Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 27

Selamat datang di chapyer 27

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai jika ada typo (biasanya suka gentayangan)

Thanks

Happy reading everyone

Hope you like it

❤❤❤

______________________________________

Siblings are weird
we are figh in every condition
But always find "sorry" in solution

°°Satria Eclipster°°
___________________________________________________________________________

Jakarta, 7 November
12.05 p.m.

Setelah usaha kerasnya selama ini untuk mendapatkan Bulan, kenapa sekarang harus putus? Kenapa jadi begini? Padahal bukan itu maksudnya. Bukan itu maksud Satria. Kenapa Bulan tidak mengerti? Kenapa gadis itu tidak berusaha memahami dan lebih memilih pergi?

Blam

Suara pintu yang ditutup cukup keras menyadarkan lamuman Satria akan masa di mana ia bertemu dengan Bulan untuk pertama kalinya.

Ia masih shocked. Rasanya belum mampu bergerak dari sana. Berlainan dengan tubuhnya yang mematung, hati Satria berteriak memerintah untuk mengejar Bulan dan harus menjelaskan secara detail apa maksud dirinya mengatakan hal tersebut. Karena gadis itu lemot, tidak cukup hanya dengan bentakan kasar, harus dijelaskan secara terperinci dulu baru paham maksud Satria.

Akhirnya laki-laki itu menghela napas dan memejamkan mata sejenak untuk mengusir emosi yang masih menggerogoti seluruh tulang-tulangnya. Tangan-tangan yang semula mengepal kini sudah merenggang. Satria mengumpulkan tenaga untuk menggerakkan seluruh tubuh remuknya. Walaupun ia harus tertatih, menyeret langkah dan menahan kepala yang rasanya seperti mau pecah, Satria tidak peduli. Ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencari gadis itu. Ia hanya berharap tidak roboh saat sedang malakukannya.

Perlahan langkah Satria keluar dari bilik apartemen kemudian menyusuri koridor menuju elevator yang terletak di ujung. Namun sayangnya besi kotak tersebut sedang berada di lantai G. Lama ia menunggu akan tetapi elevator itu tidak kunjung menjemputnya di lantai dua puluh, tempat ia berdiri. Tanpa ingin menunda lebih lama lagi, takut Bulan sudah terlalu jauh, akhirnya Satria memutuskan lebih memilih menuruni tangga untuk mencapai loby.

Sesampainya di sana, tidak kurang akal Satria bertanya pada receptionist tapi wanita muda yang berprofesi sebagai receptionist itu tidak tahu.

Satria mengendarkan pandangan, kemudian berjalan ke arah pria paruh baya berseragam keamanan untuk bertanya.

"Apa bapak liat cewek pake seragam SMA lewat sini?" tanya Satria pada bapak security yang sedang berjaga. Mendengar seseorang bicara padanya, beliau pun menoleh ke sumber suara itu.

"Kayak gimana tuh ciri-cirinya?" Security itu balik bertanya, karena sepengetahuannya banyak sekali anak SMA yang berlalu lalang di apartemen ini.

"Rambutnya coklat gelap panjang sepunggung, pake ransel warna biru tua, kira-kira tingginya segini Pak," terang Satria sembari mengangkat tangan setinggi leher. Bermaksud menggambarkan seberapa tinggi gadis yang ia maksud pada bapak security.

Petugas keamanan itu pun mengangguk paham. "Oh tadi ke sana Nak," jawab bapak security tersebut. Tangan kanan beliau mengarah ke kiri sebagai petunjuk. "Eh Nak, lagi sakit? Mukanya pucet."

"Makasih Pak." Hanya itu yang Satria jawab. Kemudian berlalu pergi menuju petunjuk bapak security tersebut dan menghiraukan celotehan beliau.

Satria memilih berjalan kaki menyusuri trotoar karena yakin gadis itu pasti belum jauh. Angin kencang mulai berembus. Menerbangkan beberapa dedaunan ke jalanan. Awan kelabu juga menyelimuti suasana siang itu. Satria merasa menggigil. Karena saat ini ia hanya mengenakan kaos polos warna kuning lengan pendek dan celana selutut, serta sendal jepit. Tidak sempat meraih jaket akibat tergesa-gesa keluar untuk mencari Bulan.

Kepalanya celingukan ke sana kemari. Sepuluh menit berjalan, Satria mulai ngos-ngosan. Di saat berhenti untuk mengatur napas, hujan rintik-rintik mulai turun membasahi trotar. Lambat laun berubah menjadi deras.

Satria memutuskan untuk kembali ke apartemen sebelum dirinya benar-benar roboh karena terlalu memaksakan diri. Sesampainya di sana ia langsung mandi dan ganti baju, lalu tiduran di kasur dan memutuskan untuk menelpon Bulan. Hal yang semestinya ia lakukan sejak tadi. Dan baru terpikir olehnya sekarang.

Ia meraih benda pipih miliknya di atas nakas lalu memencet nomor gadis itu. Namun dalam waktu bersamaan ada suara getaran di sebelah kasurnya. Satria mencari sumber suara tersebut dengan tangan. Ketika dapat, ia kaget karena alat komunikasi warna putih yang sedang menjerit-jerit ternyata milik Bulan.

Ia mengernyit, membaca nama kontak dan fotonya di layar ponsel milik Bulan.

Bang Sat is calling

Bang Sat? Dan foto gue digambarin mirip kucing?! Ck! Dasar cewek itu! Rutuknya dalam hati. Wajahnya menampilkan senyum getir. Mengingat kebodohan Bulan, juga kepergian gadis itu secara bersamaan.

Kepala yang semula pusing bertambah berat, badannya semakin menggigil serta suhunya meningkat. Satria tidak kuat lagi. Akhirnya memilih menelpon bundanya.

"Halo, tumben nelpon, sekarang kan waktunya pelajaran Bang," sapa suara di seberang begitu tersambung.

"Jam kosong Bun. Cuma mau tahu keadaan bang Erlang," bohong laki-laki itu dengan suara serak.

"Udah nggak apa-apa, bunda juga udah pulang ke Bandung," jawab bundanya sembari mencari tahu letak keanehan anak bungsunya itu.

Awalnya Satria berniat meminta bunda untuk merawatnya ke apartemen, namun karena mendengar bundanya sudah di Bandung, ia mengurungkan niat dan lebih memilih cepat-cepat mengakhiri panggilan telpon sebelum sang bunda menyadari jika dirinya sedang sakit. Ia hanya tidak ingin menambah beban bundanya jika seandainya tahu, lalu ngotot berangkat dari Bandung ke Jakarta seorang diri.

Satria merutuk dalam hati karena tidak berpikir dulu sebelum bertindak.

"Oh, ya udah kalau gitu." Ketika Satria hendak menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan, ia bersin. Memperjelas naluri seorang ibu bagi Rani yang sedari tadi curiga anak bungsunya tengah sakit.

Untuk memperjelas nalurinya, wanita paruh baya itu pun segera menelpon Erlang. Berniat minta tolong untuk mengecek keadaan Satria. Mengingat posisi kantor anak sulungnya itu paling dekat dengan apartemen Satria.

Rani mencari kontak Erlang, sembari menunggu nada sambung, beliau menempelkan benda pipih itu pada telinga. Pada dering ke lima, anak bungsunya baru mengangkat telpon.

"Ya?" tanya Erlang yang baru saja melangkan kakinya keluar ruangan untuk pergi makan siang.

"Bang, tolong kamu cek Satria di apartemen. Kayaknya dia sakit, bunda khawatir kalo dia sendirian di apartemen," ujar bundanya membeberkan alasannya menelpon Erlang.

"Ck, ada pacarnya, ngapain aku?"

"Sekarang kan masih sekolah Bang, lagian kamu juga abangnya! Bunda minta tolong banget nih, nggak inget kemaren adikmu yang nolong kamu di kantor polisi? Itu pun begitu bunda telpon Satria langsung dateng lhoo! Buruan sana ke apartemen adek!" The power of emak-emak Rani muncul. Kalau sudah begini, Erlang tidak mampu melawan, takut di kembalikan dalam perut lagi karena durhaka. Padahal seluruh hati dan pikirannya melawan, namun tubuhnya seakan bergerak sendiri untuk menjalankan perintah bundanya.

Tidak sampai setengah jam mobil audi putih Erlang sudah terparkir di basement apartemen Satria. Dengan langkah tegap, ia segera berjalan ke elevator untuk naik menuju lantai bilik apartemen adik bungsunya itu.

Ting tong

Jangan-jangan Bulan mau ngambil hp. Batin Satria ketika mendengar suara bel. Masih menahan seluruh tubuhnya yang sakit, laki-laki itu berjalan untuk membukakan pintu. Betapa ia kaget ketika melihat seorang pria dengan setelan mahal, wajahnya mirip dengannya. Hanya saja pria yang mengenakan setelah jas warna krem, yang berdiri di depan pintu itu berjambang. Mungkin jika Satria berjambang juga, semua orang pasti mengira mereka kembar.

Awalnya Erlang masih dongkol setengah mati, namun melihat wajah pucat Satria, ia menjadi iba. Luntur sudah kedongkolan yang selama ini melanda dirinya. Bagaimana pun mereka bersaudara. Tentu hatinya sakit melihat saudaranya dengan kondisi memprihatinkan seperti ini. Apa lagi selama ini Satria jarang sakit.

"L-lo sakit?" Dengan bodohnya Erlang masih bertanya demikian.

"Iya, ngapain ke sini?" Suara Satria sangatlah lemah.

Tanpa menjawab pertanyaan dari Satria, Erlang membopong adek bungsunya yang berusuhu panas itu dalam mobil dan segera melajukan ke rumah sakit terdekat.

Jakarta, 7 November

12.32 p.m.

"Bu, saya ngomong apa adanya, Bulan nggak masuk sekolah soalnya ada urusan mendadak," kata Alvie kepada Bu Sofi di ruang BK. Begitu menutup telpon dari Satria, pada jam istirahat ia di temani Chris langsung menghadap beliau.

"Emangnya ada urusan mendadak apa? Sampai nggak bisa ngasih surat ijin?" tanya bu Sofi penuh selidik. Tidak mudah percaya begitu saja pada murid yang mengatas namakan urusan mendadak sebagai alasan bolos sekolah. Pasalnya sudah banyak kasus serupa yang beliau tangani. Menjadikannya lebih waspada dan tidak mudah mempercayai alasan semacam ini.

Sementara Alvie dan Chris saling berpandangan, bingung harus mengatakan alasan detailnya atau tidak. Tapi mengingat ini sangat mendesak, akhirnya mereka sepakat untuk memberitahu bu Sofi.

"Bulan ngerawat Satria yang lagi sakit di apartemennya bu, soalnya Satria tinggal sendirian, anak rantau, ortunya di luar kota," terang Alvie.

Mendengar penjelasan tersebut, bu Sofi malah semakin mengernyitkan alis. "Bisa aja kan itu cuma alasan mereka berdua, lagian Satria juga nggak ada keterangan sakit di absensinya hari ini."

"Ya ibu kalau nggak percaya coba telepon Satria aja," jawab Chris yang tidak terima sahabatnya yang secara tidak langsung dikatakan berbohong.

"Bukannya ibu nggak percaya. Gini lho Alvie ... Chris..." Bu Sofi menggantung kalimat sembari mengekspresikan dengan tangan. "Apa pun urusan Bulan sama Satria, kalau mereka nggak masuk tanpa ada keterangan ijin dari orang tua atau surat dari dokter, tetep bolos namanya."

Bukan tanpa dasar bu Sofi menyimpulkan hal tersebut. Beliau mengacu pada peratu-ran sekolah yang memang sengaja dibuat ketat. Termasuk sistem poin prestasi dan pelang-garan. Itu semua bertujuan untuk membuat siswa lebih disiplin dan mencegah terjadinya bo-los sekolah.

Alvie dan Chris yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi akhirnya hanya bisa pasrah.

"Yah ... gimana nasib si Lemot? Masa di-skors beneran nih?" tanya Chris pada Alvie ketika mereka sudah keluar dari ruang BK.

"Duh, gue nggak tahu, kita udah usahain, tinggal do'a aja."

______________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang uda vote dan komen

See you next chapter

With Love
Chacha Nobili
👻👻👻

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro