Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 22

Selamat datang di chapter 22

Tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tandai juga jika ada typo

Thanks

Selamat membaca

Semoga suka

❤❤❤

______________________________________

Why you so long?
You know, I'm afraid

°°Cecilia Bulan°°
___________________________________________________________________________

Jakarta, 5 November
20.00 p.m.

Setelah mendapat telpon dari bundanya, Satria segera melajukan mobil rubicon hitamnya ke daerah Kemang. Hanya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit ia sudah tiba di penthouse milik Erlang yang berada di daerah itu. Langkah lebar dan cepat menjadi pi-ihannya karena tidak ingin menyia-nyiakan waktu.

Setibanya di depan pintu, ia menekan bel dan menunggu seseorang membukanya. Ketika mendengar suara gagang pintu diputar, laki-laki itu mundur selangkah dan melihat sang bunda yang membuka pintu tersebut.

"Bang," sapa Rani sembari memeluk lalu menggeret anak bungsunya masuk.

"Gimana keadaannya?" tanya Satria setelah duduk di sofa ruang tamu penthouse itu.

"Parah, Bang." Satria yang melihat bunda menitikkan air mata reflek memeluk beliau. "Papa lagi ke Washington, Bunda belum berani ngasih tahu, bang Kevin sama bang Gavin udah balik ke Pennsylvania. Bunda nggak tau lagi mesti ngomong ke siapa lagi selain kamu." Wanita paruh baya itu juga terisak. Semenit kemudian baru menyadari wajah Satria lebam di beberapa tempat.

"Bunda tenang aja, ayo kita ke sana."

"Kamu habis di pukulin orang juga? Di obati dulu Bang."

"Nggak usah dipikirin Bun, udah di obati Bulan. Yok kita ke sana, kasian bang Erlang nungguin." Satria mencoba membuat bundanya agar tidak usah memikirkan perihal lebamnya. Selain itu dirinya juga khawatir akan keadaan Erlang.

Well, dalam lima menit Satria dan Rani sudah tiba di kantor polisi tidak jaih dari situ. Mereka turun dengan tergesa-gesa untuk segera masuk dan menemui petugas yang me-nangani Erlang.

Satria duduk bersebelahan dengan bundanya yang berwajah khawatir. Sedangkan ia sendiri berwajah datar, bertolak belakang dengan hatinya.

"Kerabat saudara Erlang Eclipster?" tanya petugas polisi berkacamata plus yang duduk di depan mereka. Tangan kanannya membolak-balikkan berkas.

"Ya saya bundanya dan ini adiknya," jawab Rani.

Usai mengangguk, petugas tersebut membacakan berkas di atas meja lalu bergantian menatap kedua orang yang duduk di depannya. "Menyetir dalam keadaan mabuk dan menghajar seorang polisi."

"Apa kami dapat menebusnya dengan membayar denda?" tanya Satria to the point. Tidak ingin berbasa-basi terlebih dahulu karena ingin urusan ini cepat selesai.

Rani yang di sebelahnya pun mengangguk setuju.

Jakarta, 5 November

20.45 p.m.

Setelah membayar denda untuk membebaskan Erlang yang di tahan dalam keadaan mabuk dan menghajar seorang polisi, Satria menggeret abangnya masuk mobil. Mendudukan di kursi tengah dengan bunda yang memeganginya. Ia juga meminta bundanya agar menegakkan duduk sang abang untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu akan muntah, selain mencegah agar tidak tersedak, juga dapat dengan mudah di tangani. Jika dalam posisi terlentang tentunya kan membahayakan.

Jam tiga dini hari, usai muntah di penthouse, Erlang pun tidur. Begitu juga Satria dan sang bunda. Keesokkan paginya ia baru melihat ponsel yang dayanya tersisa lima persen. Kemudian manfaatkan itu untuk menghubungi Bagas, bermaksud meminta bantuan wakilnya itu untuk menggantikan menjaga gerbang hari ini.

Ia baru akan menelpon Bulan ketika ponselnya sudah tidak ada daya. Lalu melihat abangnya sudah bangun, Satria meminta Erlang duduk di ruang tengah bersama bunda.

"Dengerin gue lo Bang!" ucap Satria di sofa ruang tengah pada Erlang yang masih pusing karena efek mabuk dan bundanya yang duduk di sebelah anak sulung itu.

"Lo boleh ya ngerepotin gue, tapi jangan ngerepotin bunda! Heran gue ama lo! Umur lo udah tergolong dewasa tapi kelakuan masih kayak ababil!" lanjut Satria sambil menatap tajam wajah Erlang yang hanya mampu menunduk.

"Kalau lo ada masalah ama gue ayok kelarin! Nggak usah cari pelampiasan hajar petugas polisi. Gara-gara kelakuan lo yang kayak bocah, bunda sampe malu tahu nggak?! Malu sama umur dong!" Nada yang Satria gunakan penuh ketegasan.

"Siapa suruh lo ngurusin gue?!" balas Erlang yang kini sudah menatap mata Satria. Tatapan mereka sam-sama mengandung emosi.

"Kita ini keluarga. Gue adek lo. Udah semestinya gue bantuin lo." kalau lo bukan abang gue, gue juga ogah nolong lo berengsek! Hati Satria mengumpat-ngumpat.

"Gue nggak butuh bantuan lo!"

Bunda mereka hanya bisa memejamkan kata mendengar dua anaknya berdebat. Bukannya tidak ingin melerai, Rani tahu mereka tidak akan bisa berhenti jika bukan atas kemauan mereka sendiri seperti yang sudah-sudah.

"Udahlah, capek gue ngomong sama lo. Sama aja kayak ngomong sama bocah!" Satria pun berdiri dari duduknya. "Bun, pamit pulang dulu."

Jakarta, 6 November

06.05 a.m.

Sesampainya di apartemen, Satria langsung menjatuhkan tubuhnya di kasur dengan posisi telungkuap. Hanya ingin memejamkan mata dan tidur sebentar untuk istirahat, karena segala macam urusan yang berhubungan dengan Erlang, membuatnya muak.

Namun begitu bangun, jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga siang. Itu pun terbangun karena mendengar suara guntur. Lalu pikirannya tidak sengaja jatuh pada Bulan. Ia lupa mengabari gadis itu.

Dengan setengah mengantuk Satria berjalan ke nakas untuk mengisi ulang daya batrai ponselnya. Sembari menunggu ponsel terisi penuh, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, pikirnya. Namun sebelum langkah Satria mencapai pintu, benda pipih itu sudah ber-kedap-kedip dan menjerit-jerit. Ia kemudian memutar badan kembali menuju nakas dan melihat sang penelpon. Karena nomor asing, Satria memutuskan untuk mengabaikannya dan melanjutkan ritual mandi yang sempat tertunda.

Setelah mandi Satria baru mengecek ponsel yang ternyata ada lebih dari lima belas panggilan dan tujuh buah pesan masuk. Semuanya dari nomor asing tadi.

+62XX XXX XXX XXX

Sat ini gue Chris. Si Lemot ilang di toilet sekolah
Gue ama Alvie uda nyari di semua toilet tapi nggak ada
Uda nanya temen-temen juga nggak ada yang liat
Kalo lo lagi sama dia kabarin kita, soalnya tasnya masih di gue

Setelah membaca pesan beritkutnya yang sama alias spam, Satria langsung menghubungi Chris.

"Halo?" sapa Satria begitu telpon tersambung. Ia mencoba tenang, walaupun seluruh sarafnya menolah untuk tenang. "Lo bercanda?"

"Halo," Chris balik menyapanya. "Kagak, si Lemot beneran ilang Sat, duh gue ama Alvie uda nyari kemana-mana belum ketemu nih."

"Di mana posisi kalian? Gue ke sana sekarang!" suara Satria memang datar tapi kelihatan panik.

"Di sekolah."

Satria segera menutup sambungan telpon, meraih kontak mobilnya dan segera meginjak gas rubicon hitamnya menuju sekolah. Langit yang hujan dan jalanan yang sedikit macet seakan tidak mendukung suasana hatinya yang butuh kecepatan untuk sampai di sana.

Sekitar seperempat jam Satria tiba di pelataran sekolah. Ia pun memarkir rubicon hitamnya sembarangan dan berlari menerobos hujan ke koridor lantai satu, tempat Alvie dan Chris masih menunggu.

"Akhirnya lo dateng juga." Alvie merasa senang karena Satria datang untuk menolong sekaligus masih merasa khawatir karena sahabatnya belum juga ketemu.

Setelah menceritakan bagaimana kronologi Bulan menghilang, Satria meminta mereka sekali lagi memastikan mencari satu per satu toilet yang ada di sekolah dengan menggedor pintunya. Mereka berpencar mencari Bulan. Alvie dan Chris bertugas mencari di setiap toilet lantai satu sedangkan Satria bertugas mencari di toilet lantai dua dan tiga.

Semua toilet di lantai dua sudah ia telusuri. Hanya tinggal satu toilet yang belum. Dengan berlari Satria menuju toilet itu sambil memanggil nama Bulan.

"Buullaaannn."

Ada langkah kaki dan panggilan namanya yang mirip dengan suara Satria membuat Bulan memejamkan mata. Tidak mungkin laki-laki itu bukan? Ia pasti sedang delusi, pikirnya sebab terlalu memikirkan Satria sejak tadi pagi.

"Buuulllaaannn."

Suara itu semakin kencang dan mendekat. Bulan akhirnya mencubit tangannya sendiri untuk memastikan jika panggilan tersebut memang bukan hanya sekedar delusi.

"Aw," gaduhnya dibarengi suara panggilan namanya terdengar lagi. Sekarang ia yakin suara Satria, memang bukan delusi.

Mencoba keberuntungannya kali ini, Bulan berteriak, "Satriaaa."

"Bulan? Di mana lo?"

"Saaatrrriiaaa gue di toilet pojok." Bulan berteriak sekeras mungkin agar suaranya terdengar jelas di tengah hujan lebat. Tadi Bulan sudah tidak menangis, tapi begitu mendengar pintu toiletnya digedor Satria, bendungan air matanya bobol. Ia bahkan terisak dan tergugu.

"Saaatrrriiiaaa."

"Pintunya kekunci, tunggu bentar," jawab Satria setengah berteriak.

"Cepet balik Sat ...."

Satria tidak menjawab Bulan, menciptakan keheningan selama beberapa saat, sebelum akhirnya laki-laki itu kembali lagi dengan Alvie dan Chris yang mengikutinya berlari ke toi-et pojok.

Satria meminjam jepit rambut milik Alvie dan menggunakan benda itu untuk membuka pintu. Sedikit susah, tapi ia tidak putus asa dan akhirnya berhasil membukanya.

Brak

Pintu berhasil di buka. Bulan yang melihat Satria bediri di depan pintu dan dua sahabatnya dalam keadaan gelap langsung berlari menghambur ke pelukan Satria. Tidak peduli seluruh tubuh laki-laki itu basah kuyup, Bulan hanya butuh pelukannya sekarang.

"Kenapa lama?! Kenapa lama banget?!" tanya Bulan sembari menangis di pelukan Satria.

"Sorry, I'm sorry Baby," ucap Satria sambil mengeratkan pelukan. Alvie dan Chris juga ikut menghambur memeluk mereka saking leganya Bulan ketemu.

______________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks juga yang uda vote dan komen

Semoga feelnya dapet yaa

See you next chapter

With Love
Chacha Nobili
👻👻👻

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro