❄️[08]❄️ Dilabrak Kekasih Buaya
Selamat malam pembaca Kisah Elsa. Ada yang nungguin nggak sih? 🌞
Masih lanjut, yaa. Yang ini mungkin agak pendek. Cuus baca ajaaa. Semoga sukaa. 🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
❄️❄️❄️
Elsa tak dapat tidur. Pikirannya sungguh tidak tenang. Setelah mandi, dia mencoba untuk istirahat, tetapi matanya enggan terpejam. Ia kepikiran dengan ponselnya yang hilang. Bagaimana jika anak itu melihat notifikasi m-banking atau SMS banking, lalu pergi ke ahli retas? Pikiran ngawur gadis itu membawa kakinya tiba di depan sebuah ATM pada pukul sepuluh malam. Elsa lantas memasukkan kartu debit lalu memilih menu cek tabungan.
Nol di monitor menunjukkan jumlah yang sama dengan yang terakhir Elsa lihat pada ponsel Dygta. Uangnya sangat aman, si anak belum berhasil mengambil uang itu. Elsa pun menarik napas lega. Ia berniat mengecek riwayat mutasi rekening guna mencatat nomor rekening Dygta. Namun, Elsa menjadi ragu-ragu. Apakah dia akan mengembalikan uang ini utuh-utuh?
Elsa membutuhkan uang. Empat hari mustahil Elsa mendapatkan 28 juta. Sementara di depan matanya, nol-nol itu sedang mengejek dan mencemooh keangkuhannya. Apakah Elsa boleh mengambil hak orang lain, dalam hal ini nasib seorang anak yang akan lahir tanpa ayahnya? Bolehkan Elsa melakukannya?
Elsa belum memutuskan apa-apa hingga pagi tiba. Ketika embun masih turun, sepasang kakinya telah menuruni anak tangga menuju jalanan kompleks. Elsa memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. Sebelum naik ojek, Elsa kembali mampir ke ATM.
"Masih ada." Elsa bergumam dan menarik kembali kartunya ke dalam tas kecil.
Hari itu Elsa bekerja dengan pikiran yang melanglang buana kepada uang dalam tabungannya. Apa yang akan dia lakukan dengan tawaran Dygta? Sementara itu, orang yang biasanya telah tiba paling lambat pukul sepuluh untuk menjemputnya, malam ini tak tampak batang hidungnya. Ke mana Dygta?
"Pulang dengan siapa, El?" tanya Arnis, menyadari bahwa Elsa tak dijemput.
"Makanya jangan pernah bergantung sama laki-laki. Hidup mandiri lebih untung, nggak akan bikin kerjaan keganggu karena ribut-ribut kecil," komentar Wawa ketika gadis itu memasang jaketnya, bersiap untuk pulang.
"Gojek, Kak." Elsa tak berharap, sungguh. Namun, matanya mengkhianati. Mereka membuat leher Elsa menoleh beberapa kali ke lapak penjual mainan.
"Ayo ke pinggir jalan sama aku. Tungguin ojeknya di sana aja, yuk."
Elsa pun menurut. Ia naik ke bangku penumpang sepeda motor matic milik Arnis.
"Kak Arnis ada kuota?" tanya Elsa.
"Maksudnya kuota internet?"
Elsa mengiyakan. "Boleh kupakai memesan Gojek?"
Arnis lantas menyerahkan ponselnya ke tangan Elsa.
"Aku antar aja, ya?" tawar Arnis, membuat Elsa mengangkat wajah dari gawai yang dikotak-katiknya. "Enggak apa-apa. Aku tahu gang kos-kosan kamu, El."
Elsa mengangguk. Ia merasa sangat sungkan. Namun, apa boleh buat sebab jalan mereka memang searah. Elsa akan meminta diturunkan di mulut Gang Tawas saja.
"Terima kasih, Kak. Aku merepotkan sekali." Elsa teringat jika ia tak memakai helm.
"Nggak apa-apa. Tengah malam gini, siapa yang razia kita? Kecuali kita mencurigakan bawa narkoba atau mabuk-mabukan." Arnis tertawa dan mengegas sepeda motornya.
Elsa mengangguk. Tibanya di depan gang, Elsa mengucapkan terima kasih. Dalam perjalanan ke depan rumah kos, hati kecilnya berharap Dygta menunggu seperti biasa.
Rasanya begitu asing, menunggu sesuatu yang sebelumnya tanpa dipikirkan, sudah ada di depan mata. Apakah kalimat Elsa keterlaluan malam itu? Ia bertanya-tanya sendiri.
Elsa mengingat kata-kata terakhirnya kepada Dygta. "Please, kamu jadi cowok jangan jahat-jahat banget dong, Dygta, sama cewek. Orang itu hamil, Dygta."
Salah Dygta apa?
Elsa menggeleng.
Sejak awal, Elsa yang mengelabui Dygta. Lalu Dygta datang dengan permintaan maaf dan pertanggungjawaban terhadap hal yang tak pernah dia lakukan. Dygta tak lelah membujuknya untuk menikah. Dygta selalu menjemputnya ketika pulang tengah malam. Lelaki itu tambah rajin membelikan Elsa makanan. Berapa banyak kebaikan Dygta kepadanya? Dygta menghilang setelah mengirim uang tak masuk akal ke rekening Elsa. Ia pasti pergi sebab kata-kata menyakitkan yang Elsa lontarkan.
Dasar Elsa tidak tahu malu, tak tahu terima kasih, dan tidak tahu diri.
Elsa menaiki tangga cepat-cepat, membuka kunci kos-kosan, dan menyembunyikan diri dalam selimut. Malam itu ia tak mengantuk sama sekali. Elsa putuskan untuk mengubah tata letak ruangan. Ia menyalakan kipas angin agar dirinya tidak panas, meskipun pintu dibukanya lebar-lebar. Entah apa yang dia pikirkan, membiarkan ruangan pribadinya terbuka di tengah malam.
"Dygta takkan datang."
Pikiran itu menyerang Elsa. Membuat ia malu kemudian menggeleng. Ia menolak jika hatinya sangat berharap kehadiran pemuda itu malam ini.
Elsa membuka laci lemari plastik paling bawah untuk diisinya dengan barang-barang yang tak terpakai. Namun, mata Elsa dikejutkan dengan secarik kertas di atas susunan kain beraroma pewangi pakaian. Seakan kain-kain itu direndam menggunakan satu kilo pewangi.
Elsa lantas mengambil catatan kecil yang berisi tulisan rapi yang bukan miliknya.
[Kamar kamu udah rapikan. Aku udah cuci bersih semuanya. Aku cuci pake tangan, El, trus aku kasih Downy yang aku beli sendiri di warung Mpok Ijah. Gimana, udah bersih dan harum belum, El? Aku sengaja pakeinnya banyak karena nggak tahu kamu kapan pulangnya. Terus kalau kamu pulang, wanginya masih ada. Aku udah nungguin dua hari ini, kamu ke mana? Pulang dong, El. Aku mau bicara sama kamu. El, maafkan aku, El.]
Elsa meremas kertas yang disobek dari halaman buku miliknya. Ia mengeluarkan bra, celana dalam, tanktop, serta seprai dan selimut yang terlipat asal-asalan. Bertambah lagi kejahatan yang Elsa lakukan terhadap lelaki berambut gondrong itu. Tak dapat dibayangkan bagaimana effort-nya Dygta menyikat bekas noda darah yang mengering. Pemilik tubuh jangkung itu melakukannya di kamar mandi Elsa yang minimalis, betapa pegalnya orang itu. Entah darah apa yang dibawa oleh Inara. Mengingatnya saja Elsa merasa sangat jijik. Sementara Dygta berusaha membersihkannya dengan tangan sehingga sekarang Elsa dapat mencium wanginya.
Elsa memindahkan selimut dan seprai ke rak lain bersama pakaiannya. Ia menyudahi kegiatan ubah layout kamar setelah mengepel lantai. Ketika berbaring, otaknya memikirkan pertimbangan-pertimbangan.
"El, rencana ini harus berhasil. Pokoknya si Sisy enggak boleh menikah sama Dygta. Kalau ini gagal, aku udah ada rencana lain. Sampai kapan pun, aku nggak mau si pelakor menang."
Mengingat perkataan Inara, Elsa membuang pikirannya untuk jujur kepada Dygta. Elsa memiringkan tubuhnya ke kiri sambil tetap memeluk guling.
"Kalau kamu mau masalahmu selesai, menikahlah dengan Dygta. Pinggirkan dulu hati nurani sebentar. Utangmu takkan lunas dibayar dengan kebaikan."
Elsa memejamkan matanya kemudian menimpa wajahnya dengan bantal.
"Menikah dengan Dygta itu satu-satunya solusi untuk saat ini. Masalah kamu mau jujur atau enggak, bisa pikirkan nanti. Yang penting, lusa kamu bisa melunasi biaya rumah sakit Elbram."
Bisikan-bisikan hatinya membuat Elsa semakin tergoda.
"Kalau Dygta tahu, apa dia nggak marah?" pikir Elsa.
"Pasti!" Suara hati yang lain memarahinya.
Lalu kenapa Dygta tak muncul hari ini? Jangan-jangan ....
Elsa ingin tidur secepatnya agar ketika membuka mata, sudah pagi.
❄️❄️❄️
"Elsa! El! Elsa!"
Suara berisik dan gedoran di luar membuat tidur Elsa terganggu. Jam dinding menunjuk pukul tujuh. Elsa seketika panik. Ia terlambat ke rumah Yuk Eka. Cepat-cepat Elsa mengikat rambut singanya untuk membuka pintu.
"Eh! Perempuan ular! Lo sembunyikan di mana Dygta?"
Wanita yang badannya jauh lebih tinggi dari Elsa itu merangsek masuk tanpa dipersilakan.
"Hei, apa-apaan ini?" Elsa menarik tangan perempuan itu.
Tubuh Elsa nyaris terjungkal akibat didorong oleh wanita asing itu. Kosan Elsa yang semalam dipel dengan bebasnya dijelajahi menggunakan sepatu.
"Kamu siapa? Dygta tidak ada di sini!" jerit Elsa.
Wanita itu kembali ke hadapan Elsa setelah mengecek seluruh kamar kosan yang kecil itu dengan napas masih memburu.
"Ke mana Dygta? Pasti kerjaan lo bikin Dygta ngilang. Katakan mana Dygta!"
"Aku nggak tahu." Elsa melihat wajah itu lagi dengan cermat. Ah, ia mengenal sosok angkuh di hadapannya ini. Sisy.
"Kamu salah marah-marah nggak jelas di rumah orang pagi-pagi." Elsa melirik ke kaki wanita itu, "Nggak pake adab bertamu yang benar. Kamu bisa saya laporin RT sini."
Wanita dengan sweater kuning itu tertawa. "Lo pikir gue takut?" Mata tak sopan wanita itu memandangi tubuh Elsa. "Modelan begini apa sih yang bikin Dygta mau? Rata semua."
Elsa menarik tangan Sisy keluar rumah. "Model kayak nenek sihir gini, apa sih yang bikin Dygta mau?"
Sisy terpancing. "Jelas aja badan gue, bego!"
"Oh, pantes Dygta nggak mau nikahin kamu. Udah dipake, sih. Dygta kan cuma suka barang sekali pakai."
Wanita itu menggeram. "Kurang ajar! Mulut lo nggak disekolahin!"
Elsa menggeleng. "Kamu kali yang nggak sekolah. Wanita berpendidikan mana level jadi selingkuhan."
"Mulut lo, Anjing! Kalau gue selingkuhan, terus lo apa?!"
Elsa mengangkat bahunya. "Bukan apa-apa."
"Lo tidur sama calon suami orang. Perempuan ini gila apa gimana?"
Elsa tertawa geli. Sungguh ia tak menyangka rencana Inara bisa semulus ini. Sisy sangat percaya dengan foto-foto itu.
"Kamu nggak malu dilihatin orang? Nggak cukup di media sosial udah viral, sekarang mau viral lagi di sini?"
Sisy melihat ke bawah yang sudah terdapat kerumunan kecil. Terdiri dari ibu-ibu berdaster, anak sekolahan, dan penjual bubur keliling. Kini Sisy yang justru tertawa penuh kemenangan.
"Cewek ini pelakor, dia udah tidur sama calon suami saya. Pak RT-nya mana, Bu? Usir perempuan ini daripada suami-suami kalian juga diambilnya!"
Tubuh Elsa yang kecil ditarik Sisy turun tangga.
"Lihat! Perhatikan baik-baik, ini wajah perempuan nggak bener. Udah miskin, nggak tahu diri lagi. Dia ini hidup dari selangkangan pria. Ibu-ibu semua hati-hati."
Wanita di sekitarnya tampak termakan omongan Sisy. Dakwaan dan tudingan terlihat di wajah-wajah mereka. Mata Elsa kini basah. Mulutnya tak lagi seberani tadi. Bahkan satu kata saja tidak terucap untuk membela harga dirinya.
"Kalian lihat, mukanya seperti orang susah, tapi isi kepalanya licik. Cewek kampung ini ngotor-ngotorin wilayah kalian. Tuh di rumah bobrok itu dia sering bawa pria. Usir aja udah!"
"Bubar!"
"Woi! Anjir basah!" Sisy mengumpat akibat tersiram air.
Tubuh kecil Elsa terlindung di balik badan orang yang menyiram Sisy tadi. Sementara ibu-ibu yang antre bubur ayam terperangah.
"Bapak siapa? Ooh, Bapak salah satu yang make dia?" Sisy mengibas-ngibas pakaian basahnya.
"Bibir lo cocoknya dijepit pake tang. Pagi yang tenang jadi rusuh sama suara lo. Dokter lu mane?" Abah Ajis menoleh kanan-kiri.
"Maksud Bapak, saya sakit jiwa?"
Abah Ajis menaruh ember yang sudah kosong ke semen cor-coran jalan gang.
"Iya. Orang waras nggak ada tuh yang bikin keributan di pagi hari. Orang waras mah lagi nyiapin diri untuk bekerja jam segini." Lantas Abah Ajis menoleh kepada Elsa, "Lu nggak kerja, Neng?"
Elsa mengangguk.
"Mau sarapan bubur kagak? Lo itu kudu banyak makan biar bisa nandingin babon yang lagi ngamuk."
"Pelakor dibela!" Sisy lantas pergi. "Kali ini lo bebas!" ucap Sisy sebelum menutup pintu mobilnya.
Elsa merasakan tatapan tajam ibu-ibu tertuju kepadanya.
"Kerja yang bener, Neng." Salah satu ibu berdaster menyeletuk.
"Sono, naik!" Abah Ajis mendorong punggung Elsa.
Elsa berjalan gontai naik tangga.
"Punya anak cewek emang kudu dilihatin terus dua puluh empat jam. Kalau nggak, bisa gitu. Apalagi hidupnya ngekos. Nggak tahu kan sehari-hari dia ngapain aja."
"Kalau gue punya anak cewek ...."
Elsa sudah tak lagi jelas mendengar obrolan ibu-ibu Gang Tawas. Pikirannya kosong. Setiba di kamar Elsa terduduk lemas di atas tempat tidur. Lelehan air matanya ia biarkan saja turun.
❄️❄️❄️
Bersambung ...
Muba, 2 Agustus 2024
Udahan ajaa, yaa. Ini pendek, tapiii semoga dapat feelnya. 🧁🧁🧁🧁
Sampai jumpa besok malam, yaa. Makasih udah nungguin update-nya. 🍨🍨🍨
Jangan lupa, bantu vote cerita Kasev. Terima kasiiih. 🌟
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro