[02] Takdir Aneh
Cabai merah sambal dilumuri ke bakso sebesar kelapa yang masih panas. Waktu dikunyah bersuara kres kres. Rasanya gurih sampai ke ujung usus. Keringat sampai mengalir dari pangkal rambut terus ke pelipis muka, untung nggak sampai netes jadi kuah. Terbit juga setitik-setitik di kening yang kalau dielapin sama Rizky Nazar, Ana nggak bisa tidur sampai kiamat.
"Pasti enak, pedas gurih," gumamku melihat video mukbang di ponsel.
"Kasihan adik Abang cuman bisa lihat video. Adik mau lihat langsung?" Abang Aki menaik-turunkan alisnya.
Aku mengerucutkan bibir yang kalau dilihat Bang Aki pasti bakalan dikuncir pakai karet gelang merah. Lalu kusimpan benda canggih itu. Anabiya pecinta sambal memang cuma bisa menikmati makanan sepedas itu dari video. Dulunya nggak bisa makan tanpa cabai sekarang tidak bisa menikmati makanan bercabe. Tak tahu sampai kapan. Yang pasti hingga lambungku sembuh. Itu juga kalau berani mencoba karena setelah dimakan pasti akan kambuh lagi sakitnya. Makanan yang aku setorkan ke lambung sejak dua tahun lalu bersih tanpa cabe-cabean sama sekali. Kalau bukan kecap, ya, polosan. Lidah udah mati rasa saking bosannya, tapi bagaimana lagi? Kalau ngambek nggak mau makan, sakitnya bisa tambah parah. Yang jelas aku nggak berani dioperasi jika itu pengobatan akhirnya.
"Abang tumben ngajak Ana belanja. Biasanya nggak suka sama Ana."
Abang Aki yang nama kepanjangannya Dhakiy Fudail nyupir dengan anteng. Cuma ngelirik adiknya yang cemberut di sebelah. Sebelum sampai, ada baiknya aku makan dulu. Kotak nasi hari ini diisikan Ama dengan nila goreng kering ditambah sayur daun katuk.
"Bang, Ana, boleh makan seblak?" Ini nasi lembut, hampir mirip bubur, aku bayangkan menjadi seblak.
Abang Aki cuma melirik, nggak capek mungkin matanya ngelirik terus dari tadi. Ya juga sih, pertanyaanku nggak penting. Jangankan seblak, makanan ringan berbumbu Antaka saja tidak boleh kumakan.
"Abang mau beli apa kok mengajak Ana?" Aku tidak bisa diam-diaman. Nanti juga kalau cape aku pingsan sendiri, pernah seperti itu. Bukan yang sampai nggak sadar sama sekali, hanya kehabisan tenaga dan harus diangkat kayak bayi untuk ditidurkan di tempat yang benar.
"Nggak mau liburan? Abang ajak kamu karena ini hari terakhir liburan semester," jawabnya panjang lebar. Walaupun dijawab demi kesenanganku, aku masih curiga. Abang Aki biar sepenting apa pun mending jalan sendiri daripada digelendoti adiknya.
"Ck. Iya iya. Abang mau beli hadiah untuk Ellya. Abang nggak tahu perempuan seumuran kamu sukanya apa."
Ellya, teman satu kelasku di SMA, menjadi target cinta monyet Bang Aki. Abang Aki nggak mengajak Ellya pacaran. Sampailah Ellya ke pelukan lelaki lain. Jadi, ini gimana ceritanya abangku membelikan hadiah untuk kekasih pria lain?
"Abang nggak salah nanya ke Ana? Selera Ana katanya nggak make a sense."
Tiba di salah satu mal di Kota Padang, Bang Aki nggak jawab. Bang Aki langsung menyerahkan tangannya untuk kupeluk. Cih, tumben suka rela. Biasanya dia menolak dengan alasan pasarannya akan tertutup, takut dikira gandeng sugar baby.
"Sekarang Abang udah ada Ellya, nggak perlu cari lagi di tempat umum."
Dikira Wi-Fi nyarinya di tempat umum.
"Kapan jadiannya? Ana nggak tahu."
Abang menjitak kepalaku, "Ini dikasih tahu makanya."
"Abang ngapain pacaran di umur segini? Ellya dua tujuh tau, Abang sudah tiga tiga. Kayak anak SMA aja pakai pacaran."
Abang Aki memeluk bahuku. Posisinya jadi agak menunduk saking tingginya dariku yang lupa Ama kasih ragi. Usia 27 tahun terlihat seperti 7 tahun. Aku serius. Aku mengajar di SD sejak tamat kuliah yang artinya lima tahun lamanya. Muridku besar-besar dan tinggi-tinggi. Aku heran mereka dimakankan apa oleh ibunya. Mau kasih tahu Ama, tapi udah terlambat.
"Ya paling enggak biar dia nggak mikirin orang lain karena sudah ada Abang."
Jawaban Abang Aki membuatku puas. Tahu dengan senyuman kecilku, Bang Aki mengetuk-ngetuk puncak kepalaku. Aku merapatkan pegangan, udah mulai lelah berjalan.
"Mukena jangan," gumamku waktu melewati toko peralatan ibadah orang muslim.
"Walau kamu menyarankan, nggak akan Abang pilih kalau yang itu. Nanti," sambungnya.
"Baju aja. Hm tapi selera Ellya kan beda dengan Ana." Ellya modis, nggak sepertiku yang penting pakai baju.
"Setelan baju tidur?" gumamku.
"Malu, itu juga nanti. Pakaian yang lain, Dik."
Aku lelah sekali, sudah ingin duduk di mana saja. Mau nemplok di lantai takut dikira anak hilang. Abang Aki pasti menjauh seperti tidak kenal jika aku melakukannya. Jadi tanpa aku pinta, Abang menarikku ke toko busana wanita. Mendudukkanku di kursi milik toko dan memilih-milih pakaian. Abang Aki mengambil satu-satu baju dan memperlihatkan kepadaku. Di sanalah kami mendapat setelah yang akan dijadikan hadiah.
"Ana mau yang itu," tunjukku ke sebuah baju terusan panjang berwarna toska yang berbahan lembut. "Cariin ukuran Ana."
"Kak size paling kecil untuk model ini ada?" tanya Bang Aki kepada pramuniaga.
Dia menggeleng. "Nggak ada, Pak."
Rasain dipanggil 'pak' kan.
"Itu aja nanti dikecilin." Sekali pilih, aku nggak ingin yang lain.
Bang Aki menyerahkan dua pakaian ke pramuniaga lalu melakukan transaksi.
Lihatlah abangku. Dia langsung membelikan begitu aku minta. Apa nanti kalau sudah menjadi suami orang masih begini? Siapa yang aku gandeng kalau dia sudah menikah? Dan sampai kapan aku mengikat Bang Aki agar selalu di sisiku? Biarpun aku nggak mengungkapkan keinginan itu, Bang Aki paham dia tidak akan menikah sebelum aku. Gimana kalau aku bilang tidak ada keinginan untuk menikah? Bang Aki akan jadi perjaka tua juga. Kasihan orang tua kami.
Kami sedang makan di restoran ayam. Tentunya yang memesan hanya Bang Aki. Aku tetap setia dengan masakan Ama. Nasiku yang khusus karena mendekati lembutnya bubur nggak akan ada di restoran ini. Cuma aku sesekali mengambil ayam di piring Bang Aki. Dia sengaja pesan yang tanpa cabe. Itu yang katanya mau makan bakso super pedas di depanku?
Jadwal makanku yang sering, tetapi sedikit membuatku selesai lebih dulu dari Bang Aki. Aku nggak ada kegiatan lain setelah minum obat. Bang Aki diajak ngomong pas makan malah akan marah. Aku pun mengedarkan pandangan ke sekitaran food court. Kebanyakan adalah yang datang dengan keluarganya. Mereka terlihat menikmati makanan yang tersaji. Kembali ke nasiku dalam kotak warna toska. Mereka pikir aku suka makan, menikmati masakan Ama yang memang gak ada tanding. Padahal lidahku sudah tidak jelas merasakan mana gurih dan manis. Aku makan agar lambung tetap terjaga tidak berisi angin yang bikin aku nggak bisa tidur karena kembung.
Apa mataku sudah minus? Kemungkinan minus akhlak karena membayangkan suami orang. Aku melihat Fauzan lagi di sini menghadap ke aku, tapi nggak melihatku. Di hadapannya ada anak kecil perempuan berkuncir satu. Mereka lagi makan sambil bercerita. Kaki anak kecil digoyang-goyang di bawah meja. Fauzan menatap anak kecil itu dengan sorot penuh cinta. Tidak salah lagi itu pasti anaknya. Aku juga nggak jadi minus karena kali ini Fauzan-nya nyata.
Kalau diitung ke belakang, memang sudah sekitar delapan tahun dia pamit untuk menikahi wanita lain. Anak itu pasti usianya enam atau tujuh tahun. Fauzan sudah bahagia, aku masih begini-begini saja. Masih digandeng Abang Aki dan bawa bekal seperti anak TK ke mana-mana.
"Ayo pulang." Kutepuk tangan Bang Aki yang barusan selesai makan.
"Dik besok kamu kerja. Kita habiskan hari ini. Nonton yuk!" ajaknya.
"Capek, Bang."
"Abang gendong. Lagian kamu enteng, Abang nggak masalah."
Aku mencebik. Malu-maluin sampai digendong segala. Karena katanya demi aku, aku pun memaksa nurut. Lagian maksudku kan supaya nggak melihat Fauzan lagi. Namun, aku salah. Dalam teater aku melihat punggung Fauzan bersama putrinya yang duduk dua baris di depanku.
***
Tahun ajaran baru. Aku berangkat diantar Bang Aki. Sehabis liburan, Bang Aki gandeng aku sampai ruangan kantor katanya ingin menyapa teman-temanku. Ck, dia pasti akan bilang, 'Titip Anabiya, Kakak dan Ibu. Nomor saya masih yang lama.' Maksudnya kalau sesuatu terjadi padaku, langsung hubungi dia di nomor itu. Sudah dua kali dan ini jadinya tiga kali Bang Aki menitipkanku seakan memasukkan adiknya ke panti jompo dengan para guru sebagai perawatnya.
"Wah, Bu Nova makin ganteng." Bang Aki mengulurkan tangan untuk salaman dengan Nova yang baru datang. Padahal Nova pakai seragam pemda hari ini. Bawahannya dia pasangkan dengan celana panjang. Bajunya juga bukan model bapak-bapak, masih model blazer. Dasar Bang Aki cari perhatian.
"Halo, Abang ganteng. Sering-seringlah mampir. Palagi seperti ini bawa kue sekeranjang. Kita kan pada suka makan," kata Nova mencomot bolu bikinan Ama.
"Yang bawa kan aku," protesku tidak terima. Nggak ada Bang Aki pun tetap aku bawa. Anggap saja oleh-oleh walaupun liburannya tidak ke mana-mana.
Nova duduk di sebelahku, mengintip ke dalam kotak nasiku.
"Bosan nggak, Kak, makannya kecap terus? Nggak pedas sedikit pun. Sekali-kali ayolah, Kak An, kita makan ayam syebel di Taplau."
"Boleh makan pedas. Besoknya kamu nyesal karena nggak lihat Ana lagi," kata Bang Aki.
Aku mendelik.
"Kamu mau diopname?" kata Bang Aki tanpa rasa bersalah.
"Kan bukan aku yang ngajak. Kok marah ke Ana? Nova tuh minta digiling lidahnya pakai rawit sekebun."
Bang Aki pamit, menuju tempat kerja pastinya, bukan ke akhirat. Aku beserta guru SDN 25 Parupuk Tabing bergerak ke halaman sekolah untuk upacara. Kita para guru berdiri di beranda, aman dari hujan dan panas. Dan beruntung buatku bisa nyender. Hari pertama sebagai pembinanya adalah Bu Ariyanti. Dalam amanat pembina upacara, Bu Yanti mengumumkan guru kelas yang baru. Aku memegang kelas satu. Pasrah. Anak-anakku yang hari ini baru pertama kali masuk SD barisannya berada paling ujung. Gerak-gerak seperti belut nggak bisa diam. Di sana ada Pak Andi, guru PJOK, yang menjadi polisi biar mereka tertib saat upacara.
Masuk kelas, kami perkenalan satu per satu. Dimulailah dari aku. Aku berdiri di depan kelas menulis namaku. Untungnya di setiap kelas ada tempat yang lebih tinggi, di bawah papan tulis dan mengikuti panjangnya papan tulis. Aku jadi nggak terlihat bantat-bantat amat.
ANABIYA WIDYANTI
"Namanya sama dengan bu guru yang di tengah lapang tadi, Bu?" Anak kuncir kuda berkerut di kening. Berarti dia bisa membaca.
"Di sini sudah bisa membaca semua?" tanyaku sebelum menjawab pertanyaan anak yang belum kutahu namanya.
"Belum."
Sudah."
"Agak-agak bisa."
"Kurang lancar."
Begitulah jawaban mereka.
Aku lalu menghadap kepada anak tadi. Kulitnya hitam manis. Cantik dengan bibir merah dan bulu mata lentik. Badannya sedikit berisi, hm untuk tinggi mungkin hanya selisih beberapa senti dariku. Masih agak tinggi sedikit dari anak tujuh tahun itu.
"Ibu panggilannya Bu Ana. Kalau kepala sekolah kita Bu Yanti, ya," jelasku.
Lalu kuperhatikan seluruh kelas. "Nama Ibu adalah Anabiya Widyanti, panggil saja Bu Ana. Ibu akan menjadi guru kelas satu. Kita harus kompak, ya." Mereka menjawab 'ya' serempak.
Anak yang lucu.
"Bu Ana tinggal di Ulak Karang dengan ayah, ibu, dan abangnya Bu Ana. Usia Bu Ana dua puluh tujuh tahun. Nah, sekarang gantian kalian, perkenalan diri. Ada yang mau jadi nomor satu ke depan?"
Anak itu lagi menunjuk jari ke atas. "Tapi aku mau tanya dulu."
Aku mengangguk. "Oke, mau tanya apa ... namanya siapa, Kakak?"
"Namaku Qiosya, pakai kiu. Nama ayah, ibu, dan abangnya Bu Ana siapa? Ibu suka makannya apa? Hobi Ibu apa? Ibu cita-citanya apa?"
Aku hampir tersedak mendengar pertanyaan beruntun darinya.
Sudah lima belas menit berdiri, aku pun duduk. Kepalaku mulai pusing. Jangan sampai ada kunang-kunang di hari pertama mengajar murid baru.
"Tepuk tangan untuk Qiosya!" Para murid imut itu tepuk tangan. Di sini aku tidak mendengar suara suitan yang biasa mengikuti tepuk tangan. Anak kecil belum bisa bersiul nampaknya.
"Oh iya, tadi Bu Ana kurang lengkap perkenalannya. Baiklah. Ayah ibu namanya Pak Ihsan. Mama Bu Ana namanya Bu Hasida. Kalau abang Ibu namanya Bang Dhakiy--"
"Daki, Bu? Jorok," sela anak laki-laki yang duduk di paling sudut. "Ibu Aris tiap hari paksa mandi biar nggak ada daki katanya."
Anak yang lain ketawa.
"Iya, sama," komentar yang lain.
Alasan Bang Aki nggak mau dipanggil Dhakiy ya emang karena itu. Tapi pada akhirnya, oleh temannya dipanggil Da Ki juga. Uda Aki.
"Ibu lanjut nggak nih?"
"Iya, Bu," jawab mereka serempak. Lalu aku menjawab semua pertanyaan Qiosya tadi. Saat giliran mereka yang aku persilakan maju duluan, Qiosya langsung angkat tangannya.
"Silakan, Kak Qiosya."
"Assalamualaikum. Teman-teman kenalkan namaku Qiosya Alharani. Usiaku tujuh tahun lebih dua bulan. Aku anak satu-satunya nggak ada saudara. Nama ayahku Fauzan Alfajar dan ibuku namanya ...."
Kepalaku terasa membentur sudut keramik tempat berdiri guru saat menulis di papan tulis. Setelah merasakan sakit di bagian benturan, aku tidak mampu membuka mata. Masih sempat kudengar teriakan anak-anak kecil. Dan satu-satunya siswa berlari ke arahku.
Qiosya Alharani anaknya Fauzan Alfajar. Dunia ini lucu.
***
Bersambung ....
Sumsel, 27 Maret 2023
Hay, selamat datang di lapak baru. Part satu Kasev update bener-bener setelah selesai mengetik. Semoga bisa mengisi kegiatan puasa di sela-sela beribadah teman-teman. Lancar ya, puasanya.
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro