Chào các bạn! Vì nhiều lý do từ nay Truyen2U chính thức đổi tên là Truyen247.Pro. Mong các bạn tiếp tục ủng hộ truy cập tên miền mới này nhé! Mãi yêu... ♥

8. Permintaan Maaf Kalanrdra

Semenjak kejadian dua hari yang lalu tentang kasus tembakan itu. Membuat Nayla tidak bertemu dengan Kalandra lagi. Bukan tidak bertemu, melainkan Kalandra menghindari dirinya. Pemuda itu bilang, dia tidak ingin melibatkan Nayla. Saat Nayla menanyakan alasannya, laki-laki itu malah marah.

Padahalkan Nayla ingin tahu saja. Siapa tahu ia bisa membantu Kalandra. Ia jadi takut jika orang yang berusaha menembaknya dan Kalandra kemarin, akan datang kembali dan menyakiti lagi.

Entah kenapa mengingat soal Kalandra, membuat Nayla mengulas senyum sendiri tatkala ingatan tentang kejadian dua hari yang lalu terlintas. Kalandra melindungi dirinya.

"Nayla ...!" teriak Jihan di hadapan Nayla.

Nayla tersentak, lamunannya buyar. Ia menatap Jihan dengan tatapan penuh tanya, sedangkan Jihan menggerutu kesal. Sedari tadi Jihan berbicara seperti rel kereta api, eh Nayla malah tidak mau mendengarkan.

"Maaf, tadi lo ngomong apa?" tanya Nayla.

Jihan tak mengubriskan, ia lebih memilih menyantap baksonya. Mereka berdua sedang berada di kantin. Jam istirahat sudah tiba lima menit yang lalu. Kantin yang tadinya ramai, mendadak hening saat kedatangan seorang pemuda most wanted di sekolah mereka-Kalandra.

Pemuda itu menghampiri meja Nayla, membuat Nayla membulatkan matanya tidak percaya. Bukan karena Kalandra yang menghampiri mejanya, tetapi cokelat yang ada di tangan pemuda itu.

Kalandra menyodorkan cokelat tersebut ke hadapan Nayla. Tatapan dan bisik-bisik dari para siswa/wi mulai terdengar, mereka semua tidak percaya jika si biang onar, berwajah dingin, dan nerbicara sekena saja, memberikan cokelat kepada Nayla. Sungguh mereka menatap drngan tatapan tidak percaya, bahkan ada yang memotret atau mengambil video sebagai momen langka yang pernah mereka lihat.

"Buat aku?" tanya Nayla memastikan.

Mendengar sebutan kata 'aku' membuat Jihan tersedak kuah bakso sendiri. Ia tidak salah dengarkan tadi? Nayla menyebut kata 'aku'? Biasanya juga gadis itu memakai kata lo-gue. Lebih terkejut lagi, Kalandra berdiri di samping Nayla sembari menyodorkan cokelat. Membuat tenggorokan Jihan terasa panas akibat tersedak kuah bakso yang pedas.

"Menurut lo?" ketus Kalandra.

Nayla mengerucutkan bibirnya ke depan, Jihan yang melihat itu jadi merasa ingin muntah. Benarkah yang ada di hadapannya itu Nayla? Jika iya, kenapa sikap Nayla aneh sekali. Patut dicurigakan dan dipertanyakan.

"Kalo mau ngasih yang ikhlas sama lembut dong, enggak kasar gini," cibir Nayla.

Kalandra geram, masih untung ia berbaik hati ingin meminta maaf. Ia mengembuskan napas kasar, tersenyum paksa ke arah Nayla. Pertama kali baginya melakukan hal seperti ini kepada seorang gadis. Setelah ini Kalandra akan mandi berupa tujuh kembang, karena melakukan hal aneh di hadapan semua orang. Bagi Kalandra memberi cokelat merupakan suatu tindakan yang aneh.

"Nayla ... ini buat lo, sebagai ucapan maaf gue," ucap Kalandra dipaksakan selembut mungkin. Kalandra menjadi bergidik ngeri mendengar suaranya sendiri yang dibuat-buat.

Nayla tersenyum sumringah, ia menerima cokelat tersebut. Baru saja ingin mengucapkan terima kasih. Justru Kalandra sudah berlalu begitu saja. Nayla ingin mengejar, tetapi Jihan malah menghalangi jalannya.

Alis Jihan naik-turun pertanda meminta penjelasan dari Nayla. Nayla meneguk salivanya dengan susah payah, haruskah ia cerita kepada Jihan.sekarang? Ia tidak ingin jika sang sahabat salah paham nantinya.

Nayla menarik napas dalam-dalam, mengembuskan dengan pelan. Baiklah, ia akan berbagi cerita kepada Jihan.

"S--sebenarnya gue berniat mau temenan sama dia," cicit Nayla ragu-ragu.

"Terus?" tanya Jihan ingin lebih tahu kejelasannya.

"Denger ini, lo ingetkan pas kita ngeliat Kalandra dijemur di lapangan waktu itu?" Jihan mengangguk mengiyakan. "Gue enggak sengaja ngejar dia sampai di ruang BK. Gue denger semua percakapan dia sama bokapnya di ruang BK, sama Bu Lidya juga. Gue ngerasa Kalandra punya masa lalu yang kelam deh, sampai dia benci sama papanya sendiri."

"Mirip novel-novel yang gue baca," simpul Jihan memanggut-manggut mendengar cerita Nayla.

"Bapakmu! Ini beda ceritanya, lo maukan bantuin gue cari info tentang dia?"

"Mau aja sih, asalkan ada imbalannya," ujar Jihan sembari meneguk es teejus miliknya dengan tenang.

"Sama sahabat sendiri juga malah itungan," keluh Nayla berdecak kesal.

"Eh, di dunia ini enggak ada yang gratis. Ke toilet aja kudu bayar dua rebu."

"Iya, iya, lo mau apa imbalannya?" tanya Nayla seraya menatap Jihan dengan kesal.

"Gue sih pengennya Iphone 11 pro max."

"Apa? Jual ginjal sono," ketus Nayla.

Jihan terkekeh kecil. "Bercanda, jajanin bakso Mang Uho aja deh. Gimana?"

"Iya, itu baru setuju." Nayla mengangguk mengiyakan.

"Awas jangan sampe lupa sama informasi Kalandra."

"Iya, Nayla sayang."

***

Semua anggota komunitas Champin berkumpul seperti biasa di base camp mereka. Interior base camp Champin didominasi oleh warna abu-abu, berbagai figura terpajang di dinding. Tidak hanya itu, lambang khas anak komunitas Champin yang berbentuk kelelawar hitam perpaduan dengan lambang matahari berwarna biru mempercantik dinding sana. Tanda khas tersebut terpajang dengan besar di dinding ruangan itu. Kelelawar dan juga matahari memiliki arti penting bagi komunitas Champin.

Mereka tampak sedang membicarakan bagaimana caranya melumpuhkan Kemal, mengingat lawannya adalah laki-laki terlicik dari Pandoker. Salah satu anggota Champin lain juga bercerita bahwa anak buah Kemal sudah keterlaluan menganggu mereka. Bahkan, ada yang membuat salah satu anggota Champin dipecat kerja, diputuskan oleh sang kekasih, dan diusir dari rumah oleh Ibu dan Bapak mereka.

Kalandra memijat pelipis mendengar keluhan dari teman-temannya. Tatapan Kalandra tertuju ke arah Renal dan Kei yang sedang sibuk dengan layar monitor laptop. Memang sedari tadi kedua laki-laki itu sibuk mencari tahu lebih dalam latar belakang Kemal dan membobol berbagai situs jaringan untuk melwan Kemal nanti.

Setahu Kalandra Kemal merupakan pimpinan gangster yang selalu menjadi buronan polisi. Ia juga ingat awal mula Champin bermusuhan dengan Pandoker-Komuitas atau geng pimpinan Kemal.

"Setahu gue Kemal tuh pimpinan gangster terbesar dan dia juga jadi langganan incaran polisi," ucap Orlan memecahkan keheningan. emang sedari tadi hanya keheningan yang menyelimuti, mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing mencari cara memecahkan masalah tersebut.

"Lo bener, Lan. Dia emang ganster langganan polisi, gue pernah liat anak buah dia ketangkep polisi dengan kasus narkoba," ujar Kei membenarkan ucapan Orlan.

"Menurut sumber yang gue dapet, Kemal emang udah lama menjabat sebagai pimpinan gangster Pandoker," timpal Renal menyetujui ucapan kedua temannya. Tatapan Renal tertuju kepada Kalandra yang sedari tadi bergeming.

"Lo inget, Kal. Salah satu adik sekaligus anggota Pandoker, si David ngehina nyokap lo? Dia sengaja mancing amarah lo, karena Kemal pengen lo ngelawan mereka duluan. Kemal tuh orangnya penuh dengan ambisi, dia enggak mau Pandoker kalah saing sama kita." Renal menjelaskan, sedangkan Kalandra masih saja bergeming seperti orang yang sedang berpikir keras.

"Kalah saing sama apa, Bang?" tanya Jaka, laki-laki yang duduk di sebelah Orlan.

"Gue enggak tau mereka kalah saing karena apa, menurut sumber yang gue dapet. Pandoker enggak mau ada komunitas atau geng lain selain mereka sendiri. Dulu pernah ada geng motor namanya Gevonia, terus Pandoker berusaha singkirkan mereka. Begitu juga dengan kita sekarang, Kemal lagi berusaha buat singkirkan kita," papar Renal.

Selain membuat onar di masyarakat, Champin merupakan komunitas yang bersih dari berbagai kasus kepolisian. Renal selalu mengajarkan anggotanya berbuat baik sesama manusia, sampai salah satu dari mereka mempunyai usaha sendiri dengan cara yang halal.

"Bego!" teriak Kalandra dengan kesal seraya mengebrak meja, membuat seluruh anggota Chanpim terkelonjak kaget dibuatnya.

Mereka semua menatap aneh ke arah Kalandra. Sementara, Kalandra tetap dengan posisinya dan juga wajah andalannya. Komunitas Chanpim memiliki 25 orang anggota, sebagian dari mereka tidak bisa berkumpul karena harus mengawasi salah satu perusahaan milik Renal dan sebagiannya mengurusi masalah masing-masing akibat ulah Kemal.

"Sialan! Lo kenapa? Bikin gue jantungan anjir," gerutu Orlan dengan kesal. Bayangkan saja, tengah asik-asiknya menikmati sebatang rokok seraya mendengarkan diskusi sang ketua malah dibuat terkejut.

"Lo udah dapet info apa yang dia mau dari gue?" tanya Kalandra menatap Kei dengan wajah datar.

"Tanding di MMA, lawannya dia sendiri."

"MMA?" ulang Jaka menatap Kei, sedangkan Kei mengangguk mengiyakan. "Bukannya tahun sekarang enggak ada turnamen one pride MMA?"

"Bukan turnamen MMA yang waktu itu Kalandra ngalahin David, melainkan MMA ilegal," sahut Renal mengetahui kebingungan dari teman-temannya.

"Jangan bahaya, ntar malah digrebek sama polisi lagi. Apalagi setahu gue nih ya, MMA ilegal itu sambil jual-beli narkoba," timpal Fajar-turut mengeluarkan pendapatnya.

"Fajar bener, gue pernah denger gitu. Kemal pernah hampir ketangkep sama polisi, tapi nyatanya dia selalu berhasil kabur." Orlan menyetujui ucapan Fajar. Ia khawatir jika pertandingan MMA itu terjadi, maka hidup mereka atau Kalandra bisa habis di penjara.

Hening, tidak ada lagi pembicaraan mengenai Kemal. Mereka semua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Tatapan Renal kembali tertuju ke arah Kalandra, ia menghampiri Kalandra seraya menepuk pelan bahu sang adik angkat.

"Pulang gih ke rumah bokap lo, gue tau lo dari tadi lagi mikiran Kenzio 'kan?" Renal menebak isi kepala Kalandra, memang sedari tadi Kalandra hanya diam menyimak dan pikirannya berkelana ke arah keluarga. Renal mengetahui bagaimana latar belakang keluarga Kalandra, begitu juga sebaliknya.

"Enggak!" tukas Kalandra acuh.

"Oh ya, satu lagi---"

"Apa?" tanya Kalandra memotong ucapan Renal dengan cepat.

"Lo udah minta maaf sama siapa namanya? Oh ya, Nayla." Renal menatap Kalandra penuh arti.

"Udah, sesuai permintaan si kamfret," kata Kalandra seraya menatap Kei dengan datar, sedangkan Kei menyengir seperti kuda.

Ide memberi cokelat kepada Nayla sebagai bentuk permintaan maaf itu ulah Renal dan Kei. Awalnya Kalandra menolak dan tidak ingin melakukannya, mengingat ia sama sekali belum pernah melakukan hal itu terhadap seorang gadis. Namun, sebuah ancaman dari Renal, Kalandra hanya bisa mengalah. Apa-apa harus memakai ancaman, baru akan menurut.

"Jagain dia, karena Kemal pastinya bakal ngincar tuh gadis buat ngalahin lo." Renal menasihati layaknya seorang kakak. Ia tahu, Kemal sekarang ini sedang mencari tahu bagaimana kegiatan sehari-hari dari Kalandra dan siapa saja yang berdekatan dengan pemuda itu.

"Dia masih punya kedua orang tua, dia bukan yatim," ujar Kalandra acuh, yang benar saja ia melindungi seorang gadis yang tidak dikenal oleh Kemal? Melucu saja sang kakak angkat.

"Tapi Kemal lagi nyari tau siapa aja yang deket sama lo, termasuk Nayla. Pandoker berusaha incar lo berdua. Sekali ini aja lo nurut, jangan kayak kepala batu."

TBC:
Semoga aja suka:v

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen247.Pro