Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

COMING OF AGE DAY || (BTS) JUNGKOOK || VIGNETTE

Ingat, ya, tanggal 16 Mei 2016.

Sekali lagi kuingatkan, tanggal 16 Mei 2016.

Hei! Besok sudah tanggal 16 Mei 2016.

Dua jam lagi tanggal 16 Mei 2016.

Percayalah, aku hampir gila karena sejak memasuki bulan kelima pada kalender Masehi, kekasihku Jungkook selalu mengingatkanku tentang tanggal enam belas. Kalau kau belum tahu, tanggal enam belas bulan Mei tahun ini adalah hari kedewasaan. Maksudnya, orang-orang yang tahun ini berusia dua puluh tahun berdasarkan penanggalan Korea, resmi menjadi orang dewasa. Dan tahun ini, orang-orang yang lahir pada tahun 1997 akan merayakan Hari Kedewasaan-nya.

Aku dan kekasihku, Jungkook, adalah dua orang yang merayakan Hari Kedewasaan-nya tahun ini.

Kamarku menjadi satu-satunya ruangan yang masih bermandikan cahaya lampu. Itu karena aku belum tidur, masih terbaring di atas ranjang sambil memandangi jam dinding yang jarum jam dan menitnya sebentar lagi akan kompak menunjuk angka dua belas. Tidak kupungkiri, aku pun menunggu hari saat aku resmi menjadi orang dewasa. Kendati demikian, aku tidak seantusias Jungkook.

Sejujurnya, menurutku, Jungkook sedikit berlebihan dalam menanggapi Hari Kedewasaan ini. Oh! Kecuali, kalau dia sangat menantikan ... tiga hal yang boleh didapatkan oleh mereka yang resmi menjadi orang dewasa tanggal enam belas bulan Mei ini.

Tiga hal itu adalah ...

***

Pertama, bunga.

"Jeongsa, pacarmu sudah datang," kata Eomma saat aku sedang bersiap-siap.

Lima menit sebelum pukul delapan, Jungkook datang ke rumah. Semalam, tepat saat pergantian hari, ia memang memberi tahu kalau ia akan datang menjemputku sehingga kami bisa berangkat ke kampus bersama.

"Iya, Eomma. Tunggu sebentar."

Sebelum meninggalkan kamar, sejenak kupatut diriku di depan cermin untuk memastikan penampilanku rapi pagi ini. Pun, kusempatkan diri untuk mengecek buku mata kuliah hari ini. Oke, semua sudah lengkap.

Aku bergegas keluar dari kamar, menuruni anak tangga. Sayup-sayup, kudengar Eomma dan Jungkook tengah bercengkrama.

"Sedang membicarakan apa, hm?" tanyaku, memandang mereka yang duduk di sofa secara bergantian.

Alih-alih menjawab pertanyaanku, Eomma berdiri menyambutku, kemudian memelukku dan berkata, "Selamat menjadi orang dewasa, Sayang."

Aku tersenyum begitu Eomma melepas pelukannya. "Terima kasih, Eomma," balasku. "Apa Eomma juga sudah memberi ucapan kepada Jungkook?" Aku melirik laki-laki itu. "Hari ini, dia juga resmi menjadi orang dewasa," tambahku.

"Sudah. Ajumma sudah memberiku ucapan selamat," Jungkook menyahut. "Omong-omong," Jungkook beringsut ke arahku, lantas mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan di balik punggungnya sambil berkata, "Untukmu."

Satu buket mawar merah yang masih tampak segar. Indah dan menguarkan aroma yang begitu wangi. Kuambil benda itu dari tangannya, berucap malu-malu, "Terima kasih. Bunganya indah sekali."

"Tidak seindah dirimu," timpal Jungkook.

"Doooh~~" seru Eomma. "Appa kapan, ya, memberi Eomma bunga lagi~" godanya.

Kuyakin semu merah muda menghiasi kedua belah pipiku. "Eomma~"

Kulirik Jungkook dan ia hanya tersenyum sembari menggaruk tengkuknya, canggung. Duh.

***

Kedua, parfum.

Sepulang kuliah nanti, temani aku ke mall, ya? Aku mau membeli sesuatu. Aku tunggu di tempat parkir.

Tumben!

Itu yang pertama terlintas di dalam benakku kala Jungkook mengutarakan rencananya untuk bertanda ke salah satu pusat perbelanjaan. Percayalah, selama bertahun-tahun aku mengenalnya, Jungkook bukan tipe pria metropolis yang gemar mengunjungi mall untuk membeli kemeja, jeans atau apalah itu. Pun, tiap aku yang mengajaknya ke sana, dia pasti mengeluarkan seribu alasan untuk menolak.

Lantas hari ini ..., kenapa?

Kedua tungkaiku bergerak bergantian menuju tempat parkir motor untuk mahasiswa yang cukup luas. Namun, kutahu Jungkook selalu memarkir motornya di sudut, bersebelahan dengan kolam yang nyaris tidak pernah tersentuh oleh pihak kebersihan kampus.

Semakin aku mendekat, semakin jelas kudapati Jungkook berada di dalam area pandangku. Lelaki yang hari ini mengenakan kemeja biru polos itu tengah duduk di atas sadel motornya, memainkan ponsel di tangannya sambil memandang sekitar. Seketika ia mengukir lengkung sabit di wajahnya kala ia melihatku mendekat.

"Sudah lama menunggu?" tanyaku.

Ia turun dari motornya, segera menyodorkan helm padaku. "Tidak juga," sahutnya. "Kita berangkat sekarang, ya? Sudah pukul empat sore."

"Oke."

Hampir lima belas menit waktu tertiup oleh embusan angin dalam perjalanan menuju sebuah gedung pertokoan yang tinggi di salah satu titik di daerah Yongsan-gu. Aku dan Jungkook berjalan bersisian memasuki gedung itu, melangkah ke sisi kanan, menjejak eskalator yang bergerak naik.

"Kau mau membeli apa, hm?" tanyaku.

"Parfum." Satu kata itu keluar bersama keyakikan seolah Jungkook memang berencana untuk membeli pewangi tubuh itu jauh-jauh dari sebelumnya.

"Kau mau memakai parfum, hm? Tumben." Lagi, aku menyeletuk heran.

"Bukan untukku, tetapi untukmu," tuturnya tanpa beban, sukses membuatku mengeluarkan kata "hah?" sebagai bentuk keterkejutanku. Dia, kan, tahu bahwa aku tidak begitu suka menyemprotkan minyak wangi itu ke tubuhku.

"Memangnya bauku tidak sedap, ya?" Aku langsung sewot bersamaan dengan kaki-kaki kami menjejak lantai dua.

"Bukan begitu maksudku," kata Jungkook membela diri. "Tapi, sesekali, kau harus memakai wewangian, kau tahu?"

"Tidak! Aku tidak suka. Kepalaku pusing kalau menghirup aroma parfum."

"Kamu, kan, bisa memilih aroma yang sesuai dengan indra penciumanmu. Atau, mau aku belikan aromatherapi saja?" tawar Jungkook.

"Tunggu! Tunggu! Kenapa kau ingin sekali membelikan parfum untukku, hm? Ah—apa karena hari ini adalah Hari Kedewasaan? Tadi pagi kau juga membawakan sebuket bunga untukku."

"Nah, itu kamu tahu," ucapnya. "Ah! Itu di sana. Toko parfum langgananan Eomma-ku."

***

Ketiga, sebuah ....

Semerbak aroma chamomile yang berasal dari lelaki di depanku menyesaki indra penciumanku. Cukup lama berdebat di toko parfum langganan ibunya, akhirnya Jungkook-lah yang membeli sebotol parfum untuk dirinya. Namun, tak kupungkiri, aroma pilihannya begitu menenangkan. Angin yang berembus menantang laju motor Jungkook sempurna membuatku menghirup aroma pilihannya.

Aku dan Jungkook dalam perjalanan pulang setelah berjalan-jalan dan makan di salah satu food court yang ada di mall. Jungkook sebenarnya masih ingin mengitari kota barang sebentar, tetapi aku memaksa pulang karena ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan sebelum hari esok tiba.

Motor Jungkook menepi di depan rumah. Ia mengantarku hingga ke teras, bahkan menyepatkan diri berpamitan kepada Eomma. Sebuah tendensi bagi Jungkook, pun sebuah nilai tambah untuknya di mata Eomma. Jungkook selalu meminta izin langsung saat ingin mengajakku ke luar dan memastikan aku tiba di rumah dengan selamat saat pulang.

"Hmm ... wangi sekali. Kalian baru saja membeli parfum, hm?" tanya Eomma basa-basi.

"Bukan 'kalian'" ralatku. "Hanya Jungkook. Eomma tahu, kan, aku kurang begitu suka parfum?"

"Ah, ya. Aroma yang sedap, Kook-a. Pilihan bagus."

Jungkook menggaruk tengkuknya, tertawa canggung. "Terima kasih, Ajumma."

"Terima kasih juga sudah mengantar Jeongsa pulang," tutur Eomma. Beliau pun kembali ke dalam, mengerti bahwa sebelum Jungkook benar-benar pulang, ia memberi waktu untuk kami sekadar bertukar salam perpisahan.

"So ..., I have to go home now." Jungkook mengucapkan itu dengan kikuk.

"Okay. See you tomorrow," timpalku.

Namun, Jungkook belum terlihat akan menggerakkan kakinya meninggalkan teras rumah.

"Ada apa, hm?" tanyaku, paham ada sesuatu yang mengganjalnya. "Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?"

Lelaki itu menatapku beberapa detik, sebelum akhirnya berbicara, "Apa kau tidak melupakan sesuatu?"

Kedua alisku bergerak mendekat satu sama lain. "Aku yakin aku tidak melupakan apapun."

"Kamu lupa satu hal."

Ha?

"Memangnya apa yang aku lupa?"

Jungkook mendekatkan wajahnya ke telingaku, berbisik, "Hadiah darimu untuk Hari Kedewasaan-ku."

"Maksudmu?" tanyaku.

"Masa kau tidak paham? Aku sudah memberikanmu sebuket bunga, lalu aku sudah membeli parfum untuk diriku. Sebenarnya, untukmu juga kalau kau tidak bersikeras menolak. So ...," ujar Jungkook membuat jeda, "I think you know the last one."

The last one?

Flower is done.

A bottle of perfume is done, too.

So, the last one is ...

"Kau bercanda? Yang benar saja! Tidak mau!" elakku.

"Ya! Curang! Masa kau tidak memberi hadiah apa-apa untukku?!"

"Terserah! Pokoknya aku tidak mau kalau aku harus—"

Kalimatku sukses terpotong sebab Jungkook ... menciumku. Tepatnya, mencium pipiku.

"A kiss is done," katanya. "Pokoknya, kau berutang banyak padaku, ya. Lain kali akan aku tagih!" ujarnya denga nada bercanda.

"Aku tidak mau membayarnya. Bleeee." Kujulurkan lidahku ke arahnya.

"I'll make you pay it, one day."

Dan ia berlari menuju motornya begitu melihatku hendak memukulnya. Dasar! Kelinci centil.

- THE END-

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro