dan memperkenalkan dirinya pada anggota klub basket lainnya.

"Nah, mulai sekarang, Ken akan bergabung dengan kalian," ucap Rahmat membuka pembicaraan.

Ken mengangguk, "kenalin, gue Ken Arok dari kelas 2 IPA 1. Bantuin gue yak!"

"Widih ... nggak salah, Pak? Anak cacat mau main basket?" tanya Dio tak percaya sambil melirik Ken dan pelatihnya secara bergantian.

"Iya, Pak! Yang ada nanti nyusahin kita aja!" sindir Egy sambil menatap tajam pada Ken. Ken balas menatap tajam pada Egy, dirinya merasakan aura permusuhan mulai terjadi.

"Sudah, sudah! Dia di sini karena formalitas, dan nggak masuk tim inti. Kalian nggak usah khawatir soal itu. Cukup bantu dia untuk berlatih bersama kalian," tutur Rahmat dengan nada tegas.

"Baik, Pak!" sahut mereka bersamaan, namun tatapan mereka cukup ganas memandangi Ken. Mereka kurang menyukai kehadiran Ken, apalagi mereka juga tahu soal dirinya yang menjadi target tiga serangkai. Mereka tidak suka jika terlibat dengan senior-senior itu.

"Gue gak rela, lu masuk klub ini!" gumam Egy penuh penekanan.

Bersambung~

Note: Gimana? Udah pada dapet daging belum? :v btw selamat hari raya Idul Adha gaes~ maafin kesalahan-kesalahan Mimin ya, Mimin hanya manusia biasa :3 maafin Ken juga ya kalau dia terlalu kasar, Ken juga manusia biasa yang kelebihan gizi :3

Published 12 Agustus 2019

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro