Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter16

Selamat datang di chapter 16

Tinggalkan jejak dengam vote dan komen

Tandai juga jika ada typo

Selamat membaca

Semoga suka

❤❤❤

______________________________________

Memperbaiki hubungan akan terasa sulit jika kedua belah pihak tidak saling ingin melakukannya

°°Satria Eclipster°°

Jakarta, 5 Novemember
13.25 p.m.

Perjalan dari rumah Bulan menuju apartemen Satria membutuhkan waktu setengah jam dengan kecepatan standart. Tapi entah kenapa Bulan malah merasa perjalanan ini sangat singkat. Mungkin karena sepanjang perjalanan pikirannya bertumpu pada bagaimana reaksi Rani saat berhadapan dengannya nanti. Mengingat beberapa minggu lalu setelah melontarkan pendapat sarkasme tentang keluarga laki-laki itu—gadis yang sekarang sedang gugup—dengan tidak sopannya pergi di tengah acara makan yang bahkan dikhususkan untuknya.

Secara logika, mana ada orang tua yang suka melihat anak muda—terutama pacar anaknya—bersikap tidak sopan bukan? Apa lagi terhadap keluarganya.

Satria mungkin menyadari kegugupan Bulan. Terbukti beberapa kali ia melirik gadis itu dari kaca spion tengah saat mulai menggigit bibir dan meremas tangan yang mulai dingin.

"Tenang, rileks aja, ayo turun," kata Satria santai seperti di pantai.

Jika bukan karena ajakan laki-laki itu, Bulan bahkan tidak sadar ini sudah tiba di parkiran basement apartemen Satria yang ternyata sudah meluncur turun membawa bucket bunga lili.

Kegugupan Bulan semakin bertambah saat pemilik lebih memilih menekan bel apartemen, bukan langsung membukanya dengan key card. Sembari menunggu bundanya Satria membukakan pintu, gadis itu memejamkan mata, manarik napas dalam-dalam lewat hidung dan mengeluarkannya lewat mulut—berusaha mengusir rasa gugup.

Here we go, you can't go anymore, batin gadis itu memaksakan seulas senyum ketika Rani tengan menarik pintu hingga terbuka lalu berkacang pinggang dengan raut wajah sama sekali tidak ramah.

"Anak muda jaman sekarang ckckck."

Ha! Bahkan awalan kalimat Rani membuat Bulan meringis dalam hati jika tebakannya benar.

Sedangkan Satria sendiri masih bersikap tenang sambil mengulurkan bucket bunga lili pada bundanya. "Buat bunda."

"Jangan harap sogokan ini bisa bikin bunda luluh ya! Kalian berdua coba duduk dulu di sofa, bunda mau ngomong!" jawab bundanya Satria lalu menggiring mereka masuk ke apartemen, meletakkan bucket bunga di meja lalu berdiri di depan dua sejoli yang sekilas tampak saling pandang-pandangan.

Bunda Satria berkacak pinggang lagi. "Kalian ini! Ckckck!"

"Maaf Bun nggak sempet pamit waktu itu," sela Satria. Sedangkan Bulan sendiri tampak menunduk saja, tidak berani menatap Rani.

"Terus buat apa kamu beli hp? Bukannya itu gunanya kamu beli hp? Buat nelpon? Atau ngirim pesen? Masak ngabarin Bunda kalau udah sampe Jakarta aja lupa?! Ya gitulah orang kalau lagi kasmaran! Sampek lupa sama Bundanya! Ngerasa dunia milik berdua, yang lain suruh pindah ke pluto! Gitu?"

Satria dan Bulan bingung harus menjawab apa. Masalahnya penuturan bundanya ini sedikit alay bin lebay. Mereka memang sedang kasmaran, tapi tidak seperti itu juga sih.

"Maaf Bun." Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu Satria ucapkan. Berbeda dengan Bulan yang masih menunduk tidak berani menjawab.

"Terus kenapa kalian nggak ngajak Bunda makan?! Pengen makan berdua aja gitu bang Satria?"

"Eh nggak berdua kok," sahut Bulan.

"Bunda baru ngabarin dateng waktu kami lagi makan." Suara Satria dan Bulan bersahut-sahutan. Membuat bundanya malah semakin gemas.

"Ya gitu, jawab aja kudu barengan?"

Bulan yang merasa aneh dengan pertanyaan bundanya Satria pun mengernyitkan alis.

"Bang, mandi sana, bau tau!" perintah Rani yang melihat anak bungsunya tampak gerah dengan kaos tim basket kelas yang masih ia kenakan.

"Hah? Bau? Gue bau kah?" Bukannya segera mandi, Satria malah bertanya pada Bulan. Mengingat dari tadi gadis itu bersamanya. Bahkan Satria juga sempat memeluknya. Pantas saja gadis itu memberontak, jangan-jangan memang karena bau. Ah, kenapa mendadak jadi konyol? Tentu saja setelah bermain basket Satria berkeringat dan menjadi bau. Jadi itu juga yang membuat Erlin nyengir sewaktu ijin membawa Bulan? Duh malu.

Tanpa sadar Bulan menahan senyum karena pertanyaan itu lalu menanggapi. "Iya sih cuma nahan aja dari tadi."

"Nah tuh, dengerin, pacar kamu aja bilang bau, kirain orang yang lagi kasmaran itu mau pacarnya kentut pasti dibilang wangi."

Ya ampun ini sebenarnya bundanya Satria marah, nyindir apa ngelawak sih?

"Oh, oke, mandi dulu ya?" pamit Satria sebenarnya mengatakan itu pada Bulan yang tampak menampilkan wajah melas. Ia tahu jika gadis itu mengodenya agar tetap di sini bersamanya. Karena jika mandi, jelas gadis itu akan ditinggal berdua dengan bundanya. Pasti Bulan merasa belum bisa menghadapi wanita paruh baya yang tengah memperhatikan mereka itu sendirian.

Satria sangat paham arti tatapan itu, tapi malah sengaja menggodanya dengan tetap pergi mandi. Sengaja membiarkan bunda dan kekasihnya mengakrabkan diri.

Setelah Satria menghilang ke kamar mandi, Rani duduk di sofa sebelah Bulan. Meraih tangan Bulan dan menggenggamnya. "Nggak usah tegang, ini bukan ujian kok."

Bulan melolotkan mata kaget melihat senyum wanita anggun yang duduk di sebelahnya. Gadis itu juga meneliti letak kesalahan pada senyuman bundanya Satria tapi tidak ketemu. Rani memang tersenyum tulus padanya. Ini sedikit aneh, bukankah seharusnya marah? Kenapa malah tersenyum? Kemana tadi wajah marahnya?

"Tante nggak marah lagi?" tanya Bulan implusif membuat Rani malah terkekeh.

"Capeklah marah-marah terus, lagian tadi itu cuma pengen dan iseng aja marahin bang Satria, soalnya Tante kangen marahin dia. Kalau soal di meja makan mah nggak usah khawatir, Tante juga pernah muda kali. Cuma bisa geleng-geleng kepala aja." Rani secara gamblang menjelaskan isi hatinya. Malah membuat Bulan cengo, karena jawaban wanita anggun paruh baya itu di luar dugaannya.

Mencoba untuk tidak speechless dengan jawaban Rani, Bulan memberanikan diri untuk meminta maaf. "Maaf Tan soal sebulan lalu." Entah kenapa rasanya ia perlu mengatakan hal itu sendiri walaupun Satria sudah mewakili permintaan maaf mereka tadi. Dengan begini setidaknya perasaan Bulan menjadi lega dan lebih baik.

"Hhhmmm gimana ya ..." Rani tampak berpikir sebentar. "Tante bakalan maafin kalau kamu mau nemenin belanja dulu di Grand Indonesia."

"Ha?" Sekali lagi hanya wajah cengo yang mampu gadis itu tampilkan karena lagi-lagi jawaban tidak terduga dari bundanya Satria. "Cuma itu aja?"

"Iya Sayang, emang mau apa lagi? Bunda ini anaknya cowok semua, nggak ada yang bisa di ajak belanja, kan nggak seru kalo belanja sendirian? Kalau keluar sama temen-temen mah udah sering. Bosen. Sesekali pengen belanja ditemenin anak gadis," keluh Rani.

"Oh, iya tan." Bulan berusaha memahami Rani, juga membandingkan anggota keluarganya sendiri yang semuanya perempuan.

"Lagian yang punya pacar cuma Satria doang Sayang, jadi bisalah kamu di ajak girls day out? Ups maksud Tante women day out, eh tapi kan kamu masih girl." Rani berpikir sejenak. "Ya udalah pokoknya istilah itu."

Entah kenapa malah membuat Bulan ingin tertawa, tapi tidak berani terbahak-bahak seperti saat sedang bersama geng ABC, ia hanya akan tersenyum. Harus jaga image dong di depan bundanya Satria. Ya kan?

"Oke, saya temenin Tante belanja." Mumpung mama udah ngijinin keluar. Lanjut Bulan dalam hati.

"Wahhhh tante kelewat seneng nih, jadi ngerasa punya anak cewek. Gimana kalau kamu manggil Tante bunda aja."

Oke kali ini kalimat Rani sukses membuat Bulan blushing. Merasa diistimewakan.

"Bunda apain Bulanku? Mukanya sampe merah gitu?"

Terdengarnya suara berat Satria membuat mereka menoleh ke arah laki-laki yang su-dah selesai mandi dan ganti kaos putih bekerah serta rambut tidak seklimis biasanya.

"Apa sih mau tau urusan wanita aja, ya kan Sayang?" ucap bundanya asal sembari melihat ke arah pacarnya.

Sedangkan Bulan sendiri tidak menjawab, sibuk terngiang-ngiang kata Satria yang menyebutkan 'Bulanku.'

Jakarta, 5 Novemember
13.25 p.m.

Sebelum berangkat ke Grand Indonesia, Bulan mengurus bucket bunga hasil rangkai-annya yang Satria berikan pada Rani, dengan melepaska rankaian dan meletakkan bunga-bu-nga lili tersebut dalam gelas kaca berisi air dan es agar tetap segar.

Well, saat ini mereka sudah berada di Grand Indonesia karena paksaan sang bunda yang menggunakan jurus the power of emak-emak. Makan makanan jepang di Merugame Udon. Lalu tiba-tiba sebuah suara yang sangat Satria hapal menumbuk gendang telinganya.

"Sore," sapa orang itu dengan nada datar kemudian ikut duduk di sebelah bunda de-ngan nampan berisi kari rice dan macha hambar. Pandangan orang itu yang tidak pernah ber-sahabat menyapu ke arahnya, lalu berhenti tepat pada gadis disebalhnya dan memicing.

"Bunda nggak bilang ada yang ikut." Suara Satria kini sudah berubah dalam dan te-rasa dingin di telinga. Melirik reaksi gadis di sebalahnya yang ternyata sudah mengernyitkan alis memandang Erlang Eclipster—orang yang Satria maksud.

Bunda baru akan menjawab tapi Erlang lebih dulu menyahut, "Keberatan?"

"Eh ... udah ... udah! Kalian ini ya selalu aja berantem! Udalah gini aja, Bulan kamu ikut bunda, biarin mereka," kata Rani yang kini sudah beranjak, mengambil tas mahalnya dan menarik Bulan.

"Eh ... oh ... iya Bunda," ucap gadis itu gelagapan. Dapat Satria lihat ekor mata Bulan terus melihat dirinya yang memandang makanan dengan tatapan menerawang. Sementar Rani menggandeng gadis itu menjauh pergi.

"Bunda?" Erlang mengeryitkan alis mendengarnya. "Bahkan lo biarin cewek lo manggil Bunda? Ckckck." Laki-laki yang mirip Satria versi dewasa itu menggeleng lantas meletakkan sumpit yang baru saja dipegangnya kemudian ikut beranjak pergi, meninggalkan Satria yang masih menatap kosong ke arah makanan-makanan di meja tepat di depannya. Sembari berpikir kenapa lidahnya selalu kelu ketika berhadapan dengan Erlang Eclipster?

______________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang uda vote dan komen

See you next chapter

With Love
Chacha Nobili
👻👻👻

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro