Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

Part 5

Hai readerssss ...

Jangann lupa untuk vote dan tinggalkan komentar ya :)

🌸🌸🌸

Dua hari lagi, Meechella akan kembali ke Indonesia. Dia tidak ingin tinggal lebih lama lagi di negara orang dengan status negaranya 'siaga'. Sudah cukup kemarin saja dia harus bertaruh nyawa hanya demi membeli outer kesukaannya.

Bukan hanya dirinya yang bertaruh nyawa, bahkan orang lain hampir mati karena dirinya. Lihat saja lelaki yang kini duduk di sampingnya. Lelaki itu memaksa hadir di pesta pernikahan Abimanyu demi bertemu dengan Meechella.

Tentu saja kondisi Damian tidak begitu baik. Dia harus beristirahat yang cukup untuk mempercepat pemulihan luka tembak yang dia dapatkan demi melindungi Meechella.

"Bagaimana lukamu?" tanya Meechella membuat Damian mengerjapkan matanya.

"Tidak begitu serius," jawab Damian membuat Gary mendengus, dasar lelaki modus.

Meechella mengangguk, dia menyentuh tangan Damian.

"Thank you for saving me," ucap Meechella penuh ketulusan.

"Sama-sama, tapi kamu harus membayarnya," jawab Damian dengan cengiran tengil khas dirinya.

"Dengan apa aku harus membayarmu?" tanya Meechella mengulum senyumnya.

Damian nampak berpikir sejenak.

"Dinner besok malam?" usul Damian merekahkan senyumannya yang menggetarkan lawan jenisnya.

"Baiklah jika itu bisa menebus rasa bersalahku karena lukamu," jawab Meechella membuat hati Damian bersorak gembira.

Damian menatap takjub, wanita yang kini duduk di sampingnya. Entah bagaimana caranya menilai berapa angka yang tepat untuk kesempurnaan yang Meechella miliki. Wanita itu tenang, tidak banyak bicara, namun suka menuduh. Contohnya menuduhnya mencuri dompet card miliknya.

Rambut pendeknya semakin memperlihatkan leher jenjang dan juga pipi tirusnya yang memikat siapa saja lawan lelakinya. Kulitnya putih terekspose sempurna tak bercela seinch pun.

"Mau berdansa denganku?" tawar Damian ketika banyak pasangan kini berdansa di dance floor.

Damian mengulurkan tangannya, Meechella menerimanya dengan senang hati. Mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan Damian posesif memeluk pinggang ramping Meechella.

Mereka berdansa dengan irama yang mellow, saling menggoyangkan kaki mereka sesuai irama. Meechella sendiri sangat jago dalam berdansa karena dia sering ikut pesta seperti ini. Damian bahkan sudah seperti pakarnya hal seperti itu, karena dia sering berganti pasangan dansa. Dia ahli menyelaraskan gerakannya dengan pasangan dansanya.

"Di mana rumahmu?" tanya Damian.

"Bandung," jawab Meechella.

"Papa, Mama kerja? Beliau sehat?" Tanya Damian lagi.

Meechella mengangguk. Kini mata mereka bertemu. Damian bisa melihat jelas dan juga sangat dekat dengan wajah Meechella. Baru kali ini dia bertemu wanita secantik Meechella tanpa make up tebal dan penampilan yang berlebihan. Meechella paket lengkap untuk definisi wanita cantik sederhana namun berkelas.

"Sudah punya pacar?" tanya Damian, satu pertanyaan yang sangat ingin Damian tanyakan sejak kemarin ketika dirinya mengklaim wanita dipelukannya kini menjadi kekasihnya.

"Belum, belum ada yang cocok," jawab Meechella jujur.

Dari sekian banyak lelaki yang mendekatinya, mereka hanya terpesona dengan kecantikan dan kekayaan Meechella. Mereka tidak masuk dalam kriteria lelaki idaman Meechella.

"Bagaimana kalau aku jadi pacarmu?" tanya Damian membuat mata Meechella terbelalak.

Meechella hendak melepaskan tautan tangan mereka, namun Damian semakin mempereratnya. Bahkan hembusan nafas Damian menyapu wajah Meechella.

"Meechella, you are mine," bisik Damian di telinganya membuat Meechella bergidik ngeri.

Bukan Meechella namanya jika tidak bisa membuat lelaki yang mendekatinya semakin jatuh dalam pesonanya. Kini Meechella meraih tengkuk Damian. Dia mendekatkan wajahnya di telinga Damian.

"Aku menunggumu, menjadikanku milikmu," bisik Meechella lembut, meniup telinga sensitiv Damian hingga membuat si empunya berteriak dalam hati.

"Gadis nakal!" cibir Damian terkekeh geli.

Meechella mampu membuat darahnya berdesir dengan sangat cepat, wanita itu membuatnya tersanjung dan semakin bersemangat untuk menjadikan Meechella resmi menjadi wanitanya, hanya wanitanya.

.

Meechella merutuki kesalahannya semalam menantang lelaki itu menjadikannya kekasih. Bagaimana nanti jika lelaki itu benar-benar serius akan ucapannya.

Tapi lelaki mana yang gila? Mana ada satu minggu bisa jatuh cinta semudah itu dengan seorang wanita yang baru saja dia temui? Pasti Damian salah satu lelaki yang suka menggoda dan merayu wanita.

"Dasar lelaki perayu ulung!" cibir Meechella mengingat bagaimana manisnya ucapan-ucapan yang Damian tujukan padanya.

Suara chat WA masuk membuat Meechella membuka ponselnya. Satu nomor baru mengirimkan dia pesan.

Damian: Jangan lupa jam 7 malam aku sampai di depan kamarmu, Sunshine. Damian :*

Meechella memutar matanya, dia melupakan janji untuk makan malam dengan Damian. Bukankah dia memang diharuskan membalas kebaikan orang yang sudah menolongnya.

Keluarganya tidak ada yang tau tentang insiden penculikannya. Mereka semua menutup rapat kasus itu. Meechella tidak akan membuat keluarganya semakin kalut karena dirinya, cukup Rebecca yang menjadi alasan untuk mereka jadi khawatir. Selama masalah itu bisa Meechella hadapi, dia bukan tipe anak yang suka mengadu atau membuat orang tuanya cemas.

Meechella menutup jendela kamar hotelnya, setelah tadi seharian dia mengemasi barang-barangnya untuk bertolak ke tanah air. Pengalamannya di negara ini tidak akan pernah Meechella lupakan.

Bertemu lelaki gila seperti Damian.

Diculik! Diselamatkan lelaki yang mengklaimnya menjadi kekasih.

Lalu apakah nanti mereka akan kembali bertemu jika keduanya tidak berada di negara yang sama ?

Ada perasaan sedih, mengingat dirinya akan menjauh dari lelaki yang sudah mengisi harinya beberapa hari ini. Tapi bukankah setiap ada pertemuan memang harus ada perpisahan?

Tak ingin membayangkannya, Meechella memilih mandi dan berdandan untuk menepati janjinya dengan lelaki yang sudah menolongnya itu.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh,tepat saat itu bel kamar Meechella berbunyi. Tentu saja itu pasti saja dari Damian.

Setelah memastikan penampilannya, Meechella mengambil Clutch dan juga sepatu hak tingginya. Dia berjalan kearah pintu,membukakan pintu untuk Damian tentu saja.

"Cantik!" ucap Damian pertama kali ketika melihat penampilah Meechella malam ini.

Meechella sendiri lebih memilih mengunci kamarnya sebelum meninggalkan kamarnya.

"Cuacanya lumayan dingin, kenapa tidak memakai baju berlengan?" tanya Damian kepada Meechella.

"Hanya ini yang tersisa, semua sudah masuk koper," jawab Meechella.

Mendengar kata koper, Damian menangkap isyarat jika wanita itu akan meninggalkannya secepatnya.

"Kamu akan kembali?" tanya Damian sedih, sorot matanya terlihat tidak rela.

Meechella mengangguk. "Aku kemari untuk pernikahan pamanku, Damian. Lagipula pekerjaanku sudah menantiku di Indonesia," jawab Meechella.

Damian nampak murung, setelah makan malam mereka. Kini Damian mengajak Meechella duduk di tepi sungai wisata di sana yang memang sering menjadi favorit kaula muda.

Meechella melepaskan sepatunya, berjalan-jalan menyusuri sungai itu membuat kakinya agak lecet.

"Aku bantu."

"Jangan seperti ini, aku merasa tidak enak," ucap Meechella menarik Damian agar dia kembali duduk di sampingnya.

Damian memegang kedua bahu Meechella.

"Jangan pergi, Meechella," ucap Damian dengan mata menatap lurus, membuat Meechella tak bisa berkata-kata.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro