Chapter 4
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan vote dan komen
Tolong tandai jika ada typo
Well, happy reading everyone
Hope you like this
❤❤❤
°°Satria Eclipster°°
___________________________________________________________________________
Jakarta, 14 September
14.30 p.m.
Dddddrrrrrttttt
"E copot ... copot!" pekik Chris sembari mengurut dada karena kaget ketika lengan kirinya menyenggol serta merasakan getaran pada ransel biru tua milik Bulan.
Mengundang tawa sang pemilik dan Alvie. Khawatir akan meledak, mereka menutupi mulut menggunakan kedua tangan. Bahkan Bulan harus memegangi perut akibat terlalu keras menahan tawa begitu mendengar kelatahan Chris.
Laki-laki ngondek itu tentu tidak sependapat. Ia melototi Bulan sambil berkacak pinggang dengan satu tangan menunjuk benda yang dimaksud. "Hei! Hp lo bunyi!" omelnya dengan intonasi yang pelan namun dengan penekanan.
Barulah menurunkan tangannya dari pinggang dengan gemulai kemudian menggeser posisi duduknya diikuti Alvie untuk mengintip Bulan yang saat ini sedang melihat siapa si penelpon. Dan betapa mata gadis itu membelalak serta reflek menaikkan kacamata hitam ke kepala ketika membaca nama yang tertera pada layar ponselnya.
Bang Sat is calling
"Hah?! Bang Sat! Bang Sat! Gimana dong?!" bisiknya sambil jingkrak-jingkrak karena panik. Bukan hanya gadis itu saja yang panik, melainkan dua sahabat mereka juga.
Telepon dari Satria tidak akan membuat geng ABC panik, jika mereka tidak sedang menyamar dengan memakai wig keriting warna-warni, jaket dan kacamata hitam untuk mem-buntuti laki-laki galak bernama Satria.
Posisi mereka bersembunyi dan mengintip dari balik dinding pemisah antara parkiran dan halaman sekolah. Membelakangi Satria yang sedang naik di motor dan baru berencana menghidupkannya. Atau setidaknya itu hanya terkaan saja karena pada dasarnya posisi Satria membelakangi mereka, jadi tidak dapat melihat apa yang sedang Satria lakukan di atas motor sebelum tahu laki-laki galak itu ternyata menelpon Bulan.
Ha! Lucu sekali. Tadi berlagak tidak kenal, sekarang menelpon.
"Angkat buruan, Mot, Lemot!" bisik Alvie sebab takut suaranya terdengar Satria sam-bil menempelkan telunjuk pada benda pipih milik Bulan. Detik berikutnya memindah telun-juk ke bibirnya sendiri. "Sssstttt diem, jangan panik, b aja nada lo! Dia pasti nyariin, bilang ke rumah gue lagi kerja kelompok fisika," tambahnya.
"Iya bener," timpal Chris sambil berusaha diam saat Bulan mengangguk lalu meng-geser layar ponsel dan menempelkannya ke telinga.
"Eeekkhhhmm, halo?" sapa Bulan setelah berdehem sebagai bentuk upaya menetralkan kepanikan yang melanda.
"Di mana?" tanya suara di seberang sambungan.
Mungkin bagi Satria, suaranya terdengar biasa saja. Datar dan tanpa penekanan. Berbeda dengan apa yang dirasakan geng ABC. Mengingat posisi mereka sekarang, suara Satria jadi terdengar mirip polisi yang sedang mengintrogasi seorang pencuri. Menjadikan mereka semua lebih panik.
"D-di rumah Alvie. Gue mau ngerjain tugas fisika buat besok," jawab Bulan sesuai apa yang disarankan Alvie tadi dengan suara sedikit gemetar dan gelagapan.
Lalu hening selama beberapa saat. Bulan pun sabar menunggu jawaban dari Satria sambil berusaha menetralkan kepanikannya sendiri sementara Alvie dan Chris masih mendekatkan diri padanya agar dapat menguping pembicaraan dua sejoli itu.
"Lo nggak ada tugas dan nggak ada jadwal fisika besok," jawab Satria setelah mengecek jadwal pelajaran Bulan dari ponsel yang ia gunakan untuk menelpon. Laki-laki itu tahu semua tugas dan jadwal pelajaran Bulan. Dari mana lagi jika bukan dari kepala sekolah yang meminta bantuannya untuk merekap data semua siswa dan jadwal pelajaran mereka ta-di?
Mata Bulan melotot. "Kok lo tahu?" tanyanya geran. Bukan hanya gadis itu, seluruh geng ABC juga heran dan saling berpandangan.
Bukannya menjawab pertanyaan Bulan, laki-laki galak di seberang sambungan malah mengutaran negative thinking-nya. "Jangan bilang lo mau main?"
Bulan memandang sahabat-sahabat laknatnya, mengode bantuan jawaban. Tapi jawaban yang mereka berikan berbeda. Alvie mengangguk, sedangkan Chris menggeleng selaras dengan ekspresi tangannya yang mengibas-ngibas gemulai.
"Share location gue ke sana sekarang!" perintah Satria tegas ketika pertanyaannya tidak kunjung dijawab oleh Bulan. Secara tidak langsung membenarkan negative thinking-nya. Otot kepalanya berkedut seketika memikirkan gadis itu. Bagaimana bisa malah bermain di saat besok ada remidi matematika? Astaga, lama-lama Satria bisa darah tinggi jika begini terus.
Sementara di tempat yang lain, setelah menimbang, berpikir, dan seterusnya, geng ABC akhirnya memutuskan untuk segera ke rumah Alvie menaiki motor matic Chris. Seperti chili-chili-an alias cabe-cabean bonceng tiga. Chris yang menyetir, Alvie di tengah dan Bulan menempati posisi paling belakang. Pantatnya hanya mendapat tempat duduk setengah, maka dari itu harus berpegangan erat pada Alvie agar tidak jatuh. Mereka bahkan lupa tidak melepas jaket, wig warna-warni, kacamata hitam dan tidak ada yang memakai helm.
Tidak sampai sepuluh menit geng ABC sudah mendarat di rumah Alvie. Cepat-cepat, Bulan mengeluarkan ponsel dan mengirim alamat Alvie ke WA Satria, sebelum laki-laki buas itu semakin marah. Sebenarnya Bulan juga heran dengan sikapnya ini. Kenapa mau-mau saja diotoriteri Satria. Harusnya ia melawan, atau minimal menolak bukan? Tapi nyatanya meno-lak perintah Satria tidak semudah itu. Harus memiliki alasan yang logis dan bisa diterima akal seorang Satria, baru laki-laki galak itu menyetujuinnya.
Sedangkan laki-laki itu sendiri masih setia menunggu pesan dari Bulan. Ia sedikit kesal. Memang butuh berapa lama hanya untuk mengirimi lokasi rumah Alvie? Ayolah ini sudah sepuluh menit lebih satu detik!
Ketika ponsel di genggaman tangannya berbunyi pertanda pesan masuk dari Bulan, Satria segera membacanya dan melajukan motor CBR hitamnya menuju lokasi tersebut.
Sama, tidak sampai sepuluh menit motor Satria sudah mendarat di halaman rumah sahabat gadis itu. Ia segera mematikannya, bersiap turun untuk mencaci maki Bulan. Tapi yang ada Satria malah terpana ketika melihat sang kekasih berjalan ke arahnya menenakan sweater abu-abu. Jadi ia masih bertengger di motor.
Chris dan Alvie hanya mengintip dari balik pintu, berusaha mencuri dengar percakapan dua makhluk itu. Terlebih penasaran alasan Satria meng-claim Bulan menjadi kekasih. Mereka juga penasaran, bagaimana keduanya jika sedang mengobrol, apakah benar Bulan akan disembur seperti yang selalu gadis itu ceritakan atau malah melihat adegan romantis gratis seperti di film-film.
Astaga kenapa ada bidadari? Batin Satria berteriak. Berbanding terbalik dengan raut wajahnya. Mendadak, semua caci maki yang telah ia siapkan lenyap. Seolah menguap ke udara. Satria bahkan tidak sadar jika dari tadi menatap gadis itu dengan bengong. Jika bukan karena suara merdu Bulan, ia pasti masih betah berlama-lama memandanginya.
"Ngapain kesini?" tanya Bulan, berharap dapat jawaban normal dari Satria, bukan semburan kemarahan karena ketahuan main.
Mau marahin nggak jadi karena lo manis.
"Nggak belajar?" Akhirnya ia malah balik bertanya dengan nada datar.
Demi kerang ajaib! Kenapa yang ada di otak Satria itu isinya hanya belajar, belajar, dan belajar? Tidak bisakah Bulan sedikit istrahat? Toh mereka juga baru saja pulang sekolah.
"Baru juga pulang sekolah," gerutu Bulan pelan, dengan bibir dikerucutkan, tapi pendengaran ultrasonik Satria dapat menangkap itu dengan baik.
"Besok ada remidi kan?"
"Kok lo tahu sih?" Bulan semakin heran dengan keajaiban Satria. Mendadak bergindik ngeri. Jangan-jangan laki-laki di depannya ini cenayang? Atau jelamaan iblis?
Lain halnya dengan Satria yang sedang menyipitkan mata, bukan karena berusaha membaca pikiran Bulan, ia tidak bisa. Ia bukan cenayang atau semacamnya. Hanya terganggu dengan anak rambut yang bersliweran diterpa angin pada wajah kekasihnya. Bagaimana pun ia suka kerapian. Melihat messy hair gadis itu tangannya bergerak secara otomatis mengam-bil anak rambut yang menjuntai dan berterbangan di wajah Bulan, lalu menyematkan itu di telinga.
Bulu kuduk Bulan berdiri dengan kecepatan ritme jantung yang meningkat, badannya mematung, lidahnya juga tercekat. Ia berusaha meneguk ludah dengan susah payah dan tidak bisa melakukkan apa-apa, saat tangan Satria melakukan hal itu. Bahkan ia tidak sadar men-cengram rok seragamnya kuat-kuat.
Di balik pintu, Alvie dan Chris ingin berteriak histeris namun ditahan. Senyum –se-nyum gemas melihat dua makhluk yang berdiri di sana. Pemandangan mereka sungguh apik. Satria naik motor dan Bulan yang berdiri di sampingnya. Kemudian adegan yang menurut mereka romantis itu terjadi.
Diam-diam Alvie mengambil ponsel dan memotret mereka sambil senyum-senyum sendiri.
"Ada kesulitan? Gue bantu belajar kalau ada," suara bariton Satria membuat Bulan mengalihkan pandangan. Entah kenapa wajahnya panas, terutama bagian pipi. Ia berdehem, berusaha menetralkan ritme jantung dan kegugupannya.
"A-ada." Suaranya bahkan bergetar sebab begitu gugup.
Melihat wajah Bulan memerah, hati Satria menghangat. Tidak menyangka, akan sesu-ka ini melihat gadis itu blushing. Manisnya bertambah berkali-kali lipat. Akan tetapi otaknya yang cerdas penuh logika kembali membuatnya menjadi galak begitu mengingat remidi mate-matika Bulan.
"Ayo pulang!" perintah Satria kembali galak, membuat gadis itu menekuk bibirnya. Ingin mengeluarkan sumpah serapah pada makhluk di depannya tapi tidak berani.
Akhirnya lebih memilih berbalik, melangkah ke rumah Alvie yang cepat-cepat mema-sukkan ponselnya ke kantung seragam sebelum Bulan mengetahui aksi memotret tadi, dan pura-pura asyik mengobrol dengan Chris di sofa ruang tamu.
Tidak menyadari kelakuan kedua sahabatnya, Bulan yang menekuk wajahnya menyambar tas yang tergeletak di meja. Sebelum benar-benar keluar pintu rumah Alvie, ia berkata sambil menyilangkan tangan membentuk huruf X, "Gue pulang dulu, mission failed!"
"Hati hati di jalan," kata Alvie sambil mengangguk, kemudian beranjak untuk mengantar Bulan keluar rumahnya.
"Bye bye love bird," sahut Chris yang juga ikut keluar, memastikan kedua love bird itu sudah pergi lalu tertawa kencang bersama Alvie.
"Hahahaha mission complete!" teriak mereka berdua sambil bertos ria.
Jakarta, 14 September
15.05 p.m.
"Eh ini kan bukan jalan ke rumah gue?" tanya Bulan bingung. Wajah cemberutnya berganti celingukan ketika Satria melajukan motor ke arah jalan lain.
"Emang," jawab Satria singkat.
Bulan semakin menyernyitkan alis pertanda benar-benar bingung. "Mau kemana?"
"Kencan."
______________________________________
Aduuuhhh ambyar hatiku bbaaanggg
Well thanks for reading this chapter
don't forget to vote, comment, shared, add to librrary and recommendations if you like this story
See you next chapter teman temin
With Love
Chacha Nobili
👻👻👻
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro