Prolog
AMB_publisher
____________________________________________
No one can't love you like I do
°°Satria Eclipster°°
____________________________________________
Jakarta, 13 September
07.10 a.m.
Cecilia Bulan semakin mempercepat larinya ketika jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh menit. Itu artinya ia terlambat lagi. Alamat, pasti Dementor―eh maksudnya Satria Eclipster sang ketua OSIS yang merangkap sebagai ketua tim disipliner akan ceramah panjang kali lebar sama dengan luas dan menghukumnya seperti hari - hari kemarin.
Tapi mungkin tidak untuk hari ini. Bulan sedikit bernapas lega melihat Voldemort—maksudnya Satria tidak ada di gerbang. Untuk itu, langkah santai menjadi pilihan gadis bersurai coklat gelap sepunggung untuk memasuki kawasan sekolah. Ia melenggang seraya bersenandung pelan. Mungkin hari ini adalah hari keberuntungannya.
Namun ketika ada seseorang yang memanggil, “Cecilia Bulan.” Dengan suara berat dan datarnya yang khas. Suara yang sangat Bulan kenal. Suara yang ia sebut - sebut sebagai Dementor dan Voldemort tadi. Lebih tepatnya suara Satria Eclipster. Mata Bulan langsung melotot, bulu kuduknya berdiri, aura Lucifer ia rasakan saat panggilan namanya menggema di telinganya sekali lagi. Dengan cekatan, gadis kurus itu mempercepat langkah, tapi tidak secepat Satria menangkap tas ransel milik Bulan persis seperti gerakan memungut kucing liar.
“Mau kemana lo?” tanya Satria galak seperti Dementor yang siap menghisap jiwanya sambil menyeret Bulan yang berusaha kabur dan meronta – ronta. Namun sia - sia, kekuatan laki - laki tentu lebih besar dibandingkan dengan perempuan.
Bulan merengek, “ampun Sat, gue nggak bakalan telat lagi, sumpah gue ketiduran.” Tangan gadis itu memohon dengan mata terpejam—takut jika Satria akan menyemprotkan bisa mematikan layaknya ular cobra seperti kemarin - kemarin—sembari berjalan mundur mengikuti giringan laki - laki galak mirip Lucifer ini ke depan gerbang yang sudah sepi.
“Ampun Sat ampun, gue janji besok nggak telat lagi,” rengek Bulan sekali lagi masih dengan tangan memohon dan masih memejamkan matanya takut – takut, padahal cekalan ransel miliknya sudah dilepas oleh Satria. Dan tanpa gadis itu sadari Satria sudah berpindah berdiri di depannya.
“Lo mau jadi cewek gue?”
Eh apa? Bulan tidak salah dengar kan? Ia membuka mata dan mendongak untuk melihat raut wajah Satria yang serius. “Apa?” tanya gadis manis itu cengo. Memastikan jika tidak sedang berkhayal atau mimpi.
Raut wajah Satria sudah berkerut siap melontarkan amarah, tapi cepat - cepat sadar diri jika saat ini sedang menyatakan perasaan. Itu pun jika bisa di sebut dengan menyatakan perasaan. Karena pada kenyataannya Satria tidak mengutarakan perasaannya melainkan bertanya.
Ya kali nembak cewek pake urat. Inget lo lagi nembak cewek, bukan lagi mau adu panco, apa lagi mau bikin bakso. Kenapa sih dia lemot banget? Batin Satria berusaha menjinakkan urat - urat yang mulai muncul pada dahi.
“Lo mau jadi cewek gue?” ulang laki - laki tegap itu berusaha menggunakan nada datar yang wajar, tapi bagi Bulan tidak terdengar demikian, melainkan terdengar nada menyeramkan seperti pemaksaan.
Setelah sekian detik memproses kalimat Satria, gadis itu baru yakin tidak salah dengar. Laki - laki yang berambut klimis ini benar - benar menyatakan perasaan. Mendadak Bulan merasa lucu, bagaimana mungkin orang segalak Satria menyatakan perasaan padanya? Bulan pikir laki - laki yang berdiri di depannya bukan manusia normal yang bisa menyatakan perasaan, terlebih pada gadis seperti dirinya. Mengingat mereka berdua mempunyai sifat saling bertolak belakang.
Jika Satria Ketua OSIS dan ketua tim disipliner, Bulan hanya siswa biasa.
Jika Satria rajin belajar dan disiplin, Bulan pemalas dan santai.
Jika Satria hobi membaca buku, Bulan hobi tidur.
Jika Satria cekatan dalam segala hal, Bulan lemot dalam segala hal.
Jika Satria jenius melebihi Albert Einstein, Bulan di bawah standart kecerdasan monyet capucine.
Jika Satria galak, Bulan cengengesan ceria dan penyabar.
Jadi gadis itu tidak habis pikir. “Kenapa gue?” tanyanya benar - benar tidak mengerti dengan tangan menunjuk dirinya sendiri.
“Simple. Soalnya nggak bakalan ada yang mau jadi pacar cewek lemot, pemalas, bodoh, dan telatan kayak lo, selain gue.”
Kampret! Itu nembak apa ngatain gue sih? Kok ngeselin?! Teriak Bulan dalam hati.
___________________________________________
Thanks for reading this Prolog
Makasih juga yang uda vote dan komen di karya baru saya bergenre teen fiction
Jangan lupa terus kasih suport saya dengan vote, komen, share, add to library, dan renomination jika kalian suka ceritanya
See you next chapter teman temin
With Love
Chacha Nobili
👻👻👻
Repost : 24 April 2020
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro