Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

❄️[06]❄️ Mencari Jalan Keluar

Malam semuanya. Elsa kembaliiii. Alhamdulillah masih bisa lanjutin Kisah Elsa untuk kalian, pembaca yang kece.  💞💞💞

Cerita ini khusus untuk kalian yang menantikan nasib Neng Elsa. 💐💐💐

Yuk selamat membaca. 💕💕

❄️❄️❄️

"Neng mau minta tempo lagi?" Wajah Abah Ajis agak garang, bicaranya bernada tinggi, tetapi hatinya sungguh bak bapak peri.

Elsa mengangguk. Dia belum ngomong apa-apa kepada Abah Ajis, sudah ditodong pertanyaan seperti itu. Niatnya memang betul begitu, sih.

"Seminggu aja. Bapak mau ratain kos ini kalau Neng nggak bayar dalam waktu itu."

Elsa merasa bersyukur atas pikiran positifnya terhadap bapak kosan ternyata masih benar. Sebetulnya, Abah Ajis telah berencana membangun rumah tingkat dua itu untuk dijadikan ruko. Namun, Elsa pernah memohon jika ia sangat membutuhkan tempat itu. Sebab hanya Abah Ajis yang mau menerima uang sewa delapan ratus ribu. Kos lain dengan harga segitu tidak selengkap kos Abah Ajis. Elsa sudah diberikan fasilitas kasur, lemari, kulkas, dan kamar mandi dalam. Meskipun jika dilihat dari luar, bangunan tersebut tampak rentan. Ibaratnya, jika ada hujan angin, lantai duanya akan ambrol.

"Terima kasih, Pak. Saya janji akan membayarnya begitu uang saya terkumpul."

Elsa mengangguk percaya diri bahwa dalam lima hari dia bisa membayar kos. Dua hari setelah bekerja di pasar malam, Elsa juga diterima bekerja di tempat produksi pempek. Pagi ini adalah hari pertama Elsa bekerja di sana. Mbak Isma sudah memberikan Elsa uang tiga ratus ribu atas kerjanya selama tiga malam. Seharusnya Elsa hanya digaji tujuh puluh ribu dalam semalam. Kebetulan pembeli sangat membludak di awal bukanya pasar malam, Mbak Isma menghadiahi karyawannya bonus.

Elsa menuju rumah produksi Pempek Yuk Eka dengan menaiki ojek online. Setelah bekerja sampai pukul dua belas malam, gadis Sumatra itu memiliki tidur selama lima jam. Elsa berangkat ke rumah Yuk Eka pukul enam dan mulai bekerja setengah tujuh pagi.

Inara: Els. Aku berangkat. Selamat tinggal, Talas yang nggak gatal. Baik-baik di kota orang. Jangan sungkan hubungi aku kalau lagi butuh apa-apa. 😇😇

Elsa melihat pesan Inara setelah tiba di tempat kerjanya yang baru. Inara juga mengirim foto dirinya yang masih berada dalam taksi.

Elsa: Semoga perjalananmu lancar. Kabari kalau sudah sampai, ya, In. Aku bakalan bekerja keras untuk membayar uangmu kembali.

Inara: Dih malah ngomongin duit. 😮‍💨Kata aku, kamu terima aja si Dygta. Kamu nggak harus banting tulang begini. Si kampret banyak uang loh walau males kerja. 😋😋😋

Elsa hanya membalas dengan emoticon peluk untuk Inara.

Elsa segera mengantongi ponselnya yang dalam setelan mode pesawat. Ia akan bekerja dan mencurahkan segala perhatian hanya untuk adonan tepung dan minyak. Pukul setengah empat Elsa berangkat ke area pasar malam tanpa singgah di kosannya. Elsa telah berganti pakaian di kamar mandi rumah makan sementara menunggu sepiring nasi goreng disajikan untuk makan pertamanya di hari ini.

"Hei, telat terus lu, El. Kerja jangan seenaknya, dong," tegur Wawa ketika Elsa tiba di pasar malam pukul enam belas.

"Maaf, maaf, Wa. Aku tadi ganti baju dulu dari tempat kerja sebelumnya."

Wawa memutar bola mata. Bibirnya masih tampak maju. "Lu harus bisa bagi waktu, dong. Posisi kita sama di sini. Gue udah mulai buka nih konter dari jam tiga. Lah elo, gue selesai baru datang. Menurut lo, gimana tuh? Bisa dengan maaf doang?"

Elsa sekali lagi menyatukan kedua telapak tangan sambil mengucapkan maaf yang tulus.

"Aku janji besok akan lebih cepat datangnya. Maaf banget untuk hari ini, Wa."

Wawa tak mengacuhkan ucapan Elsa. Wajahnya masih masam hingga Elsa dilanda rasa tak nyaman selama bekerja. Meskipun Mbak Isma memaafkan keterlambatan Elsa, Wawa tetap bicara kepada Elsa dengan ketus. Apalagi ketika sosok Dygta kembali menyambangi stand tersebut.

"Mas, kalau kamu nggak mengizinkan si Elsa kerja, mending bawa pulang aja sono. Di sini juga bisanya bikin gue naik pitam lihat tingkahnya. Mentang-mentang sama Mbak Isma dilembutin, malah ngelunjak."

Otak Elsa rasanya mengepul akibat disindir dan dikatai habis-habisan sejak sore. Namun, Elsa berusaha menulikan telinganya.

"Mbak, yang sabar. Ini cobaan." Dygta maju dan menyebutkan pesanannya kepada Elsa, "Smoothies naga satu, ya, Mbak. Banyakin krim dan gulanya, soalnya saya mau kasih seseorang, agar orang itu mulutnya agak manis sedikit."

"Ada lagi?" tanya Elsa tanpa memandang wajah si pemesan.

"Satu teh dangdut, eh, dijual nggak, Mbak?"

Elsa tersenyum mendengar nama minuman itu. "Nggak ada, Dygta."

"Kalau gitu, smoothies mangganya aja deh satu, Mbak. Kamu mau rasa apa, El?"

Elsa menggeleng. Melihat Dygta masih tidak mau beranjak sementara Wawa sudah meminta nomor antrean setelah Dygta untuk maju, akhirnya Elsa menggeleng.

"Aku beneran nggak mood minum, Dyg."

"Oke." Dygta langsung pergi ke penjual mainan yang sepertinya sudah menjadi teman barunya itu.

Seperti biasanya, stand minuman tutup pukul dua belas malam. Dygta menunggu di depan konter saat Elsa izin pulang kepada Mbak Isma dan Arnis.

"Kamu capek nggak, El?" tanya Dygta ketika mereka berdua telah berada di mobil Dygta.

"Kenapa?"

Dygta berdecak. "Malah balik nanya. Jawab aja, El, capek apa enggak?"

"Menurut kamu aja, gimana, Dyg? Kamu nggak rabun, kan?"

Dygta menggeleng-geleng. "El. Kamu bisa libur sehari nggak?"

"Emang kenapa?"

"Mau ngajakin kamu nikah."

Elsa merebahkan kepalanya dan melihat ke samping, keluar jendela. Ia sedang tak bertenaga menanggapi candaan Dygta.

"Kamu nggak boleh menanggung ini semua sendirian, El. Kamu marah, marah aja. Aku nggak mau lihat kamu menahan beban ini."

Elsa tak menanggapi sama sekali. Dia juga tidak pura-pura tidur. Sesampai di kosan, Elsa pikir Dygta tetap akan diam sebab Elsa abaikan, ternyata lelaki itu juga ikut naik tangga.

"Jangan ikuti aku lagi." Elsa menatap ke mata Dygta, bersungguh-sungguh. "Jangan datang ke tempat kerjaku."

Elsa melihat ekspresi Dygta tidak berubah, seolah Elsa tak mengucapkan apa-apa.

"Biarkan aku sendirian. Jangan pedulikan hidupku lagi. Hanya itu yang aku mau dari kamu–" agar rasa bersalahku tidak bertambah besar. Elsa meneruskan dalam hatinya.

Dygta menekan bahu Elsa sampai Elsa terduduk di anak tangga, sementara posisi Dygta berdiri di depan Elsa. Dygta mencondongkan wajahnya kepada gadis yang malam ini memakai bandana ungu itu.

"Apa lagi?" tanya Dygta.

Elsa merasa bingung dengan pertanyaan lelaki jangkung itu.

"Marahnya kamu. Ingin aku nggak peduli, aku pergi, lalu apa lagi?"

"Aku nggak marah!" sangkal Elsa.

"Oke. Kamu nggak marah. Kalau udah nggak marah, ayo kita menikah."

"Sakit! Kamu ngajak nikah apa ngajak baikan, sih?"

Dygta tergelak lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah cincin tanpa kotak.

"Ngajakin nikah. Terimalah cincinnya." Dygta menaruh cincin di telapak tangannya dan mengarahkan ke hadapan Elsa.

"Nikahin tuh cewek kamu! Dia lagi mengandung anak kamu." Elsa menggeleng, menutup wajahnya, kemudian menghela napas dalam-dalam. "Dia yang butuh tanggung jawab kamu, Dygta." Elsa berkata lirih.

"Ya aku akan tanggung jawab. Tapi aku nggak akan nikah sama dia."

"Kamu itu aneh! Dia hamil, anak kandung kamu, kamu nggak mau menikah dengan ibu dari anakmu? Kamu bener-bener, Dygta."

Dygta mengatupkan tangannya yang menggenggam cincin. "Aku bener-bener pilihnya nikah sama kamu. Bukan sama dia."

"Dia hamil! Anak kamu!" Elsa berteriak dengan suara tertahan di keheningan malam.

"Iya, aku tahu. Tanggung jawab tidak harus menikah dengannya, Elsayang."

Elsa hendak membalikkan kata-kata Dygta, tetapi lelaki itu dengan sigap langsung menyela Elsa, "tapi tanggung jawab sama kamu, wajib hukumnya kita menikah."

"Enggak. Wajib dari mananya? Duh, ini nggak akan selesai. Pulang sana. Aku nggak mau lihat muka kamu lagi. Bikin kesal."

"Iya, selamat malam juga. Mimpi indah, Els."

Dygta mengacak rambut Elsa bahkan menariknya hingga terlepas dari ikatan.

"Dygtaaa!"

"Sengaja! Sambil nyisir, pertimbangkan lamaranku. Bye, Elsayang."

Elsa: Iiiin. Capek. Kamu bisa melihat masa depan?

Elsa mengirim pesan singkat itu kepada Inara sebelum tidur.

❄️❄️❄️

Telah 25 hari sejak Elsa bekerja di pasar malam. Gaji dari Mbak Isma dan Yuk Eka hanya terkumpul empat juta. Jumlahnya sangat jauh dari 28 juta. Tubuh Elsa menjadi panas dingin ketika mengingat waktu yang dimilikinya hanya lima hari lagi. Elsa telah bekerja siang malam. Namun, itu masih belum cukup.

Senin pagi Elsa minta izin kepada Yuk Eka dan Mbak Isma untuk tak masuk kerja. Elsa butuh satu hari untuk mencari jalan keluar. Elsa berangkat dari kos Abah Ajis sekitar pukul tujuh, setelah memastikan Dygta takkan datang, hingga mengikutinya.

Elsa pergi ke stasiun kereta api dan membeli tiket commuter line Bogor. Pengumuman untuk segera naik kereta, Elsa pun mencari nomor kursinya sebab kereta akan berangkat pukul sembilan.

"Aku capek," gumamnya sebelum menutup mata.

Elsa merasa di depannya terdapat tembok yang sangat tinggi. Tak dapat ke mana-mana, ia terjebak. Di belakangnya telah banyak orang bertopeng menodongkan senjata api hendak menaklukkannya.

Jangan sungkan hubungi aku kalau lagi butuh apa-apa.

Elsa melihat ke luar jendela, kereta tengah melewati kota yang sibuk. Kesibukan yang dipastikan takkan pernah berhenti, meskipun malam hari. Sebab ada dua spesies yang menghuni Bumi, yaitu pekerja siang atau pekerja malam. Namun, Elsa justru termasuk spesies ketiga, pekerja siang dan malam. Meski malam dan siang datang secara bergantian, entah kenapa Elsa tetap percaya pada kalimat yang pernah didengarnya dari guru SMA. Bahwa malam tidak selamanya karena siang akan datang dan hidup takkan selalu gelap sebab terang akan menggantikan. Elsa merenungi kata-kata itu dalam diamnya.

Jangan sungkan hubungi aku kalau lagi butuh apa-apa.

Perkataan Inara kembali terngiang dalam otaknya.

Elsa: In, nggak pernah sekali saja aku nggak bahas soal uang.

Elsa: Aku ingin istirahat sebentar, tapi aku nggak bisa.

Elsa: Aku capek, In, capek banget

Elsa: Sampai di sini, aku ingin sekali hilang dari Bumi.

Elsa: Tapi logika masih enggak ngizinin aku mati.

Elsa: In. Kalau kamu tahu kerjaan apa yang bisa menghasilkan uang 30 juta dalam lima hari.

Elsa: Apa tubuh aku bahkan bisa dihargai sebanyak itu, In?

Elsa mematikan ponsel setelah menulis rentetan pesan kepada Inara. Ketika kelopaknya tertutup, Elsa dapat merasakan lelehan menuruni pipinya. Ia tertidur setelahnya.

Suara peluit kereta membangunkan Elsa. Jam pada ponselnya menunjukkan pukul 10.24 WIB. Elsa harus segera turun dan naik kereta arah pulang. Di stasiun, Elsa melihat beragam orang. Pria-pria bersetelan rapi. Wanita memakai rok span dan hak tinggi. Ibu-ibu berkerudung bersama kelompoknya. Anak sekolahan dengan kumpulannya. Keluarga kecil yang tampak rukun. Orang yang berjalan lurus tanpa melihat kiri dan kanan. Anak muda yang hanya memperhatikan gawainya. Resepsionis tiket. Pedagang minuman di balik konter yang tinggi. Dan wajah-wajah lelah yang tampaknya ingin segera bertemu bantal. Semua orang memiliki hidup dan masalah mereka sendiri.

Saat Elsa telah duduk di bangku kereta, dia melarikan pandangan ke luar stasiun yang tak kalah sibuknya. Kendaraan yang padat. Tukang parkir yang sibuk. Pedagang jalanan yang kepanasan. Anak-anak kecil bertelanjang kaki yang membawa gelas minuman. Dan pengemis yang menadahkan tangan.

"Apa aku boleh meminta-minta juga?" batin Elsa bermonolog.

"Apa aku mengemis bantuan di situs kitabisa?"

Sementara logikanya melarang, "Banyak orang yang lebih butuh ditolong. Selama jiwa ragamu sehat, jangan pernah mengemis."

Elsa menyalakan kembali ponselnya. Ia tergelitik untuk mengunduh aplikasi pengumpul donasi tersebut. Seketika gawai renta miliknya disesaki notifikasi sampai ponselnya hang. Elsa hanya membiarkan benda itu kembali normal dengan sendirinya.

Inara: Woi, putri sulungnya Tante Mira. 😬

Inara: Kamu boleh sekali ngomong capek.

Inara: Kamu manusia, gak salah mau ngeluh. 😕😕

Inara: Tapi pertanyaan apa itu yang terakhir? 😡😡

Inara: Aku tahu perbuatanku tempo hari nggak benar. Ya, tapi kamu jangan anggap harga dirimu anjlok. 😭😭

Inara: Hari ini kamu ke mana? Nggak tahu malu tuh Monyet Africa 🐵 nanyain kamu sama aku.

Inara: Mending kamu nikah sama dia. Dia nggak akan lepasin kamu, sih, menurutku. 🧐🧐🧐🧐🧐

Elsa menatap pesan lain di bawah nama Inara.

Dygta: Lo di mana, sih, El?!

Dygta menggunakan kata ganti seperti itu jika ia marah.

Elsa tidak terbiasa menggunakan lo-gue kepada siapa pun. Lidahnya tetap teguh menyebut aku dan kamu meski telah empat tahun hidup sebagai warga Ibu Kota. Pada awalnya Dygta pun tak senang mendengar cara Elsa menyebutnya.

"Dyg, lo temenan apa pacaran? Ngaku deh kalian sebenarnya pacaran, kan?" tanya teman tongkrongan Dygta.

"Temen, woy! Awalnya nih cewek suka bikin gue baper pake aku-kamu. Sekarang udah terbiasa. Lo pada nggak usah berisik perkara panggilan gue ke dia!"

"Eh, serius lo berdua cuma temen. Kalau gitu ...."

"Apa?" tantang Dygta. "Berani lu deketin dia, nih tinju bakal kenalan sama gigi lo."

"Dygta! Nggak keren, apaan kamu pake nakut-nakutin orang lain segala?"

"Lo belain mereka, hah?"

Elsa mengusap dadanya melihat tatapan horor Dygta tertuju kepadanya.

❄️❄️❄️

Bersambung ....

Muba, 31 Juli 2024

Helooooo, Elsa sampai di sini duluu yaaa. 😇😇😇😇😇😇

Ih apa sih si Dygtaa? Maksa bangett mau nikah dan nikah. Lah yang harus dinikahin, gak dinikahi. Buaya ekor panjang!!! 🐊🐊🐊

Sampai jumpau besok yaa. Jangan lua vote cerita ini, yaa. Makasih banyak, semuanya. Luv kalian. 🍨🍨🍨🍨🍨

Yang nungguin Neima dan Ririn, Kasev minta maaf banget, belum bisa lanjut cerita mereka. 🤧🤧🤧 Kasev juga kangen sama merekaa. 

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro