Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

9. Dibalik Sikap Kalandra, Dia Peduli


"Dia terlihat datar, dingin, dan kaku. Akan tetapi, dibalik wajahnya seperti itu dia benar-benar peduli terhadap orang lain."

Nayla Azealia Malik

***

Pelajaran olahraga, ialah pelajaran yang sangat dibenci oleh Nayla. Selain mendapatkan rasa capek, ia juga harus dibuat ribet dengan mengharuskan mengganti pakaian. Mungkin jika  ia terlahir sebagai laki-laki, ia akan mengganti pakaian olahraga di kelas—tidak menyusahkan harus berbulak-balik ke toilet. Ah, sepertinya Allah mengirim Nayla sebagai seorang perempuan untuk sang mama. Jikalau toiletnya penuh, membuat Nayla merasa malas.

Akan tetapi, kali ini Nayla tidak membenci pelajaran olahraga. Karena jam pelajaran olahraga kelas Nayla sama dengan jam olahraga kelas Kalandra. Jadi, ia bisa leluasa melihat kegiatan Kalandra yang sedang berolahraga tentang materi bola voli di lapang voli sana.

Ekor mata Nayla dengan sengaja mencuri pandang ke arah Kalandra yang sedang berkeringat di sana. Berbeda dengan kelas Kalandra, kelas Nayla mempelajari materi tentang lari. Menyebalkan jika harus mengikuti penilaian dengan cara lomba lari, itulah gerutuan yang selalu terlontar dari mulut Nayla.

Dengan malas, Nayla mengikuti teman-temannya yang disuruh lari mengelilingi lapangan basket. Satu putaran Nayla masih kuat berlari bersama Jihan.

Tanpa tidak Nayla sadari, Kalandra juga mencuri pandang menatap gadis itu dari kejauhan.

Sampai di putaran ketiga, kaki Nayla terasa lemas. Ia tidak kuat lagi berlari hingga tubuhnya ambruk jatuh ke tanah, penglihatannya mulai mengabur sampai kegelapan menjemput. Nayla pingsan. Teman-teman Nayla berkumpul untuk menolong. Namun, baru saja Gani---ketua kelas Mipa 3 ingin menggendong tubuh Nayla, tangannya dicegah oleh Kalandra. Membuat seluruh kelas Mipa 3 terkejut melihat apa yang terjadi.

Kalandra menggendong tubuh Nayla dengan gaya bridal style menuju ruang UKS. Bisikan dari beberapa siswi yang ditujukan, tidak Kalandra pedulikan sama sekali. Tidak salah bukan menolong orang lain? Kenapa mereka menjadi mempertanyakannya, padahal niat hati hanya ingin berbuat baik.

Kalandra merebahkan tubuh Nayla di atas brankar dengan pelan. Vina---penjaga UKS dari eskul PMR memberikan minyak kayu putih kepada Kalandra. Setelah memberikan itu, Kalandra meminta Vina keluar dari ruangan tersebut.

Bau menyengat tak mengenakan tercium dari indra penciuman. Matanya mulai mengerjap, menetralisir intensitas cahaya. Perlahan, mata itu terbuka. Pertama yang dilihat oleh Nayla, ialah sosok Kalandra berdiri di samping brankar.

"K--kenapa bisa ada di sini?" tanya Nayla menatap ke sekelilingnya.

Kalandra tak menjawab, tangannya menyodorkan segelas air putih untuk Nayla tanpa mengucapkan sepatah kata. Merasa haus, Nayla menerima segelas air putih tersebut, meneguknya hingga tandas.

"Lain kali, kalo punya riwayat penyakit. Enggak usah ikutan lari," ucap Kalandra dengan nada bicara seperti biasa; datar tanpa ada nada sedikit kelembutan.

Sudut bibir Nayla tertarik ke atas membentuk senyuman kecil. Apakah Kalandra khawatir kepadanya? Terakhir kali Kalandra begitu khawatir yaitu pada saat peristiwa tembakan.

Tidak ... tidak ... niat Nayla cuma ingin berteman, tidak lebih. Nayla menggelengkan kepala guna bisa menghilangkan sekelebat bayangan dan rasa aneh dalam benak.

Kalandra yang melihat gelengan kepala Nayla menatap aneh. "Kalo pusing, minum baygon!"

Nayla tersentak, ia menoleh menatap Kalandra dengan polos. Merasa ditatap, Kalandra membalas tatapan itu dengan tajam. Segera mungkin tatapan itu segera diputuskan oleh Nayla.

"Kamu enggak cocok ngelawak," cicit Nayla hati-hati.

"Siapa yang ngelawak?" tanya Kalandra seraya menatap Nayla dengan malas.

"Lah tadi? Kalo pusing minum baygon," ulang Nayla.

"Ya, biar rasa sakit lo ilang," ketus Kalandra. 

Nayla mengembuskan napas kasar mendengar ucapan Kalandra yang tidak ada nada kelembutan sedikit pun. Selalu saja ketus, datar, dan dingin.

"Makasih udah bawa aku ke UKS," ucap Nayla dengan tulus.

Kalandra membalasnya dengan deheman kecil, membuat Nayla merasa kesal saja.

"Ternyata dibalik sikap dingin kamu, kamu bener-bener peduli sama orang lain ya," tutur Nayla seraya bangun dari posisi berbaringnya. Tidak enak rasanya jika berbicara dengan orang lain sembari berbaring.

"Gue manusia, udah kewajiban sesama manusia saling tolong-menolong," simpul Kalandra meluruskam maksud ia menolong Nayla. Tak ingin membuang waktu, ia memilih berlalu meninggalkan Nayla sendiri di dalam ruang UKS.

Sepeninggalan Kalandra, Jihan datang sembari berteriak heboh mengingat kejadian tadi di lapangan, di mana Kalandra mengendong Nayla dengan gaya bridal style ke ruang UKS. Sungguh kejadian itu menjadi bahan pembicaraan di Guanna Three. Seperti adegan dalam novel-novel remaja yang pernah Jihan baca.

"Sumpah tadi, lo sama Kalandra soswet banget." Jihan berceloteh ria, tak peduli jika Nayla mendengarnya atau tidak.

"Berisik ah. Gue mau balik, lemes," keluh Nayla memelas kepada Jihan.

"Lemes? Lo diapain sama si Kalandra?" tanya Jihan memicingkan matanya.

Jitakan mendarat di kepala Jihan, membuat gadis itu meringis. Sementara Nayla menatap malas ke arah Jihan.

"Gue masih punya akal kali. Gue masih sayang sama mama dan papa, mana mungkin gue kecewain mereka," papar Nayla.

Jika Nayla sedang bersama Jihan, mungkin ia akan memakai kata 'lo-gue' seperti biasanya, berbeda jika sudah berada didekat Kalandra. Sisi feminin dan pencicilannya muncul begitu saja.

"Hehehe ... maaf, bercanda doang."

***

Gosip tentang Kalandra yang menggendong Nayla ke ruang UKS sudah menyebar luas. Seluruh siswi Guanna Three tidak ada habisnya membicarakan gosip panas tersebut. Padahal peristiwa itu baru satu jam yang lalu, tetapi gosipnya sudah menyebar begitu saja. Memang dasar mulut netizen, gosip baru sudah menyebar luas dengan cepat.

Telinga Kalandra terasa panas mendengar gadis alay di koridor sana membicarakan kedekatannya dengan Nayla. Tidak bisakah mereka melihat dengan sendiri, jika Kalandra hanya membantu? Namun, mereka malah berpikir berlebihan.

Langkah kaki Kalandra membawa ke rooftop sekolah, tidak peduli dengan jam pelajaran selanjutnya. Hal terpenting baginya ialah menenangkan pikiran sejenak sembari merokok.

Kalandra mengisap rokok dalam, mengembuskan dengan pelan. Membuat asap rokok itu mengepul. Tatapan Kalandra kosong, pikiran berkelana. Perasaan terasa hampa dan monoton. Senyum kecut selalu terbingkai di bibir mengingat bagaimana sang mama pergi meninggalkan ia sendiri.

"Hidup lo bakal berubah kalo Nayla tetep berada di sisi lo."

Kalandra terdiam mendengar suara siapa yang menggelegar di rooftop. Pemuda bersurai hitam kecokelatan duduk di samping Kalandra. Rooftop sekolah memang terdapat kursi kayu yang sudah jelek, mengingat gudang sudah penuh oleh berbagai barang yang rusak.

"Lo kenal dia?" tanya Kalandra seraya mengisap rokok kembali.

"Dia mantan ketua eskul jurnalistik, gue kenal dia pas ada pertandingan futsal dan dia yang ngeliput tim gue," jelas Rio---pemuda bersurai hitam kecokelatan—sepupu Kalandra.

Kalandra hanya ber-oh-ria. Sementara Rio, menggeleng kecil mendapatkan respons tak mengenakan dari Kalandra. Tidak ada yang berubah dari Kalandra, masih terlihat sama; cuek, acuh, dan datar. Sekalinya tersenyum hanya sesaat.

Rio jadi merindukan sosok Kalandra dulu, saat SD kelas satu. Mereka selalu bermain dan melepas tawa bahagia tanpa adanya beban.

"Kenzio nanyain lo," ucap Rio memecahkan keheningan yang sempat tercipta.

"Lo bolos?" tanya Kalandra mengalihkan pembicaraan.

Rio mengulas senyum tipis, ia tahu Kalandra hanya mengalihkan pembicaraan. Rio juga tahu jika Kalandra sangat membenci Kenzio—adik tirinya.

"Semua guru lagi rapat buat UN nanti, gue gabut di kelas. Ya ... enggak masalah dong, kalo gue nemenin lo di sini," ujar Rio sembari melirik ke arah Kalandra sekilas.

Kalandra hanya berdehem sebagai balasannya. Lagi, ia kembali mengisap rokok. Pikirannya berkelana jauh.

"Kayaknya Kenzio beneran sayang sama lo, dia anggap lo sebagai kakak sendiri. Beda sama nyokap tiri lo," papar Rio lagi.

Sontak saja, tatapan Kalandra tertuju ke arah Rio. Rokok yang diapit di jemari, ia buang begitu saja. Ia sangat membenci jika seseorang membahas soal Kenzio dan Ibu tirinya.

"Gue enggak mau bahas," gertak Kalandra.

"Tapi gue mau bahas, biar lo enggak nyesel di kemudian hari," balas Rio, ia sengaja membicarakan Kenzio kepada Kalandra agar kesalahpahaman di antara adik-kakak tersebut segera mereda.

Rio ingin sekali menyatukan Kalandra dengan Kenzio yang tidak pernah akur sejak dulu.

"Gue enggak peduli lagi. Gue enggak punya siapa-siapa, gue sendirian, dan siapa tadi namanya ... oh ya Kenzio. Gue nggak kenal sama tuh orang!" geram Kalandra seraya menatap tajam ke arah Rio.

Rio tersenyum tipis. Kalandra masih sama; Keras kepala, selalu menghindar dari kebenaran. Sulit meluluhkan hati batu dan keras kepala dari Kalandra, kecuali tante Janvi—mama Kalandra yang hanya bisa meluluhkan. Sayangnya, tante Janvi sudah lama pergi meninggalkan Kalandra seorang diri.

"Saran gue, coba damai sama masa lalu. Gue yakin setelah lo damai, hidup lo enggak akan jadi kayak gini lagi." Rio mencoba memberi nasihat kepada Kalandra agar pemuda itu mengerti dan tidak hidup dalam bayang-bayang masa lalu lagi.

"Gue enggak peduli, jangan maksa gue buat baikkan sama mereka. Gue enggak suka sama mereka yang udah bikin nyokap gue meninggal." Nada bicara Kalandra terdengar sedih, tetapi terkesan dingin.

Jika Kalandra berada di hadapan orang lain, maka ia akan bersikap datar dan dingin. Akan tetapi berbeda jika sudah bersama Rio, maka ia akan menceritakan keluh-kesah dan rasa tidak suka itu. Rio juga memahami apa yang sedang dirasa oleh Kalandra.

"Tante Janvi meninggal mungkin udah takdir dari Allah, Kal."

"Dengan cara bunuh diri?" tanya Kalandra seraya mengembuskan napas berat.

Rio memegang bahu Kalandra. "Gue tahu apa yang lagi lo rasain, gue minta maaf karena udah bahas Kenzio dan ingetin lo ke masa lalu lagi."

"Satu lagi, terima Nayla sebagai temen lo. Gue liat lo udah ada perubahan sedikit demi sedikit karena Nayla." Rio melanjutkan ucapannya.

TBC:
Rio emang bijak:v

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro