Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Chapter 17

Selamat datang di chapter 17

Tinggalkan jejak dengam vote dan komen

Tandai jika ada typo

Thanks

Selamat membaca

Ssmoga suka

❤❤❤

______________________________________

Jangan menganggap dirimu sebagai korban karena usaha yang kau lakukan

terasa sia-sia jika tidak tahu pengorbananku juga

°°Satria Eclipster°°

Jakarta, 5 November
17.05 p.m.

Satria masih duduk di kursi Merugame Udon menatap makanan di meja dengan tatapan menerawang. Padahal lapar, tapi rasanya tidak nafsu makan karena kehadiran Erlang. Selalu seperti ini. Berhadapan langsung dengan Erlang mampu membuat mood-nya anjlok.

Satria sadar tidak boleh seperti ini terus. Untuk itu sebelum Erlang berjalan cukup jauh ia menyusul. Langkah kaki Satria semakin dipercepat ketika melihat abangnya masuk ke rest room pria.

"Bang," panggilnya pada laki-laki yang tengah berhenti di pintu masuk toilet. "Bisa kita ngobrol bentar?"

Erlang yang mendengarnya pun berhenti lantas memosisikan diri berhadap-hadapan dengan Satria. "Mau ngobrol apa? Cewek lo yang uda nggondol bunda lo tersayang?" jawabnya ketus seperti biasa.

"Gue heran ama lo, kenapa lo sebenci itu ama gue?" Nada Satria mulai meninggi tat kala abangnya yang tidak ada niatan untuk bernada halus juga. Sesungguhnya ia sudah lelah menahan amarah tiap kali berhadapan dengan Erlang dan Kevino. Akan tetapi menyadari jika mereka lebih tua darinya. Untuk itu Satria selalu berusaha menghargai mereka yang sama sekali tidak pernah menghargainya.

Tatapan Erlang tajam dan seolah mencemooh Satria. "Coba lo pikir baik-baik! Keistimewaan anak bungsu!"

"Kenapa kalau gue anak bungsu?!" Semakin lama nada Satria semakin meninggi karena omongan Erlang yang tidak masuk akal.

"Lo nggak akan pernah tahu rasanya jadi gue sebagai anak sulung!" jawab Erlang tidak kalah bernada tinggi. Bahkan laki-laki dewasa berjambang itu juga memelototkan mata dan menunjuk-nunjuk dadanya sendiri. Urat-urat dari wajahnya juga sudah mulai kelihatan. "Gue benci banget karena lo anak bungsu yang selalu di istimewakan!"

Bugh

Satu tinju dari Satria mendarat di pipi Erlang yang di tumbuhi jambang. Tubuhnya terhenyak. Akan tetapi kaki-kaki jenjang yang dimilik abangnya itu mampu menahan berat tubuh, sehingga dapat tegak kembali.

"Lo berani ngelawan gue? Gue ini anak sulung! Abang lo!"

Bugh

Erlang balas meninju pipi kiri Satria. Lalu mereka saling tinju-tinjuan di toilet pria, menghalangi beberapa orang yang akan lewat dan akan menggunakan toilet. Ada juga beberapa yang melerai kedua saudara yang sudah sama-sama bonyok. Tapi belum bisa.

Satria meneriaki Erlang masih dengan melayangkan tinju-tinjunya. "Gue udah nyoba hargain lo ya Bang! Lo yang nggak ngehargain gue berengsek!"

Meledak! Emosi Satria sudah tidak terkontrol lagi. Ia tidak sudi menghentikan tinjunya pada Erlang yang kewalahan menghadapi luapan emosinya.

"Bukan gue yang milih jadi anak terakhir berengsek! Lo sadar kagak kelakuan lo itu menjijikan!" Sekali lagi Satria meneriaki Erlang yang malah melamun tentang masa lalunya.

Dua belas tahun yang lalu

Bandung, 30 Januari

07.25 a.m.

Saat itu usia Erlang masih empat belas tahun, sedang berlari-lari kecil di halaman belakang dengan semua adik-adinya untuk bermain bola basket. Permainan yang kerap mereka mainakan bersama.

Erlang yang paling tua bertugas mengajari adik-adiknya karena ia yang paling jago. Anak laki-laki itu dengan sabar mengajari bagaimana cara menggiring bola, mengoper, dan menembakkannya ke ring.

Karena paling kecil, Satria yang masih berumur empat tahun kesulitan memegang bola standart NBA. Ketika berusaha menggring bola besar tersebut kakinya tersandung dan jatuh ke paving kemudian berdarah. Apa yang mampu di lakukan anak kecil di saat berdarah kesakitan selain menangis? Dan ya, Satria menangis.

Usia empat belas tahun tidal serta merta membuat Erlang bersikap dewasa. Ia masih cukup emosional. Jadi, bukannya menolong sang adik ia malah memarahinya.

"Kan uda Abang bilang nggiring bolanya kayak gini!" omel Erlang sambil memraktekkan cara menggiring bola pada Satria yang menangis sambil memegangi lututnya yang berdarah.

Bukannya berhenti, tangisan Satria semakin kencang. Rani yang mendengarnya langsung berlari ke arah mereka.

"Aduh, kenapa anak Bunda kok nangis?" tanya bundanya panic kemudian menemukan penyebabnya ketika melihat Satria memegangi lutut yang berdarah.

"Bang Erlang! Bunda udah bilang adik kamu masih terlalu kecil kalau pakek bola gedhe ini!" Tanpa sadar suara Rani sedikit tinggi.

"Tapi semua pemain Lakers pake bola ini Bun?! Ini bola standart NBA!" kata Erlang polos saat mengingat pertandingan LA Lakers—tim kebangaannya—yang tadi malam memenangkan pertandingan dengan ukuran bola itu. "Lagian Bunda sama papa yang ngajarin biar kita kebiasa pakeh hal-hal yang semestinya."

"Kamu ini, bantah Bunda aja! Umur uda empat belas tahun tapi masih belum mikir dewasa!"

Satu, pada usia empat belas tahun Erlang merasa sakit hati ketika adik paling kecilnya dibela bunda dan ia yang paling besar malah dimarahi karena tidak bisa menjaga adik-adiknya. Seingat Erlang, selama ia masih berumur tiga tahun—di mana daya ingat sudah mulai terbentuk—ia tidak pernah dimaja. Sama sekali.

Lalu saat kenaikan SMP, Erlang mendapatkan nilai delapan puluh pada ulangan harian pelajaran matematika yang tergolong sulit. Ia merasa bersyukur karena rata-rata teman sekelasnya mendapatkan nilai di bawahnya. Atau dengan kata lain, ia mendapat nilai tertinggi. Karena terlalu girang, Erlang menunjukkan pada orang tuanya.

"Nilai segitu masih kurang bang, coba dapet nilai seratus biar di contoh sama adik-adikmu," kata orang tuanya. Bukan dengan nada marah, melaikan dengan tersenyum ramah. Tapi entah kenapa hal kedua itulah yang menambah keyakinan Erlang jika itu sebagai beban anak tertua.

Lalu opini itu mulai melekat pada dirinya secara terus menerus hingga pretasi yang ia capai tinggi tapi tidak lagi mendapat pujian dari orang tuanya—sama halnya dengan Kevin dan Gavin. Melainkan suatu keharusan karena menjadi anak pertama memang harus mendapat nilai bagus sebagai contoh adik-adiknya.

Lain halnya ketika Satria yang hanya mendapatkan ranking lima paralel saat kelulusan SMP dan mendapat pujian dari orang tuanya. Membuat Erlang dan Kevin yang mendengarnya semakin membenci Satria.

Hingga sebulan yang lalu—ketika Erlang berusaha pulang di tengah jadwal yang padat dari Brooklyn karena papanya membutuhkan bantuan dirinya untuk mengurus perusahaan di Bandung. Tapi ternyata Satria juga ikut pulang dan membawa seorang gadis yang ia sebut sebagai kekasih. Di tambah ketika gadis itu membela dan melontarkan kalimat sarkasme tentang 'anak sulung' lalu pergi begitu saja di tengah makan sore yang bahkan tidak ingin ia hadiri.

Sekali lagi papanya malah membela gadis itu, kekasih Satria. Adik bungsunya. Dan jangan lupakan bagian gadis itu memanggil bundanya dengan sebuatan 'bunda' juga. Menambah daftar kebenciannya.

Jakarta, 5 November
17.10 p.m.

"Gue benci anak bungsu kayak lo!" Mendapatkan segenap kekuatan setelah mengingat masa lalunya, Erlang membalas tinju Satria tidak kalah keras. Membuat Satria terhenyak dan terpelanting ke belakang. Kesempatan tersebut Erlang gunakan untuk meninju Satria lagi tapi orang-orang di sekitar terlebih dulu menahan badan laki-laki dewasa itu.

Keduannya ngos-ngosan dengan darah yang bercucuran dari sudut bibir mereka masing-masing. Tapi nampaknya mereka juga tidak peduli. Lalu Erlang memutuskan untuk pergi begitu saja dari sana.

Sedangkan Satria sempat meludah ke wastafel untuk mengeluarkan darah yang tidak sengaja masuk dalam mulutnya. Take a deep breath, take a deep breath. Satria mencoba menetralkan emosi dengam mencuci wajahnya pada wastafel, menghiraukan tatapan orang-orang yang memandangnya ngeri. Lantas emutuskan mengambil ponsel dalam kantung celana jeans-nya untuk menelpon Bulan.

Di tempat lain, merasakan getaran dalam sling bag yang ia pakai, Bulan mengambil benda pipih itu dan menggeser layar setelah membaca si penelpon. "Halo?" sapa gadis itu sejujurnya khawatir karena meninggalkan Satria dengan Erlang. Mengingat kedua saudara itu tidak akur ketika di meja makan sebulan lalu. Jangan lupakan bagian makan malam tadi yang juga diselimuti aura kegelapan karena kehadiran Erlang. Ditambah tatapan kebencian oleh Satria versi dewasa itu padanya. Membuat Bulan tidak nyaman.

"Bunda mana?"

"Eh? Kok malah telpon gue? Nggak telpon bunda sendiri?" tanya Bulan heran.

"Tolong kasihin telponnya ke bunda," perintah Satria dengan suara datar khasnya. Mau tidak mau Bulan memberikan ponsel pada wanita paruh baya yang tengah meneliti tas yang sedang dipajang.

"Halo?" sapa Rani. Diam-diam Bulan berusaha mencuri dengar percakapan mereka tapi tidak terdengar jelas karena suara musik pada gerai toko baju lebih mendominasi.

Sembari menempelkan ponsel pada telinga kiri guna mendengarkan Satria bicara, Rani menoleh pada Bulan lalu tersenyum gemas. "Hhhmmm susah ya kalau lagi kasmaran, ya udah deh, hati-hati pulangnya." Setelah mengatakan hal itu Rani memberikan ponsel kembali pada Bulan.

"Halo?" ucap Bulan.

"Ayo pulang," ajak Satria di ujung telpon.

"Oh bentar ngajak bunda dulu."

"Nggak usah, udah ijin mau mulangin lo dulu, bunda ntar pulang sama anak sulungnya!" Bulan mendengar ada penekanan anak sulungnya' pada kalimat Satria, membuatnya mengernyit.

"Gue tunggu di parkiran mobil." tambah laki - laki itu lalu menutup sambungan telpon tanpa ingin mendengar jawaban dari Bulan.

Jakarta, 5 November
17.10 p.m.

Usai meminta ijin untuk pulang lebih dulu, Bulan bergegas menuju parkiran mobil tempat Satria menunggu. Gadis itu berjalan dengan langkah cepat. Setibanya di sana, ia celingukan mencari keberadaan Satria. Memilih mengambil ponsel untuk menelpon laki-laki itu sembari berjalan ke tepi agar tidak tertabrak mobil yang bersliweran. Namun tiba-tiba gerakannya terhenti karena sebuah dekapan dari belakang menghantam tubuhnya. Gadis itu kaget lalu memberontak sebab takut itu penculik.

"Ini gue." Suara berat Satria memang membuat Bulan lega, tapi malah menaikkan ritme debaran jantungnya akan tetapi malah memegangi tangan Satria yang berada di pundaknya.

Sedangkan Satria sendiri menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Bulan. Menghirup aroma wangi surai cokelat gelap itu untuk menenangkan emosinya. Dan saat gadis itu berbalik, badannya terlonjak kaget dan memekik sambil memegangi wajahnya yang membiru di beberapa bagian. "Astaga Sat, kenapa wajah lo?"

Seharusnya,sentuhan tangan Bulan terasa sakit pada luka-luka lebam tersebut, akan tapientah kenapa Satria malah memegangi dan menahan tangan Bulan yang lembut agartetap di situ. "Nggak apa-apa. Thank for worrying about me, but I'mfeeling ok now," kata laki-laki itu sambil mencium tangan kekasihnya.

______________________________________

Thanks for reading this chapter

Thanks buat yang uda vote dan komen

See you next chapter

With Love
Chacha Nobili
👻👻👻

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro